Proyek Keluarga: Panglima Kebaikan, Mengawal Diri Sendiri untuk Menuju Baik

sumber: google image

 

Berkembangnya teknologi, terkadang menyurutkan langkah para anggota keluarga melakukan kebaikan. Teknologi yang memudahkan membuat hal-hal terkadang menjadi instan. Juga kehidupan yang selalu berkecukupan membuat seseorang malas melakukan sesuatu, contohnya berbuat baik.
Berbuat baik bisa berupa hal-hal kecil, misalnya membuang sampah. Membuang sampah pun bisa dari sampah yang kecil, yang sering terabaikan. Seperti sobekan kemasan makanan yang ukurannya sangat kecil, karena dibuka dengan digigit. Hal ini sebenarnya tumbuh dari kebiasaan. Kebiasaan adalah pengulangan kegiatan yang dilakukan secara konsisten. Bisa karena dipaksa pada awalnya atau dibuat semacam permainan. Untuk opsi kedua, anak-anak akan lebih tertarik karena memang dunianya masih bermain.
Anak-anak yang dibiasakan berbuat baik, akan menumbuhkan pemuda sang agent of change. Sesuai dengan apa yang diharapkan untuk mengubah negeri ini. Sering melihat moral para pemuda sekarang yang menyimpang? Seperti itulah kekhawatiran orang tua pada anaknya. Namun, terkadang penyimpangan itu tak lain adalah kurang tanggapnya orang tua. Misalnya membuat sesuatu yang “wah” untuk membiasakan hal kecil pada anak-anaknya. Kepekaan membuat sesuatu, bisa membuat orang tua mengembangkan ide tentang suatu proyek bersama anak-anak. Yang mana proyek tersebut selain menyenangkan juga dapat menyisipkan kebiasaan mengembangkan ide, membuat rencana, lalu menentukan kegiatan dari rencana.
Nah, salah satu proyek keluarga ini bisa diambil dari tema kebaikan. Proyek Panglima Kebaikan namanya. Panglima kebaikan di sini adalah pemimpin diri sendiri (anak, orang tua, anggota keluarga yang satu atap) untuk melakukan kebaikan setiap harinya dengan mencatatkan di buku pribadi atau daftar kebaikan yang ditempel di tembok Kebaikan bisa berupa bangun pagi waktu subuh, membersihkan tempat tidur, menyiram tanaman, salat tepat waktu. Kebaikan ini bisa ditentukan sendiri oleh anggota keluarga sesuai apa yang ingin dicapainya.
Proyek keluarga ini bisa dilakukan setiap hari. Dimulai dari diskusi keluarga tentang hal apa yang bisa dilakukan anggota keluarga dan bermanfaat baginya. Bisa juga dengan apa yang ingin dicapai dalam seminggu pertama. Ayah atau  Ibu pun bisa memancing anak untuk memberikan contoh-contoh kebaikan yang pernah ditemuinya, lalu ditanya bagaimana perasaan anak tersebut jika melihat orang lain berbuat kebaikan. Hal ini bisa dijadikan motivasi bagi anak-anak.
Panglima kebaikan bertugas mengawal dirinya sendiri, baik itu orang tua, anak-anak dan kakek/nenek atau paman/bibi yang tinggal seatap. Jadi semua anggota keluarga memiliki peranan penting terhadap dirinya sendiri dan bertanggung jawab atas diri sendiri.  Jika ada rencana  yang tidak dilakukan, anggota pun menghukum dirinya sendiri dengan hal yang telah disepakati bersama. Proyek ini membuat anggota keluarga terbiasa dengan waktu yang diisi oleh kebaikan-kebaikan secara konsisten.
Untuk lebih jelasnya, proyek panglima kebaikan bisa dijabarkan dengan detail dalam poin-poin ini.
1.    Pilih waktu diskusi antar anggota keluarga (sebaiknya saat anggotanya lengkap). Orang tua mengawali pembicaraan dengan anak, lalu mendiskusikan tentang kegiatan dari proyek kebaikan tiap harinya.
2.    Anak diajak serta menentukan daftar kebaikan apa saja yang akan dilakukan tiap harinya/apa yang ingin dicapainya.
3.    Semua anggota keluarga membuat daftar kebaikan dan dibuatkan jadwal harian di dalam sebuah kertas besar yang dapat ditempel di dinding. Harapannya, kertas yang tertempel dapat dilihat secara bebas oleh semua anggota keluarga dan memotivasi karena selalu terlihat.
4.    Agar lebih menarik, jadwal bisa diisi dengan stiker. Misalnya stiker bintang untuk kolom  kebaikan yang terlaksana.
5.    Jangan lupa menyiapkan hukuman positif jika ada yang melanggar salah satu daftar kebaikan. Hukuman positif bisa berupa kebaikan lain, misalnya membuat camilan sore hari.
6.    Setiap minggu adakan evaluasi tentang perkembangan proyek panglima kebaikan. Semua anggota keluarga diberikan kesempatan untuk menyampaikan saran, kritik, dan tambahan daftar untuk minggu depan.

Nah, sudah terbayang kan, bagaimana proyek panglima kebaikan itu? Proyek ini bisa jadi dilakukan dengan tema yang lain. Ajak anak untuk berdiskusi aktif dengan ide-ide awal yang unik, seperti “panglima” kebaikan ini. Anak biasanya lebih tertarik dengan hal-hal yang unik dan  belum diketahuinya. Yuk, menjadi bagian generasi kreatif dan mulai berbuat baik.

//–//
Ditulis oleh: Erdittya Ekanovie N.

One thought on “Proyek Keluarga: Panglima Kebaikan, Mengawal Diri Sendiri untuk Menuju Baik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *