POHON TOMAT GHANI

Hari ini Ghani dan teman-teman sedang berkumpul di depan sekolah. Mereka menunggu bus yang mau membawa ke Kantor Pertanian.

Sesampainya di sana, semua anak berkeliling melihat kebun di belakang Kantor Pertanian. Ada banyak tanaman yang tumbuh, seperti cabai, tomat, rambutan, jeruk, pisang dan lain-lain.

Hari sudah siang, sebelum pulang, Ghani dan teman-teman, dibagikan bibit tanaman. Ada dua macam bibit yaitu cabai dan tomat. Ghani memilih tomat, hehe. Karena tomat tidak pedas seperti cabai.

Ketika di rumah, Ghani langsung menanam pohon tomat kecil itu. Pot plastiknya diganti dengan pot yang lebih besar. Anak itu menyiramnya setiap hari, hingga pohon tomat tumbuh menjadi lebih tinggi. Tadinya hanya setinggi jari, sekarang sudah setinggi lutut, Loh! Tapi belum berbunga juga. Kata Bunda, “Pohon tomat akan berbunga setelah tingginya sampai perut.” Kapan ya itu? Semoga tidak lama lagi.

Di sekolahan, Bu Guru bertanya tentang tanaman yang kemarin dibagikan. “Siapa yang tanamannya sudah berbuah?”

“Punyaku belum, Bu!” jawab Ghani.

“Punyaku juga belum, Bu!” tambah Syam, teman sebangku Ghani.

“Punyaku mati, Bu!” jawab Sita.

Wah, ternyata punya teman-teman Ghani juga belum ada yang berbuah. Malah banyak yang mati. Beruntung, punya Ghani masih hidup.

Sebenarnya Ghani sedih. Kenapa ya, pohon tomat belum juga berbuah? Kata Bunda kalau sudah setinggi perut, akan berbuah. Tapi ini sudah setinggi perut, kok belum berbuah juga.

***

Di halaman rumah, Ghani dan bunda menyiram tanaman tomat kesayangannya.

“Bunda, apa pohon tomatku sakit? Kok sampai sekarang belum berbuah juga, ya?” tanya anak berambut cepak pada bundanya.

“Coba Bunda lihat dulu, ya.” Bunda jongkok, melihat pohon tomat itu.

Sebenarnya, Bunda Ghani juga ikut menyiram pohon tomat setiap sore. Dan selalu memberinya pupuk setiap hari Ahad.

“Wah, pantesan belum berbunga juga, Sayang,” kata Bunda.

“Kenapa, Bund?” tanya Ghani.

“Pohon tomatnya terkena hama,” jawab Bunda.

“Hah, hama? Apa itu, Bund?” tanya Ghani.

“Hama itu, kuman pada tumbuhan, yang membuatnya jadi sakit. Makanya tomat ini nggak mau berbunga,” jelas Bunda.

Ghani sedih. Padahal Ghani sudah menyiramnya setiap pagi. Kok tomat malah sakit. Kenapa ya, kuman tumbuhan yang kata Bunda namanya hama itu, tega membuat tomat sakit.

“Ya sudah, kita tunggu saja, mungkin besok tomat akan sembuh, dan berbunga,” kata Bunda sambil tersenyum.

“Semoga Allah menyembuhkan tomat, ya Bund,” kata Ghani.

***

Sore itu, setelah Bunda menyiram tomat. Ghani dan Bunda makan bersama di teras. Di sebelah pohon tomat kesayangan.

“Bunda, Ghani nggak mau makan tomatnya,” kata Ghani.

“Lho, kenapa?” tanya Bunda.

“Ghani, nggak suka! Habis rasanya kecut!” jawab Ghani.

“Hemm, katanya pengen sehat? Kalau pengen sehat harus mau makan buah dan sayur yang banyak,” jawab Bunda.

“Buah dan sayur kandungan vitaminnya banyak, bagus sekali untuk menjaga tubuh tetap sehat,” lanjut Bunda menjelaskan.

“Loh, pohon tomat kok, nggak sehat? Apa dia juga harus makan buah dan sayur juga?” tanya Ghani.

“Kalau tumbuhan beda, Sayang! Mereka makannya pupuk, dan meskipun makannya sudah banyak, tapi pohon tomat tidak bisa menjaga tubuhnya sendiri dari kuman yang menyerang!” terang Bunda.

“Ghani, tahu tidak kalau vitamin pada tomat bagus sekali untuk kesehatan mata?” tanya Bunda.

“Nggak tahu, Bund,” jawab anak kecil itu.

“Buah tomat kaya akan vitamin A dan vitamin C,” terang Bunda.

“Vitamin A untuk kesehatan mata, vitamin C untuk menjaga kesehatan tubuh supaya tidak mudah sakit,” lanjut Bunda lagi.

“Oh, begitu ya, Bund?” tanya Ghani.

“Jadi, mulut harus makan tomat agar mata kita sehat.” jelas Bunda.

Ghani sibuk berpikir.

“O,iya, kalau mulut Ghani sakit, yang nangis siapa? Mata, kan?” tanya Bunda.

Ghani mengangguk.

“Karena, mata sayang sama mulut Ghani. Mulut Ghani juga harusnya sayang sama mata.” Bunda memakan buah tomat yang ada di piringnya.

“Karena mata tidak bisa makan, maka mulut kita harus mau membantu mata, dengan makan buah tomat untuk kesehatan mata,” lanjut Bunda.

“Ih, emang nggak kecut, Bund?” tanya Ghani.

“Sedikit, tapi enak loh! Coba deh!” jawab Bunda.

Ghani  mencoba makan tomat, sedikit.

“Iya, Bund, enak!” Ghani memasukkan tomat lagi ke mulut.

“Ghani mulai sekarang mau makan tomat ah, biar mata Ghani semakin sehat! Dan tubuh Ghani tidak mudah sakit,” kata Ghani.

“O, iya, Bund. Nanti pohon tomatnya disembuhin ya, biar bisa berbunga dan berbuah, yang banyaaaak sekali, Ghani mau makan buah tomat mulai sekarang,” kata Ghani sambil tersenyum.

****

Ditulis oleh: Eka

Reviewer: Rohman

Baca Juga:   Berbagi Itu Baik, Tapi…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *