PESONA ISTRI SALIHAH

Mengapa Aisyah begitu cemburu kepada Khadijah? Padahal secara fisik dan usia tidak akan bisa sebanding. Aisyah jauh lebih unggul. Namun, setiap saat Rasulullah sering menyebut-nyebut dan memuji Khadijah, sehingga bara cemburu Aisyah terbakar sampai terlontar ucapan yang membuat Nabi marah.

“Tidak adakah wanita lain selain wanita tua ini?” sambil bersungut, Aisyah meluapkan kecemburuannya.

“Tidak. Demi Allah tidak ada wanita yang bisa menggantikannya. Di saat semua orang mengingkariku, ia adalah orang pertama yang mengimaniku. Saat semua orang mendustakanku, ia adalah orang pertama yang membenarkanku. Ia hibur aku dengan hartanya di saat semua orang mengharamkannya. Dan darinya aku mendapatkan keturunan.” Panjang lebar beliau membela Khadijah. Tidak rela siapa pun meragukan kemulian wanita assabiqunal awwalun (orang-orang yang pertama masuk Islam) yang dijamin masuk surga ini.

Betapa sedihnya hati Rasululllah saat Khadijah radhiyallahu ‘anha wafat. Bersamanya tidak ada masalah yang terlalu susah, tidak ada beban yang terlalu berat. Ucapannya bagaikan obat penenang jiwa, tatapannya mampu menghilangkan beban masalah.

“Wahai suamiku, Engkau orang baik, tidak memiliki musuh. Tidak mungkin Tuhan akan mencelakakanmu.” ucapnya lembut sambil menyelimuti tubuh suaminya yang menggigil ketakutan. Perlahan hati Rasululllah adem, dan setengah masalah selesai.

Tidak berlebihan pepatah mengatakan, “Di belakang laki-laki hebat, ada wanita super.” Sejarah Islam mengenal banyak wanita-wanita hebat ini. Mari kita lihat beberapa wanita super ini tanpa harus menjadi catwomen atau wonderwomen.

Alkisah, ada seorang suami dan istri yang sedang diuji dengan anak yang sakit parah. Di saat yang bersamaan, suami ada tugas panggilan jihad. Berperang bersama barisan kaum muslimin membela agama Allah. Agak berat ia meninggalkan anak yang sedang sakit.

Baca Juga:   Mr. Totality

“Suamiku, Kakanda konsentrasi jihad saja. Biarkan saya yang mengurus anak kita.” Sang istri berusaha meyakinkan suaminya.

Berangkatlah sang suami dengan cukup tenang atas jaminan dari istri. Qaddarullah, anaknya meninggal dunia saat ia masih di medan perang.

Sebagai seorang wanita biasa, istri salihah ini tak mampu menahan rasa sedih dan harunya. Ditambah suaminya tidak berada di sisinya. Dengan berurai air mata, diantarnya sang anak ke pemakaman.

Beberapa saat kemudian, tugas jihad suami selesai. Bersegeralah ia mandi, berdandan dan mempersiapkan dirinya dalam bentuk secantik-cantiknya rupa untuk menyambut sang suami.

Sesampainya di rumah, hal pertama yang ditanyakan suaminya adalah kondisi anaknya. “Umi, bagaimana kondisi anak kita?”

“Tenanglah wahai suamiku, anak kita sedang tidur dalam keadaan sangat tenang.” Hibur sang istri dengan senyum manis menggoda.

“Oh, syukurlah kalau begitu.” Jawabnya dengan senyum penuh makna melihat penampilan ayu istri tercinta.

“Oiya, ini pakaiannya, ini handuk, itu sabun dan sampho. Abi mandi dulu, Umi tak siapkan makanan, ya,” kata istrinya dengan tetap berwajah cerah.

Setelah mandi dan makan, sang suami bertanya lagi. “Di mana anak kita?”

“Abi kan, masih lelah, Umi temanin istirahat dulu, yuk.”

Setelah melihat suaminya sudah terlayani sampai tenang, perlahan di dekatinya suaminya. “Abi, bagaimana sekiranya, jika ada orang yang dititipi sesuatu barang, lalu pemiliknya ingin mengambilnya, namun ia tidak mau?”

“Wah, itu nggak boleh. Islam melarang perbuatan itu. Harus dikembalikan!”

“Abi, bukankah anak-anak juga titipan Allah?”

“Iya. Lalu?”

“Allah sudah mengambil titipannya.”

“Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun …. ” Pecahlah tangisan mereka mengiringi kalimat istirjak yang keluar dari bibir masing-masing.

Wanita mana yang tidak sedih ditinggal mati anaknya. Namun, ia mampu menahan semua keperihan itu untuk bisa membuat suaminya tidak kaget dan shock. Ia mampu mencari waktu yang tepat untuk bisa menyampaikannya.

Baca Juga:   [Cernak] Dari Hobi Menjadi Rezeki

***

Kisah yang lain terjadi di kota Jeddah. Di sebuah rumah mewah, terjadi adu mulut antara suami dan istri. Tak kuat menahan emosi, tangan kanan sang suami melayang menampar wajah istrinya.

Sang istri pun menangis tersedu-sedu. Tiba-tiba, terdengar bel rumah berbunyi menandakan ada tamu. Di depan rumah telah berdiri ibu, bapak mertua dan kerabat lainnya.

Ia segera membasuh wajahnya menghilangkan sisa-sisa air mata. Sementara suaminya hanya bisa pasrah. Tidak tahu lagi apa yang bakal terjadi jika orangtuanya tahu masalah keluarganya.

Istrinya kemudian mempersilahkan mereka masuk.

“Tafadhal, tafadhal, ummi, abah dan semuanya!”
Melihat wajah dan mata menantunya yang memerah, memancing mertuanya untuk bertanya, “Eh, ada apa ini. Mengapa engkau menangis?”

“Tidak ada apa-apa Umi. Subhanallah, saya kangen sama Umi, sama Abah juga. Ya Allah, ternyata Allah mengirimkan Umi dan Abah ke rumah.”

Di pojok ruangan, sang suami kaget. Tidak terbayang jawaban istrinya akan seperti itu.

Setelah semuanya masuk, sang suami pamit keluar untuk membeli makanan buat suguhan. Setelah makanan terbeli, ia kemudian belok ke toko emas. Sang istri dibelikannya emas seharga 10.000 real (kira-kira seharga 33 juta rupiah).

Setelah dirasa cukup, akhirnya mertua dan rombongan pun pamit pulang. Sang suami kemudian mendatangi istrinya dan meminta maaf. “Istriku, anti tastahiqqina ruhii. Engkau berhak mendapatkan nyawaku, lebih dari hanya sekedar emas ini.”

Begitulah. Istri yang salihah menjadi libas, pakaian yang menutupi kekurangan suami. Ia tidak ingin membebani masalah keluarga kepada orangtua. Sudah cukup mereka mengasuh, berjuang, dan bersabar selama ini.

Jauh-jauh hari Rasulullah sudah mewanti-wanti kepada para pemuda dan pemudi yang ingin berumah tangga, wanita atau pria yang beragama menjadi harga mati dalam membangun keluarga islami. Harga yang akan membawa kepada kedamaian dan kebahagiaan.

Baca Juga:   (Bukan) Kesenangan Instan

Pesona wanita salihah akan menerangi dunia ini, “Dunia ini perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri yang salihah.” Sabda Rasulullah 15 abad yang silam.

*****

Ditulis oleh: Syahrul,

seorang guru yang masih terus belajar menyelami profesinya.

Provokator Gerakan Guru Menulis dan Gerakan Ayah Menulis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *