Permainan dari Zaman ke Zaman

Sumber gambar: kopi-ireng.com
Kalau ditanya ‘apakah kamu suka bermain?’, pasti hampir semua dari kita akan menjawab sama: ‘ya, saya suka bermain’.  Yap, semua orang di dunia pasti suka bermain. Menurut  Johan Huizinga, seorang professor budaya dan sejarahwan Belanda, manusia adalah ‘homo ludens’, yaitu manusia adalah makhluk yang suka bermain dan menciptakan mainan. Bermain adalah hal yang sudah menjadi sifat manusia. Siapa pun percaya, bahwa bermain adalah kegiatan yang menyenangkan dan tak bisa dipisahkan dari kehidupan.
               Ternyata, bermain bukan saja dilakukan oleh manusia modern loh! Manusia purba pun sudah senang bermain. Hal ini dibuktikan dengan temuan para arkeologis di Mesir, Nigeria, Cina dan bahkan Indonesia. Nah, karena alasan kebutuhan manusia untuk bermainlah, maka diciptakan mainan atau permainan. Sejak kapan? Tentu sejak adanya peradaban manusia. Mainan atau permainan ada juga yang muncul sebagai hasil imajinasi anak-anak ketika mereka melihat kegiatan orang dewasa. Misalnya melihat ibu memasak, lalu mereka mencoba membuat sendiri alat-alat dapur yang dipakai berupa tiruan.
               Seperti disebutkan di atas, manusia sejak dulu suka bermain. Bangsa Romawi kuno (sekitar abad ke-9 SM) memainkan banyak permainan yang mirip dengan permainan tradisional Indonesia, seperti main dadu, bas-basan (bukti arkelogi ditemukannya gambar di lantai-lantai bangunan dari masa kekaisaran Romawi, mulai dari rumah, gardu jaga, dan amphitheater). Permainan ini dimainkan oleh lelaki-perempuan, tua-muda. Ada juga permainan astragaloi (ruas jari), yaitu permainan yang mempergunakan tulang pergelangan kaki domba. Permainan ini mirip dengan permainan bekelan di Jawa.
               Permainan di Mesir kuno (3150 SM) mirip dengan beberapa permainan pada masa kini. Ada permainan dengan kepingan seperti dam-daman, dadu dan congklak. Ada juga permainan mirip bola bekel. Anak-anak Mesir saat itu ada yang memiliki mainan tertentu, di antaranya kerincingan dan mainan hewan dari tanah liat. Selain itu, ada mainan kayu, misalnya mainan kuda nil dengan rahang yang dapat digerakan. Ada pula boneka mahal yang dibuat dari kain dan bagian dalamnya diisi papyrus dan mainan bola dari kulit papyrus dan rambut kuda. Akan tetapi, mereka sering melakukan permainan di luar rumah, seperti atletik, berenang di sungai, bergulat, bertinju, serta menari dalam lingkaran.
               Di Indonesia sendiri mainan dan permainan sudah dikenal sejak jaman kerajaan Nusantara, misalnya ditemukan di situs Slumbung, Blitar. Pada situs dengan angka tahun  1324 dan 1334 M ini, ditemukan batu berlubang yang diperkirakan sebagai dakon. Masih ada beberapa temuan serupa, misalnya pada prasasti Ciareuteun, atau situs batu dakon yang ditemukan di Dusun Cepoko, Boyolali.
Pada perkembangannya, permainan tradisional yang beragam muncul di Indonesia. Banyak para ahli sejarah mengatakan, beberapa permainan yang berkembang di Indonesia dibawa oleh pedagang-pedagang Arab, Gujarat atau bahkan bangsa Belanda yang menjajah negara kita. Dan pada kenyataanya, beberapa permainan tradisional Indonesia banyak kemiripannya dengan di negara-negara lain. Misalnya saja, bekel, engklek, egrang, lompat tali, petak umpet, dan masih banyak lagi. Bahkan, anak-anak di Uganda juga memainkan motor kayu dan permainan roda seperti anak-anak di Magelang dan Irian Jaya. Terlepas dari mana asalnya, permainan tradisional sempat jaya dan menjadi permainan kebanggaan anak Indonesia. Permainan tradisional juga dipercaya memiliki nilai-nilai positif bagi perkembangan tumbuh kembang anak.
               Akan tetapi, seiring berjalanannya waktu dan hadirnya tekhnologi modern, permainan-permainan ini pun mulai dilupakan. Ini terjadi terutama di masyarakat kota, dan mulai terjadi juga di masyarakat desa. Anak-anak jarang bermain patek lele, gobak sodor, gatengan, petak umpet dan sejenisnya. Berbagai permainan tradisional itu berganti dengan permainan modern seperti game komputer atau game online, play stationdan sejenisnya.
               Jika kita cermati, pada permainan tradisional cenderung melibatkan banyak orang sedangkan dalam permainan modern tidak. Bahkan pada permainan modern, satu orang manusia bisa menjalankan permainan, karena lawannya adalah mesin, komputer. Permainan tradisional yang melibatkan banyak teman sebaya merupakan sarana sosialisasi yang baik bagi anak-anak: bagaimana mereka memahami karakter lingkungan sosialnya dari karakter masing-masing teman bermain. Permainan tradisional mengandaikan interaksi dan interelasi antar manusia, sedangkan pada permainan modern interaksi dan interelasi itu digantikan oleh mesin.
               Semua permainan, baik tradisional maupun modern, pada dasarnya bisa membuat anak menjadi lebih kreatif dan imajinatif. Bedanya, jika permainan modern  memerlukan biaya yang lebih mahal, sedangkan permainan tradisional cenderung tak membutuhkan biaya. Nah, permainan mana yang akan kalian mainkan? Sebaiknya kalian perhitungkan dahulu kelebihan dan kekurangannya. Atau, kalian bisa tanya sama Ayah dan Bunda untuk menunjukkan manakah yang bisa kalian mainkan. Selamat bermain (Redy, disarikan dari berbagai sumber)

 

Ditulis oleh: Redy Kuswanto. 
Baca Juga:   Bedah Buku, atau Pulang?

9 thoughts on “Permainan dari Zaman ke Zaman

  1. Inget jaman kecil dulu, suka main gobak sodor. Karena kurus jadi lariku lumayan gesit. Sering lolos dengan mudah. Selalu menang dong. Karena saya pakai trik. Begitu permainan selesai, saya main gobag sodor sendiri. Disitu saya merasa paling gesit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *