PERJALANAN MENUJU PUNCAK MERBABU

Pengalaman pertama begitu menggoda. Menggoda dan mengesankan yang membuat kita akan selalu mengingatnya. Ingatan-ingatan kita semakin bertambah umur akan semakin memudar. Namun, tidak akan pudar secepat itu jika rasa yang menggoda dan mengesankan tertanam dalam di hati. Rasa itu membuatku semakin bersyukur akan nikmat-Nya, aku bisa menikmati perjalanan menuju puncak Merbabu. Perjalanan pertamaku mendaki gunung bersama teman kuliah, tahun 2005 dulu. Saat kami sedang akrab-akrabnya berkawan.

Kami masih seperti kepompong, terbungkus wadah yang indah. Indah dilihat dari kejauhan, jarang lelaki mendekat. Mereka merasa kurang percaya diri pada kami, cewek-cewek berparas cantik nan imut yang berprestasi dalam bidang akademik dan organisasi. Dalam organisasi kami masih dominan, berkeinginan keras untuk menaklukkan puncak Merbabu. Keinginan itu pun terwujud, gayung bersambut dari ketua ikatan. Alasannya tepat, untuk mengisi waktu libur semester. Senangnya rasa hati kawan-kawanku, namun tidaklah buat hatiku.

Persetujuan kakek sulit kudapat, terlalu sayangnya ia padaku. Tubuhku yang imut membuat kakek tidak percaya kalau aku dapat menaklukkan puncak Merbabu. Kuyakinkan kakek bahwa di sana aku tidak sendiri, barang yang akan aku bawa juga lengkap. Aku akan baik-baik kakek. Bagi kakek, pendidikan adalah hal terpenting dan utama dalam keluarga kami. Jika liburan tiba, waktunya untuk kami berkumpul dan saling berbagi cerita. Waktu untuk berkumpul kami sangat sempit karena kesibukan masing-masing anggota keluarga. Sejak kuliah aku tinggal bersama kakek dan nenek, di kota pelajar, kota gudeg di mana ibuku dilahirkan. Di sana masih ada bulik—adik dari ibuku—dan keluarganya serta ada sepupu-sepupuku dan paman yang masih lajang.

Pamanku sangat mengerti keinginanku, ia membujuk kakek. Paman mengatakan bahwa belum ada anggota keluarga kami yang mau mendaki gunung, baru aku yang mau mencobanya. Badan yang kecil dan imut tidak jadi masalah, yang penting aku bisa jaga kepercayaan yang telah mereka beri. Hati kakek pun luluh, aku boleh pergi mendaki gunung bersama kawan-kawan. Terlihat wajah kakek penuh dengan kekhawatiran, lalu ia mengajukan sebuah syarat. Jika sudah sampai di kaki gunung Merbabu, saat kawan yang lain bersiap mendaki gunung aku diminta menunggu di warung saja. Aku bisa makan dan istirahat di warung itu. Kekhawatiran kakek menjadikanku seperti anak kecil. Aku bukan anak kecil lagi, tubuhku saja yang kecil.

Tubuhku yang kecil dan imut ini, sejak masa orientasi mahasiswa baru sudah punya penggemar. Dia cowok tinggi besar, naik motor gede. Beda jurusan denganku, senang sekali dia antar jemput aku ke kampus. Tapi dia tidak berani jemput aku di rumah, kakekku sangat garang. Kakek melarang kami berpacaran selagi masih kuliah. Aku tidak terlalu menganggap dia pacarku, hanya teman dekat yang mau jadi driver-ku.

Hari yang ditunggu tiba, pagi hari perjalanan dimulai. Demi menghemat pengeluaran kami naik kendaraan secara estafet, di setiap terminal kami turun dan naik lagi kendaraan lainnya. Berlari-lari mengejar kendaraan berikutnya terasa semakin terbiasa. Setidaknya, ada tiga terminal yang kami lalui sebelum sampai di perkampungan dekat kaki gunung Merbabu, menjelang gelap kami sampai penginapan. Cuaca dingin mulai terasa, kami menggigil karena cuaca dingin mulai terasa menusuk tubuh. Setelah istirahat sejenak dan cuaca mulai bersahabat, kami bersiap-siap melakukan pendakian. Hati kami merasa sangat senang, hingga tidak terasa angin yang masih sedikit terasa dingin ditubuh kami.

Dalam satu rombongan terdiri dari 17 orang, itu sudah termasuk pemandu perjalanan. Pemandu kami ada yang dari pemuda kampung setempat dan kakak tingkat kami di Kampus. Mereka yang memandu adalah orang yang telah melakukan perjalanan ini sebelumnya. Satu rombongan ini ada 7 orang cewek, aku salah satunya. Aku jugalah yang paling kecil postur tubuhnya, sehingga tak jarang mereka memperhatikan dan membantuku. Hatiku sangat senang, selama perjalanan aku tidak begitu merasakan lelah. Mereka membantu membawakan barang bawaanku. Asyik kami bernyanyi dan terus berjalan mendaki gunung Merbabu. Pos demi pos kami lalui dan beristirahat sejenak.

Saat beristirahat kami bertemu tiga pemuda, mereka masih anak SMA. Demi mengisi liburan yang mengesankan dan menantang, mereka mencoba mendaki gunung Merbabu. Namun tidak ada yang memandu perjalanan mereka, bekal mereka pun tidak terlalu banyak. Sebelum bertemu dengan kami, mereka sempat kesasar beberapa kali. Jiwa sosial kami pun muncul untuk mengajak mereka bergabung dengan rombongan kami. Lelah yang sangat membuat pemandu kami memutuskan beristirahat di pos terakhir sebelum mencapai puncak lebih lama. Salah satu dari anak SMA itu ada yang kram kakinya juga, sehingga kami untuk menikmati matahari terbit tidak di puncak gunung Merbabu.      

Kami merasakan kekecewaan atas keputusan sang pemandu untuk tidak melanjutkan perjalanan sampai puncak Merbabu, namun rasa itu hilang setelah kami melihat matahari mulai menampakkan sinar cahaya yang indah. Suatu hal yang menakjubkan! Kebesaran Sang Pencipta begitu dekat dapat aku rasakan. Tidak lupa kami mengabadikan moment indah itu dengan berfoto bersama terbitnya matahari. Keinginan untuk dapat melakukan pendakian hingga puncak masih menggebu di hati kami semua, namun apalah daya semua bekal menipis dan pakaian kami telah basah. Perjalanan pulang kami lakukan setelah matahari menampakkan sinar yang cerah.

Tiga jam sebelumnya, saat beristirahat, kami tidak bisa tidur dengan nyaman. Walaupun alas yang kami gunakan sebetulnya cukup nyaman. Aku merasa bukan tidur di atas tanah yang diberi alas, tapi kami tidur di dalam kolam renang. Sangat dingin, pakaian yang ada di tas pun basah semua. Hati pun mengeluh, keluar dari mulut suatu penyesalan dan aku katakan pada kakak tingkatku. Aku katakan betapa dinginnya udara saat ini, aku menggigil dan kulit tangan serta wajahku mulai memucat. Ingin cepat kembali merasakan udara yang sejuk dan tidur dengan nyaman. Namun reaksi yang aku dapat dari kakak tingkatku membuat aku tersadar, semakin kita mengeluh maka akan semakin terasa apa yang kita keluhkan itu. Seperti jika kita mengeluh akan cuaca yang dingin maka akan kita rasakan semakin dingin dan terus dingin. Kita sebagaimana yang ada dalam pikiran saat itu. Jadi selalu berpikir positiflah terhadap diri kita sendiri.

Tidak terasa kami sampai di penginapan di bawah kaki gunung Merbabu. Beristirahat dan bercanda ria bersama kawan-kawan adalah hal yang menyenangkan. Kita saling mengenal satu dengan lainnya. Hal itu yang terasa dalam hatiku, aku semakin mengenal kakak tingkatku yang selalu berpikir positif dan bijak dalam menyikapi semua masalah. Wajahnya terlihat teduh dan bersahaja, tidak banyak bicara dan tertawa. Dia seorang cowok alim, lulusan pondok pesantren. Kawan-kawanku tidak mau mengajaknya berbicara, mereka merasa tidak cocok berkawan terlalu dekat dengan cowok seperti itu. Aku saja yang mau berkawan dengannya dan menganggap dia memiliki ilmu dan pengetahuan yang perlu aku miliki. Diskusi hangat dengannya membuat waktu cepat berlalu dan kedekatan kami semakin terasa.

Dalam perjalanan pulang, kami masih dekat. Berlari-lari mengejar kendaraan seperti saat berangkat kemarin masih kami lakukan. Dia selalu membantuku membawakan tas ranselku. Kami masih ngobrol sepanjang perjalanan dan kadang kami tertawa bersama. Kami tidak sadar diantara kawanku ada yang tidak suka melihat kedekatanku. Perjalananku mendaki gunung Merbabu pun berakhir, sampai di kampus sang driver ku telah menjemput. Dia sedikit berbeda, diam dan tidak bertanya tentang pengalaman-pengalamanku yang menajubkan. Semakin hari, dia semakin menjauh. Tidak lagi mau menjemputku dengan berbagai macam alasan dan kemudian dia menghilang. Aku bersikap biasa saja, seperti tidak terjadi sesuatu.

Hingga akhirnya ada cowok yang datang kerumah kakek dan mencariku. Cowok itu teman dekat driver ku, dia datang untuk menanyakan keberadaan driver ku. Sudah beberapa hari dia tidak pulang kerumah. Aku terkejut dan kaget, sebenarnya ada masalah apa? Aku tidak merasa membuat dia marah, mungkin kesalahanku tidak menanyakan saat dia diam dan berubah sikapnya terhadapku waktu itu. Kejelasan pun aku dapat dari kawan driver ku, ternyata aku yang bersikap biasa saja sangat berbeda dengannya, dia menganggapku gadis yang memiliki arti dalam hidupnya sehingga dia senang sekali untuk mengantarku kemana-mana. Dia sangat kecewa mendengar laporan kedekatanku dengan kakak tingkat dari kawanku. Karena kepolosanku dan sikap cuekku, perasaan orang terdekatku terabaikan. Aku mencoba mencarinya dan tidak berhasil kutemukan.

Seminggu telah berlalu dari perjalananku mendaki gunung Merbabu, lelah fisik dan pikiranpun baru terasa. Pikiranku  akan sang driver membuatku semakin lemah. Rasa bersalah dan tidak dapat menemuinya membuat aku harus opname di Rumah Sakit dekat rumah kakek. Trombositku turun, indikasi DBD menyerangku. Banyak kawan yang menjenguk termasuk kakak tingkat idolaku. Tidak lama sang driver baik hatipun datang menjengukku juga. Kami bertiga di ruang tempatku berbaring, rasa hati bersitegang. Hal apa yang harus kulakukan, dengan berat hati aku katakan pada mereka. Aku tidak ada perasaan apapun dengan mereka, aku anggap mereka kawan yang spesial semua. Belum waktunya untukku memutuskan siapa yang akan aku pilih. Aku ingin fokus di kuliahku. Mereka yang lebih dewasa dariku akhirnya menerima keputusan tersebut.      

Ditulis oleh: Donna Ningrum

Reviewer: Hapsari T. M

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *