Perempuan Tak Pernah Kehabisan Mimpi

Inung tergopoh mempercepat langkahnya. Lilitan jarit yang belum sempat ditanggalkan membuat jangkauan langkahnya semakin sempit. Semua gara-gara Wawan, yang menceritakan soal kiriman lagu di radio untuk Inung semalam. Ledekan teman-temannya membuat Inung ingin segera pergi dari tempatnya berlatih tari klasik, tanpa sempat bertukar pakaian.

Pintu depan terbuka dan lampu ruang tamu menyala. Sedang ada tamu rupanya. Inung melanjutkan langkahnya menuju pintu samping dan mendapati ibunya sedang menyiapkan nampan berisi dua cangkir teh. Cangkir keramik antik dengan lukisan timbul berbentuk ikan di kedua sisinya. Setahu Inung, hanya tamu istimewa yang beruntung disuguhi memakai cangkir-cangkir itu.

“Nah, pulang juga akhirnya. Ini, bawakan ke depan.”

Sebelum mengulurkan nampan, Ibu memandangi pakaian Inung sejenak, lalu terlihat mengangguk puas.

Inung meletakkan tas kainnya di atas risban lalu menyambut nampan minuman itu dari tangan Ibu. Sesampainya di ruang tamu, dia sedikit risih dengan tatapan lekat dari sang tamu yang saat itu dia pikir adalah teman kerja Bapak. Inung semakin dibuat bingung dengan ucapan Bapak saat Inung selesai meletakkan cangkir-cangkir itu di atas meja.

“Nung, kenalan dulu sama tamunya Bapak.”

Meski ragu Inung menurut saja untuk membalas uluran tangan dari laki-laki yang menurut taksirannya lebih tua sepuluh tahun darinya.

“Hartono.”

Suaranya berat berwibawa, membuat Inung sedikit gagap ketika menyebutkan namanya, “Nunung.”

Setelah itu Inung buru-buru permisi dan masuk ke kamarnya dengan nampan yang masih dibawanya.

Setelah tamu itu pulang, barulah semuanya menjadi jelas. Mengapa adik-adiknya tertawa-tawa kecil sembari mencuri-curi pandang padanya, mengapa tiba-tiba Bapak memintanya berkenalan dengan tamu tadi, dan jelas sudah siapa Tono yang semalam dan malam-malam sebelumnya mengirimkan lagu-lagu romantis untuknya lewat radio.

“Nak Tono itu ponakan teman baik Bapak yang memang sedang mencari istri. Pilihannya jatuh pada kamu, Inung.”

Menurut Bapak, beliau sudah sangat mengenal keluarga Mas Tono. Keluarga besar mereka juga sudah sangat setuju dengan pilihan Tono. Semua hanya tinggal menunggu persetujuan Inung.

“Nak Tono sudah PNS, Nung. Hidupmu nanti sudah bakal terjamin.” Dua kalimat dari Bapak mengakhiri penjelasan persuasif-nya pada Inung.

Tapi siapalah Inung. Sedari kecil Inung hanya tahu bahwa apa-apa yang diberikan padanya adalah yang terbaik untuknya. Selama Inung menerima keadaan itu, kehidupannya berjalan dengan baik. Tidak pernah ada kesulitan berarti yang ditemui. Hingga sampai pada satu kesimpulan bahwa bapak dan ibu tidak akan pernah menjerumuskan anaknya, dan selama Inung menurut, maka semuanya akan baik-baik adanya. Seperti kata guru mengajinya, patuh pada orang tua adalah surga dunia dan akhirat sebagai ganjarannya.

Maka di ujung kecamuk pikirannya, di hadapan tatap penuh harap kedua orangtuanya, Inung mengangguk. Ketujuh adik-adiknya yang sejak tadi seolah menahan napas sontak bertepuk dan bersorak.  “Mbak Inung jadi manten…Mbak Inung jadi manten…!”

Tapi hanya Inung yang bisa mendengar bisikan halus dari batinnya. Selamat tinggal mimpi. Mimpi melanjutkan ke perguruan tinggi, menyusul kakak tertuanya di Jogja. Mimpi mendalami tari klasik dan mengikuti pagelaran-pagelaran tari berkeliling dunia. Waktunya hanya tinggal beberapa bulan lagi. Lulus SMA dan penghulu sudah menanti.

***

Terlepas dari kejadian-kejadian konyol yang mengawali kehidupan pernikahannya, Inung mulai bisa merasakan bahagia dalam kehidupan barunya. Ketakutan yang membuatnya bersembunyi di kamar mandi ketika hendak diboyong ke desa Mas Tono sudah sepenuhnya hilang. Berganti dengan perasaan yang tidak asing lagi baginya. Aman dan terlindungi.  Kalau dulu perasaan itu dia dapatkan dari kedua orangtuanya, sekarang dia dapatkan dari keluarga besar Mas Tono.

Berbeda dengan Inung yang merupakan anak kedua dari sembilan bersaudara, suaminya justru kakak bungsu dari sebelas bersaudara. Usia Inung bahkan lebih muda dari adik bungsu Mas Tono. Jadilah dia kesayangan baru di keluarga suaminya. Seolah masa remajanya tidak pernah tercerabut dari garis kehidupannya.

Inung pun mensyukuri keputusannya untuk menikah, karena bisa menjadi jalan bahagia untuk keluarganya. Mas Tono yang pegawai negeri dengan penghasilan lebih dari cukup di masa itu, dengan ringan hati membantu biaya sekolah adik-adiknya. Inung sudah lupa dengan mimpi-mimpinya sendiri, berganti dengan impian yang tinggi untuk keluarganya, orang-orang yang dicintainya.

***

Namun jalan hidup berkata lain. Mas Tono memutuskan untuk menghentikan laju karirnya dan memilih menjadi kepala bagian daripada kepala dinas, mengingat kesehatannya yang menurun. Sementara ketiga anak mereka yang mulai beranjak dewasa membutuhkan biaya pendidikan yang tidak sedikit.  Inung pun semakin kuat menggenggam impian untuk membahagiakan orang-orang yang dikasihinya.

Satu per satu adiknya tuntas menyelesaikan pendidikan dan mulai membina rumah tangga. Inung bisa total mencurahkan perhatiannya untuk keluarga kecilnya, terutama pada kesehatan suaminya yang semakin menyita pikiran dan menguras biaya.

Berbekal bakat memasaknya Inung bisa membantu keuangan keluarga dengan menjalankan bisnis katering, dibantu si sulung yang juga hobi memasak, bahkan mengambil D-3 jurusan Boga.

Hingga diujung kebersamaan mereka, tak habisnya Inung bersyukur mempunyai pendamping hidup seperti Mas Tono. Meskipun dia dulu hanya remaja lulusan SMA dan rumah tangga mereka terbilang berkecukupan, Mas Tono bersikeras membekali istrinya dengan bermacam keterampilan. Kursus menjahit, memasak, bahkan Mas Tono membuatkan kios kecil untuk sambilan Inung berdagang sembako.

Maka ketika suami terkasihnya berpulangkarena sakitnya yang semakin parahInung tidak menjadi timpang. Ibu tiga anak itu sudah mempunyai pijakan untuk melanjutkan hidup.

***

Siang itu, di ruang keluarga rumah mungil mereka, ada nasi tumpeng di depan Inung dan ketiga anaknya.  Mereka usai menghadiri upacara wisuda si bungsu.

Kedua mata Inung berkaca-kaca, pandangannya menerawang pada nasi tumpeng buatan gadis sulungnya. Mereka duduk bersisihan saling bergenggaman tangan.

“Hari ini, mimpi terbesar Ibu sudah tercapai.”

Kepala anak bungsunya bersandar manja di bahu Inung, pelukan ketiga anaknya pun semakin erat saat Inung tak sanggup melanjutkan kalimatnya.  Isak tangisnya menyela untuk beberapa saat.

“Ibu sempat gelo tidak bisa melanjutkan kuliah ketika menikah dengan Bapak kalian.  Tapi bahagianya Ibu sudah cukup dengan memiliki kalian. Mimpi Ibu pun berubah.”

Ditepuknya pipi si bungsu yang sudah mulai bercambang.

“Meskipun hanya lulusan SMA, Ibu ingin anak-anak semua jadi sarjana. Alhamdulillah hari ini mimpi Ibu lunas terbayar.”

******

Ditulis oleh: Oky E. Noorsari

Reviewer: Syahrul

Baca Juga:   CIRI DAN TIPS MERAWAT KUKU KAKI YANG TERINFEKSI JAMUR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *