Perempuan Berkalung Verban

Melihat sosok perempuan masa kini, rasanya kagum. Banyak prestasi yang ditorehkan, bahkan mengalahkan prestasi kaum laki-laki. Sepertinya, perjuangan R.A Kartini sudah terlihat ada hasilnya. Bagaimana tidak? Lihat saja beberapa tokoh penting yang muncul dari kalangan perempuan. Ibu Sri Mulyani, Menteri Keuangan RI, Ibu Susi Pujiastuti, Menteri Kelautan, dan tentu juga Ibunya anak-anak saya. Hehe … Mereka orang penting yang berpengaruh terhadap masa depan negara kita tercinta. Lumrahnya mereka akan terlihat cantik ketika kita pakaikan perhiasan kalung emas, bukan dengan terpaksa mereka kenakan “verban” di lehernya.

Saya masih ingat, ketika masa SD dulu, yang selalu juara kelas selalu perempuan. Sewaktu SMP pun siswa perempuan juaranya. Naik ke SMA, waktu itu juga perempuan yang ranking pertama. Ketika duduk di bangku kuliah, kok ya yang cumlaude didominasi kaum perempuan juga. Bagaimana tidak hebat coba? Atau jangan-jangan memang saya saja yang kurang pinter dibanding mereka.

Sekarang coba kita amati di lingkungan kerja kita. Apakah kaum perempuan masih tetap mendominasi?

Kalau di tempat kerja saya sih kayaknya, iya. Di level karyawan fungsional hampir 70% karyawan adalah perempuan. Yang menduduki jabatan struktural kurang lebih 60% adalah kaum perempuan. Apa hal ini menunjukkan bahwa kaum laki-laki sudah kalah dari segi jumlah, atau memang kalah bersaing dalam dunia kerja?

Dari waktu ke waktu saya iseng mengamati aktivitas penerimaan pegawai di tempat kerja saya. Kebetulan saya kerja di rumah sakit swasta di Yogyakarta. Beberapa kali proses penerimaan karyawan yang dilakukan, sering kali selalu kesulitan mendapatkan karyawan laki-laki. Kalaupun ada yang mendaftar, biasanya dilihat dari sisi tes masuk menunjukkan hasil yang kurang memuaskan. Bahkan kadang masih kalah dengan hasil tes calon karyawan perempuan yang sama-sama ikut tes penerimaan karyawan.

Akhirnya ketika harus memutuskan hasil tes, tim penyeleksi justru semakin galau. “Ini kalau ditolak semua, kontinuitas pelayanan pasti terganggu karena kurang orang. Kalau diterima, ada risiko mereka bekerja tidak sesuai standar. Karena kualifikasi kurang memadai.”

Kadang dalam situasi galau seperti itu akan muncul beberapa alternatif. Pertama merekrut karyawan perempuan yang lulus test, atau tetap meloloskan karyawan laki-laki meskipun hasil ujian masuknya kurang bagus.

Oke, saya tidak akan membahas soal karyawan perempuan dari sudut pandang perusahaan. Saya akan fokus membahas perempuan dari sisi personalnya. Ya, setidaknya kita bisa diskusi sebenarnya yang dimaknai sebagai wanita karier itu yang seperti apa. Apakah perempuan yang punya jabatan strategis di perusahaan? Hehe ….

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata karier diartikan sebagai perkembangan dan kemajuan dalam kehidupan, pekerjaan, jabatan, dan sebagainya. Bukan hanya sebatas perempuan yang bekerja kantoran, melainkan dalam aspek kehidupan pun bisa dikategorikan sebagai karier.

Pengartian lain tentang kata karier di KBBI dituliskan bahwa karier adalah pekerjaan yang memberi harapan untuk maju. Bisa jadi ketika seorang perempuan bekerja di kantoran, lalu malah menjadikan masalah di rumah tangga, itu bukan karier. Jadi jangan bangga dulu mengatakan diri kita sebagai wanita karier jika pekerjaan yang kita tekuni tidak menjanjikan harapan untuk maju.

Ada beberapa kasus yang saya amati. Beberapa karyawan perempuan sebenarnya memiliki kinerja yang baik. Namun, diam-diam mereka memendam masalah dengan suaminya, ibu mertua, atau dengan tetangganya. Ada yang suaminya komplain, merasa pekerjaan rumah tangga tanggung jawab istrinya tidak beres. Ada ibu mertua yang merasa tidak diperhatikan. Yang paling parah, hubungan sosial dengan tetangga jadi renggang. Sejak bekerja jadi jarang ikut kegiatan di masyarakat.

Masalah-masalah seperti ini sangat sering terjadi. Bukan hanya kita sebagai karyawan saja yang mengalami, tapi orang lain juga. Hanya saja kita memang tidak bisa mengetahui kehidupan mereka lebih jauh. Hal-hal semacam ini, bagi sebagian besar orang menjadi ranah privasi yang tidak layak dikonsumsi publik. Jadi, ya sebisa mungkin hanya kondisi pekerjaan yang baik-baik saja yang ditunjukkan.

Perempuan berkalung verban di sini saya gunakan untuk menggambarkan perjuangan perempuan-perempuan semacam itu. Mereka tetap menyelesaikan tugas rumah tangga, juga mengerjakan pekerjaan lainnya untuk membantu menghidupi keluarga. Mereka tetap mampu menjaga keharmonisan rumah tangga. BukanĀ  kalung emas yang mereka buru. Melainkan kelangsungan hidup keluarga. Mereka mengesampingkan kebutuhan untuk bergaya, dan rela berdarah-darah bekerja keras demi keluarga. Mereka sudah siap membebat setiap luka dengan verban yang mereka kenakan.

Beberapa hari yang lalu, untuk kesekian kalinya saya melihat istri saya tidak berhenti merampungkan pekerjaan rumah tangga. Dia nyapu, ngepel, nyuci, juga ngurus anak. Di sela-sela waktu dia juga jualan online. Padahal dalam beberapa hari itu kondisi badannya kurang fit. Sempat periksa di klinik dan belum membaik. Tetapi, dia punya keyakinan bahwa apa yang dia kerjakan akan membuat kehidupan kami lebih baik. Dan, saya kagum dengannya karena hubungan dengan warga di sekitar rumah kontrakan kami terjalin dengan baik. Semoga segera terwujud apa yang menjadi harapan kami sekeluarga. Aamiin.

Ditulis oleh: Seno NS

Reviewer: Hapsari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *