Pengin Dagangan Laris? Hindari Sistem Jualan Culas

Jauh sebelum belajar teknik jualan begini dan begitu, sebenarnya yang pertama dan paling utama dibangun hanya satu saja: kepercayaan. Sebab apa artinya iklan yang menarik dan harga murah, bila penjual tidak bisa dipercaya. Maka dalam merintis sebuah bisnis, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan, yakni membangun kepercayaan konsumen. Jangan sampai yang terjadi justru akumulasi kekecewaan. Konsumen kecewa setelah bertransaksi dengan kita. Berhati-hatilah.

Benarlah apa yang difirmankan oleh Allah swt, “Janganlah membunuh dirimu sendiri.” (Q.s. An-Nisa [4]: 29) Termasuk dalam konteks bisnis, kita membunuh bisnis kita sendiri dengan cara-cara yang culas, batil, dan merugikan konsumen.

Kita mulai dari contoh yang paling sederhana. Ada orang berjualan es batu dan sangat murah sekali. Harganya jauh dibawah harga es batu buatan orang lain. Tentu saja orang-orang senang membeli di sana, dan dia mendapatkan keuntungan yang banyak. Tetapi apa yang terjadi selanjutnya? Beberapa orang yang membeli dan menikmati es batu itu mengeluh sakit tenggorokan lalu batuk-batuk. Usut punya usut, ternyata es batu yang dijual itu dibuat dari air mentah. Lalu apa yang terjadi? Orang-orang tidak mau membeli lagi meski harganya masih murah. Konsumen lebih menyayangi tenggorokan mereka dan lebih baik membeli es batu yang terbuat dari air matang meski lebih mahal. Sebab bagi mereka, kesehatan nilainya jauh lebih mahal.

Itu baru satu kasus saja, yang membuktikan bahwa kecurangan hanya akan membunuh bisnis itu sendiri. Satu kasus lagi, tentang bisnis cuci motor yang sedang ramai-ramainya. Agar tempat cucinya tambah laris, rupanya seorang pebisnis ini memberikan pengkilat untuk body motor. Sehingga motor yang dicuci di sana akan tampak bersih dan kinclong sekali. Wah, orang-orang pun berdatangan ke sana membawa motor mereka yang kotor. Tentu saja, setelah keluar dari area cuci motor itu, motor-motor mereka menjadi bersih dan mengkilap.

Tetapi apa yang terjadi kemudian? Ternyata banyak debu yang menempel di motor mereka. Body motor yang mengkilat itu sifatnya hanya sementara. Konsumen pun akhirnya kecewa. Rupanya cairan pengkilat itu—oleh si pencuci motor—telah ditambahkan oli. Pantas saja debu-debu menempel di body motor. Sejak saat itu, bisnis cucian motornya pun sepi. Sebab ia melakukan sesuatu yang melukai hati konsumennya.

Berbeda dengan tempat cuci motor yang profesional. Mereka menggunakan cairan pengkilat body motor yang terbaik, meski harganya cukup mahal. Harga jasa cucinya pun berbeda. Bila cucian motor biasanya Rp 6.000 saja, maka cucian motor profesional ini bisa sampai Rp 8.000. Lebih mahal memang, tetapi hasilnya jauh lebih bersih dan kilapnya tahan lama. Ternyata, konsumen lebih memilih harga yang lebih mahal itu. Tidak masalah bagi konsumen, sebab cairan untuk mengilapkan itu benar-benar bisa melindungi cat motor mereka.

Kepercayaan adalah kunci bisnis. Untuk mencapainya, dibutuhkan satu sikap yang konsisten, yakni kejujuran. Yakini bahwa kejujuran adalah mata uang yang berlaku untuk bisnis apa saja, kapan saja, dan di mana saja.

Lalu kenapa kita terdorong untuk melakukan tindakan culas dalam berbisnis?

Pertama, terdorong nafsu ingin mendapat keuntungan besar dan secepatnya. Meski ingin mendapatkan keuntungan dalam bisnis terhitung wajar, namun menggunakan berbagai cara agar selalu untung jelas tidak boleh dilakukan. Seperti menahan, menyerobot, atau dengan sengaja mengambil hak orang lain.

Kedua, tidak tahu bahwa tindakan tersebut termasuk dalam kategori culas. Biasanya hal ini terjadi karena seseorang baru masuk dunia bisnis dan tidak paham etika berbisnis. Maka sudah sepantasnya siapa pun yang ingin berbisnis haruslah paham aturan dan etika bisnis. Pahamilah aturan pasar, pelajari kualitas produk dan layanan, periksa penentuan harga, dan berbagai kerja sama dalam bisnis. Sebab cara unggul dalam berbisnis, yakni pelajari aturan mainnya dan bermainlah lebih cantik dari pemain lainnya.

Ketiga, apabila tahu hal tersebut adalah tindakan culas tetapi masih tetap dilakukan, bisa jadi karena terdesak atau kepepet. Maka sebelum kepepet, tetap waspada. Milikilah prinsip-prinsip hidup yang menguatkan hati. Seperti prinsip: meski lapar yang penting tidak memakan barang haram, atau meskipun miskin yang penting tidak mencuri barang orang lain.  Setelah itu tetaplah waspada dengan menerapkan ajaran Rasulullah saw, yakni manfaatkan kekayaan—dengan menabung—sebelum datangnya masa paceklik (masa sulit).

Ingatlah bahwa segala rezeki yang akan kita makan haruslah bersih. Agar darah dan tubuh kita bersih. Terlebih lagi bila rezeki tersebut akan kita berikan kepada keluarga. Jangan sampai ada barang haram yang masuk ke dalam pembuluh darah mereka. Jangan sampai kita rajin berwudhu membersihkan badan, tetapi justru rajin pula mengotori bagian dalam tubuh kita. Seolah-olah kita bersih dari luar, namun nyatanya busuk di dalam. Na’udzubillah min dzalik.

Bila tebersit ingin berbuat culas dalam berbisnis, ingatlah selalu kisah Rasulullah saw ini. Abu Hurairah ra menceritakan bahwa Rasulullah saw pernah melewati suatu tumpukan karung berisi makanan yang sedang dijual. Lalu beliau memasukkan tangan ke dalam karung tersebut dan mendapati ada bagian yang basah.

“Apa ini? Wahai penjual makanan,” tanya beliau.

“Basah karena terkena air hujan.”

Rasulullah saw pun menegurnya, “Mengapa engkau tidak meletakkan bagian yang basah di bagian atas supaya orang dapat melihatnya? Barangsiapa menipu, maka dia bukan dari golongan kami.” (HR. Muslim)[1]

Ditulis oleh: Dwi Suwiknyo.

Reviewer: Jack Sulistya

[1] Sebagaimana ditulis oleh S.R. Hamid dalam bukunya Fatwa-fatwa Rasulullah saw Seputar Masalah Transaksi, diterbitkan oleh Cahaya Salam, 2001, halaman 51.

Baca Juga:   [Cernak] Perempuan Misterius di Balik Jendela

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *