Pancarkan Cantiknya Indonesia Melalui Batik

sumber: travellerhaphap.blogspot.com
Mengunjungi kota batik, membuatku tersadar bahwa batik adalah warisan yang  berharga dan tak lekang oleh zaman. Lewat batik, kita dapat memancarkan kecantikan Indonesia, lengkap dengan nilai filosofinya.
Tanggal 2 Oktober ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional, karena UNESCO mencanangkan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpiece of The Oral and Intagible Heritage of Humanity), pada tanggal tersebut. Pengakuan terhadap batik ini secara tidak langsung menjadi penghargaan internasional terhadap budaya Indonesia. Maka, sebagai warga negara, sudah sepantasnya kita bangga dan turut melestarikan batik.
Cuaca cukup cerah saat saya ke Pekalongan untuk kedua kalinya. Perjalanan saya tempuh kurang lebih 6 jam dari Jogja dengan menggunakan travel.
Hari pertama di Pekalongan diisi dengan acara dari Pemerintah Kabupaten Pekalongan dalam rangka Hari Jadi Pekalongan. Di hari kedua, saya dan beberapa teman berkeliling Pekalongan. Tadinya kami ingin menuju wisata Mangrove atau pantai, tapi niat itu diurungkan karena satu dan lain hal.
Akhirnya, diputuskan untuk mengunjungi Museum Batik. Jauh-jauh ke Pekalongan rasanya hambar kalau sampai nggak mampir Museum Batik. Yeay! Saya senang bukan kepalang, akhirnya pucuk dicinta ulam pun tiba. Sudah lama saya penasaran dengan sejarah batik, dan ini adalah kesempatan yang bagus sekali.
Museum Batik (doc. pribadi)
Sampai di Museum Batik, Mbak Novi, seorang jurnalis, mengatakan bahwa ada fotografer yang kemarin mengikuti acara Pemkab Pekalongan yang juga bekerja sebagai guide Museum Batik. Namanya Mas Fajar. Lalu Mbak Novi berinisiatif menyampaikan ke petugas buku tamu bahwa kami ingin bertemu dengan Mas Fajar. Alhamdulillah Mas Fajarnya ada. Jadilah pagi itu, kami mendapat penjelasan dari seorang teman, sekaligus ahli di bidang sejarah batik.
Pandangan saya tertuju pada aneka varian carat canting. Pegangannya ada yang berbahan kayu, bambu, hingga glonggong. Sementara bagian yang digunakan untuk mengambil malam (lilin khusus membatik) biasanya berbahan tembaga. Buat yang belum tahu, canting adalah alat untuk mengambil cairan malam yang digunakan untuk membatik. Ujung canting untuk batik tulis juga ada ukurannya lho, yaitu nomor 1 hingga 7. Perbedaannya terletak pada ketebalan garis yang dihasilkan.
Mata saya terpesona pada berbagai bahan pewarna alami batik. Indonesia sungguh kaya, hingga tanaman pun dapat digunakan sebagai pewarna. Saat zaman semakin maju, pewarna kimia juga beredar di Indonesia. Harganya yang lebih murah dan warnanya yang lebih terang menjadi keunggulan tersendiri. Meski begitu, pewarna alami memiliki tempat tersendiri di hati pembatik dan pecinta batik, karena warna yang dihasilkan lebih membumi dan natural.
Sitren (doc. pribadi)
Sebuah manekin berbaju beludru hitam dan berkain batik selutut mengusik rasa penasaran saya. Kepalanya dihiasi mahkota dan bunga melati, sementara pinggangnya dililit sampur berwarna merah. Manekin perempuan ini memakai kacamata hitam, dan terdapat kurungan ayam di sampingnya.
“Ini adalah penampakan penari Sitren, yaitu tarian tradisional yang masih bertahan di Pekalongan, dan memiliki unsur magis.” Mas Fajar pun angkat bicara.
“Maksudnya gimana, Mas?” Saya makin ingin tahu.
“Jadi, penari Sitren ini nanti akan kemasukan roh halus dan bisa berganti pakaian dalam waktu singkat, di dalam kurungan ayam yang sempit, dengan kondisi tangan yang terikat,” Mas Fajar menjelaskan.
“Saat keluar dari kurungan, penari sudah berubah menjadi sosok yang cantik menggunakan baju seperti di manekin, lengkap dengan kacamata hitamnya. Lalu ia menari seperti orang kesurupan,” Mas Fajar menambahkan.
Seru banget ya, belum masuk ke sejarah batik saja, saya sudah mendapat banyak pengetahuan baru. Mas Fajar pun mulai menjelaskan mengenai motif batik yang dipajang di museum ini.
Batik Belanda dan Tionghoa
Dari sejarah yang tertulis di Museum Batik Pekalongan, dikisahkan bahwa perdagangan batik di Pekalongan mulai berkembang ketika pembuatan jalan raya Anyer- Panarukan yang melewati Pekalongan. Selain itu, juga karena adanya jalur kereta api yang menghubungkan Pekalongan dengan berbagai kota di pesisir utara Jawa. Dengan kata lain, Pekalongan memiliki akses yang lebih bagus untuk berhubungan dengan dunia luar, termasuk dalam hal perekonomian.
Di masa itu, batik tidak hanya dipakai oleh anggota Kerajaan Jawa, tetapi juga oleh penduduk asli Belanda dan peranakan Eropa yang tinggal di Indonesia. Mereka merasakan bahwa kain batik lebih pas dan nyaman dipakai di lingkungan tropis seperti Indonesia, dibandingkan bila harus memakai pakaian khas Eropa. Oleh karena itu, pada abad ke-19, kain batik mulai menjadi produk rumahan yang tidak hanya dikerjakan oleh kaum bangsawan atau Tionghoa saja, tetapi juga oleh wanita Indo-Eropa.
Batik Dongeng
Netra saya menangkap batik berwarna merah–hitam dan biru-hijau lumut yang mempunyai motif unik, seperti gambar seorang putri. Ternyata batik tersebut bermotif Cinderella! Iya, Cinderella yang dongeng itu. Kok bisa ya, ada batik bermotif dongeng?
Batik Cinderela (doc. pribadi)
“Zaman dahulu, wanita keturunan Indo-Eropa adalah masyarakat kelas kedua di masa penjajahan. Mereka yang menjanda pun perlu mencari uang untuk makan, sehingga mereka membatik,” Mas Fajar bercerita.
Dari tulisan yang terdapat di samping Batik Cinderella ini, saya jadi tahu bahwa wanita Indo-Eropa pertama yang menjadi pengusaha batik itu bernama Von Franquemont. Beliau memulai usahanya pada tahun 1984. Batik yang dibuatnya disebut sebagai Batik Prankemon, dengan motif khas berupa figur dan atribut dari dongeng Eropa. Batik dongeng Cinderella adalah masterpiece dan koleksi tertua yang dimiliki oleh Museum Batik Pekalongan lho.
Batik Buketan
Tak hanya Eropa saya yang mempengaruhi motif batik di Indonesia, tetapi juga ada corak batik Cina yang dinamakan motif Buketan.
Batik Buketan (doc. pribadi)
Kemunculan corak batik Cina adalah karena perniagaan batik yang dilakukan oleh orang Tionghoa pada akhir abad ke XVIII. Pada mulanya, pengrajin membuat batik dengan motif filosofis Cina, motif geometris banji/swastika dengan warna yang meriah. Yang khas dari batik peranakan ini adalah brand produk batiknya berupa tanda tangan dari pengusaha laki-laki. Mengapa? Karena mereka yang mendesain dan mengatur pewarnaan batik tersebut. Salah satu pembatik Cina yang termasyhur di Pekalongan adalah Lim Ping Wie.
Batik Motif Tiga Negeri
Batik 3 Negeri (doc. pribadi)
Di museum ini, ada banyak motif batik yang menggugah rasa ingin tahu saya. Salah satunya adalah batik dengan motif tiga negeri. Batik ini unik karena menggabungkan tiga warna khas dari tiga daerah, yaitu warna merah darah ayam (Lasem), biru (Pekalongan), soga/ cokelat (Solo). Dulu, pembuatan batik ini benar-benar dilakukan di tiga derah tersebut. Hal ini dikarenakan faktor geografis, serta komposisi air dan tanah yang berbeda, dapat mempengaruhi komponen warna dalam pewarna alami yang digunakan. Perpaduan ketiga warna tadi juga melambangkan pencampuran tiga budaya lho, yaitu merah (Tionghoa), biru (Eropa), dan cokelat (Jawa). Wah, istimewa sekali ya, filosofinya.
Nilai filosofi dari motif batik
Saat ini batik telah menjelma menjadi fashion yang digemari. Mulai dari orang tua, anak muda, bahkan generasi milenial pun bangga memakai batik. Tapi tahukah Anda, bahwa tiap motif batik itu mempunyai filosofi yang bermakna?
Museum Batik Pekalongan ini sungguh kaya ilmu, saya dapat mendalami nilai filosofi tersebut. Misalnya saja motif terang bulan, yaitu kain batik dengan hiasan flora dan fauna pada dua sisi kain yang menyiku. Motif ini menggambarkan suasana perayaan kegembiraan sebagai ungkapan rasa syukur, dan juga permohonan agar kualitas hidup menjadi lebih sejahtera, dan damai.
Ada juga motif Parang, yaitu berupa huruf S yang berjejer teratur membentuk garis diagonal. Motif ini memiliki petuah agar pantang menyerah, layaknya ombak yang tidak berhenti bergerak. Batik Parang juga bermakna jalinan yang tak pernah putus, baik sebagai usaha untuk terus memperbaiki diri dan mencapai kesejahteraan.
Motif Kawung yang merupakan susunan dari empat bentuk bulat atau elips, memiliki makna yang dalam. Arti dari motif Kawung adalah upaya atau keinginan yang kuat, pasti akan membuahkan hasil, seperti rezeki yang berlipat. Meski kadang butuh waktu lama, tetapi setiap kerja keras pasti akan terbayar.
Batik Mega Mendung (doc.pribadi)
Pernah dengar tentang makna motif Udan Liris? Motif ini keren juga maknanya, yaitu tidak boleh mengeluh meski hidup prihatin. Bagaimana dengan motif Mega Mendung? Saya yakin kalau ini sudah banyak yang tahu. Bentuknya seperti awan, melambangkan pembawa hujan yang kehadirannya dinanti-nanti sebagai lambang kesuburan dan pemberi kehidupan. Awan juga dipercaya sebagai simbol dunia atas, dengan makna ketuhanan. Pada motif Mega Mendung, garis pada awan tersebut naik turun. Hal ini dimaknai sebagai proses kehidupan manusia yang kadang di atas, kadang di bawah, sehingga manusia tidak perlu takut dalam menghadapinya.
Motif batik dari berbagai daerah di Indonesia
Beberapa motif batik dari Yogyakarta dan Surakarta sudah saya sebutkan di atas, yaitu parang, kawung, dan udan liris. Sementara itu, motif mega mendung sendiri berasal dari Cirebon. Tasikmalaya yang terpengaruh oleh budaya Cirebon juga mempunyai batik dengan motif mega mendung. Yang tak kalah menarik adalah motif asli dari Suku Dayak, yaitu motif aso yang diterjemahkan sebagai naga.
Kenal dengan kain Besurek? Motif Besurek adalah batik dari Bengkulu. Besurek sendiri artinya bersurat dalam bahasa Indonesia. Mengapa diberi nama besurek? Hal ini dikarenakan berisi motif kaligrafi arab, baik yang dapat dibaca (biasanya untuk upacara adat), maupun yang tidak dapat dibaca. Lain halnya dengan Jambi yang khas dengan warna ecru (biru tua, biru kehitaman, merah tua, dan kekuning-kuningan, dengan pewarnaan tegas dan cerah). Saya terpesona dengan motif batik Jambi yang natural dengan nama tumbuh-tumbuhan khas Indonesia. Seperti bunga melati, bunga kaca piring, bunga cengkeh, dan sebagainya. Bahkan saya menemukan batik motif durian lho, di Museum Batik Pekalongan ini. Akkk, saya suka durian!
Kunjungan di Museum Batik Pekalongan ditutup dengan praktek membatik. Sayangnya saat kami tiba di area membatik, petugas sedang istirahat, sehingga saya tidak dapat mencoba langsung membuat motif yang saya sukai menjadi sebuah batik.
Saya dan teman-teman mengambil beberapa foto di museum ini. Foto yang menggambarkan bahwa pancaran kecantikan Indonesia sudah ada sejak zaman dahulu. Kecantikan batik tak hanya berasal dari keindahan motif dan warna-warninya, tetapi juga oleh filosofinya. Batik berbicara tentang nilai-nilai luhur yang dipegang oleh bangsa kita. Nilai luhur yang menjadi warisan, dan harus kita pertahankan tak hanya dalam bentuk motif batik, tetapi juga dalam tingkah laku.
//–//
Penulis: Dian Farida Ismyama 
Blogger, writer wanna be. 
Kunjungi dunia mayanya di www.ismyama.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *