Pamor Televisi di Rumah Kami

Sumber gambar: techno.id 
 
Tulisan ini lahir dipicu oleh sebuah pertanyaan sederhana. Waktu itu, seorang teman mampir, lalu bertanya, kenapa kami tidak membeli televisi. Pertanyaan yang sama kembali hadir, ketika sanak saudara singgah, mereka enggan menginap terlalu lama karena tidak ada hiburan di rumah kami dan hiburan yang dimaksud adalah televisi. Sama persis dengan keluhan orang tua, yang tidak bisa mengakses kuis dan sinetron favorit mereka karena TV absen di rumah kami.
 
Memang, dengan berbagai pertimbangan, saya dan suami memutuskan untuk meniadakan televisi di tempat tinggal kami. Sengaja, kami tidak memilih TV sebagai media informasi dan hiburan untuk keluarga. Sebagai gantinya, media informasi yang menyala hampir 24 jam di rumah adalah radio.
 
Radio menjadi media hiburan yang menyala non stop. Hanya menjelang tidur saja radio akan silent. Ini karena sebuah permintaan khusus dari suami. Beliau tidak terbiasa dengan suasana rumah yang terlalu sunyi. Jadi radio adalah solusinya.
 
Sebaliknya, saya menganggap radio adalah media informasi yang terlalu berisik, yang hanya perlu didengarkan sesekali saja, dan tidak perlu menyala sepanjang hari. Dua kebiasaan yang bertolak belakang. Walaupun akhirnya, kami tetap bertoleransi dan sepakat tentang ditiadakannya TV di rumah kami.
 
Bukan tanpa pertimbangan,kami tidak memiliki televisi di rumah. Alasan utama berasal dari pengalaman dan berawal dari kebiasaan. Lagi-lagi pengalaman yang kami berdua alami sangat berbeda. Di tahun pertama dan kedua pernikahan kami. Saat itu, kami masih tinggal di rumah orang tua. Jika di Solo, kami tinggal di rumah orang tua saya. Jika di Yogya, di rumah mertua. Dua rumah ini memiliki kebiasaan menonton TV yang berbeda.
 
Di rumah orang tua saya, TV nyaris hanya sebagai ornamen. Keberadaan TV sekadar pemanis di ruang tengah, yang disentuh hanya ketika dibersihkan dan dirapikan penutupnya. Benda itu bisa jadi hanya menyala di masa pemilu untuk menonton debat capres. Lain halnya di rumah mertua, kotak hiburan itu hampir selalu menyala dari pagi hingga malam. Biasanya dinikmati oleh ibu mertua yang melihat serial favoritnya dan keponakan-keponakan usia TK yang menikmati film kartun.
 
Dua situasi yang berbeda ini, membuat kami mengevaluasi kebiasaan itu. Dari hasil evaluasi tersebut, muncul berbagai pertanyaan dan diskusi-diskusi antara saya dan suami. Semua perihal menyangkut televisi kami kupas satu persatu. Termasuk kekurangan dan kelebihannya. Jika dibreakdown ada tiga hal utama yang kami bahas. Antara lain:
 
1.     Akses informasi
 
Manusia adalah makhluk sosial, duh ini pernyataan paling klasik sebenarnya, seperti sedang menulis halaman pertama tugaskuliah. Tapi memang,ini biangnya. Karena sebagai makhluk sosial, manusia memiliki kebutuhan untuk bersosialisasi. Maka akses dan asupan informasi sangat dibutuhkan. Informasi menjadi salah satu faktor penting dalam membina hubungan antar manusia. Jika kami terlalu kudetkurang baik, apalagi jika terlalu kuper.
 
Maka di poin ini kami satu suara, dimana pun kami berada, kami membutuhkan akses pada informasi. Tak bisa dipungkiri,hal tersebut termasuk signifikan di dua tahun pertama pernikahan karena sangat relevan dengan profesi kami berdua. Dan akan menjadi kebutuhan jangka panjang, untukanak-anak kami nanti.
 
2.     Media informasi
 
Semakin panjanglah diskusi kami ketika mulai membahas tentang segala macam media informasi. Tapi alhamdulillah, diskusi itu berakhir indah. Kami sepakat bahwa televisi bukan satu-satunya media yang memfasilitasi tersalurnya informasi di seluruh dunia. Masih banyak media lain yang lebih multifungsi dan bermanfaat yang bisa kami gunakan untuk menjadi penyalur informasi.Akhirnya, di titik ini kami sepakat, bahwa radio dan smartphonemenjadi pilihan sekaligus alternatif media informasi di rumah kami.
 
3.     Kebutuhan Tersier
 
Layaknya pasangan yang baru menikah, kami harus memilah dan memilih mana saja kebutuhan yang harus didahulukan, ditunda, atau bahkan dicoret dari list belanja kami. Jika kebutuhan informasi kami sudah terpenuhi. Lalu media informasi yang kami gunakan sudah ditentukan, apa gunanya lagi televisi? Ujung-ujungnya televisi hanya bagian kecil dari hiburan. Kebutuhan yang sangat tersier. Dan bisa dikesampingkan dalam kehidupan rumah tangga kami.
 
Dari tiga poin di atas, kami sepakat mengeliminasi televisi dari rumah. Sepakat untuk say good bye to televisi. Walaupun saya tahu, sebagai praktisi broadcasting TV, suami saya harus lebih banyak berkorban. Karena dengan absennya televisi di tempat tinggal kami nanti, salah satu sumber asupan ilmu broadcasting-nya akan berkurang. Yah, bagaimana lagi, keputusan sudah diambil, apapun yang terjadi tetap harus dieksekusi.
 
Singkat cerita, TV menjadi barang langka bagi kami berdua. Saya dan suami hanya akan menonton acara-acara televisi di rumah orang tua atau rumah mertua. Bahkan terkadang, jika kami berada di tempat umum dan di tempat itu televisi sedang menyala, maka dengan spontan, kami berdua akan berkomentar, “Wah, sudah lama sekali tidak nonton TV.”
 
Begitulah, hampir dua tahun ini, kami tidak memiliki TV di rumah. Akses informasi kami selama ini, hanya disupply oleh radio dan smartphone. Jika ingin menonton hiburan, seperti film, maka kami akan menontonnya di laptop.Alhamdulillah, kami merasa cukup dengan tiga media tersebut. Memang, jika dibandingkan, antara televisi, radio, dan smartphone, sangat terasa sekali perbedaannya terutama pada keaktifan dan kepasifan kami sebagai penerima informasi.
 
Jika mengakses informasi berasal dari HP, maka kami menjadi pencari informasi yang aktif. Sebab ada beberapa langkah yang harus dilakukan lebih dahulu untuk mendapatkan informasi yang diinginkan. Misalnya, kami akan mencari berita tentang pro dan kontra masyarakat terkait reklamasi Teluk Jakarta, pasti kami akan searching/browsing/googling lebih dahulu. Kemudian memilah info kredibel yang kami dapatkan. Bahkan, langkah paling seru adalah kami bisa memberikan komentar pada berita di laman yang sama. Semua kegiatan di atas pun bisa dilakukan dengan cepat. Tidak memakan waktu lama. Dalam sekali duduk, tiga sampai empat berita terkonsumsi. Ini menjadi salah satu kelebihan smartphone dan internetnya.
 
Hal seperti di atas tidak akan terjadi jika kami menerima informasi melalui radio dan TV. Sebab di dua media ini, kami akan menjadi penerima berita pasif. Informasi dan hiburan yang disediakan dari dua media ini hanya berupa komunikasi satu arah. Kami hanya bisa mendengarkan atau menonton saja.
 
Bisa dibilang pamor televisi di rumah kami mulai menurun. Manfaatnya pun sudah usang dibandingkan smartphone. Saya, suami, bahkan orangtua saya, lebih sering mengakses berita melalui gadget. Selain itu, dengan ditiadakannya televisi, kami bisa menghindari tayangan-tayangan yang tidak penting dan kurang pantas untuk putri kami.
 
Tapi di sisi lain, absennya TV di rumah kami, menumbuhkan kerinduan tersendiri. Terutama ketika menghadapi banjir informasi dan serangan hoax di media sosial. Berita-berita sampah yang diterima baik itu melalui broadcast message, tayangan youtube, website, ataupun instagram, sangat kurang layak untuk dibaca. Ditambah lagi, akhir-akhir ini, ada yang sedikit mengganggu kami. Smartphone sebagai media informasi ternyata membuat si kecil tertarik untuk ikut berlama-lama melihat layar HP. Wal akhir, akses kepada smartphone hanya bisa dilakukan pada jam-jam tertentu saja. Walaupun, jika emaknya sudah kepepet, putri kami bisa menikmati lagu anak-anak dari gadget.
 
Salah satu sisi positif TV hingga saat ini adalah berita di televisi memiliki sumber yang lebih akurat dan jauh dari hoax dibandingkan berita dari media lain. Selain itu, salah satu kelebihan lainnya, benda ini menjadi media informasi yang menarik sekaligus simple. Hanya dengan menekan tombol power, maka benda kotak itu akan menyajikan berbagai tayangan yang memanjakan mata dan penuh warna. Begitu juga ketika menekan remote control, tayangan-tayangan langsung berganti.
 
Sedangkan radio, saya harus mengakui bahwa media yang satu ini menjadi pilihan pamungkas untuk menggantikan TV. Saya bisa melakukan apa saja sambil menyimak radio. Apalagi jika memilih frekuensi radio yang baik dan bermanfaat. Siaran yang didengarkan pun menjadi sarat ilmu.
 
Sejatinya, hadir atau tidaknya televisi di rumah kami, memang ada manfaat sekaligus kekurangannya. Tinggal bagaimana kami mensiasati itu. Informasi memang dibutuhkan walaupun bukan kebutuhan mutlak. Begitu juga dengan medianya. Apapun pilihan media informasi untuk keluarga pasti ada konsekuensinya. Maka, bijak memilih media informasi adalah salah satu cara melindungi keluarga dari siaran dan paparan tayangan yang negatif.
 
Ditulis oleh: Wahyu Mardhatillah

 

Baca Juga:   [Cerpen] Luka Rinda

6 thoughts on “Pamor Televisi di Rumah Kami

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *