Ojek Setan!

Sore itu Melia berulang kali mendengus kesal. Dilihatnya langit dari meja kerjanya, awan begitu tebal dan menghitam. Kekesalan itu bertambah saat datang tugas revisi yang harus diselesaikan malam ini.

“Alamat lembur, deh,” gerutu gadis berkacamata sambil merapikan kertas yang menutupi permukaan meja kerjanya.

Satu dua teman-teman seruangannya sudah mulai mengemasi barang-barang mereka. Bersiap untuk pulang, sebab cuaca juga semakin gelap. Malam ini merupakan pertama kalinya Melia lembur. Entah kenapa, tiba-tiba gadis itu teringat akan obrolan pengalaman senior-seniornya ketika lembur.

Ada yang mendengar alunan musik tradisional Jawa, gamelan yang dimainkan dengan sangat pelan dan begitu dalam terdengar. Atau tak, tok, tak, tok tapak kaki orang berjalan, tetapi begitu jendela diamati, tidak ada yang lewat. Yang terbaru, dialami oleh Seno—salah satu karyawan di sana. Ketika itu dia sedang berjalan ke luar mau pulang. Tiba-tiba saja aroma anyir darah melintas, terisap oleh indra penciumannya. Tidak lama setelah bau amis itu hadir, tiba-tiba… staaak! Seperti suara benda jatuh, entah apa itu, berhasil membuat Seno lari tunggang langgang.

***

Suara guntur yang disusul derasnya air hujan mengagetkan Melia. Suara deru hujan berhasil menelan bulat-bulat backsound dari grup band Ungu yang sedang naik daun. Gadis itu memang sejak tadi menatap layar monitor, tetapi pikirannya entah, mengembara ke mana-mana.

Suasana terasa semakin mencekam karena kilatan cahaya dari luar. Membuat semburat cahaya, yang dalam sekejap menerangi ruangan.

 “Mukanya tegang banget, sih,” goda Seno ketika melihat Melia. Selain pemuda itu, ada juga Wida yang harus lembur.

Melia hanya mendelik ke arah Seno, perempuan itu tidak mau membahas apa pun atau menunjukkan kalau dirinya sebenarnya takut.

“Mel, temani ke kamar mandi, yuk!” pinta Wida yang sudah berdiri menghampiri meja Melia.

“Yuk, Mbak,” ucap gadis itu, kebetulan sekali karena sejak tadi dia juga menahan untuk buang air kecil. Mereka berdua berjalan beriringan meninggalkan Seno.

 Selama ditinggal sendirian, pemuda itu hanya geleng-geleng kepala. Dasar perempuan, segitu hebohnya gosip di kamar mandi. Seno membatin heran karena mendengar tawa berkikikan yang begitu ramai. Tidak beberapa lama kemudian, dua gadis itu datang dengan ekspresi datar.

“Seru amat cuma di kamar mandi aja!” ujar Seno begitu kedua gadis itu tiba. “Bahas apa, sih?”

Sontak Melia dan Wida saling tatap, mereka bingung dengan ucapan Seno. Keduanya pun kembali ke meja kerja masing-masing. Tetap dengan pikiran yang sama, bingung.

 “Emang ada apa, Seno?” Wida bertanya karena tidak sanggup menahan rasa ingin tahu.

Mendapati ekspresi kedua gadis itu tampak kaget dan heran, pemuda berambut tipis itu juga berpikir kalau ada sesuatu yang telah terjadi. “Eh, nggak apa-apa, kok,” jawab Seno supaya tidak membahas hal ini lebih lanjut.

Semuanya kembali pada pekerjaan masing-masing. Keadaan ruangan menjadi hening, hanya rintik hujan yang mulai mereda menjadi backsound mereka. Seno lalu berinisiatif menyalakan musik dari komputernya.

Ketika waktu menunjukkan pukul sembilan malam, semuanya berkemas untuk pulang.      

“Mbak Wida, barengan ya keluarnya,” pinta Melia.

Wida mengangguk, lalu berdiri menunggu sejenak Melia yang masih membereskan berkas di mejanya. Seno juga masih di kursi menemani keduanya. Setelah Melia berdiri, maka semuanya bersiap untuk melangkah ke luar.

Saat menuruni tangga, Seno membuka mulutnya, “Di sini….”

“Seno!” potong Melia cepat, gadis itu tahu ke mana arah pembicaraan pemuda itu.

Selain itu, Seno pun mendapat pukulan di bahu dari Wida. Keduanya memberikan sorotan mata yang mengartikan untuk diam.

“Kan, aku cuma mau kasih tahu,” kilah pemuda itu. Dan dia mendapat satu pukulan lagi di bahunya. Seno mengaduh lalu mengusap-usap bahunya yang terasa panas.

Begitu sampai di depan kantor, ada beberapa karyawan yang sedang menunggu jemputan. Melia menyapa mereka lalu melangkah ke pinggir jalan. Sialnya lagi, pacar Melia tidak bisa dihubungi. Ke mana sih, cowok itu?

“Mel, duluan,” kata Wida begitu keluar pagar.

Melia tersenyum lalu menangguk. Hanya dia seorang yang pulang ke arah barat. Gadis itu mendengus kesal, lalu memasukan kembali hp-nya ke tas jinjing berwarna cokelat yang di bawanya. 

Sekali lagi dia melihat jam di tangannya, angkanya menunjuk pukul setengah sepuluh. Semoga masih ada ojek atau angkot yang lewat, batin perempuan itu dengan mata terus memandang ke arah timur.

Dari kejauhan Melia sudah melihat motor yang mengarah ke arahnya, dengan memainkan lampu jarak jauh-dekat. Perasaan gadis itu sedikit tenang, tidak lama kemudian motor yang sejak tadi dilihatnya semakin mendekat, kemudian berhenti tepat di depannya.

Tampak seorang laki-laki dewasa, dengan pandangan masih menatap ke depan, “Ojek, Neng,” tanyanya kaku.

Melia menggigit bibir bawahnya, lalu melihat ke arah jalanan, sepi. “Iya, Pak,” jawab gadis itu, mau tidak mau.

Pak Ojek lalu memberikan helm ke gadis yang sudah sejak tadi berdiri. Melia menerima pelindung kepala berwarna hitam itu, lalu mulai duduk di belakang pengemudi.

Motor melaju dengan sangat pelan. Mungkin untuk mengurangi hawa dingin karena baru saja hujan berhenti. Suasana sangat sunyi, kendaraan lain juga jarang melintas.

Suara desir dedaunan yang bergesekkan di pinggir jalan terdengar begitu menakutkan. Membuat Melia sejenak mengangkat wajah, dan menangkap siluet rimbun pohon.  Apa lagi, sayup-sayup terdengar lolongan anjing, membuat pandangan gadis itu kembali menatap helm Pak Ojek di depannya. Duh, motornya pelan banget sih, keluh Melia yang sudah tidak sabar untuk sampai.

Melia teringat dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Seno, setelah dia dari kamar mandi tadi.

Ketika Melia dan Wida sedang mencuci tangan di wastafel, samar-samar Melia memang mendengar suara tawa mengikik dari ruang kerjanya. “Mbak, kamu dengar nggak?” tanya Melia sembari menghentikan aktivitas mencuci tangannya.

Wida ikut mematikan kran, lalu mempertajam pendengarannya. Hening. “Ah, tidak ada apa-apa kok. Sudah ah, yuk keluar!” Wida menarik tangan Melia. Mereka pun keluar dengan bulu kuduk meremang.

***

“Pak, sudah lama ngojek?” tanya Melia untuk mengusir sepi. Namun yang ditanya hanya diam. Duh! Apa aku salah tanya? pikir gadis itu sambil mendekap tubuhnya sendiri.

“Sudah lama,” jawabnya setelah beberapa meter ke depan.

Melia menghela napas pelan, dilihatnya di depan sudah sampai perempatan, “Pak,  di depan belok kiri, ya.”

Tanpa ada respon dari si pengemudi, motor itu berbelok sesuai dengan permintaan Melia. Suasana kembali senyap, jalan tak lagi mulus, banyak lubang dan kerikil yang memenuhi sepanjang jalan itu.

Meoong.

Motor diberhentikan mendadak oleh Pak ojek, membuat tubuh Melia terhentak ke depan, sehingga helm mereka beradu. “Duh,” keluh perempuan itu karena kaget. “Hati-hati, Pak,” ucapnya lagi.

Si pengendara menoleh ke kanan sejenak, lalu melajukan motornya kembali. Suara kodok terdengar jelas, karena sisi kanan jalan hamparan persawahan yang baru saja panen.

Hawa dingin kembali menyelimuti tubuh gadis tersebut. Dia mengusap-usap kedua lengannya. Perjalanan terasa begitu jauh, mungkin karena ini pertama kalinya Melia lembur. Ditambah rasa takutnya sejak di kantor tadi yang belum hilang.

“Sebelah pos ronda itu belok kanan ya, Pak.”

Kecepatan motor yang lambat, ditambah suasana yang begitu dingin, serta suara binatang malam yang menjadi musik pengiring, membuat perjalanan malam itu terasa panjang. Tak lama pandangan Melia menangkap keberadaan rumahnya. Kali ini dia benar-benar bernapas lega, “Di pagar hijau itu, berhenti ya, Pak.”

Lampu jalan menerangi bagian depan pagar rumah itu. Motor semakin lambat, dan berhenti tepat di bawah tiang lampu jalan.

Melia turun dari motor dengan hati-hati. Akhirnya sampai…. Sambil mengembalikan helm pada Pak Ojek, Melia bertanya tarif yang harus dibayarnya.

Lagi-lagi Pak Ojek menjawab dengan nada kaku dan tetap menatap ke depan, tidak ada keramahan sedikit pun yang terpancar dari raut wajahnya. “Dua puluh ribu,” ujarnya.

Melia sudah tidak memedulikan itu, karena yang penting dirinya sudah sampai dengan selamat. Kalau saja ada pilihan lain, gadis itu juga tidak akan memakai jasa tukang ojek itu. Dengan cekatan, dia mengambil dompet dari tas, dan mengeluarkan selembar lima puluh ribu, lalu menyerahkan pada Pak Ojek.

Kali ini tukang tukang ojek itu tersenyum melihat uang tersebut. Tanpa menunggu lama, dia menyambar dan memasukan uang itu ke saku jaket yang dipakainya.

Tanpa Melia itu duga, motor itu langsung melaju dengan kencang, tanpa memberi kembalian lebih dulu.

“Dasar ojek setan!” maki Melia. Dia melepas salah satu sepatunya, lalu menuding ke arah tukang ojek yang sudah menjauh lalu menghilang di tikungan.*)

Ditulis oleh: Nurwahiddatur Rohman

Reviewer: Oky E. Noorsari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *