Nilai Tertinggi yang Dimiliki Seorang Karyawan

“Nilai tertinggi dalam diri seorang karyawan bukan terletak pada seberapa kompeten dirinya, melainkan pada kejujuran yang dia punya. Orang hebat tanpa kejujuran, sama halnya menggali pelan-pelan kuburannya sendiri.”

Dalam tulisan saya sebelumnya, saya membahas tentang persoalan karyawan yang dikerjain seniornya ketika pertama kali menjalani peran sebagai karyawan di sebuah perusahaan. Barangkali banyak diantara pembaca yang kemudian bertanya, “lalu bagaimana biar enggak dikerjain senior?” Nah, sebelum beranjak lebih jauh ke sana, saya mencoba mengajak pembaca untuk menelaah sebuah kasus. Kasus ini benar-benar terjadi dan menurut saya menarik untuk kita jadikan bahan introspeksi. Terutama untuk menemukan sesuatu yang lebih buruk dibandingkan perlakuan “dikerjain” senior di lapangan. Kasusnya sebagai beriku:

Seorang mantan karyawan melamar kerja di sebuah perusahaan. Di tempat kerja sebelumnya, posisi jabatannya termasuk sudah lumayan bagus. Dia jadi salah satu orang penting. Tentu saja di curiculum vittae dia tulis pengalaman kerja sebelumnya pernah menjabat sebagai top manager di perusahaan. Bagian HRD perusahaan tertarik dengan latar belakang yang dimiliki. Maka diambillah berkasnya sebagai salah satu calon yang akan diuji.

Staf HRD menjalankan prosedur perekrutan karyawan baru sebagaimana yang telah ditetapkan. Menyeleksi berkas lamaran, melakukan ujian seleksi karyawan, memastikan kondite pelamar kerja, kemudian melanjutkan proses pengumuman nama karyawan yang diterima.

Suatu ketika staf HRD menghubungi bagian personalia perusahaan bekas tempat kerja si calon karyawan. Menanyakan beberapa hal untuk memastikan kondite si calon karyawan. Apa saja yang ditanyakan?

  1. Kinerja si calon karyawan saat bekerja di perusahaan sebelumnya.
  2. Penyebab keluarnya si calon karyawan dari perusahaan sebelumnya.
  3. Kesesuaian informasi pengalaman kerja si calon karyawan.
  4. Perilaku selama menjadi karyawan di perusahaan.
  5. Kelebihan dan kekurangan si calon karyawan.

Jika jawaban dari semua pertanyaan itu sesuai dengan informasi saat proses recruitment, maka bisa dipastikan aman. Peluang diterima sebagai karyawan cukup besar. Namun, jika ada salah satu jawaban saja yang tidak memuaskan atau tidak sinkron dengan informasi saat seleksi, sudah pasti ada catatan khusus yang bisa saja membuat si calon karyawan tidak diterima kerja. Ditolak.

Pada kasus di atas, ternyata ada satu catatan khusus atas perilaku si calon karyawan yang saya ceritakan. Dia keluar dari perusahaan yang lama bukan karena dia resign, tapi karena diberhentikan secara tidak hormat. Ada sebuah pelanggaran berat yang dia lakukan sehingga harus diberhentikan dari pekerjaannya. Maka pada akhirnya dia kesulitan mendapatkan pekerjaan baru. Riwayat pekerjaan sebelumnya tidak bisa menjadi dewa penolong karena yang terekam adalah sisi buruk si karyawan. Dia akhirnya ditolak karena konditenya dinilai kurang baik.

Apa boleh buat. Ibarat nasi sudah jadi bubur. Hal-hal buruk yang pernah tercatat di perusahaan sebelumnya tidak bisa kita tulis ulang dengan prestasi yang membanggakan. Kita hanya bisa menggunakannya sebagai bahan untuk memperbaiki diri ke depan. Apakah sudah enggak ada kesempatan lagi? Tentu masih ada selama kita mau berusaha.

Pada kesempatan lain, saya menemukan kasus yang berbeda. Seorang karyawan coba mendaftar kedua kalinya di perusahaan yang sama. Sebelumnya dia pernah magang di perusahaan tersebut selama tiga bulan. Karena tidak lolos evaluasi magang, maka perusahaan tidak merekrutnya sebagai karyawan.

Setelah beberapa tahun, dia mengajukan surat lamaran kembali. Di perusahaan yang sama, tentu saja dengan berkas yang lebih lengkap. Legalitasnya, surat pengalaman kerja, dan berkas pendukung lainnya. Namun, sayang namanya tidak pernah masuk daftar calon karyawan yang memikat bagian personalia untuk diikutkan dalam proses seleksi karyawan.

Tidak hanya satu berkas, bagian personalia menemukan beberapa berkas surat lamaran si karyawan ini. Tentu bagian personalia mempertimbangkan riwayat si karyawan ketika dulu magang. Hafal betul bagaimana kinerja si karyawan ini. Karena ragu-ragu dan menganggap performanya kurang, maka nama si karyawan ini tidak masuk dalam daftar calon karyawan yang akan diuji.

Suatu ketika saudara si karyawan ini datang ke perusahaan. Menemui langsung pimpinan perusahaan dan meminta agar memberi kesempatan pada si karyawan tersebut untuk bekerja. Kebetulan saudara si karyawan ini adalah salah satu orang yang hubungannya dekat dengan orang penting di perusahaan. Maka manajemen memutuskan untuk memberi kesempatan pada si karyawan. Tentu dalam bentuk masa uji coba untuk melihat performanya.

Apa yang terjadi kemudian? Tentu nasib dia sebagai karyawan akan ditentukan oleh performanya. Jika dari hasil evaluasi menunjukkan kinerjanya baik, maka bisa jadi perusahaan akan merekrutnya.

Lalu apakah nilai si karyawan ini serta merta menjadi meningkat setelah ada orang yang merekomendasikannya?

Orang lain boleh menjual kualitas kita. Mengatakan sisi kelebihan dan keahlian kita, tapi di lapangan kita sendiri yang harus membuktikan. Mungkin orang lain akan mengatakan kita ini karyawan hebat, tapi tidak semua orang akan percaya begitu saja. Orang akan lebih percaya pada realita yang sudah biasa mereka temui. Kalau mereka sudah melihat kapasitas diri kita yang buruk, maka persepsi mereka tentang kita pun akan buruk.

Tugas kita akan semakin berat ketika orang lain merekomendasikan diri kita. Ada beban tanggung jawab atas kepercayaan yang mau tidak mau harus kita buktikan. Bisa saja kita tidak peduli, tapi suatu saat orang akan semakin ragu pada kualitas kerja kita. Tidak hanya itu, bahkan mungkin juga rasa kepercayaan mereka akan pudar. Baik kepercayaan pada terhadap kita, juga terhadap orang yang merekomendasikan kita.

Ketika suatu kepercayaan terhadap diri kita memudar, kemungkinan yang terjadi adalah kita akan diremehkan. Sebagai karyawan, kondisi seperti ini lebih menyakitkan dibanding dengan pengalaman dikerjain oleh karyawan lain. Beban mental kita semakin berat karena apa yang kita kerjakan bisa saja akan selalu mendapatkan penilaian yang tidak adil atau selalu dianggap kurang memuaskan. Dalam posisi ini seorang karyawan harus berusaha ekstra keras meraih kepercayaan dari atasan juga rekan kerja yang lain.

Nah, jagalah nilai tertinggi kita sebagai karyawan. Yaitu berupa kepercayaan yang orang berikan kepada kita. Karena jika sekali saja tidak bisa dipercaya akan susah membangun hubungan baik dengan mereka. Bahkan dampak buruk jangka panjangnya, bisa jadi karir kita sebagai karyawan akan semakin terpuruk dan sulit berkembang.*)

Ditulis oleh: Seno NS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *