Ngapain Harus Jadi Gold Member TPY?

sumber: doc admin

Kalau kita jeli, sebenarnya banyak sekali program pemberdayaan potensi untuk menjadi penulis. Entah bentuknya program seminar, workshop, pelatihan, pendampingan, atau program komunitas. Semua dirancang dengan konsep yang sangat matang demi mewujudkan regenerasi penulis. Harapannya kelak bisa muncul penulis baru sekaliber Tere Liye, Andrea Hirata, atau bahkan JK Rowling, dan lain sebagainya. Dan, semua program itu ternyata banyak sekali peminat dan pengikutnya.
Contoh, kelas Pesantren Penulis yang baru saja dihidupkan kembali oleh coach Dwi Suwiknyo. Ternyata banyak sekali yang mendaftar. Padahal kelasnya berbayar. Ini menunjukkan bahwa minat warga Indonesia untuk menjadi penulis sangatlah tinggi. Ini belum nyinggung program lainnya, lho ya? Coba intip kelasnya Pak Isa Alamsyah, Pak Lutfi, komunitas Lingkar Pena, atau komunitas Pena Nusantara. Selalu ada jamaahnya, Gaes.
Saat ini banyak kelas-kelas menulis yang sifatnya gratis. Ada kelas yang diadakan secara online. Biasanya informasi pembukaan kelas diinformasikan melalui media social, website, atau broadcast aplikasi komunikasi di handphone. Peserta yang tertarik kemudian didaftar dan dimasukkan dalam sebuah grup online. Nah, semua materi di share di grup tersebut. Yang menarik dari perilaku para peminat adalah cenderung menyepelekan program gratisan. Serius! Katanya sih tidak ada unsur ikatan yang kuat sehingga motivasinya jadi kurang greget. Jadinya ya seenak udelnya dewe. “Kalau tidak suka, ya udah. Aku left aja. Toh tidak bakalan ngerugiin siapapun.”
Perlu saya ingatkan. Semua butuh komitmen dan keseriusan. Entah gratisan atau berbayar. Saya rasa keduanya punya rule yang harus dipatuhi dan dijalankan agar sistemnya bergerak sesuai harapan. Harapan pada proses, juga pada target pencapaian. Kalau tidak suka sama sistemnya, ya jangan nyemplungke sana. Ending-nya pasti gitu-gitu aja. Malah jadi beban hidup yang bikin sengsara.
Lalu bagaimana dengan konsep yang diusung Temu Penulis Yogyakarta? Oke, tidak tuh?
Pada prinsipnya oke tidaknya konsep pemberdayaan potensi penulis itu tergantung pelakunya. Dalam arti pengelola dan juga si penulis sendiri. Dari sisi pengelola, komitmen dan keseriusan dalam mengelola program menjadi poin penting. Karena hal sederhana sekalipun tanpa komitmen dan keseriusan dalam melaksanakannya, bisa menjadi hal yang rumit dan berdampak tidak baik. Apalagi seperti kegiatan pengembangan potensi yang membutuhkan keaktifan pengelola dan anggota atau peserta. Jika salah satu saja tidak berperan aktif, bisa dipastikan programnya tidak berjalan optimal.
Orang mungkin kenal Temu Penulis Yogyakarta (TPY) hanya sebatas kegiatan ngumpul-ngumpulseperti komunitas lain pada umumnya. Paling mentok sharing menulis, jualan buku, lalu sudah. Hehe ….
Boleh-boleh saja orang berpendapat demikian, tapi perlu di-clear-kan lagi bahwa dalam visi misi TPY sudah jelas menyebutkan bahwa output dari kegiatan ini adalah karya tulis. Tujuannya jelas, mewujudkan mimpi kita untuk memiliki karya. Jadi, kalau kita nyemplung di TPY, tapi tidak punya impian untuk mewujudkan karya, ya relakan saja kalau kalian ketinggalan kereta.
Di TPY ada forum privat yang namanya GOLD MEMBER. Ini beranggotakan orang-orang yang memiliki komitmen lebih kuat untuk mengejar karya dibandingkan anggota TPY lainnya. Jika anggota TPY reguler hanya sebatas turut serta dalam pertemuan rutin dua mingguan, maka GOLD MEMBER terikat kewajiban-kewajiban sebagai konsekuensi dari proses belajar.
Apa saja sih kewajiban-kewajiban GOLD MEMBER TPY? Kok kayaknya grup ini medhenibanget.
Untuk bisa masuk GOLD MEMBER, setiap anggota TPY disyaratkan minimal sudah ikut pertemuan sebanyak 3 kali. Tidak harus berurutan. Selain itu juga harus mengirimkan satu buah tulisan berupa essay, opini, cerpen (cerita pendek), cernak (cerita anak), kisah hikmah, true story, atau jenis tulisan lainnya ke email TPY (temupenulisyogyakarta@gmail.com). Anggota yang tulisannya dinilai layak tayang atau lolos kurasi diperbolehkan masuk grup GOLD MEMBER. Ketentuan mengenai pengiriman tulisan ke web, bisa dibaca di rule kirim artikel web TPY.
Setelah menjadi anggota GOLD MEMBER, ada kewajiban lain yang harus dipatuhi, yaitu mengirim artikel untuk web minimal satu tulisan per minggu. Evaluasi akan dilakukan tiap seminggu sekali. Jika ada anggota yang tidak memenuhi syarat ini akan dipersilakan meninggalkan grup GOLD MEMBER. Medheni banget, ya?
Setiap tulisan akan di-review. Setiap hasil review akan disampaikan dalam bentuk catatan perbaikan yang harus dilakukan penulis artikel. Penulis harus merevisi, kemudian dikirim ulang hasil revisinya untuk diverifikasi reviewer. Setelah dinyatakan layak tayang, maka artikel akan di-posting di web temupenulis.org.
Dengan metode seperti ini diharapkan ada proses belajar yang intens antara penulis dengan reviewer. Penulis bisa memahami letak kesalahan dan poin perbaikan yang harus dilakukan. Sedangkan bagi reviewer akan mendapatkan ide-ide baru dari tulisan yang di-review. Efek tidak langsung yang bisa timbul adalah ikatan batin yang muncul dari proses interaksi antara penulis dengan reviewer. Ikatan ini penting ketika nanti keduanya berkolaborasi menggarap satu naskah buku.
Jadi gitu doang manfaat gabung dengan GOLD MEMBER TPY?
Yang paling menggiurkan dari forum GOLD MEMBER TPY adalah bertebarannya proyek-proyek penulisan yang siap dieksekusi. Mulai dari buku antologi, buku anak, fiksi, hingga buku non-fiksi ada semua. Tentu saja semua proyek itu tidak bisa dikerjakan atau diserahkan begitu saja kepada penulis yang kualitas tulisannya diragukan. Betul?
Jadi tim perumus TPY merancang program GOLD MEMBER sebagai wadah untuk menjaga kualitas tulisan anggota. Agar nantinya menjadi eksekutor proyek tulisan yang handal.
Sebenarnya tidak wajib ikut proyek ini, sih. Bisa juga anggota GOLD MEMBERmemanfaatkan ilmunya untuk mengerjakan naskah solo dan mengirimkannya sendiri ke penerbit. Bisa. Namun, bukankah akan lebih mudah ketika naskah yang akan dikerjakan adalah yang sudah jelas dibutuhkan penerbit dibanding naskah yang harus berjuang dengan setumpuk naskah lain di meja editor untuk diseleksi?
Ngapain harus jadi GOLD MEMBER TPY?
Silakan dijawab dalam hati masing-masing. Yakin saja bisikan hati kita lebih dekat dengan bisikan ke arah kebaikan dibanding bisikan logika yang cenderung terpengaruh oleh ego dan pertimbangan untung rugi.
Bagi saya pribadi, GOLD MEMBER adalah ruang belajar ilmu menulis yang disediakan gratis dan target output-nya jelas. Terbit karya. Baik antologi, naskah tim, maupun naskah solo.
Masalahnya sekarang kita mau running tidak? Sudah rutin kirim artikel web TPY, sudah ikut bedah outline, tapi apa kabar naskahnya? Udahpertemuan ke 9, tapi masih juga otak-atik outline? #plak! 
Atau malah diam-diam sedang mlipir cari jalan kabur dari TPY? 
Duh …. Saya banget, ini.
//–//
Ditulis oleh: Seno NS. Founder Blogerclass.

1 thought on “Ngapain Harus Jadi Gold Member TPY?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *