Musik Kelas Bawah yang Kini Jadi Tren

Sayang,

Apa kowe krungu jerite atiku, mengharap engkau kembali

Sayang,

Nganti memutih rambutku, ra bakal luntur tresnaku…

Saya yakin, ketika membaca penggalan lirik lagu di atas, kebanyakan tidak hanya sekadar membaca. Meskipun dalam hati, pasti lirik tadi membuat kita menyanyikannya. Sudah jelas, lagu yang dibawakan Via Vallen—penyanyi dangdut koplo asal Jawa Timur—itu telah merajai pasar musik tanah air selama setahun ini, bahkan bertahan cukup lama dalam tangga lagu musik lokal.

Sebelum membahas lebih jauh soal Via Valen, lagu dangdut dan ada apa dengan musik dangdut, tulisan ini sebetulnya membuat saya kembali mengingat sepak terjang saya di dunia musik. Bukan, saya bukan mantan penyanyi dangdut kok. Kebetulan, saya dulu seorang vokalis band sekolah semasa saya SMA.

Waktu itu, kami –saya dan teman satu band—tidak pernah sedikit pun menyentuh musik dangdut. Beberapa lagu yang sering kami bawakan adalah lagu milik Nicky Astria yang berjudul Panggung Sandiwara, Here For You milik Firehouse juga beberapa lagu yang se-genre dengan itu. Kalau enggak salah sih, dulu kami menyebutnya rock atau soft rock. Lagu garang yang liriknya galau. Duh, itu menyayat-nyayat hati, deh.

Belum cukup sampai di situ, saya juga sempat rajin nyanyi di pernikahan orang. Kalau diibaratkan artis ibu kota, saya ini aji mumpung dan ndompleng nama orang tua. Ya, kebetulan Ayah saya punya profesi sampingan sebagai Master of Ceremony (MC), bisa nyanyi juga. Kalau sedang ada job, beliau sering ngajak saya. Karena dianggap bertalenta dan masih sangat muda—saya mulai nyanyi di pernikahan, ketika kelas 1 SMP—maka tidak jarang banyak yang memuji dan berharap saya bisa menjadi wedding singer profesional.

Nah, ini ada hubungannya nih sama musik dangdut. Dulu, waktu belajar jadi penyanyi, saya lebih memilih untuk menyanyikan lagu yang manis dan romantis. Lagu yang everlasting, cocok dengan suasana pernikahan dan tentunya saya nyaman menyanyikan lagu itu. Sebut saja lagu-lagu milik Vina Panduwinata, Mus Mujiono atau lagu barat semisal From This Moment dan You’re Still The One milik Shania Twain. Tidak ketinggalan lagu berjudul Valentine yang setahu saya dibawakan oleh Martina Mcbride.  

Saya sungguh keheranan ketika dalam suasana pernikahan, lagu-lagu yang dibawakan adalah lagu dangdut yang berjudul Kehilangan, Mandul atau pun Kandas. Aneh enggak, sih? Dalam suasana bahagia dan penuh romansa begitu, kok lagu yang dinyanyikan bertema kebalikan. Adakah yang berpikiran sama dengan saya? Ya, bisa jadi karena musik dangdut akan selalu bisa membuat pendengar berbahagia, bagaimana pun liriknya tetap bisa jogetin aja. Beda dengan musik pop, kalau sendu, ya sendu.

Kemudian, ini benar-benar menjadi sebuah tantangan buat saya. Ternyata, seorang wedding singer, apalagi di kota kecil seperti tempat lahir saya, Wonosobo, akan selalu dituntut untuk bisa menyanyikan lagu dangdut. Suka tidak suka, mau tidak mau. Di mana pun lokasinya, selalu ada para tamu atau bahkan keluarga dari mempelai yang akan request lagu dangdut, bahkan sejak awal rombongan penyanyi muncul.

Padahal, dalam sebuah acara, perlu dinamika juga, dong. Seharusnya pembuka-inti dan penutup hiburan haruslah dengan urutan sesuai suasana acara. Dangdut biasanya akan dimainkan di pertengahan menjelang akhir acara, ketika tamu mulai susut dan sebelah panggung atau pelaminan jauh lebih lega sehingga tersedia ruang untuk yang mau bergoyang, mungkin melepas penat. Bisakah musik dangdut digunakan untuk melepas penat? Saya serius nanya.

Itulah hal yang bagi saya, sulit bukan main. Selain Allah beri saya anugerah suara yang nge-pop abis, saya ini juga anti sama goyang-goyang atau nyanyi terus ditonton dari jarak dekat oleh laki-laki. Makanya, dulu, saya lebih suka nge-band aja daripada nyanyi dangdut. Serem, soalnya kan saya perempuan kalem.

Tapi, pernah ada satu kejadian yang bikin saya sakit hati. Waktu itu saya nyanyi di sebuah desa, lupa tepatnya. Seingat saya, itu perbatasan antara Wonosobo dengan Purworejo. Saya sering dipasang untuk nyanyi di awal pembukaan karena karakter suara yang lembut dan cenderung akan membawakan lagu yang lembut. Belum apa-apa, ada suara simbah-simbah yang nyeletuk “dangdut wae, lagu iki marakke ngantuk!” yang kalau dibahasa Indonesiakan artinya “Dangdut aja, lagu ini bikin ngantuk!” Saya kesal dan pengin marah rasanya.

Sejak saat itu, kalau diajak nyanyi ke tempat yang ndeso banget, saya mikir-mikir. Saya nggak cocok. Ego saya masih tinggi: pokoknya karena saya suka musik pop, ya saya enggak mau maksa diri untuk bisa nyanyi lagu dangdut. Tapi, beruntung sekali saat masuk SMA saya bisa memilih untuk nyanyi kalau ada event sekolah atau mewakili sekolah, tentu saja tidak ada dangdut! Cita-cita menjadi wedding singer sudah saya kubur dalam. Jadi penulis aja, lebih enak.

Sejujurnya saya tidak membenci musik dangdut, kalau disuguhi lagu-lagunya Cici Paramida dan Ike Nurjannah saya masih suka. Apalagi, Ibu Ike Nurjannah ini kan penyanyi dangdut yang menurut saya sopan. Lagunya bukan dangdut koplo, tapi pure dangdut yang cengkoknya jelas dan enak didengar. Mengalun dan lirik lagunya biasa aja, mirip-mirip lirik lagu pop. Judul lagunya juga bukan judul lagu yang mengundang kontroversi, semacam Cinta Satu Malam, Hamil Duluan atau judul lain yang berbahaya dinyanyikan anak kecil.

Selain judul yang agak ngeri gitu, di mata saya musik dangdut itu dekat dengan acara panggungan yang kadang terkesan berisik. Belum lagi, kostum penyanyinya yang blink-blink dan warnanya ngejreng, parahnya biasanya ketat dan membentuk lekukan tubuh penyanyinya. Jadi, saya kadang mikir apa penontonnya ini bisa fokus ya sama musiknya? Kan kostumnya aja jauh lebih menyita perhatian.

Ternyata hal yang saya sebutkan tadi, memang menjadi alasan banyak orang kenapa musik dangdut kemudian dicap sebagai musik kelas bawah. Disebutkan dalam sebuah artikel di boombastis.com, dangdut dicap sebagai musik kampungan karena penggemar musik ini cenderung tinggal di kampung. Betul enggak, sih?

Ada juga alasan lain yang disebutkan, mengapa dangut dianggap tidak kekinian dan banyak dianggap musik murahan. Yaitu, karena dangdut kehilangan keasliannya. Dulu Rhoma Irama, si Raja Dangdut selalu menyajikan lagu-lagu dangdut yang puitis, dengan musik yang enak didengar dan diselipi dakwah. Musik dangdut itu masih mendekati aslinya, musik percampuran antara musik Arab dengan musik tradisional India. Sedangkan belakangan ini, musik dangdut lebih difungsikan sebagai alat yang mengajak goyang sithik jos, tanpa ada unsur dakwah seperti yang Bang Haji mainkan dulu.

Sebagai orang yang punya secuil pengalaman di dunia musik—meskipun saya tahu, itu tidak membuat saya menjadi ahli atau pantas untuk menilai satu genre musik karena pemahaman yang belum mumpuni—tetapi saya merasa punya pemikiran soal dangdut. Itu benar-benar ingin saya curahkan. Juga, sebuah ucapan terima kasih yang ingin saya alamatkan kepada Mbak Via Vallen, yang saya belum pernah kenalan tapi saya kenal betul dengan lagunya.

Mbak Via Vallen berhasil mengemas ulang musik dangdut koplo menjadi jauh lebih menarik dan enak didengar. Penampilannya yang cenderung mirip penyanyi pop, membawa dangdut memiliki penggemar-penggemar baru, bukan hanya mereka yang berada di kampung-kampung. Setidaknya, citra buruk dangdut yang ada di mata saya bisa berubah drastis, semenjak melihat aksi panggung Mbak Via yang sopan dan tidak mempertontonkan goyangan yang aduhai.

Cuma sekarang yang jadi masalah adalah, lirik lagu-lagu dangdut era sekarang masih saya katakan berbahaya untuk dinyanyikan oleh anak kecil. Coba saja, kalau bisa dirubah atau disesuaikan hingga anak-anak bisa tetap menyanyikan lagu dangdut dengan bahagia, tanpa lirik yang dibumbui persoalan cinta. Kalau sudah demikian, yakinlah dangdut akan benar-benar menjadi music of my country.

Dangdut yang menurut Michael H.B. Raditya tidak hanya berasal dari unsur musikal saja, akan semakin kuat untuk dijadikan representasi masyarakat. Suara hati, perwakilan atas kepedihan masyarakat. Cermin, yang menunjukkan bagaimana suasana kehidupan kelas menengah bawah karena lirik-lirik yang memuat nilai-nilai masyarakat.

Dengan begitu, kita tidak lagi sulit untuk mencari apa yang Indonesia miliki. Karena dangdut menjadi musik yang mudah dicintai, mampu mewakili hati plus kekinian sekali. Jadilah, ungkapan dangdut is the music of my country bisa semakin tegas kita bunyikan.

Ditulis oleh: Hapsari Titi Mumpuni

Reviwer: Wahyu Wibowo

 

Baca Juga:   [Cerpen] Laki-laki Tanpa Nama

Referensi:

Raditya, Michael H.B., 2017. Dangdut Koplo: Memahami Perkembangan hingga Pelarangan. Studi Budaya Nusantara (SBN) Vol. 1 No. 1.

https://www.boombastis.com/dangdut-musik-kelas-bawah/86045

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *