Mr. Totality

“Bapak enggak bisa datang buat ambil rapot kamu. Bapak sibuk.”

“Itu, Ibu saja. Atau tantemu.”

Dua kalimat yang sudah sering aku dengar. Mendesing di kuping tiap kenaikan kelas atau pergantian catur wulan. Bapakku bak presiden, standby 24 jam dalam 7 hari. Untuk apa lagi kalau bukan bekerja?

Bapak, orang yang selalu terlihat sempurna di tiap pekerjaannya. Orang yang selalu tak terlihat di rumah demi target-target yang aku tak paham. Pulang pagi, mandi dan sarapan, lalu tak terlihat lagi batang hidungnya. Dua puluh tiga jam persis dunianya berputar di kantor. Kata Ibu, Bapak sering ke luar kota. Menemani pimpinannya saat menjalin relasi bisnis dengan kolega lain. Mungkin, ada rasa bangga akan totalitas Bapak di dalam dadaku. Sayang, hanya sedikit.

Gimana enggak sedikit? Kasih sayangnya pun tak terasa. Pulang menghardik, pergi sepi. Iya, Bapak suka sekali marah. Hal sepele saja bisa jadi besar bak balon yang ditiup. Duaaarr! Meletus meninggalkan keterkejutan, anaknya. Tanpa alih-alih apapun. Seperti tadi pagi, saat aku mau makan mie.

“Gubrak!”

Kaget, aku kaget. Nggak sadar piring yang aku bawa jatuh. Bukan isinya yang masalah. Tapi tempat jatuhnya. Ya, di kepala Bapak. Saat itu, Bapak duduk di lantai sambil menonton TV. Dan aku sedang berjalan melewati Bapak, kakiku tersandung tikar.  Padahal, itu mie instan yang baru aku buat 10 menit yang lalu. Masih panas!

“Bocah! Ratau ati-ati! Matane ndeleng sing bener! Seapa-apane kaya kuwe, wong madang gari jagong grok! Ndadak pecicilan!”** (Bocah! Nggak pernah hati-hati! Matanya lihat yang bener! Apa pun seperti itu, kalau makan tinggal duduk! Ngapain kebanyakan tingkah!)

Segala tumpah ruah kekesalan Bapak meledak. Seperti macan yang sudah diganggu dari tidurnya. Huh! kesal rasanya. Aku tahu aku salah. Tapi kan, nggak harus marah besar seperti itu. Padahal aku sudah minta maaf.

Lain hari, aku takut. Ketakutan akan sesuatu yang biasa anak kecil di seluruh dunia pun takut. Hantu. Tiap hari, televisi mengantarkanku membayangkan hal-hal gaib. Entah itu kuntilanak, vampir, tuyul dan semacamnya. Tren film hantu memang sedang merebak kala itu. Aku salah satu penikmat dan juga pengkhayal akut. Aku takut malam hari. Aku takut ke kamar mandi sendiri. Dan aku takut HANTU.

Bapak yang tahu, mencoba membuat aku tak takut hantu lagi. Sayang, caranya aneh. Bapak menggendongku ke luar rumah saat malam. Memaksaku melihat dalam gelap di kebun samping rumah. Sungguh, aku sempat ngompol. Selesai Bapak menakutiku, selesai pula penyiksaanku. Namun, ketakutanku malah tak kunjung selesai. Malah bertambah parah. Bapak, kenapa harus bertindak seperti itu?

Entah sampai kapan, aku akan membenci Bapak. Memori otakku bahkan tak bisa mengingat masa indah bersama beliau. Melihat Bapak teman-temanku yang sangat perhatian dan dekat dengan mereka, hanya membuatku iri. Kapan Bapak berubah ya?

“Dhit, dulu Bapakmu berjuang mati-matian membiayai keenam adik-adiknya. Orang yang sangat totalitas, ya Bapakmu itu.”

Omku bercerita tentang Bapak tanpa kuminta. Saat itu aku memang sedang menginap di rumah adik bapakku ini. Karena pekerjaan yang mengharuskanku pergi ke pulau seberang. Usiaku menginjak dua puluh dua tahun kala itu. Beliau pun bercerita kalau dulu Bapak memperjuangkan adik-adiknya untuk bisa kuliah. Sedangkan mimpinya untuk kuliah harus pupus. Masa mudanya dihabiskan untuk bekerja keras. Menghidupi adik-adiknya. Aku pun mulai berpikir. Rasa bangga sedikit membuncah. Kenyataannya, Bapak memang seperti itu. Mungkin selama ini aku yang belum mau memahami Bapak sepenuhnya.

Aku mulai mencari-cari diary masa kecilku. Membaca kisah-kisah lama. Di antara lembaran usang goresan pena, terselip nama orang yang kupanggil Bapak.

Mandiraja, 1 November 1998

Bapak tadi pulang sebentar. Tumben. Ternyata Bapak ngasih kado ultah. Papan tulis magnet warna biru. Aku suka. Terima kasih Bapak.

Deg! Rasa haru menyelimutiku. Aku tak ingat telah menuliskan catatan ini. Lebih tepatnya, memori itu seperti terhapus. Tergantikan memori mencekam dan menyedihkan.

Mandiraja, 1 November 2000

Kali ini Bapak pulang lagi pas jam istirahat. Kado ultah yang kuimpikan. Kaset Westlife yang CD dan kaset tape. Bapak, terima kasih banyak.

Tes tes tes. Aliran air dari ujung mataku keluar. Tak sempat kubendung. Terus mengalir di sela hidung dan menetes ke pangkuanku dari ujung dagu. Aku benar-benar kurang bersyukur.

Mandiraja, Juni 2005

Hari ini aku MOS di SMA Negeri 2 Purwokerto. Ini sudah tiga hari berturut-turut aku diantar Bapak. Padahal dari rumah ke sekolah jauh. Perjalanan satu jam. Padahal aku ngekos. Tapi aku nggak bisa buat tugas MOS sendiri. Bapak pasti capek banget. Bolak-balik sebelum kerja.

Aku terisak. Astaghfirullah. Maafkan aku, Bapak.

Saat ini aku sudah 26 tahun. Memberi Bapak cucu adalah kebahagiaan tersendiri. Apalagi cucunya cowok. Hal yang paling diidam-idamkan Bapak dulu saat menanti anaknya lahir, namun tak kesampaian. Sejauh ini, aku semakin mengagumi Bapak. Apa yang dulu pernah membuatku benci akan beliau, sudah sirna sedikit demi sedikit. Sayangnya, rasa canggungku masih terbawa. Bertahun-tahun tak dekat dengan beliau, membuatku sulit untuk sekedar berkomunikasi. Bercerita tentang cita dan cinta pun hanya aku pendam sendiri.

Bapak, sekarang aku baru paham. “Kasih sayangmu mungkin tak terasa. Namun perhatian diam-diammu telah melunakkanku.” Terima kasih Bapak. Aku sayang Bapak. Semoga Bapak selalu diberi kesehatan dan perlindungan-Nya. Semoga kelak, saat tiba waktunya, kita jumpa di surga, ya.

***

Ditulis oleh : Dhita Erdittya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *