MOS : MASA ORIENTASI SESA(A)T

PPDB kelar dan saatnya mengumumkan siapa saja calon siswa sekolah kami.  Kok calon? Lha, iya calon, kan masih ada seleksi lanjutan. Seleksi lanjutan itu, ya… melalui MOS (Masa Orientasi Siswa). Kalau memang dalam MOS bisa mengikuti dan menyandang predikat baik, ya sudah, masuk. Kalau masih suka petakilan dan terbawa aura SD (Sekolah Dasar) yang manja dan lebay, mungkin ada dua pilihan. Pilihannya yaitu diterima dengan catatan atau pergi dengan pecatan.

Kalau diterima dengan catatan maka, siswa diterima namun masih dalam pengawasan. Segala gerak dan geriknya selalu dipantau. Kalau dalam masa tertentu melanggar lagi ya sudah wassalam, siswa itu harus direlakan. Tidak perlu memakai pertimbangan-pertimbangan lagi. Lain lagi kalau siswa ditolak dengan pecatan, siswa sudah tidak bisa mengikuti MOS. Misal, saat MOS siswa malah sakit jiwa, epilepsi, sakit menahun, dan sakit kronis lainnya maka sekolah harus merelakan.

Begitulah, hari ini kita kumpulkan lagi para siswa dan orang tua. Maklumlah, ini sekolah masih SMP (Sekolah Menengah Pertama) maka orang tua ikut sibuk. Dari pendaftaran sampai pengumuman, orang tualah yang wira-wiri, hilir mudik dan sibuk ria. Sementara anaknya nongkrong menunggu di teras kelas sambil makan es krim. Duh, anak zaman sekarang. Melihat orang tua sibuk mengurus dirinya, dianya malah cuek. Harusnya kan dia menawari orang tuanya mau es krim atau tidak. Orang tuanya mau rasa apa? Stroberi? Susu? Coklat? Atau rasah (baca: tidak) bayar?

Kalau tidak bayar jelas tidak mungkin sebab orang tuanya yang bayar kok. Belum pernah ada sejarahnya anak SD mentraktir orang tuanya sendiri. Mereka jelas tidak punya uang. Kalau pun mereka punya, itu uang dari orang tuanya. Jadi siklusnya berputar, anak minta uang dan orangtua memberi. Kemudian anak membeli es krim dan diberikan orangtuanya.

Para panitia PPDB sudah buka lapak dan siap menjawab pertanyaan orang tua. Maklum kadang ada orangtua yang masih bertanya hanya sekadar meyakinkan diri. Padahal dalam pengumuman baik lisan maupun tertulis sudah jelas. Ya, maklum saja namanya juga orang tua. Ada juga suatu ketika ada orang tua yang memiliki anak kembar. Dia takut bila kedua anaknya terpisah. Maksudnya, yang diterima di sekolah kami hanya satu saja. Dia begitu khawatir.

Saking khawatirnya, dia hilir mudik tidak jelas arah tujuan dia berjalan. Namun pas pengumuman dan kedua anak kembarnya diterima, tumpahlah air mata. Dia bahagia kedua anaknya diterima di sekolah kami. Memang dari segi kecerdasan, kedua anaknya sedikit berbeda. Ada jarak nilai keduanya. Itulah yang membuatnya cemas tidak karuan. Alhamdulillah, happy ending.

Pengumuman sebenarnya bisa dilihat di website dinas, namun mungkin bagi orangtua kurang marem, mantap. Makanya mereka dibela-belain datang ke sekolah, hanya sekadar melihat pengumuman. Di sekolah pun, kami sambit, ups sambut dengan tangan terbuka dan mulut menganga. Enggak menganga sih. Lembar pengumuman sudah kami tempel di beberapa tempat. Ada yang di dekat tempat pendaftaran dan ada yang di dekat pintu masuk.

Baca Juga:   GAME DAN ANAK-ANAK KITA

Kami bagi dua tempat, biar tidak berdesak-desakan atau terjadi aksi anarkis. Emang pernah? Belum sih, namun siapa tahu hari ini dan tahun ini ada perbedaan kejadian. Ada yang ngamuk karena tidak diterima. Terus merusak papan pengumuman dan membakar sekolah. Wow, ngeri, kan? Oleh karena itu kami antisipasi dengan memasang beberapa pengumuman di dua tempat tersebut.

Biarpun ada dua papan pengumuman para orang tua tetap saja mencari data anaknya di satu tempat. Mereka menyerbu papan pengumuman di dekat ruang pendaftaran. Akibatnya papan pengumuman miring dan hampir ambruk. Malah hampir menimpa orang tua yang kebetulan berdiri di belakang papan tersebut. Di zaman teknologi canggih begini, kok masih mau berdesak-desakkan, berkeringat, kepanasan, kehausan, dan kelaparan.

Semua perjuangan itu hanya demi melihat nama anaknya. Padahal kalau memang tidak diterima di sekolah kami, pasti diterima di sekolah pilihan kedua atau ketiga. Jadi intinya tetap saja si anak sekolah, iya kan? Ya, memang tidak bisa sekolah di sekolah kami, sekolah favorit. Jiah.

Untuk menyambut tunas bangsa, sekolah kami mempersiapkan kegiatan pengenalan. Sesuai aturan dinas, kami diwajibkan melaksanakan Masa Orientasi Siswa (MOS) kalau dulu namanya Orientasi Siswa dan Pengenalan  (OSPEK) apa gitu, aku lupa. MOS itu berlangsung selama tiga hari. MOS itu semacam training atau uji coba walaupun kata iklan, untuk anak kok coba-coba. Jawabannya kalau tidak coba tidak tahu, si anak betulan niat sekolah atau tidak, si anak mengenal dengan baik sekolah barunya atau tidak dan sebagainya.

Intinya mengenalkan sekolah baik visi, misi, prestasi, bangunan fisik, tata tertib, larangan dan lain-lain termasuk dimana kantin berada. Ah, kalau kantin tidak perlu siswa baru dikasih tahu. Mereka secara naluri akan menemukan. Dengan kemampuan jajan yang dimiliki, para siswa akan mudah mendeteksi dimana kantin berada. Percayalah.

Setelah pengumuman calon siswa, kan pengumuman biasanya hari Kamis, maka ada pemberitahuan lanjutan. Pengumuman itu tentang kegiatan MOS dan barang yang mau dibawa. Jadi pas hari Senin, mereka harus membawa apa, yang jelas membawa diri, yaelah. Maksudnya mereka membawa apa saja dan harus bagaimana. Kalau setahun yang lalu lebih mengenaskan bagi para siswa karena mereka harus membawa berbagai kemudaratan.

Mereka harus membawa hal-hal yang tidak bermanfaat dan kurang mendidik. Seperti mereka harus membawa makanan kecil, tas karung, caping, bawang merah dan bawang putih, ibu tiri, weh ibu tiri tidak ikut. Kemudian barang-barang itu mereka pakai, termasuk memakai kaus kaki yang berbeda. Lah, kalau bawang merah dan bawang putih untuk apa? Apakah untuk masak memasak?

Baca Juga:   Tips Menulis Dongeng Seperti di Buku 101 Dongeng Sebelum Tidur

Bukan. Kedua benda itu dibuat sebagai kalung. Dengan menggunakan benang atau tali, mereka merangkai para bawang itu menjadi kalung emas. Eh, enggak bisa. Kalung kesayangan. Terus bukan digunakan untuk mengusir drakula atau vampire tetapi untuk aksesoris siswa. Kadang malah ditambah dengan kacang panjang, jadi kalungnya inovatif sekali.

Itu dahulu, mulai sekarang kegiatan perploncoan seperti itu dilarang sebab takutnya mendidik balas dendam. Yang dikhawatirkan, dendam itu disalurkan kepada adik-adiknya kelak. Kalau seperti itu kan, kasihan yang sekarang sebab sudah dilarang. Jadi siswa sekarang tidak bisa balas dendam kepada adik-adiknya. Kasihan kan? Eits, ini kasihan yang mana nih? Yang menerima perploncoan atau yang tidak bisa mlonco. Ah, pokoknya kasihan keduanya saja biar aman. Ha,ha. (ketawa jahat)

Oleh karena itu, berhubung dilarang maka para siswa baru hanya memakai kalung kertas saja. Kalung kertas itu harus ditulisi nama mereka, nama panggilan mereka. Bukan nama lengkap apalagi pakai bin atau binti. Cukup nama panggilan biar memudahkan koordinasi MOS. Sebab takutnya kalau mereka memberi nama lengkap, itu bisa menjadi masalah. Tahu kan nama siswa zaman now? Mereka mempunyai nama yang panjang-panjang.

Kalau namanya panjang dan harus ditulis lengkap maka butuh kertas yang lebar. Enggak lucu kan kalau kertasnya melingkar di tubuh siswa? Nanti bukannya dikira siswa tetapi malah dikira lontong kertas. Lontong kok besar, lontong kok bisa jalan. Lontong kok MOS dan sebagainya.

Semua atribut sudah diumumkan, tiba saatnya MOS. MOS berlangsung tiga hari di dalam kelas. Jadi bukan di lapangan sebab ini bukan kegiatan kesegaran jasmani. MOS ini lebih bersifat teori bukan praktek atau kegiatan yang menguras energi apalagi menguras money. Bukan. Materi itu akan disampaikan oleh para guru yang berkompeten termasuk aku. Eaaa. Para guru berdedikasi ini menjadi narasumber dalam kegiatan MOS. Para guru tidak menangani kegiatan MOS sebab sudah ada bagian yang mengurusi dari pembukaan sampai penutupan. Jadi tenang, aku hanya narasumber bukan panitia.

Kalau narasumber itu ya, datang pas jam mengisi saja. Pukul berapa sampai pukul berapa sesuai jadwal yang diberikan. Dan materi yang kusampaian hampir dipastikan tidak berubah. Entah mengapa mungkin panitia mengira aku tidak bisa memberi materi yang lain. Jadi panitia mengira aku hanya sanggup memberi materi yang itu, itu saja. Tidak berkembang. Materiku adalah jeng jeng tentang visi dan misi. Ya mungkin aku diminta mengisi materi tentang visi dan misi karena mungkin aku dianggap orang yang visioner. Halah.

Kegiatan MOS ini biasanya dilaksanakan oleh OSIS bersinergi dengan wakil kepala bidang kesiswaan. Sementara aku wakil kepala bidang kurikulum jadi bukan job description-ku. Berhubung dapat tugas mengisi materi MOS, ya terpaksa aku meninggalkan kelas. Aku kan, mengajar kelas 9, jadi saat bertugas di MOS, kelas ini aku kasih tugas. Tugasnya sih sedikit, tetapi jawabnya yang banyak. Ha,ha.

Baca Juga:   [Cernak] Perempuan Misterius di Balik Jendela

Ini strategi biar para siswa tidak keluyuran atau keluar kelas atau bahkan keluar ke kantin; jajan. Oleh karena itu biar, mereka lama dan nyaman di kelas, maka diberi tugas yang banyak. Minimal tugas itu dapat diselesaikan dalam waktu dua jam. Kalau perlu meringkas buku dari halaman pertama sampai terakhir. Yah, enggak segitunya kali.

Aku kan. mengajar bahasa Inggris jadi tidak perlu banyak-banyak sih tugasnya. Bahasa Inggris itu kan, bahasa asing jadi soal sedikit saja pasti mereka merasa asing. Asing dan bingung. Oleh karena itu, soalnya mengartikan teks saja. Mengartikan teks itu butuh waktu kurang lebih dua jam pelajaran. Itu belum kalau ditambah soal-soal tentang teks tersebut. Wah bikin mereka tambah asyik, ups asing.

Untungnya aku meninggalkan tugas hanya sekali saja. Walaupun MOS diadakan selama tiga hari namun aku hanya memberi materi sekali saja. Ya, mungkin cukup sekali saja. Apalagi kan penjelasanku sudah panjang lebar kali tinggi jadi pasti dong mereka paham. Wong pematerinya super duper keren. Jiah.

Aku memang hanya memberi materi sekali namun sekali untuk kelas A, sekali untuk kelas B dan sekali untuk kelas C. Jadi sekali untuk tiap-tiap kelas dan itu cukup sih. Tidak perlu banyak-banyak ngisi sebab tidak ada HR (baca: honorarium). Eh, aku dapat HR enggak sih? Aku lupa. Serius untuk urusan duit aku memang sering lupa. Apalagi soal utang, aku cepat sekali amnesia.

Akhirnya sampai hari ketiga, para siswa baru masih bertahan dan sepertinya niat sekolah di sini. Hari ini adalah penutupan MOS. Kalau di awal MOS ada pembukaan maka di akhir ada penutupan.

“Kalau yang mulai, kau yang mengakhiri …dst.” (Tidak perlu dengan goyang)

Acara MOS akhirnya ditutup dengan Hamdalah. Eh, bukan ding. Acara MOS ditutup oleh ibu kepala sekolah kita. Alhamudillah juga sampai detik terakhir MOS, siswa masih komplet, tidak ada yang kurang. Pun tidak ada yang cuwil. Semua sehat, tidak kurang suatu apa. Ya, memang ada beberapa siswa yang capek dan kelelahan dan itu biasa sih. Namun semangat perlu dijaga dan dipertahankan agar menjadi generasi yang unggul. Generasi yang unggul dan bisa menjaga keutuhan NKRI. Merdeka!

Ditulis  oleh : Jack Sulistya

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *