Miu, dan Naluri Kucing Kampung

sumber: youtube.com
“Waktu di mobil, Miu dieeem aja. Dari mulutnya keluar air terus. Mulutnya juga terus membuka,” cerita suami pada dua anak kami.
            Aku mendengar, sambil membaca buku misteri anak, yang sengaja kubeli sebelum ke Madura. Hitung-hitung untuk amunisi naskah yang sedang kugarap.
            “Miu enggak keluar, Abi?” tanya anak sulung kami.
            “Enggak. Duduk saja di pangkuan Abi. Mungkin kepanasan, dan capek.”
            Miu.
Maafkan kami yang membuatmu ikut hijrah. Kamu yang sudah membuat anak-anak jatuh hati. Bahkan pernah, suatu malam, dua anak kami sahut-menyahut dalam tangis. Mereka memanggilku dengan suara cemas, terselip rasa takut.
            “Ummi. Itu Miu di sana!”
            Anak sulung kami membuat laporan.
            Aku melihat ke dinding panti asuhan, yang tingginya hampir sama dengan atap tempat tinggal kami. Di sana kucing blasteran antara kucing Persia, dan lokal sedang berdiri. Kakinya tampak ragu saat hendak melangkah.
            “Miuuu! Jangaaan!” teriak dua anak kami bersamaan.
            Saat kaki Miu mengambang ke arah selatan, dua anak kami semakin panik. Mereka sangat khawatir jika kucing itu bakal terjatuh, mencebur ke kubangan sawah, dan hilang karena diambil orang.
            “Kakak, ini gimana? Miu enggak boleh jatuh,” ucap adiknya dengan banjir air mata di pipi.
            “Iya, Dek. Ini Ummi juga enggak bisa nolong. Kita tunggu Abi, ya?” jawab si kakak.
            Pada akhirnya, suamiku naik dengan tangga bambu. Menggendong kucing berwarna oranye itu, dari atas tembok.
            Dan sekarang, Miu ada di tanah lahir suami. Dimana, tidak ada satu pun kucing sejenisnya. Jika aku mau jujur, Miu lah mungkin yang paling menerima takdir dengan ikhlas untuk hijrah ini. Kami, masih bisa bertemu dengan manusia lain, sesama manusia, sesama muslim. Sedang Miu? Tidak ada kucing blasteran Persia, dan lokal yang sama dengannya.
***
           
“Miu pergi melewati pagar bersama kucing kampung,” cerita suami, satu waktu saat kami di panti asuhan.
            “Wah, apa nanti, Miu bisa kembali lagi?” tanya dua anak kami bergantian.
            Kecintaan mereka pada Miu sungguh dapat kurasakan.
            Malam harinya, saat anak-anak panti asuhan bersiap salat tahajjud, Miu datang dari arah gerbang panti asuhan.
            “Nah, itu Miu pulang.”
            Sejak itu, Miu kami bebaskan keluar. Satu jendela sengaja dibuka agar dia bisa pulang, dan pergi kapan saja. Sungguh, aku tidak menyangka. Jika selama itu, ternyata Miu sedang disiapkan untuk menghadapi medan yang lebih asing. Madura. Siapa yang menyiapkan? Aku berpikir, demikian lah Allah swt menempanya.
            Miu pergi layaknya kucing lokal. Dan malam ini, aku sedang mengetik cerita, sambil menunggunya. Waktu di laptop hitam ini memberi informasi pukul 00.20. Miu belum pulang. Aku tidak tahu, kapan Miu pergi. Kami membuka sedikit pintu kamar, agar Miu bisa pulang.
            Suara kaki melangkah terdengar mendekat. Aku masih mengetik. Itu suara kaki anak sulungku. Dia terjaga dari tidurnya. Dan tentu saja, dia langsung berjalan ke ruang tamu, melihat ke kandang, dan bertanya, “Miu di mana, Mi?”
            “Miu ke luar.” Suami yang menjawab
            “Kakak, ayo tidur lagi,” pintaku.
            Tapi, dia tetap terjaga.
Aku menghentikan aktivitas, dan menemaninya. Sambil duduk, aku melihat dari jendela kaca kamar kecil ini. Sebentuk postur kucing melintas. Warnanya oranye.
            “Kak. Kakaaak! Itu Miu pulang!”
            Aku mengabarkan hal itu pada anak sulung kami. Dia bergegas untuk menggendong, memberinya makan dan minum. Setelah itu, anak sulung kami baru bisa tidur lagi. Miu, kamu adalah pelajaran bagiku. Kamu tidak marah pada kami, bahkan saat kamu kepayahan menahan capai, saat di jalan, menuju ke sini. Kamu pelajaran yang dikirim oleh-Nya, untuk kami. []
Pelajaran berharga selalu ada di mana saja selama kita membuka mata hati. Dulu, awalnya aku sangat tidak suka saat Miu datang. Hidung sudah memprediksi, bakal akan mencium bau tidak sedap dari aroma bulu kucing. Bau air kencingnya, bau pupnya. Stres rasanya, padahal baru membayangkan.
Ketika aku melihat anak-anak sangat enjoy dengan kucing-kucing itu. Dari mereka mulai bangun tidur, sampai mau tidur, selalu menyapa. Mengusap, membersihkan kandang, memberi makan. Aku jadi luluh.Masa binatang yang mengajarkan mereka untuk peduli, harus kubenci?
Apalagi, Miu ternyata sangat sering menemaniku mengetik. Terutama saat dia tidak ke luar, dia akan ke ruangan ketik, dan duduk di bawah kursi. Kadang menjawil kakiku yang gerak-gerak, menarik rok, dan mengeong seperti bertanya, “Masih lama kah ngetiknya?”
Dari adanya Miu, aku jadi tahu penilaian anak-anak terhadapku. Seperti ungkapan, “Abi pergi, nanti kalau Miu keluar, Ummi enggak mau nyari.” Itu kalimat si sulung. Artiya, kepedulianku pada binatang kesayangan mereka, masih belum oke. Bahkan anakku ragu, aku akan mencarinya.
Mau tidak mau, aku belajar melawan diri sendiri. Meminimalisir rasa masih ‘geli’ saat bersama Miu, mengurangi kekhawatiran berlebih jika tertempel bulu rontoknya. Caranya, aku belajar mengelusnya. Belajar membersihkan tangan setelah bersamanya. Ya … walaupun memang belum maksimal. Masih mundur-mundur jika dia mau bermanja.

 

 PC, LS, 30.09.2017
Kayla Mubara, penulis buku populer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *