Mi Instan dan Para Roti

Selera makanan setiap orang tentu berbeda. Dulu, ketika kuliah, aku tergolong pada bagian mahasiswa yang terbilang pilah-pilih makanan. Bukan perihal rasa atau kuantitas, namun harga menjadi pertimbangan utama yang tak boleh diabaikan. Sebagai pembelajar di keilmuan matematika, alokasi uang kuhitung sedemikian rupa. Aku lebih memilih menempatkan uang sebagai pengganti koran, majalah, buku, atau pengisi celengan yang dibeli sejak minggu pertama di tanah rantau. Bagiku, makanan tak terlalu menjadi persoalan yang membikin hidup jadi ketar-ketir, selain pada porsi tertentu, aku berupaya untuk melakukannya. Memenuhi kebutuhan biologisku. Sate kambing adalah santapan wajib seminimal sebulan sekali.

Ruang kosan yang tak begitu panjang apalagi lebar tersering terasa hambar. Tiada makanan ringan yang semestinya menemani apalagi meminta untuk disantap. Pun, keinstanan makanan yang paling banyak ditemui di kebanyakan kosan mahasiswa, akan nihil di ruanganku. Mi instan tak begitu akrab dengan lidah yang masih lekat cita rasa desa. Bukan perihal desa, tapi berdasarkan ucapan yang kerap diterima dari beberapa teman dan juga pembelajar kimia di kampus yang sama denganku, baiknya mengurangi mengonsumsi mi instan.

Ada banyak zat kurang baik bakal bersarang dalam tubuhmu, dampaknya baru akan terlihat beberapa waktu ke depan. Sekarang boleh jadi tak terlihat, namun kehidupan terus berproses, yang tidak tampak sekalipun bisa saja terjadi, begitulah sekiranya ucapan mereka.

Kisah terus berlanjut. Aku mencoba bersetia pada pendirian yang kuanggap paling tepat untuk dijalani. Pendirian yang tak serta membatasi segala prahara. Pendirian yang dengannya aku lebih banyak melahap sayur dan lauk nikmat ala kadar—tentu, bergizi dan memiliki aroma sedap. Pendirian yang mengabarkan esok hari bahwa tabungan makin berisi. Pendirian… o, pendirian berisi segala kebaikan yang dirasa penting dan harus dipertahankan berketerusan.

Selain mi instan, lidahku juga kurang begitu akrab dengan sejenis rasa roti tawar atau roti yang membikin tenggorokan seret, roti kering. Roti sejenis ini bila ada di ruang kosan hanya akan menjadi penonton aktivitasku. Mereka akan melotot semenakutkan mungkin agar aku luluh. Dan hasilnya manjur, mereka dilahap dengan bahagia. Teman-temanku merasakan kekosongan isi perut akan berakhir episodenya setelah menghabiskan beberapa keping atau sejumlah roti yang ada di kamarku. Aku pun riang, tiada kemubaziran makanan dari pemberian atau pembelian yang kerap tak sengaja dilakukan. Terkadang sebab tiada kembalian rupiah dari suatu warung sembako, sang pemilik warung menawarkan penggantinya dengan roti. Aku kemudian hanya berturut menyetujui. Mengangguk saja.

***

Desember 2013 mengisah perjalanan pemuda. Bersama 18 pemuda lain yang tergabung di Ikatan Remaja Masjid (IRMA) Gang Lampung, untuk kali pertama aku menjejakkan kaki di lereng gunung. Mengikuti arah perjalanan menuju puncak yang telah dibikin oleh para manusia yang tentu aku tiada mengenal nama mereka. Entah telah berganti berapa generasi yang memisahkan jarak kami. Jelasnya, bagi kami, para pendaki atau bahkan hanya ingin melihat tiap sisi Sumatera Selatan dari puncak tertinggi yang ada di provinsi ini, tak hingga terimakasih pantas dihaturkan kepada mereka. Jasa mereka terus mengandung kemudahan, kebaikan.

Pada perjalanan ini, aku yang belum pernah sekalipun mendaki ke bidang tanah yang sedemikian tinggi, ditunjuk sebagai Ketua Kelompok sekaligus Koordinator Tim Medis. Di pagi sebelum keberangkatan, aku belajar menyibukkan diri. Mempersiapkan segala perlengkapan pendakian, obat-obatan, hingga logistik selama perjalanan dan pertualangan di puncak gunung. Setiap dari anggota membawa keperluan yang dibutuhkan baik untuk keperluan pribadi atau kelompok. Sedang, dalam tasku juga terdapat beberapa roti tawar, roti kering, hingga mi instan, selain peralatan pendakian dan pakaian.

Cerita mengejutkan lahir di beberapa menit sebelum keberangkatan, sebelum doa dipanjatkan secara bersama, adalah jam terbang pertualangan, khususnya di Gunung Dempo. Gunung yang tengah kami tuju untuk berada di puncaknya. Ya, dari 19 pemuda yang berturut mengikuti perjalanan ini—yang kemudian dibagi dalam tiga kelompok—, hanya tercatat dua pemuda saja yang pernah mendaki. Kuantitas yang sedemikian banyak terbilang belum sebanding dengan kualitas pengalaman di rute perjalanan semacam ini. Meski begitu, upaya kebersamaan dan pembelajaran merenungi ciptaan-Nya berlangsung baik, riang, dan berisikan kisah mengesankan.

Perjalanan baru saja dimulai sekitar sejam beberapa menit. Selter Pertama telah dicapai. Rombongan paling awal menanti di sana. Aku yang berada di kelompok tiga dan berada di barisan paling terakhir, berupaya mengejar. Menyusul dengan kepastian tiada yang tertinggal. Peristirahatan dimulai ketika kelompok tiga telah sampai di Selter Pertama.

Cuaca mulai terasa berubah. Tubuh terasa mendingin. Kami mulai berbagi makanan dan memakan persediaan yang sekiranya kuantitasnya paling jempolan. Melihat para rombongan yang begitu lahap menyantap, aku pun mengikuti. Makanan yang mereka ambil, kunyah, hingga telan, aku juga lakukan. Hanya saja, aku masih memilih makanan yang sekiranya cocok untuk tenggorakan. Lebih tepatnya, menuruti selera. Aku masih begitu gengsi menelan makanan yang sudah dicoba untuk tak begitu didekati.

Perjalanan dilanjutkan. Belum sampai setengah perjalanan, hujan turun. Baju mulai basah. Mantel plastik yang telah disiapkan segera kami kenakan. Badan semakin menggigil dan perut terasa terus-terusan lapar. Beberapa kali rombongan terdepan menanti kehadiran kelompok kami dan memutuskan untuk istirahat. Lagi, asupan energi kami charge ke dalam tubuh kami. Makanan di dalam tas disantap untuk menggantikan tenaga yang terus berkurang.

Makanan semakin nikmat saja. Mulut rasanya enggan berhenti mengunyah. Selagi ada makanan dan selama masih beristirahat, pelbagai makanan berganti tempat inap: tas menuju perut.

Makanan sudah terlanjur tertelan. Aku menyadari ada pelbagai jenis makanan yang telah disantap. Bahkan makanan yang selama ini terasa begitu jauh dari mulut, lidah, gigi, apalagi tenggorokan. Mi instan, roti tawar, roti kering, atau cemilan lain yang biasa lebih sering aku diamkan saja di kosan daripada menelannya. Habis bila ada teman yang bersuka ria menghabiskannya. Bahkan, aku dikagetkan dengan tingkahku setelahnya. Mi instan, di petang itu telah kuhabiskan meski belum dimasak. Roti tawar masuk ke dalam ruang mulut tiba-tiba saja setelah diinstruksi sang tangan. Semua makanan terasa nikmat. Semua bermanfaat. Mi instan dan para roti menjadi kawan.

Menyadari hal ini, aku merasa tamparan keras tengah mengenai wajah, pikiran, hingga naluriku. Selama ini, aku kerap menyia-nyiakan makanan yang terlanjur terbeli tanpa kumakan yang kemudian tak jarang berakhir di tempat sampah. Padahal, di luar sana, tentu meski sacara sadar sering melihat banyak orang yang membutuhkan makanan, namun begitu sulit mendapatkannya. Mereka kadang melakukan hal yang dirasa kurang manusiawi: meminta-minta. Maka, kisah menyantap makanan seadanya di perjalanan pendakian nyatanya dirasakan begitu nikmat. Kisah ini memberikan gambaran bahwa pada titik tertentu hal yang kurang aku perhatikan sekalipun bakal memberikan manfaat dari keberadaannya. Tak hanya aku, tapi kita semua. Ya, kita semua! []

Ditulis oleh: Wahyu Wibowo

Reviewer: Hapsari

Baca Juga:   POHON TOMAT GHANI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *