METAMORFOSIS JODOH MENURUTKU

“Ibu, adakah seorang laki-laki yang bernama Nurul?” Tanyaku pada ibu ketika masih TK. Ibu mengernyit dan menjawab “Ada. Ibu pernah ketemu sama laki-laki yang bernama Nurul. Memangnya kenapa, Nak?” Tanya ibu dengan penuh kesabaran.

“Aku nanti harus mencari suami yang namanya Nurul, karena namaku Nurul” Jawabku dengan polos.

“Ibu namanya Widodo juga kan, seperti Bapak?” Tanyaku yang menyebabkan ibu tertawa terpingkal-pingkal.

“Tidak, Nak. Nama ibu Suwarti. Kalau perempuan menikah, biasanya dipanggil dengan nama suami. Jadi para tetangga memanggil ibu dengan sebutan Bu Widodo.” Aku pun manggut-manggut, menjadi paham jika jodoh tak harus bernamakan sama.

Ketika memasuki SD pun, jodoh ideal di mata saya masih dipengaruhi oleh informasi terbatas yang masuk ke benak, misalnya gencarnya film Indonesia saat itu yang menggambarkan sosok ayah yang bekerja di kantor. Kriteria jodoh di mata saya pun bergeser : ingin mendapatkan suami yang bekerja di kantor atau berprofesi sebagai guru. Yang penting, penampilan necis setiap hari, membawa tas kopor kecil dan bersepatu mengilap.

Lain TK dan SD, lain pula ketika SMP. Saat itu saya sudah memasuki fase puber, dan ternyata ini sangat mempengaruhi kriteria pemilihan jodoh di mata saya. Pada fase ini, orang yang ganteng dan populer menjadi patokan jodoh terbaik menurut saya. Film romantis yang mengangkat Rano Karno dan Yessi Gusman menjadi idola remaja saat itu. Film ini sukses menggiring opini betapa indahnya berjodoh dengan orang yang cantik atau ganteng, romantis lagi.

Ternyata kesan romantis pada fase awal ini menghilang sendirinya dengan berjalannya sang waktu. Idola remaja bergeser dari Rano Karno ke sosok Onky Alexander yang berbadan tinggi ramping, berwajah manis. Film Catatan Si Boy yang dibintanginya menjadikan banyak remaja putri, termasuk saya berubah haluan. Jodoh yang baik menurut saya adalah yang alim, rajin beribadah, dan (tetap) romantis.

Namun lama kelamaan mikir juga: Lho kalau alim dan rajin beribadah, mengapa rajin pacaran? Ah emoh[1] ah. Nanti kalau sudah jadi suami, bisa jadi rajin beribadah namun tetap melakukan hal yang melanggar aturan. Malah makan hati jadinya. Akhirnya saya pun terus mencari kriteria jodoh yang ideal menurut saya.

Jodoh memang penuh misteri. Namun kita sebagai orang yang ingin berjodoh, tetap harus menentukan kriteria sehingga tidak “asal dapat”. Jodoh yang bersanding dengan kita diharapkan sekali dalam seumur hidup, makanya harus teliti sebelum membeli karena sesal kemudian tiada berguna.

Bagaimana menjaring jodoh idaman?

  1. Tentukan kriteria pasangan idaman. Tidak asal berjenis kelamin berbeda dengan kita. Jika kita seorang perempuan, carilah laki-laki yang berani mengambil peran sebagai pemimpin keluarga. Mengapa demikian? Karena pembentukan keluarga tidak hanya bertujuan untuk beranak-pinak, namun harus kita lesatkan keinginan sampai jauh ke depan, yakni terhimpunnya keluarga kita hingga ke Jannah. Cari jodoh yang bisa mendekatkan kita ke Allah SWT, bukan malah membuat kita sibuk mengurusinya. Kok ada yang seperti ini? Oh, banyak!. Masih banyak laki-laki yang mau menerima jenis kelaminnya namun tidak mau menerima peran yang mereka emban. Contohnya: seberapa banyak suami yang tidak mandiri sehingga keluarganya tetap dibawah bayang-bayang pengaruh kedua orang tuanya? Kalau ia sendiri belum mandiri dan merdeka, mana mungkin ia bisa menancapkan tujuan dan mengarahkan semua anggota keluarganya menuju tujuan tersebut? Selain itu, tetapkan kriteria yang lain, misalnya salih, rajin ibadah, lembut hati (sabar dan penyayang), mandiri secara ekonomi, tegas, dll.
  2. Pantaskan diri. Jika kita sudah memberi persyaratan tertentu, sebagai imbangannya, kita harus memantaskan diri mendapatkan jodoh yang sesuai kriteria. Ingat, dua orang akan ‘mendekat’ jika ada suatu persamaan atau frekuensinya sama. Jangan sampai kita hanya pintar menentukan kriteria namun kurang memantaskan diri. Alih-alih akan mendapatkan jodoh idaman, malah kita tidak akan pernah menemukan jodoh karena menetapkan standar yang tidak ‘sefrekuensi.’
  3. Buka mata dan telinga lebar-lebar. Dahulukan rasio dan imbangi dengan hati. Jika ada proposal perkenalan yang masuk, tetap tahan rasa untuk tidak terlalu cepat memutuskan. Betapapun merasa ada orang yang kriterianya cocok,tetap tebar ‘jala’ untuk mencari informasi tentang kebenaran data yang masuk. Minta tolong ke keluarga, kerabat atau sahabat yang sekiranya mengetahui informasi si dia. Informasi secara tertulis lewat proposal yang dibuatnya, tentu berbeda dengan informasi yang didapatkan dari saksi mata, apalagi dari keluarga terdekatnya. Insyaallah lebih akurat.
  4. Jangan memilih objek yang salah. Nah objek disini adalah orang yang kita bidik menjadi target jodoh kita. Bagi perempuan, laki-laki di luar sana banyak sekali. Demikian juga yang laki-laki, perempuan di luar sana juga banyak. Jangan mencari ‘objek’ yang salah. Misalnya nih:
  • Suami/istri orang, orang yang sudah dikhitbah[2] orang lain. Bagaimanapun juga mereka sudah terikat perjanjian dengan pihak lain. Jangan suka merusak hubungan (sebuah keluarga). Kalau sampai berhasil pun, sejarah bakal berulang. Jika pasangan sahnya saja dengan mudah ia tinggalkan, apakah tidak mungkin jika suatu saat giliran Anda yang ditinggalkan?

Bagaimana dengan orang yang dikhitbah? Selesaikan proses khitbahnya dahulu, akan berlanjut atau berhenti. Jika dinyatakan berhenti, baru boleh kita membuka proses perkenalan dan pendekatan dengannya.

  • Orang yang belum dewasa atau masih kekanak-kanakan. Banyak lho orang tubuhnya dewasa namun pikirannya kekanak-kanakan. Masih egosentris dan inginnya selalu dipahami dan dilayani. Ciri khas orang yang egosentris adalah terlalu banyak tuntutan, ingin selalu dibahagiakan, tidak mau kecewa, mau menang sendiri, tidak dapat memutuskan, tidak mau menghadapi permasalahan dalam hidup, terlalu banyak mengeluh, dan kurang mandiri. Alih-alih kita mendapatkan jodoh yang merupakan pasangan hidup, malah jadinya seperti kita nambah momongan dan menambah beban hidup, seumur hidup pula!
  • Menyukai kekerasan. Jika kita didekati laki-laki yang begitu pencemburu dan dengan mudah melakukan kekerasan dengan alasan melindungi kita, jangan asal senang. Jangan memakai logika terbalik: Wah, begitu cintanya ia padaku sampai ia rela berantem demi melindungiku. Ah, apa benar begitu? Orang yang menyukai kekerasan, menandakan pikiran yang tidak matang dan tidak bisa mengelola emosi. Karakternya yang sudah mengeras, tidak mungkin secepat kilat bisa berubah lembut hanya gara-gara jatuh cinta. Dalam proses pencarian pasangan saja ia rela melakukan kekerasan, apalagi jika ia sudah memilikimu. Apa tidak lebih runyam lagi jadinya?.
  • Suka melanggar aturan (penyalahgunaan narkoba, pecandu minuman keras, seks menyimpang). Nah, apa yang diharapkan dari orang semacam ini. Ia dengan rela merusak diri, bagaimana mungkin ia diberi peran untuk membangun orang lain (pasangan, anak dan keluarga)? Walaupun ganteng atau cantiknya minta ampun, tinggalkan saja.
  1. Jangan memakai alasan yang salah. Mengapa kita memilihnya sebagai jodoh kita? Apakah kasihan, ataukah balas budi? Jika ke dua alasan ini yang dipakai, hubungan akan selalu makan hati. Misalnya nih, kita memilihnya karena kasihan dia barusan ditinggalkan calon dan suka curhat sama kita masalah ini. Karena kasihan, kita ingin menjadi penyelamat baginya dengan cara meminangnya. Apakah kita yakin, hatinya bisa beralih menyintai kita dalam sekejab? Apakah hati kita bisa menerima jika masih ada ruang di hatinya untuk si mantan? Alih-alih kita bisa menyintainya dengan tulus, bisa jadi malah kita merasakan cemburu dan curiga yang tak berkesudahan.

Bagaimana dengan jodoh dengan alasan membalas budi? Jelas akan makan hati karena betapapun kita berkorban untuknya, namun pasangan tidak akan menghargai dan merasa apa yang telah kita lakukan, belum sebanding dengan pengorbanannya ketika menolong kita. Selain itu, kita menjadi pihak yang inferior, tetap di bawah bayang-bayang superioritas pasangan. Apa enaknya sebuah hubungan terjalin tanpa kesetaraan?

Nah, itulah selintas cara menjaring jodoh idaman. Selain yang berpatokan pada logika, tetap saja kita yang berperan sebagai hamba, harus melibatkan Sang Khaliq untuk memilihkan jodoh terbaik kita. Jika ikhtiar lahir sudah dilakukan, lakukan ikhtiar batin dengan mohon petunjuk Allah SWT. Siapa tahu setelah malang-melintang melakukan pencarian, ternyata jodoh terbaik kita adalah orang yang begitu dekat dengan kita, tetangga sebelah atau teman sepermainan sewaktu kecil. Nah, ternyata jodoh yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya kan?

Ditulis oleh: Nurul Chomaria

Reviewer: Hapsari TM

[1] Emoh: Tidak mau

[2] Khitbah : dipinang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *