Merapi Park, Wisata Murah Dan Semarak

Enggak terasa ya, sudah mau Minggu lagi. Sudah punya agenda mau ke mana begitu? Belum? Serius? Belum punya planning atau belum punya destinasi yang menarik. Oke, deh enggak masalah. Kalau kamu berada di Yogya tentu tidak akan kesulitan mencari tujuan wisata yang menarik. Bukankah Yogyakarta gudangnya pariwisata? Bukan karena penulis asli Yogya terus mempromosikan Yogya berlebihan. Bukan.

Namun faktanya memang demikian. Coba deh kamu renungkan sejenak, apa sih objek wisata yang tidak ada di Yogya? Hampir semua objek wisata ada di Yogyakarta. Bahkan nih ya, kalau kamu belum pernah ke luar negeri, bisa kok kamu nyicil dulu ke Yogyakarta. Maksudnya? Iya, maksudku ada objek wisata yang mendatangkan destinasi wisata dunia ke Yogyakarta. Jadi begini nih, kalau kamu belum pernah ke Menara Pisa, cukuplah kamu datang ke sana. Kalau kamu belum pernah ke Patung Liberty, cukuplah objek tersebut mewakili.

Jadi kalau kamu datang ke tempat ini, serasa kamu sudah bepergian ke penjuru dunia dengan waktu yang singkat. Serius? Iyalah serius. Emang ada? Ada dong. Buktinya aku pernah ke sana. Yups, tempat itu dikenal dengan nama Merapi Park. Kenapa namanya Merapi Park? Ya, karena kebun atau taman (bahasa Inggris: Park) berada di sekamur Gunung Merapi. Sehingga nama yang digunakan adalah Merapi. Kalau kamu mau pergi ke sana tinggal ambil saja jalan yang menuju  Kaliurang.

Kalau dari pusat kota, sekamur 45 menit perjalanan sih. Nah, setelah menelusuri jalan Kaliurang nanti akan ada papan bertuliskan Merapi Park, tinggal belok ke kiri. Tidak jauh dari belokan tersebut, kira-kira 1 km, kamu belok ke kanan. Kalau jalan itu terlewatkan, mending kamu tanya penduduk sekamur deh, daripada nyasar atau semakin jauh. Tersebab belokan ke kanan tersebut cukup kecil dan bisa meragukan untuk dilewati. Seperti aku kemarin juga pakai acara keblandang dulu, baru putar balik dan kembali lagi.

Jalan ini biasanya dilalui para wisatawan untuk pergi ke Museum Merapi. Jadi sebelum sampai museum, kamu belok saja pas ada tempat parkir atau terminal gitu. Terus ingat jangan kepagian sebab Merapi Park bukanya pukul 9 pagi. Resiko kalau kamu kepagian itu ya, kamu harus nunggu pegawai Merapi Park dandan dan membukakan pintu gerbang. Namun tenang kalaupun kamu harus nunggu, ada kok tawaran manis yang bikin senyum meringis. Ditambah ini makanan dan minuman yang manis-manis. Kamu bisa mencoba jadah dan tempe bacem sambil menunggu pintu gerbang dibuka. Atau kalau kamu kedinginan, kamu bisa pesan secangkir kopi panas dengan campuran jahe. Hum, yummy deh.

Di tempat parkir ini, juga dipakai mobil jip berkumpul untuk adventure. Kalau kamu ogah menunggu lama, mending naik jip saja. Kalau belum naik ongkosnya, kamu cukup membayar enam puluh ribu rupiah, sudah diantar ke objek wisata dampak awan panas. Kamu juga bisa menyaksikan rumah Mbah Maridjan, yang konon terbakar oleh awan panas. Pada waktu itu, awan panas tersebut dikenal dengan sebutan Wedhus Gembel (Kambing Gembel).

Awan panas tersebut cukup ganas. Apa pun yang dilalui akan terbakar dan musnah. Jangankan makhluk hidup, benda mati pun akan terbakar. Begitu ceritanya. Namun tidak usah khawatir, awan panas tersebut sudah tidak ada. Yang tertinggal hanya reruntuhan dan ceritanya. Masih takut juga? Baiklah, tidak perlu naik ke sana ya, cukup di Merapi Park saja.

Untuk masuk ke Merapi Park, tiket dijual murah kok. Kalau tidak salah kemarin, kami membayar lima belas ribu rupiah. Murah sekali, kan? Sangat murah sih sebab kamu bisa mengunjungi dan berfoto bersama bangunan luar biasa di dunia. Emang sih, bangunan ini tidak sebesar dan semegah aslinya. Tetapi setidaknya bangunan ini mewakili bentuk aslinya, sebelum kamu benar-benar pergi ke tempat wisata sesungguhnya. Lagian, kalau kamu pergi dengan anak kecil, maka akan membuka kotak imajinasi dalam otaknya. Penulis yakin para anak kecil akan membayangkan bahwa dia berada di beberapa keajaiban dunia.

Belanda-nya Merapi Park (Dokumentasi Pribadi)

Memang ada beberapa spot yang harus bayar lagi, misalnya nih kalau kamu mau renang atau bermain ayunan. Ya, setidaknya untuk anak-anak kamu harus merogoh kocek lagi. Eits, jangan salah sangka tidak mahal kok, hanya sepuluh ribu rupiah. Itu saja kamu boleh mandi sepuasnya. Untuk anak-anak kebanyakan tidak memakai baju renang, jadi bebas saja yang penting nyebur dan main basah-basahan. Ini tidak menambah kerepotan orangtua saat mendadak anak-anak minta renang. Wong tinggal menyelam saja. Itu kalau kamu sudah punya anak atau bawa keponakan.

Kalau tidak bawa anak kecil, kamu bisa mencoba anjungan atau semacam spot berdandan ala Indian. Tidak mirip sih, hanya luarnya saja. Tersebab kalau Indian itu kulitnya putih, mata sipit dan berbadan tinggi tegap. Tak apalah yang penting bajunya mirip. Kalau masalah baju gampang sih, kamu tinggal sewa bajunya. Penjaga anjungan atau konter akan memakaikan baju Indian. Tidak hanya baju, dia juga meminjami kalung dan aksesori di kepala. Setelah  menyewa baju, kamu akan diberi hak untuk berfoto di depan rumah Indian.

 

 

 

Menjadi Suku Indian (Dokumentasi Pribadi)

Puas dengan tampilan ala suku Indian, kamu bisa pindah ke bangunan lain. Banyak kok, tinggal pilih saja. Namun perlu diingat, semakin siang akan semakin ramai dan banyak orang. Sebaiknya kalau datang ke sana, agak pagi sebelum matahari bersinar dengan terik. Saat terik keadaan sudah tidak asyik lagi. Walaupun di daerah dingin, tetapi kalau siang tetap saja sinar matahari menyengat. Menurut penulis, kalau kamu datang pagi dan sudah jalan-jalan sampai puas, kamu bisa singgah dulu ke warung.

Warung ini masih berada di area Merapi Park. Jadi tidak perlu keluar atau repot-repot mencari. Yang membuat surprise dari warung ini adalah makanan ambil sendiri. Dari sayuran tradisional yang menggoda sampai beragam minuman. Semuanya prasmanan. Kamu bisa mengambil yang kamu sukai, terus bawa deh ke kasir. Kasir akan menghitung berapa harga makanan yang kamu telah ambil. Semua makanan dan minuman yang tersaji di meja, penulis rasa tidak terlalu mahal. Pokoknya murah meriah.

 

 

Setelah mengambil dan membayar di kasir, kamu bisa memilih tempat duduk dengan view yang indah. Kamu bisa mengambil tempat di sebelah utara dengan pemandangan bangunan-bangunan tadi. Atau kamu memilih tempat di sebelah barat dengan pemandangan tempat parkir di situ banyak bus atau sepeda motor bersandar. Tempat ini sangat nyaman sebab meja dan bangku sangat panjang dan kokoh. Jadi seperti merasa di kehidupan zaman dahulu.

Ditulis oleh : Joko Sulistya

Reviewer: Dian Farida

 

 

 

 

 

 

 

 

Apalagi makanan yang tersaji di meja juga zaman dahulu. Ada tuh kerupuk legendar, kerupuk yang terbuat dari nasi. Sudah jarang kan orang membuat kerupuk seperti itu? Wah, itu juga enak dan gurih. Saat berada di Merapi Park, penulis yakin deh, tahu-tahu saja sudah siang. Tahu-tahu saja sudah saatnya pulang. Namun kenangan pergi ke tempat ini tidak akan terlupakan. Penulis juga yakin saat kamu pernah mengunjungi Merapi Park, pasti kamu akan merekomendasikan orang lain untuk pergi ke sini juga. Ya, paling tidak kamu bisa ‘menyombongkan’ swafotomu di objek wisata dunia tersebut.

Merapi Park sangat layak untuk dikunjungi. Di samping objek wisata ini berbiaya murah, juga cukup semarak. Banyak pilihan permainan yang bisa dipilih (berenang, prosotan berpakaian Indian dan lain-lain). Dengan kata lain, sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Pergi ke Merapi Park, kamu bisa mengajarkan tentang wonderful building in the world kepada anak-anak. Walaupun ada kerisauan penulis, kenapa Candi Borobudur tidak dimasukkan sebagai pilihan di Merapi Park.

Setidaknya, anak-anak bisa mengetahui bahwa Borobudur termasuk bangunan yang luar biasa. Siapa lagi yang mengajarkan kebanggaan terhadap keajaiban dunia milik Indonesia, kalau bukan kita sendiri? Di luar masalah tersebut, Merapi Park menjadi salah satu tujuan wisata alternatif. Semoga.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *