Menjaga Mood Menulis bagi Mamah Rempong

Sumber gambar: dream.co.id
 
Bagaimana sih menjaga mood menulis, padahal kita sangat lelah? Repot lagi!
 
Pertanyaan tersebut sering diulang, dalam bentuk berbeda, dan diberikan oleh orang yang berbeda kepada saya. Ada tiga kata yang saya garis bawahi dalam pikiran: repot, lelah, dan mood menulis.
 
Repot?
 
Saya pikir, tidak ada satu orang pun Mamah yang tidak repot. Karena, semua pasti memiliki aktivitas sebagai ibu, hanya saja kacamata dalam melihat repotnya berbeda. Padahal, rasanya ya sama. Tingkat kerepotan pun sebenarnya sudah diukur, “Tidak ada kerepotan yang diberikan Tuhan pada kita, kecuali sesuai kapasitas kita.” Hehehe.
 
Bisa saja Mamah yang anaknya baru satu, memandang repot pada Mamah lain yang anaknya dua. Yang anaknya dua, memandang repot mereka yang dititipi anak tiga. Dan seterusnya.
 
Lelah?
 
Rasa ini ada, karena kita manusia yang ingin menyelesaikan masalah. Bukan yang ingin lari darinya. Misalnya saja, cucian numpuk. Mau beres ada banyak cara. Laundry, atau cuci sendiri. Semua ada konsekuensinya, menambah pengeluaran, atau menyalurkan energi, dan sesudah melakukan itu akan ada rasa lelah.
 
Mood menulis?
 
Ini poin pentingnya. Kenapa harus ada mood? Kenapa bisa enggak mood? Hal terdasar sebagai pondasi kita dalam melakukan sesuatu, seharusnya kuat. Demikian juga menulis. Kita harus realistis. Buat gambaran senyata mungkin apa niat awal kita menulis. Jika sudah ketemu, cek lagi, apa niat awal kita menuliskan naskah yang akan digarap? Kalau saya, saat menulis buku Muslimah Antibaper, saya niat banget curhat melalui tulisan, tapi ada solusi juga yang saya buat, serta bisa dipraktekan teman lain (pembaca). Kan bisa jadi ada yang memiliki masalah sama, dan bilang, “Ini sih gue banget.”
 
Bagaimana jika kita repot, lelah, namun ingin tetap menjaga mood menulis? Ini yang bisa kita lakukan:
 
1.     Buat skala prioritas harian.
 
Kita bisa saja sangat repot, tapi, hal itu tetap harus dijalani, kan? Kadang, kita repot karena belum punya planing yang baik, pelaksanaan asal jalan, jadi deh nulis terpinggirkan, padahal mimpi punya buku best seller.
 
Skala prioritas ini, kadang-kadang membuat kita siap kecewa. Misalnya saja, ada banyak lomba, yang kita bisa nulis setelah baca kriterianya, tapi kita sedang ada kewajiban menulis (menyelesaikan naskah). Jika kita bukan orang yang merasa disiplin, sebaiknya tinggalkan saja lomba itu, tahan rasa kecewa karena enggak bisa ikut, dan tetap lanjut menulis yang utama.
 
Jika siap dengan konsekuensi naskah kita mundur kelarnya, ya sudah. Silakan ikut. Siapa tahu menang. Jika kalah, ya sudah. Intinya, semua ada konsekunsi. Tugas kita adalah siap dengan segala konsekuensi atas apa yang kita pilih.
 
Kerjakan pekerjaan pokok sebagai Mamah dulu, misal masak (jika tidak beli ini, ya?).  Pastikan anggota keluarga bisa makan, dan tidak terlantar. Biasanya, masak ini bisa dilakukan bersama menyapu, dan mengepel. Apalagi jika mencuci baju pun pakai mesin. Dua jam bisa masak, nyuci, nyapu, dan ngepel (dengan catatan rumah kita ukurannya bukan sebesar auditorium).
 
Ada teman saya, yang melakukan memasak sambil membuat draft. Dia bilang, ngedraft. Jadi, dia nulisnya di buku tulis dulu, karena laptop gantian dengan suami. Kalau tidak membuat draft, dia menuliskan ide agar tidak menguap. Bisa judulnya, bisa sinopsis, bisa juga plus outline.
 
2.     Tempel target di dinding, atau bahkan di laptop (komputer/buku).
 
Sebisa mungkin, kita sering melihat target menulis kita. Kalau saya, saat menulis buku Menguak Pencurian Nuri (coming soon),  saya membayangkan wajah-wajah keponakan saya yang membaca buku itu. Jadi, saat buku jadi, mereka yang akan menjadi pembaca pertama, buku dari Budhenya. Sekaligus kelak, saat anak-anak sendiri, sudah bisa membaca, mereka yang akan memberi kritik pada saya, dan tulisan saya, “Ummi ini enggak logis. Terlalu lebay. Narsis!” Duh, rasanya indah sekali bila begitu.
 
Ketika sudah membayangkan, saya jadi punya DL yang jelas. Apalagi dulu, naskah tersebut dilombakan, sebaiknya dikirim tidak mepet DL, kan?
DL itu saya tandai dalam kalender. Angkanya saya bold. Bubuhkan sedikit catatan, misal, Kelar Nulis Menguak Pencurian Nuri.
 
3.     Komunikasikan apa yang kita lakukan, pada pasangan.
 
“Yang. Aku nih mau ikut lomba. Nulis kudu kelar tiga hari. Bantuin nyuci baju, ya?”
 
Kalimat itu hanya contoh. Setiap pasangan paham dan mengerti, kalimat apa yang pas untuk pasangannya. Kita ngomong, tidak lantas suami dengar dan kerjakan lho. Tapi, kita sudah punya rekaman, bahwa apa yang kita lakukan sudah disetujui, diketahui (walaupun nyata-nyata beliaunya lupa. Jewer saja. Eh, jangan).
 
Bagaimana jika suami tidak merestui menulis? (oh, maaf, kita bukan sedang membahas itu. Bisa dibahas pada kesempatan lain. Eh, enggak janji).
 
4.     Pahami ritme kerja tubuh kita!
 
Tubuh kita memiliki ritme yang bisa kita kenali, atau kita bangun. Jika yang kita kenali kurang mendukung aktivitas, maka kita bisa membangun ritme, tanpa melenyapkan kebutuhan alami tubuh.
 
Kenali bagaimana?
 
Kita tahu, kapan biasanya mengantuk, sampai pusing, dan wajib tidur. Jika itu ada pada jam kerja, padahal kita bekerja di kantor (luar), maka mau tidak mau kita harus membangun kebiasaan yang memindahkan jam istirahat, ke waktu lain (saat di rumah).
 
Demikian juga ritme dalam menulis. Bisa kita kenali, atau kita bangun. Mengenali ini kalau sudah masuk ranah moody, alangkah baiknya kita mulai dengan ‘membangun’ kebiasaan untuk meminimalisir moody. (Karena kita bukan tukang sihir dalam donngeng yang bisa bim salabim, lenyap!).
 
Biasakan setengah jam, sebelum shubuh misalnya (atau bisa jadi punya waktu lain), kita mengetik, dan menulis. Begitu terus sampai sepekan. Jika berhasil, tambah lagi sampai dua pekan, tiga pekan, satu bulan, dan seterusnya. Saat sudah biasa, tidak terasa waktu menulis pun bertambah dengan sendirinya.
 
5.     Jaga mood dengan membaca.
 
Hayo, mana nih Mamah yang ngaku mo nulis buku best seller, tapi ogah baca? Membaca adalah amunisi. Bisa jadi kita bingung, mau memakai kalimat apa, karena kita kurang membaca. Bisa juga, pembahasan terasa dangkal, karena kita kurang membaca. Misalnya, kita sedang menulis cerpen sejarah, kita tidak bisa ngarang alias berimajinasi saja, bahwa saat kejadian berlangsung, sesuai keinginan kita. Harus ada fakta yang benar di balik cerita fiksi yang kita bangun.
 
Ada lagi, misal kita sedang membuat  resensi bukuya kita wajib baca bukunya. Tidak asal kira-kira saja. Oh, isinya begini kali, gitu mungkin. Oh, tidaaak!
 
Kalau sedang kesulitan melanjutkan tulisan, bisa jadi memang kita sedang butuh membaca referensi dulu. Bisa membuat jeda, dengan membaca, daripada berhenti, tidak lanjut nulis, tidak juga membaca.
 
6.     Fokus pada apa yang kita tulis.
 
Ini penting. Kita mau menulis apa? Bebas! Tapi, saat sedang menulis fokus kita ya pada tulisan yang di depan mata. Kadang, malah sering nih, sebagai Mamah, kita baru buka laptop, ingat setrikaan, menunggu penjual sayuran, ingat bakso perempatan.Ooops!  Nah, jika kita sudah punya prioritas, dicatat tuh. Berapa lama kita mau ngetik, dan kapan mau ke bakso perempatan (khilaf dah kalau sudah ngomongin bakso). Enggak perlu dirisaukan lagi. Toh kita bakal ke sana?
 
kita pinjam naluri lelaki di sini. Loh, maksudnya gimana? Sudah tahu kan kalau para suami tuh biasanya hanya mengerjakan satu hal saja? Nah, enggak apa-apa kita ikutan. Kita kerjakan menulis, anggap lainnya buram dalam pikiran. Yang paling benderang adalah tulisan ini harus lanjut, harus selesai. Dah, setelah itu langsung deh, boleh ngacir ke aktivitas lain.
 
Fokus ini juga penting, saat kita masih seperti saya, (apa saja ditulis). ketika saya nulis calon buku anak Petualangan Anak-anak Mama Beki, ya pikiran saya yang berisi hal tentang menulis buku itu, sekitar 80 % ke sana. Lainnya 20 % bisa saya gunakan untuk menulis tips ini.
 
Pernah, saat saya sedang nulis buku anak, terus datang proyek buku religi, datang lagi lomba, garap semua, tapi otak terbatas (saya ngetik karena mengalami ini). Jadi deh ketiganya ngaret DL-nya. Mending, buat urutan, prioritas, mana yang mau selesai dulu, disiplin, dan lakukan. Hasilnya lebih maksimal. In sya Alloh.
 
7.     Tulis yang terdekat dengan hidup kita.
 
Masalah moody dalam menulis, biasanya sering muncul karena kita belum biasa. Kita bingung mau nulis apa. Jika kita belum biasa, ya belajar membiasakan. Saat bingung mau nulis apa, karena baru belajar, maka tanya pada ahlinya (atau yang sudah biasa menulis), ambil satu jenis tulisan, dan menulis lah hal-hal yang aku banget
 
Misal, jika kita adalah guru, dan tertarik dengan cerita anak, maka kita bisa menulis cerita anak yang berhubungan dengan aktivitas, dan pengamatan kita selama menjadi guru. Sudah, fokus di situ dulu. Enggak usah tertarik untuk tampak keren, terus berusaha jadi tukang satai (boleh sih kalau riset, dan sudah biasa, ini kan lagi mbahas kalau belum biasa, Gaes).
 
8.     Action, bukan hanya banyak tanya.
 
          Mari jujur, apakah kita sudah action, atau baru tanya-tanya, nih? Sudah tanya, dapat jawaban, dipraktekin, apa mencari alasan lain? Jujur adalah kunci dari semua apa yang kita kerjakan. Jika mau buku best seller, tapi kita sering bohong pada diri sendiri, dengan mengatakan tidak sempat, dan mencari alasan, oke, bye! Kubur saja mimpi jadi penulis. Sebab, menulis adalah perkara just write it! Bukan just talk only!
 
9.     Fokus pada penyelesaian masalah, bukan pada alasan.
 
Jika kita anggap moody adalah masalah, maka kita prkatek untuk fokus, dan mengatasinya. Bukan mencari alasana lain, untuk membenarkan opini sendiri yang malas menyelesaikannya. Jangan lupa minta pada-Nya, kekuatan untuk mengatasi masalah, karena Dia paling tahu, diri kita, daripada kita sendiri. []
 
 

 

Ditulis oleh: Kayla Mubara. seorang ibu yang menyukai pelangi, embun, dan harapan. Menulis tanpa batas genre, namun membatasi diri dengan kendali religi.

18 thoughts on “Menjaga Mood Menulis bagi Mamah Rempong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *