Menjadi Atlet dan Pilihan Kid Zaman Now

sumber: freepik.com

 

 

Cita-cita kid zaman nowsudah berbeda dengan anak generasi sebelumnya. Zaman dulu cita-citanya standar, dokter, tentara atau insinyur. Tetapi kid zaman now, cita-citanya beragam, ada yang jadi seleb, jadi youtuber, jadi kudanya Awkarin. Yang penting masuk youtube, meski dinaiki seleb.
Kid zaman nowjuga pengen jadi pemain bola, kayak Ronaldo atau Messi. Ya, jadi atlet yang menghasilkan uang banyak. Tapi, ya, syaratnya, cabang olah raganya populer. Banyak penontonnya, penggemarnya, dan sponsornya. Enggak kayak politikus, cuman banyak janjinya, tapi miskin integritas.
Makanya kita enggak pernah denger, ada anak kecil pengen jadi politikus. Karena mereka tahu, apa arti politikus. Poli itu banyak, dan Tikus itu ya tikus.
Oya, atlet dan politisi itu banyak persamaanya. Sama-sama berjuang. Atlet berjuang dari PON sampai Olimpiade. Sedang politisi berjuang dari pemilu sampai pengadilan tipikor.
Soal pendapatan, kalo atletnya profesional sih enggak masalah. Mereka bisa dapatin hadiah sekaligus sponsor yang jadi sumber pendapatan. Kadang bisa populer juga. Bedanya sama atlet dari cabang yang enggak populer. Meskipun menang berkompetisi, si atlet enggak bisa dapat sponsor. Ujung-ujungnya curhat di media sosial, jadi viral di internet, lalu masuk acara tivi, Hitam Putih. Ngeluh enggak ada perhatian pemerintah. Ujung-ujungnya minta diangkat jadi PNS.
Padahal pemerintah sekarang sudah memberi penghargaan kepada atlet berprestasi. Ada atlet yang dapat medali di SEA Games, dijanjiin jadi Pegawai Negeri Sipil, PNS. Masalahnya kalo atlet berkuda itu yang diangkat jadi PNS itu jokinya atau kudanya?
Kalo yang diangkat PNS itu jokinya, kasihan kuda balapnya. Cuman jadi tunggangan saja. Daripada jadi kuda balap, mending jadi kudanya Awkarin, yang penting masuk youtube, meski dinaiki seleb.
Selain janji PNS, atlet berprestasi juga dapat fasilitas banyak. Bisa punya rumah, bisa dapat beasiswa pendidikan, dan bisa move on dari mantan. Banyak banget.
Tapi enggak semua atlet cocok ditempatkan jadi PNS. Misalnya atlet menembak. Kalo atlet menembak ini diangkat PNS, bisa kacau kantornya. Atlet ini kerjaanya cuman TP-TP, Tebar Pesona. Ibu kepala dinas ditembak, ibu-ibu PNS juga ditembak, mbak-mbakCPNS juga ditembak. “Mbak, sebenarnya aku tuh sudah lama sayang sama kamu”
Lalu mbak-mbak CPNS bilang, “Maaf Mas, meski Mas ini atlet menembak, jangan nembak aku kayak gini , mendingan nembak babi hutan aja, yang suka makan jagung di kebun.”
Atau ada atlet yang enggak cocok pada jabatan tertentu. Misalnya atlet bola yang jadi PNS yang tugasnya di Pol PP. Tugasnya bakal aneh. Lagi penertiban pedagang kaki lima, misalnya. PKL kabur, bukannya dikejar, tapi di-tackling. Ada anak jalanan tidur di taman kota, bukannya diperingatkan tapi di-sliding. Ada tugas penertiban gelandangan, malah dioper-oper. Di oper ke kabupaten lain, biar jadi masalah di sana.
Atlet bola juga bingung kalo ditugaskan jadi PNS. Satu tim bola itu kan 11 orang, belum termasuk pemain cadangan. Bayangin kalo kesebelas orang ini bekerja di kantor yang sama. Stiker ada di bagian depan, atau petugas pelayanan di  front office. Pemain tengah ada di ruang komputer. Nah, kipernya ada di posisi belakang, penjaga toilet. Sedangkan pemain cadangan nunggu di kantin. Nunggu panggilan.
Tidak semua atlet berprestasi bisa diangkat PNS, misalnya atlet lari dari kenyataan, atlet angkat beban kehidupan apalagi atlet bulu ketek.
Satu lagi ada atlet berprestasi yang enggak mau dijadin PNS. Ada atlet lompat tinggi yang dijanjikan jadi PNS jika berhasil memecahkan rekor dunia. Saat pertandingan, atlet tersebut berhasil memecahkan rekor. Namun sampai sekarang pelatih dan kru masih nunggu atlet tersebut, “Mana atletnya, kok enggak turun-turun”
Pembalap adalah atlet yang bisa dijadiin PNS, khususnya driver ambulan. Kan ada banyak puskesmas atau rumah sakit daerah yang butuh skillmengemudi tingkat tinggi. Misalnya, “Pak, segera berangkat lokasi kecelakaan yang ada di Jalan Kebenaran. Ada tabrakan antara mobil pick up dengan mobil Tamiya”
Karena punya naluri pembalap, si atlet berprestasi ini langsung mengemudi dengan kecepatan tinggi, wus wus wus, bablas ambulan-ne. Sampai di lokasi kecelakaan, korban dimasukkan ke ambulan. Tetapi sang pembalap tidak segera berangkatambulan kembali ke rumah sakit. Ketika ditanya alasannya, pembalap ini memberikan jawaban, “Iya, ambulan segera ke rumah sakit, tapi saya sedang nunggu , nunggu bendera start dikibarkan”
Kembali ke persoalan cita-cita kid zaman now, menjadi atlet profesional adalah pilihan tersendiri. Belajar yang giat, berlatih yang keras, lalu meraih prestasi demi prestasi. Tapi ya jangan kayak Awkarin, sudah belajar giat, dapat nilai tinggi di UN, ehmalah cuman bikin sensasi demi mengejarfollower. Udah itu yang terkenal malah kudanya lagi. Udah masuk youtube, dinaiki seleb lagi.
–//–
Muh Rio Nisafa, pemain sepak bola tingkat kampung yang berposisi sebagai penyerang. Tepatnya penyerang suporter lawan.”Woi suporter, mana lu?”  Menulis sejumlah buku dan menerbitkan buku secara mandiri. Oya, bukunya melalui pesan di inbox facebook(facebook.com/rio.nisafa). Buku yang telah diterbitkan : (1) Facebook Love Story, (2) Fiksimini Facebook, (3) Mereka Bilang, Gue Playboy, (4) Tertawalah Bersamaku, (5) Roy dan Joko, (6) Pendawa, Pendamping Idaman Wanita, (7) Memandang Jendela Indonesia dengan Tawa dan (8) Happy Family, Diary Komedi Keluarga Hahaha.
Baca Juga:   Bisikan Teman atau Bisikan Setan?

3 thoughts on “Menjadi Atlet dan Pilihan Kid Zaman Now

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *