Menimbang Ulang Penggunaan Gawai, “Si Penenang Anak”

sumber: netralnews.com
Beberapa hari yang lalu, saat saya berselancar di salah satu media sosial, tertayang sebuah video singkat tentang percakapan antara penjual gadget dengan bapak calon pembeli. Sebelum menuliskan nota pembelian, si penjual ini menanyakan terlebih dahulu siapa pengguna gawai tersebut. Mendapat jawaban anak dengan usia lima tahun, sang penjual tak memberikan gawai yang diminta. Ia hanya mengatakan, “Silakan Anda kembali tujuh tahun lagi, sebab ia baru boleh menggunakannya setelah berusia 12.”

Bagaimana dengan di sekitar kita?

Terkadang menjadi kebanggaan orang tua saat sang anak telah piawai mengoperasikan gawai miliknya. Tangan mungilnya dengan lincah menyentuh layar untuk membuka menu permainan ataupun youtube dan sebagainya. Namun, apakah tepat prestasi ini disematkan ke si anak?

Bill Gates, raja IT dengan predikat orang terkaya di dunia, memiliki aturan untuk ketiga anaknya yaitu, sebelum berumur 14 tahun mereka tidak diperbolehkan memiliki ponsel pintar sendiri. Sekalipun telah diizinkan, ia memberikan aturan yang ketat seperti membatasi penggunaan sehingga mereka punya waktu lebih banyak untuk dihabiskan bersama keluarga, tidak  boleh membawa ponsel saat makan, tak memperbolehkan memakai gawai sebelum tidur. Ia tidak ingin waktu anak-anaknya habis di depan layar warna-warni dan lupa dengan sekitar.

Begitu pula Steve Jobs yang merupakan pendiri Apple, dirinya tidak mengizinkan anaknya menggunakan iPad. Pendiri perusahaan penghasil barang canggih ini, memberlakukan aturan minimalis gadget di rumahnya. Dia memiliki kebiasaan makan malam di sebuah meja panjang besar di dapur untuk berdiskusi berbagai hal dengan keluarganya.

Anak sekarang memang memiliki kecerdasaan dan pengetahuan yang luas. Gawai dapat menjadi media anak untuk belajar melalui permainan edukasi serta tayang yang menarik untuknya belajar berbagai macam hal. Namun, anak yang kecanduan gadget ini akan mengalami kesulitan berkonsentrasi dan juga kemampuan alami lainnya. Psikolog anak Vera Itabiliana Hadiwidjojo mengatakan, orang tua sebaiknya tidak membiarkan anak bermain gadget sebelum usia dua tahun. Hal ini berkaitan akan stimulus motorik dan fisik anak akan terganggu sebab ketika menggunakan gadget, motorik kasar dan halusnya tidak terstimulus dengan baik.

Anak yang terbiasa dengan gawai di tangannya, akan sangat sedikit bergerak, sehingga berpengaruh terhadap perkembangan fisiknya. Bob Drew yang sudah 20 tahun menjadi kepala sekolah di Inggris, ia sering melihat anak berusia empat tahun dengan bagian tubuh atas yang lemah karena jarangnya beraktivitas fisik dan kemampuan motorik halusnya lemah. Pemakaian gadget yang cukup dengan sentuhan juga bisa membuat motorik halus anak tidak bekerja dengan baik.

Berkaitan dengan ini, saya memiliki sebuah pengalaman saat masih mengajar. Terdapat seorang anak yang sangat sulit berkonsentrasi di dalam kelas. Bukan karena dia aktif ataupun memiliki kegiatan kreatif lainnya. Setelah berusaha mendekati dan berbincang, ternyata bermain gawai adalah kegiatan paling menyenangkan untuk dirinya. Dari hasil pengakuan ini, saya lantas mencoba mengkomunikasikan kepada sang ibu untuk mengurangi pemberian gadget untuk si anak. Walaupun hanya beberapa hal yang mampu mencuri perhatiannya, ketika anak ini berkonsentrasi, sebenarnya anak ini pintar. Ia hanya membutuhkan perhatian juga berbagai macam percobaan sederhana untuknya belajar.

Kemampuan diri, mungkin bisa diselamatkan dengan segera sebab terlihat. Namun, apakah sosial sang anak juga dirasa? Saat sang anak sering hanya diam dan terlihat malas ketika diajak berbicara, kesulitan lain dalam mengungkapkan keinginan hingga menimbulkan tantrum, juga tak menyadari akan kondisi sekitar. Bukankah bisa jadi merupakan dampak mata yang terpusat pada layar sehingga kemampuan untuknya terlambat?

Anak berisik serta banyak tingkah, itu wajar. Ia sedang dalam fase ingin tahu yang tinggi, membuatnya menanyakan berbagai macam hal juga bertingkah tanpa batas. Bukan dengan “menenangkan” secara instan untuk mengambil langkah praktis. Namun, mengarahkan kepada apa yang sebaiknya dan tidak, merupakan kewajiban pengasuh untuk menjalankan amanah yang telah dipercaya untuknya.

Ketika seorang presiden menitipkan anaknya kepada kita, bukankah ia akan dijaga dengan penuh? Kalau ibarat mobil, jangan sampai ada goresan ataupun debu yang akan membuatnya tak indah lagi.

Bagaimana kalau amanah itu datang dari Allah? Sang Mahasegala dengan pemberian terbaik berupa buah hati. Apakah kita bisa membiarkan dia “teracuni” oleh gawai, padahal Allah sudah mempercayakan?

Anak itu aset masa depan. Ia suci dengan keunikan yang akan melejit kala memberikan perlakuan yang tepat. Gawai bukan menjadi jalan terbaik untuk menjadi pengajar untuknya. Orang tuanya lah yang sebaiknya menjadi yang pertama dan utama untuknya belajar. Sungguh, kebersamaan dan berproses bersamanya lebih berharga dibanding dengan keberadaan gawai yang terkadang membuat luput untuk mengawasinya.

Dari Abu Hurairah berkata, bahwa Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Jika menusia meninggal, maka terputuslah amalannya, kecuali tiga perkara; shadaqah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shalih yang mendo’akannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Setiap kita belum tentu menjadi orang tua, tapi saat kesempatan itu datang. Bukankah sayang kala kesempatan amalan tiada terputus itu dilewatkan?
//–//
Dituliskan oleh: Hida Azkadina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *