MENIKAH DENGAN WANITA CACAT SELURUH TUBUH

Sambil mengerjakan tugas, sayup-sayup suara sang ustad[1] terdengar berkisah tentang kehidupan seorang tabi’ tabiin yang belajar kepada seorang ulama tabi’in. Sejenak saya berhenti mengetik dan mendengarkannya dengan hikmat. Oh, ini tho’. Mengapa ada orang yang nampaknya cepat sukses, gumamku dalam hati.

Alkisah, ada seorang pemuda yang belajar pada seorang syaikh. Selama 10 tahun ia belajar dengan tekun. Belajar bersama dengan teman-teman yang lainnya. Tidak ada yang menonjol dalam dirinya. Ia hanya seorang pemuda biasa, miskin dan tidak pintar-pintar amat.

Setelah 10 tahun belajar, ia kemudian mencoba mengamalkan ilmunya dengan membuka halaqah atau majelis ilmu di masjid tempat gurunya biasa mengajar. Hanya jadwalnya saja yang berbeda. Jika sang guru hari Senin dan Selasa, ia di hari Rabu.  Ajaibnya, Majelis yang ia buka mendapatkan banyak apresiasi. Jama’ahnya membludak bahkan melebihi jama’ah gurunya yang lebih tinggi tingkat keilmuannya. Sebagian dari sahabatnya mengikuti majelis yang ia adakan. Ada keunggulan yang terpancar dalam diri pemuda ini. Terlihat luas dan dalam ilmunya dan cara menyampaikan pun sangat memesona.

Dan yang paling mencolok, penampilannya berubah 180 derajat. Nampak sangat kaya raya, sekaligus dermawan. Banyak penuntut ilmu yang mendapatkan beasiswa, begitu pula orang-orang miskin tidak luput dari kemurahannya.

Muncul rasa ingin tahu dari kawan-kawannya, mereka pun bertanya, “Wahai shob, apa sih rahasia kesuksesanmu hari ini. Rasa-rasanya kami tidak akan mampu mengejar kondisimu, dengan segala kelebihan yang engkau miliki.”

Setelah didesak cukup lama, ia pun memenuhi keingintahuan mereka, “Baiklah, saya akan ceritakan semua kisahnya.” Sambil menatap wajah kawan-kawanya.

“Sekitar 10 tahun yang lalu, saat kita masih belajar bersama. Suatu hari saat pelajaran telah usai, sementara masih tersisa cukup pertanyaan yang ingin saya tanyakan kepada guru kita, maka saya pun menunggu. Tiba-tiba datang seorang bapak yang masih muda, terlihat tampan, gagah dan terkesan kaya raya. Ia mendekati syaikh kita, ‘Ya Syaikh, saya mau minta tolong kepada Anda untuk mencarikan jodoh buat putri saya.’” Semuanya menunjukkan ekspresi menikmati cerita yang ia sampaikan.

Lalu Syaikh kita berbalik manatap saya, “Apakah Ananda siap menikah?”

Tanpa berpikir panjang, saya mengiyakan. Pikiran saya saat itu sangat logis, pasti anaknya cantik dan terpelajar. Ayahnya saja gagah dan kaya. Tentunya buah jatuh tidak jauh dari pohonnya ‘kan.

Melihat semuanya sudah sepakat, saya pun dinikahkan untuk putrinya tanpa menghadirkan mempelai perempuan yang belum pernah saya lihat. Satu-satunya yang membuat saya yakin adalah tampilan dari ayahnya. “Baiklah syaikh. Saya walinya. Kita nikahkan sekarang.”

Setelah ijab qabul diucapkan, saya pun diajak ke rumah istri saya yang masih penuh misteri. Berdebar-debar hati ini, mengiringi setiap langkah kaki.

Masya Allah. Rumahnya sangat besar, luas dengan taman dan interior yang modern. Mewah. Saya bahagia. Terbayang kehidupan saya sebelumnya yang hanya berumahkan gubuk kecil. Hem, sebuah keputusan yang tepat, ucapku membatin saat itu

“Sebentar ya, saya akan persiapkan istrimu, Nak,” Ia kemudian terlihat sibuk. “Ini kamarmu dan di bawah sudah ada istrimu yang sedang menunggu. Sambutlah!” Kata mertua saya sambil tersenyum penuh makna.

“Baik, Ayah. Terimakasih banyak.”

Dan saat saya mulai memasuki kamar, Demi Allah, semua angan-angan saya sebelumnya sirna. Ada 10 cacat dalam dirinya. Satu aib saja sudah cukup bagiku untuk menceraikannya. Matanya rusak, kulit belang, rambut kepalanya rontok, kaki lumpuh, masih banyak yang lainnya. Mengerikan.

“Maaf, saya akan menceraikanmu.” Ucapku dengan tegas sambil berbalik badan.

Sambil merangkak dia pegang kaki saya, “Tolong, jangan ceraikan saya. Meskipun engkau tidak akan menyentuhku. Izinkan aku punya status sebagai istri. Sehingga aku kelak saat meninggal dunia, saya bisa masuk surga dari ridha suamiku.” Ucapnya sambil meneteskan air mata.

Mendengarkan kalimat tersebut saya langsung teringat sabda Rasulullah bahwa seorang istri yang diridhai suaminya akan masuk surga dari pintu mana pun yang dikehendakinya.

Saya mengurungkan niat untuk menceraikannya. Maka saya bertahan selama 10 tahun membersamainya dengan penuh luka dan duka di dalamnya. Melihatnya saja, menjadi beban jiwa tersendiri. Saya mendampinginya dengan ikhlas dan sabar tanpa ada yang mengetahui kondisi keluarga kami.

Di tahun ke-10 pernikahan kami, ia meninggal dunia menghadap Tuhannya yang Maha Pengasih. Aneh dan ajaib, pasca meninggalnya, tiba-tiba Allah membukakan dunia pada saya. Selebar-lebarnya. Saya dapat modal usaha dari banyak arah. Usaha berjalan lancar dengan keuntungan yang besar dan berlipat.

Tidak berselang beberapa lama, mertua saya pun meninggal. Sebelumnya, semua hartanya telah dihibahkan kepada saya, karena tidak tersisa satu pun ahli warisnya.

Saya kemudian menjadi miliarder, dan entah mengapa ilmu yang saya pelajari selama ini langsung melengket dalam pikiran. Dan seperti yang kalian tahu. Pengajian saya hari ini ramai. itu semua terjadi setelah 10 tahun berlalu membersamai istri saya.

Semuanya terdiam dan merenung, sama dengan termenungnya diri saya saat itu. Dibalik anugerah besar ada jiwa besar. Dibalik kesuksesan ada kesabaran.*)

*Syahrul adalah seorang guru yang masih terus belajar menyelami profesinya. Provokator Gerakan Guru Menulis dan Gerakan Ayah Menulis. Penulis buku, “Berdagang dengan Allah Nggak Ada Ruginya.”

[1] Dr. Khalid Basalamah, MA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *