Menghadirkan Humor Dalam Tulisan

Rio Nisafa bersama buku-buku karyanya

Orang yang sabar, identik dengan mengelus dada. Kemaren tetangga saya berantem karena masalah orang ketiga. Yang laki-laki pergi dari rumah, sedang yang perempuan nangis-nangis di depan rumah. Saya amati kok si Ibu ini nggak ngelus dada. Wah, kurang sabar nie orang. Akhirnya saya datangi si Ibu itu. Saya elus dadanya. Sabar. (Cak Lonthong)

Kadar sense of humor seseorang berbeda-beda. Ada yang mudah tertawa hanya dengan guyonan sederhana, ada juga yang merasa garing ketika temannya terpingkal-pingkal. Coba amati penonton stand up comedy. Ketika sebuah punch line dilempar, ada beberapa orang yang tampak tidak tertawa. Dia anggap gerrrrnya kurang bermuncratan. Meskipun Pakde Indro ngasih kompor gas.
Dalam stand up, humor disajikan melalui performa aksi panggung. Ada unsur acting, vocal, dialog, ritme, contact audience, mentalitas, dan unsur pertunjukan panggung lainnya yang dibawakan oleh seorang komika. Tentu saja butuh skill khusus untuk bisa menjadi seorang komika. Namun, ada satu hal yang harus dipersiapkan oleh seorang komika sebelum tampil di panggung. Yaitu naskah stand up komedi.
Bukan spontanitas. Aksi komika di panggung stand up di setting dengan sangat matang. Mulai dari penulisan naskah, aksi panggung, hingga cara menguasai panggung. Semua dipersiapkan oleh komika bersama tim, meski dalam ajang kompetisi stand up sekalipun.
Nah, bagaimana kalau kita ingin menghadirkan humor dalam tulisan? Seperti Raditya Dika, dalam buku-bukunya, Mukidi dengan postingan reaksinya yang koplak, atau Mas Rio Nisafa dengan status facebooknya yang bikin ngakak. Duh, andaikan setiap penulis punya keahlian seperti mereka, mungkin buku pelajaran nggak akan terasa membosankan.
Bayangin aja, murid SMA akan sangat suka membaca buku pelajaran Matematika. Guru-guru pun akan lebih banyak tersenyum daripada memelintir kumisnya. Enaknya kalau setiap ngajar Pak Guru cukup bilang, “anak-anak silakan baca buku Matematika halaman 22. Baca yang keras.”
Para murid pun nurut. Dibacanya halaman 22, “jika sumbu X adalah aku dan sumbu Y adalah kamu, maka pertemuan antara sumbu X dan Y adalah orang ketiga. Nilainya 0 (nol).”

Orang mungkin saja menganggap jatuh bukanlah hal lucu ketika dialami oleh diri sendiri, tapi bisa menjadi lucu ketika terjadi pada orang lain. (Rio Nisafa, penulis bukun komedi)

Ada beberapa cara untuk menghadirkan kelucuan, antara lain dengan cara spontanitas, slapstick, dialog, dan lain sebagainya. Khusus untuk sebuah tulisan bisa dipakai formula SET UP – PUNCH LINE untuk menumbuhkan sense of comedy. Formula inilah yang biasa dipakai komika untuk menulis skrip stand up mereka.
Bagaimana caranya? Hehe….
Pertama tentukan premisnya. Jangan tanya definisi premis apa. Berdayakan google. Hahaha…
Misal kita ambil premisnya, “Orang yang sabar, identik dengan mengelus dada.” (Sengaja saya pakai joke yang ada di pembuka artikel ini)
Pilihan premis sebaiknya terkait hal-hal yang umum diketahui oleh orang. Atau yang sudah familier dan bersifat wajar. Sehingga pembaca akan mudah memahami arah kewajaran yang ada. Pribahasa ‘mengelus dada’ sudah umum diketahui orang identik dengan kesabaran. Seumum peribahasa lainnya seperti, buah tangan, lapang dada, buah dada. #eh…
Kedua, bangun set up sesuai premis yang dipilih. Set up ini mengarahkan pembaca pada suatu harapan. Belum ada kelucuan di sini. Karena uraian yang ditulis masih dalam bingkai kewajaran. Bisa dinalar.
Perhatikan, “Kemaren tetangga saya berantem karena masalah orang ketiga. Yang laki-laki pergi dari rumah, sedang yang perempuan nangis-nangis di depan rumah. Saya amati kok si Ibu ini nggak ngelus dada. Wah, kurang sabar nie orang.” Dalam set up tersebut Cak Lonthong membawa pembaca pada harapan tentang sebuah wujud kesabaran. Berhasil. Setelah membaca kalimat itu kita sudah menemukan jawaban harapan tersebut. “Ternyata dari hasil pengamatan Cak Lonthong, si Ibu bukan orang yang sabar.”
Ketiga, tutup dengan PUNCH LINE. Patahkan harapan yang sudah ada di kepala pembaca dengan sesuatu yang mengejutkan. Surprise! Pecahkan balonnya hingga gerrrrnya berceceran. Kompor Gas!
Simak, “Akhirnya saya datangi si Ibu itu. Saya elus dadanya. Sabar.” Siapa yang nyangka kalau Cak Lonthong bakal datengin si Ibu, lalu mengelus dadanya? Parah banget, kan? Ini namanya sabar yang salah kaprah.
Banyak penulis yang menganggap cukup sulit menghadirkan humor dalam tulisan. Sulit menciptakan komedi yang berhasil. Tapi bukan berarti kemudian genre komedi disingkirkan. Tak disentuh sama sekali. Ada baiknya separagraf dua paragraf kita coba formula di atas. Ya, minimal tempelkan di beranda facebook. Lumayan kalau ada yang terhibur tanpa sengaja.
Semoga sharing materi yang kami dapatkan dari Mas Rio Nisafa ini bisa bermanfaat. Selamat mencoba dan jangan biarkan orang menebus tawa dengan sangat mahal.

Di desa saya sedang trend lomba adu kokok ayam, dan yang menang selalu dipuji paling pintar. Biasanya ayam kakek selalu menang, tapi kemaren kabarnya ayam kakek kalah telak. Ayam kakek kalah oleh ayam yang dibeli dari pasar di kota. Begitu tahu saya mau pulang kampung, kakek menelepon dan minta oleh-oleh. Dia minta dibawain oleh-oleh ayam yang paling pintar. Ayam kampus. (Seno NS)

Salam literasi.

Ditulis oleh: Seno NS, Founder Blogerclass. 

5 thoughts on “Menghadirkan Humor Dalam Tulisan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *