Mengenal Lebih Jauh Alas Kaki

 

 

 

Mediaeval Poulaines recovered from the Thames (sumber: jagatcibaduyut.blogspot.com)
Siapa yang tidak mengenal alas kaki? Ya, benda yang satu ini pasti sering sekali kita lihat, bukan? Alas kaki digunakan untuk melindungi telapak kaki agar tidak cedera dari kondisi lingkungan, seperti permukaan tanah yang berbatu, berair, udara panas, maupun dingin. Alas kaki, lebih jauh lagi sebagai pelengkap atau gaya berbusana. Tetapi apakah kalian tahu sejak kapan alas kaki ada dan dipakai manusia? 
 Para ahli sejarah memperkirakan alas kaki pertama kali dibuat pada zaman es; lima juta tahun yang lalu. Saat itu, alas kaki terbuat dari kulit binatang. Sepatu primitif pernah ditemukan di pedalaman Missouri, Amerika Serikat dan diperkirakan berasal dari tahun 8.000 SM. Selain itu, pada abad ke-15 SM, masyarakat Mesir Kuno sudah mengenakan alas kaki. Hal ini diketahui dari sebuah lukisan pada dinding gua di daerah Thebes, Mesir. Dalam lukisan itu digambarkan dua orang yang sedang membuat sandal dan menjahit sepatu. Sandal dan sepatu dibuat dari kain, daun palem, papirus, kulit, atau bahan serupa yang dianyam.

 

Sandal yang diyakini berusia antara 9.300 dan 10.000 tahun. Ditemukan di Fort Rock Basin di Oregon, Amerika. (sumber: azpedia.blogspot.com)  

 

 

Bagi orang Romawi dan Yunani Kuno, alas kaki merupakan gaya berbusana yang elegan. Sandal yang disebut baxa atau baxea dibuat dari anyaman daun palem. Pemakainya adalah kalangan bawah seperti pendeta dan filsuf. Prajurit Romawi mengenakan sandal bertali dengan jari-jari yang terbuka. Bila mereka berperang di kawasan perbukitan, bagian bawah sandal dilengkapi dengan gerigi tajam atau paku. Sementara itu, sepatu bot dipakai orang-orang Romawi untuk menunjukkan jabatan dan profesi.
 Sepatu di kalangan bangsawan Eropa pada abad ke-12 dipenuhi dengan hiasan mewah. Di makam Henry VI dari Sicilia yang wafat tahun 1197, ditemukan sepatu kain emas berhiaskan mutiara. Permaisuri Constance yang wafat tahun 1198, memakai sepatu dari kain emas berhiaskan permata, dengan pengencangnya berupa sabuk kulit yang diikat dengan tali. Di zaman kuno, orang Indian, Assyria, Romawi, Yunani, dan Jepang juga mengenakan sandal. Seusai Perang Dunia II, prajurit Amerika Serikat pulang dengan membawa oleh-oleh sandal dari Jepang. Semasa perang, prajurit Jepang membuat sandal dari ban bekas. 
Kabkab, sandal perempuan Turki, abad ke-18. Sumber Bata Shoes Museum, Toronto. (sumber: styleguru.org)
  Sementara di Indonesia, dikenal juga sandal yang terbuat dari kayu ringan. Sandal ini dikenal dengan nama bakiak. Namun, jauh sebelum itu, pada masa kerajaan-kerajaan Nusantara berjaya, bangsa Indonesia sudah mengenal sandal yang terbuat dari kulit hewan, kain dan kayu. Tidak banyak keterangan tentang alas kaki di Indonesia. Akan tetapi, para bangsawan di jaman penjajahan sudah memakai sandal atau sepatu.

Sepatu pertama dipercaya para ahli sejarah, mulai diciptakan sekitar tahun 1600-1200 SM di Mesopotamia. Sepatu pada saat itu digunakan penduduk yang tinggal di daerah pegunungan di perbatasan Iran. Sepatu pertama ini mempunyai bentuk yang sederhana, serupa alas kaki yang dipakai suku Indian. Perkembangan sepatu yang lebih modis mulai ditemukan di kebudayaan Mesir. Pada saat itu ratu Mesir Nefertiti dan Cleopatra sudah memakai sandal berwarna emas yang diukir dan diberi hiasan batu permata atau mutiara. 

Choppines dari Italia. dibuat pada 1740 (Sumber: collectorsweekly.com)
  Dalam perkembangannya, alas kaki semakin mengandung simbol dan status. Sepatu mengalami banyak perubahan dari segi ukuran, bentuk dan jenisnya. Sebagian besar perubahan tersebut dialami oleh alas kaki kaum wanita. Pada abad 19, fungsi mempengaruhi bentuk alas kaki. Sedangkan abad 20 merupakan jaman keemasan bagi alas kaki, terutama untuk para wanita. Dengan sentuhan kekinian dipadu kreativitas, model-model baru terus lahir dalam nuansa segar. Dan sejarah itu pun terus berlanjut.
  Pada masa modern sekarang, alas kaki  tidak hanya berfungsi pelindung telapak kaki,  akan tetapi menjadi bagian dari gaya hidup. Alas kaki menunjukan identitasi sang pemakai; dari kalangan mana ia berasal. Namun, apa pun alasannya, pemakaian alas kaki seharusnya tidak menghilangkan fungsinya. Jangan sampai kita menghamburkan uang untuk membeli alas kaki hanya karena alasan tertentu, bukan karena kebutuhan. 
//–//
Ditulis oleh: Redy, dari berbagai sumber

 

One thought on “Mengenal Lebih Jauh Alas Kaki

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *