Mengasuh Anak Tanpa Memberi Trauma

Judul : Diary of Mahmud
Penulis : Dhita Erdittya
Penerbit : Raditeens
Cetakan : Pertama, Juni 2017
Tebal : xiv + 124 hlm
ISBN : 978-602-6476-23-4
Peresensi : Lintang Kinanti
Sebagian orang memandang skeptis terhadap buku parenting. Bagi mereka, buku-buku itu berisi kumpulan teori belaka. Pandangan itu tak luntur meski penulisnya adalah psikolog anak, atau ahli parenting ternama. Bagaimana tidak? Setiap anak memiliki karakter yang berbeda-beda, sering tantrum, hiperaktif, pendiam, pemalu, dan berbagai karakter lainnya.
Polah anak-anak itu tak jarang dituding sebagai pemicu kelelahan fisik dan psikis orang tua. Belum lagi, bila mereka memiliki perbedaan pandangan dan pemahaman dengan pasangannya. Atau faktor lain, mereka pernah mengalami pola asuh yang buruk di masa lalu. Bukan tak mungkin, keadaan-keadaan ini membuat mereka mewariskan pola asuh dari generasi sebelumnya. Namun, tidak bagi Dhita Erdittya. Dhita justru ingin memutus pola asuh yang pernah diterimanya saat kecil. Hal ini salah satu penyebab dia menuliskan buku tentang parenting.
Dalam buku ini, Dhita tidak bersikap layaknya pakar. Dhita justru menuliskannya dengan berbagi, mulai dari pengalamannya di masa kecil, remaja, menikah, hingga memiliki anak. Bahkan, Dhita menceritakan kehidupannya sebagai newurban mama, seorang ibu muda yang harus mandiri karena berada di perantauan.
Dhita mengawali  buku ini dengan menuliskan pengalaman masa lalu. Dhita memiliki pengalaman buruk di masa kecil. Dia tak memiliki hak untuk berpendapat. Hal ini dikarenakan orang tuanya menerapkan pola asuh bergaya otoriter. Keadaan diperburuk dengan konflik di antara kedua orang tuanya. Dhita kecil tak asing dengan tekanan, ancaman, dan hardikan (hal 4).
Dampak dari pola asuh itu membuat Dhita tak bebas berekspresi, jiwanya hampa. Belum lagi orang tuanya yang selalu sibuk bekerja. Contoh dari kesibukan mereka adalah tak bisa hadir untuk mengambil rapor. Kesibukan-kesibukan itu tak hanya membuat Dhita tidak merasakan kehadiran orang tua secara fisik, namun juga adanya jarak emosional. Dhita merasa canggung untuk berbicara pada orang tuanya. Ketidakdekatan itu membuat Ayahnya tidak bisa menjawab bila ada yang bertanya Dhita kelas berapa.
Rentetan kejadian yang terus dialami, membuat Dhita tumbuh menjadi anak yang tidak memiliki rasa percaya diri. Terlebih saat duduk di bangku SD hingga SMP, Dhita harus menerima bullying dari teman-temannya. Dampaknya, Dhita menjadi anak yang tak memiliki prinsip. Untuk menyelamatkan diri dari perlakuan bullying, Dhita meniru semua yang dilakukan temannya, termasuk hal buruk sekalipun. Dhita melakukan itu dikarenakan tak memiliki pilihan lain, ia tidak ingin dikucilkan.
Setelah menikah, Dhita baru mengetahui bila Suaminya memiliki latar belakang yang serupa dengannya. Keadaan itu membuat mereka bertekad tidak meniru pola asuh yang pernah diterima. Mereka memaafkan orang tua masing-masing, memaklumi semua yang pernah dilakukan. Dhita dan Suaminya akhirnya melahap buku-buku, mengikuti forum, dan seminar tentang parenting sebagai upaya memberikan pola asuh terbaik bagi anak mereka. 
Dhita memiliki keinginan untuk memutus warisan pola asuh yang pernah diterimanya. Dhita ingin selalu membersamai anaknya. Namun, ternyata keinginan itu harus diuji. Akhtar, anak Dhita, lahir pada saat perekonomian Dhita dan pasangan sedang sulit. Hal ini menyebabkan Dhita mengalami dilema. Di satu sisi, Dhita ingin bekerja untuk menopang ekonomi keluarga. Sedang di sisi lain, ia ingin selalu membersamai Akhtar. Setelah melalui diskusi bersama pasangan, akhirnya Dhita merasa mantap untuk membersamai Akhtar.
Ternyata, membersamai anak saja tak cukup. Hal ini disadari Dhita ketika Akhtar berusia 18 bulan. Di usia itu Akhtar baru bisa berucap, “Eh … eh … eh ….”
 Keadaan itu berbanding terbalik jika melihat anak tetangga yang usianya satu bulan di bawah Akhtar. Si anak tetangga telah pandai diajak berkomunikasi (hal 11).
Dhita segera mencari tahu penyebabnya. Ternyata semua berakar dari masa lalunya. Sejak kecil, Dhita dan pasangan dibiasakan untuk selalu mendengarkan, jarang mengemukakan pendapat. Imbasnya, mereka hanya mau berbicara pada hal-hal yang dianggap penting. Sehingga, pada saat Akhtar masih bayi, Dhita sempat merasa canggung untuk berbicara dengannya. Berbicara tanpa mendapat jawaban, merupakan keganjilan bagi Dhita. Menyadari kekeliruan itu, Dhita mengubah pola komunikasi terhadap Akhtar. Akhirnya ia mencoba untuk aktif bertanya, memancing Akhtar berani mengemukakan pendapat.
Maria Montessori mencetuskan teori, “Ikuti kemauan dan ketertarikan si kecil, dan jadikan kemauannya sebagai panduan untuk membimbing.”
Teori inilah yang menjadi acuan Dhita dalam membersamai Akhtar. Meski begitu, Dhita tidak membiarkan Akhtar selalu mengikuti keinginannya. Dhita tetap melakukan pemilahan dan penilaian. Dhita akan melarang hal yang dianggap membahayakan Akhtar. Untuk hal ini Dhita memberikan sebuah ilustrasi, ketika ia tengah mencuci baju, dan Akhtar ingin bermain sabun. Dhita tidak ingin Akhtar bermain detergen. Sebagai solusi, Dhita memberikan sebuah ember berisi baju dan sabun mandi. Dari kegiatan ini secara tidak langsung menjadi kegiatan belajar dan bermain untuk Akhtar.
Dhita tak hanya mengajarkan anaknya untuk dekat dengan orang tuanya. Namun Dhita juga mengajarkan anaknya untuk bisa bersosialisasi. Maka latihan pertama yang dilakukannya adalah membiarkan Akhtar bersama kedua Eyangnya. Latihan itu diberikan seiring dengan keputusan Dhita untuk kembali bekerja paruh waktu di dekat rumah mertuanya.
Dhita tak serta merta meninggalkan Akhtar di tangan kedua mertuanya, melainkan dengan melakukan afirmasi pada Akhtar. Dhita memberitahukan jika dia akan bekerja dan Akhtar akan bermain bersama kedua Eyangnya. Dhita tak hanya membujuk, namun juga berpamitan pada Akhtar.
Selain berfungsi sebagai latihan sosialisasi bagi Akhtar, Dhita juga menggunakan momen bekerja kembali sebagai tempatnya untuk tetap mengingat dan memenuhi kebutuhan primer anaknya, melatih bicara jujur pada anak sejak dini, dan meneguhkan hati untuk tetap berangkat bekerja, sekalipun ia menangis. Untuk poin terakhir, Dhita juga memiliki kemantapan hati, jika ia telah menitipkan Akhtar pada orang yang mampu mengatasi hal itu.
Di dalam buku ini, Dhita banyak memberikan tips berikut contoh penanganannya. Bagaimana mengatasi anak tantrum, memberikan waktu agar anak dekat dengan ayahnya, mengajarkan beribadah, belajar sembari bermain, dan banyak hal lainnya.
Sepintas, buku ini serasa mirip dengan buku karya Retno Hening Palupi, yang berjudul “Happy Little Soul”, sama-sama bercerita tentang lika-liku mengasuh anak, dan menekankan pentingnya pendampingan. Namun, bagi saya terasa berbeda ketika Dhita mengungkapkan alasan utamanya menulis buku ini, yakni memutus pola asuh yang pernah diterima sebelumnya. Dhita tidak ingin memberikan trauma pada anaknya. Bahkan Dhita menjadikan anaknya sebagai teman. Bukan hanya teman bermain, namun juga teman untuk beribadah, dan melakukan kegiatan di luar.
Melalui buku ini, Dhita menyanggah anggapan jika memiliki anak akan menghalangi orang tua untuk terus menyalurkan hobby atau bersosialisasi. Dhita tetap dapat melakukan hobby-nya dalam menulis, Suaminya juga tetap dapat bertemu dan berkumpul dengan teman-temannya. Untuk menyiasatinya, Dhita melakukan hobby-nya ketika anaknya sedang tidur. Sedang bagi Suaminya, baru akan mengajak Akhtar pergi setelah melakukan afirmasi sehari sebelumnya. Afirmasi yang biasa dilakukan adalah menceritakan tentang apa yang akan dilakukan, siapa saja yang akan ditemui, dan sedikit menceritakan tentang orang-orang yang akan ditemui.
Sayangnya, buku ini tidak dilengkapi dengan tokoh-tokoh seperti dalam bukunya Laurentia Mira yang berjudul “The Rising Star”. Seandainya Dhita menyelipkan tokoh-tokoh, baik nasional maupun internasional, yang telah berhasil melalui pola asuh seperti yang dipraktekkannya, tentu akan membuat buku ini tak hanya dianggap sebagai catatan harian. Orang-orang yang membacanya akan mengerti jika itu bukan teori semata dan mengubah pandangan skeptis mereka pada pola asuh untuk anak-anak. []

Lintang Kinanti adalah sebuah nama pena. Ia seorang perempuan moodypenyuka warna biru. Saat ini ia tinggal di Yogyakarta setelah lama merantau di Tangerang.

10 thoughts on “Mengasuh Anak Tanpa Memberi Trauma”

  1. Aku juga punya pengalaman yang sama dengan mbak Dhita. Saat sekolah, orang tuaku enggak bisa ambil rapot. Selain karena mereka sibuk bekerja, juga dikarenakan aku menempuh pendidikan di home schooling.

  2. Aku baper abis, Mbak, sewaktu ngebaca bukunya Mbak Dhita. Di bab awal nangis mulu. Butuh waktu lama buat ngelarin baca bukunya. Bukan karena bukunya jelek. Tapi ya itu tadi, akunya baperan.
    Salut banget sama usaha Mbak Dhita yang mau ngemaafin masa lalu, terus ngemutus warisan pola asuh yang buruk dari generasi sebelumnya.

    Resensinya masih belajar. Masih butuh banyak masukan.
    Semoga resensi ini bermanfaat, dan bisa jadi jembatan antara penulis buku dan calon pembaca.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *