MENGAPA GURU TIDAK MENULIS?

 

Sumber: kompasiana.com

Pernah saya bertanya kepada rekan sesama guru, “Mengapa tidak menulis?”

“Ah, sibuk pak. Susah bagi waktu. Administrasi guru buanyakk. Harus buat inilah, laporan ini itu. Belum tugas tambahan. Trus hak istri dan anak di rumah?” Dan seterusnya. Jika diteruskan katalog kesibukan kita, tidak ada akhirnya. Bak lorong waktu tak berujung. Gelap.
Ada juga yang semangat minta dibimbing dan diajari menulis. Oke. Awal-awal mampu menyelesaikan satu, dua tulisan lepas, namun beberapa minggu berlalu nampaknya macet. saat saya tanya, “Pak, gimana nulisnya? Lancar?”
“Hehehe, macet. Nggak ada waktu. Sibuk.” Ucapnya sambil tertawa kecut. Sekecut tubuh saya setelah seharian mengajar di kelas.
Apakah sibuk bisa menjadi alasan untuk tidak menulis? Lalu, pertanyaan selanjutnya, “Siapa sih yang tidak sibuk?
Saya -dengan izin Allah- bertemu  dengan orang-orang yang sangat produktif menulis namun sibuknya luar biasa. Saya kadang malu sendiri. Salah satunya Much. Khoiri -biasa kita memanggilnya Emcho- dosen di salah satu kampus ternama di Jawa Timur. Salah satu bukunya -yang kayaknya setiap kita, yang pengennulis wajib memiliki-  adalah SOS; Sapa Ora Sibuk, Menulis dalam Kesibukan.
Dalam sebuah seminar beliau mengatakan, “Siapa sih orang yang tidak sibuk? Bahkan pengangguran pun saat dimintai bantuan akan mengatakan, ‘saya sibuk'” Lalu beliau menayangkan berbagai gambar kesibukan orang-orang beraktivitas. Ada yang naik motor sambil nelpon dan SMS karena sibuknya.
Beliau kemudian membuka rahasia mengapa bisa menulis, dan produktif. Hampir tiap tahun, satu sampai dua bukunya nangkring di Gramedia, dan rata-rata best seller.
“Saya setiap hari bangun jam 03.00 dini hari. Di situlah saya menulis sampai adzan Subuh dikumandangkan.” Saya hanya manggut-manggut sambil membatin, “Hem, pantes saja.”
Sebenarnya Islam mewariskan peradaban ilmu. Tradisi membaca dan menulis bagaikan dua sisi mata uang yang melekat dalam ajaran Islam. Islam ya membaca. Spiritnya dalam surah al-Alaq. Iqra’!
Ulama-ulama kita mewariskan ribuan karya tulis yang bisa jadi kita butuh seumur hidup untuk membacanya. Ini baru membacanya loh. Mungkin judulnya saja kita belum tahu apalagi membaca dan menelaah isinya. Tes ya, “Sebutkan judul kitab-kitab yang ditulis oleh Imam Nawawi?” Hehehe. Saya juga nggak hafal.
Beliau sampai tidak sempat menikah karena kecintaannya pada ilmu. Konon beliau terkadang tertidur sambil berdiri karena membaca. Pantas ya.
Kita sih, nggak harus gitu-gitu amat. Tapi jangan juga keterlaluan amat. Ya, minimal satu buku seumur hidup. Bisa? Bisa. Ini soal kemauan saja. Satu guru satu buku (Sagu Sabu) seumur hidup.
Siapa yang akan menceritakan kehebatan kelas, dan keunikan anak-anak didik kita kalau bukan guru. Sungguh ada jutaan inspirasi dalam kelas yang hilang bersama waktu tanpa ada yang mengikatnya dengan tulisan. Tidak terwariskan. Jangan sampai kita meninggalkan dunia ini hanya mewariskan tulisan di batu nisan, “Bapak H. Mukidi, Lahir … Wafat ….” Hehehe, maaf -bagi yang bernama Mukidi- hanya contoh.
Saya pernah bertanya kepada sahabat yang punya gairah menulis. Beberapa karya indie sudah lahir. “Gimana bro buku-bukunya? Sudah dijual belum?”
“Wah gimana ya Rul. Nggak bisa bagi waktu. Ngajar di kampus dan sekolah.” Jawaban yang sudah kuduga sebelumnya.
“Ente gimana caranya? Ajari donk!” Lanjutnya meminta nasihat.
“Begini bro. Saya nggak punya banyak rumus. Rumus saya cuma satu, Masih jaga saat orang lain sudah tidur. Sudah bangun saat orang lain masih tidur.” ITU (ala Mario Teguh)
“Ya… Itu mah susah.” Ya sudah, diskusi selesai. Menulis memang tidak wajib. Allah pun tidak akan memasukkan kita ke neraka gara-gara nggak nulis tapi, tidakkah kita tertarik untuk menjadikan tulis menulis sebagai amal jariyah yang mempermudah hisab dan langkah kita ke surga?
Nabi Muhammad Saw mengingat kita akan petuah ilmu yang bermanfaat. Orang yang menunjukkan satu kebaikan akan mendapatkan ganjaran seperti orang yang melakukannya tanpa dikurangi sedikitpun. Jika ada seribu-duaribu yang terinspirasi? Panen ‘kan. Yang nilainya -bisa jadi- jauh dari gaji sertifikasi. 
Apa yang ditulis?
Oke, oke. Sekarang sudah niat dan akan menulis. Lalu, apa yang harus ditulis? Jangankan menuliskan ide atau gagasan dalam satu buku, bahkan menulis itu sendiri sudah kerjaan yang tidak ringan. Berat.
Baik, izinkan saya menjawab dengan penuh kerendahan hati. Saya sangat yakin bahwa tidak ada satu pun penulis best seller di dunia ini yang langsung bisa menulis. Semuanya dimulai dari langkah pertama. Nol. Semua kegelisahan penulis pemula juga mereka rasakan. Waktulah yang akan menjawab. Semakin banyak jam terbang, semakin mahir menggoreskan pena dan merangkai kata. Saya pun merasakan.
Menulis bukan bakat, ia adalah keterampilan yang bisa diasah. Semakin diasah semakin tajam. Semakin bergerak semakin gesit. Maka semua kita bisa jadi penulis. Nasihat lama guru saya, “Menulis itu semudah ngomong. Sayangnya, yang dikembangkan sejak kecil oleh ibu dan sekolah kita adalah keterampil berbicaranya.” Nampaknya benar.
Saya banyak belajar dari penulis buku, “Mengikat Makna.” Banyak tulisan tentang menulis yang selalu saya setujui. Apalagi kita dalam satu grup kepenulisan, sehingga diskusi semakin intens.
Berdasarkan refleksi, saya simpulkan menjadi tiga tahapan dalam mengasah kemampuan menulis. Pertama, free writing. Artinya menulis bebas. Teknisnya membiasakan menulis bebas dengan dibatasi oleh waktu. Cukup 10 menit setiap hari. Saat mulai akan menulis, setel-lah alarm. Lalu, mulailah menulis sebebas-bebasnya, lupakan tata bahasa, abaikan jelek-buruknya tulisan. Jangan berhenti sebelum alarm berbunyi, apapun yang terlintas dalam pikiran, tulis! Simple‘kan?
Silahkan dicoba dan rasakan hasilnya.
Langkah kedua, mengikat makna. Setiap selesai membaca buku, kisah atau cerita, tulis ulang hasil bacaan tadi dengan menggunakan bahasa sendiri. Ilmu yang sudah didapatkan dari membaca akan hilang lebih cepat jika tidak ditulis atau diikat. Lakukan dan biasakan menulis setelah membaca.
Langkah selanjutnya adalah menulis tema. Mulailah menulis tema tertentu secara runtun dari awal sampai selesai menjadi tulisan yang lengkap. Cari tema yang dikuasai sesuai disiplin ilmu kita. Saya misalnya guru agama, maka tema keagamaan seperti zuhud, tawakkal, dan istiqamah menjadi tema yang sering saya tulis.
Tiga langkah di atas tidaklah berjalan sendiri-sendiri. Tiga-tiganya lakukan dan biasakan setiap hari.
Akhirnya Terbitlah Buku.
Hati siapa yang tidak bangga melihat bukunya dengan namanya tertera di sampul buku nangkring di toko buku se-Indonesia.  Alhamdulillah, sejak meniatkan diri untuk serius menulis, dua tahun lalu (2015), sudah ada dua buku saya yang terbit di penerbit mayor masuk TB. Gramedia. Buku antologi sudah sekitar 8 judul, dua judul masuk TB. Gramedia. Dan ada dua judul yang saya terbitkan secara self publishing. Semuanya berangkat dari latihan demi latihan.
Dua buku yang terbit di Quanta ini bukanlah buku berat atau ilmiah. Hanya berisi kumpulan kisah-kisah hikmah sehari-hari yang setema. Buku “Indahnya Hidup bersama Allah,” terbit tahun 2016 ini diawali dengan judul tulisan “Kesyahduan dalam Shalat.” Dalam bab I dengan tema “Anta ma’a man ahbabta.” Judul tulisan kedua, “Cinta dan Benci yang Proporsional.” Antara satu judul dengan judul lainnya terkadang tidak berkaitan. Karena ini kumpulan tulisan hikmah.
Buku kedua yang berjudul, “Berdagang dengan Allah Nggak Ada Ruginya.” Diterbitkan oleh Quanta tahun 2017 dan masuk Gramedia memiliki pola yang sama. Dengan ketebalan 280 an buku ini membahas tema keislaman secara popular dengan bahasa ringan dan mudah dipahami. Kumpulan refleksi kehidupan kita sehari-hari.
Langkah awal untuk menerbitkan buku bisa dimulai dengan menulis tema kehidupan sehari-hari sesuai ilmu yang dikuasai lalu kumpulkan. Jika sudah terkumpul banyak, pilih tema-tema yang senafas lalu beri judul yang relevan. Kirimkan ke penerbit dan tunggu dua bulan jawabannya. Jangan buang waktumu menunggu tanpa makna, mulailah menulis lagi dan lagi.
Lalu kapan bagi waktunya? hampir semua tulisan, saya tulis melalui aplikasi handphone. Dan tidak ada waktu khusus untuk menulis. Pagi sampai siang bahkan sore habis untuk mengajar. Sore dan malam sudah menjadi waktu keluarga dan tentunya tubuh ini sudah lelah. Maka, hanya niat yang kuatlah yang mampu mencari waktu untuk menulis.
setiap ada ide melintas di kepala, langsung saya tangkap dan tuliskan di catatan handphone. Lalu, setiap ada waktu luang; menunggu antrian, menunggu acara dimulai, naik mobil atau angkot saya gunakan untuk menulis atau melanjutkan tulisan yang belum selesai. Sedikit-sedikit menjadi bukit. Awalnya hanya ide lalu menjadi satu judul tulisan. Tulisan yang sudah sempurna saya kirim ke email untuk diedit dan di-save. Done!
Bagaimana? Masih ingin menulis, kan?
*****
Baca Juga:   Karyawan: Duh, Dikerjain Senior

 

Ditulis oleh: Syahrul
Guru PAI SMP Muhammadiyah 2 Sawangan

 

2 thoughts on “MENGAPA GURU TIDAK MENULIS?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *