Mengapa Anak Perlu Diajak ke Museum?

 

 

sumber: forum.liputan6.com

 

Siapa yang belum pernah ke museum? Saya yakin tidak ada ya. Karena biasanya saat TK atau SD, teman-teman akan diajak bapak dan ibu guru untuk mengunjungi museum. Kebetulan saya menyukai sejarah, termasuk benda-benda kunonya, sehingga museum punya tempat tersendiri di hati saya. Oleh karena itu, ketika saya punya anak, saya juga ingin mengenalkan mereka pada benda-benda bersejarah di museum. Enggak harus nunggu masuk sekolah, atau ada trip dari sekolahnya. Meski pamor museum kalah dibanding tempat wisata kekinian atau mal, tapi ada banyak alasan mengapa anak perlu diajak ke museum lho. Mau tahu apa saja?
1. Anak dapat mengetahui sejarah bangsanya
Yup, museum terkait sejarah perjuangan bangsa tentu membuat anak jadi lebih mengenal bangsanya. Anak perlu tahu hal itu, agar mereka bisa menghargai pahlawan atau orang-orang terdahulu yang mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan bangsa. Kisah zaman penjajahan Belanda, Jepang, dan menjelang kemerdekaan pun banyak terekam jelas di berbagai museum. Kalau untuk di Jogja, Museum Benteng Vredeberg, Monumen Jogja Kembali, adalah beberapa museum yang menceritakan tentang sejarah tersebut.
Sejarah mencatat bahwa nusantara begitu kaya dan disegani di bawah kerajaan Majapahit, Mataram, Sriwijaya dan kerajaan lainnya. Di Jogja sendiri ada museum Pleret yang menceritakan dan menyimpan benda-benda zaman kerajaan Mataram Islam di Pleret dan Kerto. Museum Kraton dan Museum Kereta di kota Jogja juga bercerita mengenai sejarah zaman kerajaan.
2. Anak dapat mengenal berbagai jenis hewan dan tumbuhan
Keberadaan binatang yang sudah punah, seperti dinosaurus, dapat diketahui oleh anak, dengan mengunjungi museum. Hewan-hewan dan tumbuhan yang tidak mudah ditemui di lingkungan sekitar, juga dapat ditemui di museum. Memang sih, rata-rata makhluk tersebut dalam bentuk awetan atau sudah mati. Bahkan ada yang berupa tulang belulangnya saja. Tapi paling tidak, anak memunyai gambaran mengenai ciptaan Allah tadi.
Saat saya mengunjungi Museum Biologi bersama anak-anak, kami melihat tulang rangka gajah Keraton Yogyakarta yang sudah mati. Ada juga awetan macan, burung, penyu, dan beruang. Yang seru adalah adanya awetan hewan langka seperti tapir, anoa, komodo dan lain-lain Untuk hewan sendiri, memang hanya diambil kulit luarnya saja, sementara organ dalamnya sudah dikeluarkan agar tidak meinmbulkan bau busuk. Di Museum Biologi, terdapat pula tanaman dan hewan kecil seperti cacing, yang dimasukkan ke dalam toples-toples bening. Terus terang museum ini memang termasuk sepi. Oleh karena itu, dalam sebuah kesempatan, GKR Bendoro, yang merupakan ketua DPP PUTRI (Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia) di Jogja, sempat berujar akan merenovasi berbagai museum di Jogja, dimulai dari Museum Kraton terlebih dahulu. Doakan yuk agar terwujud.
3. Anak mengenal budaya bangsa
Sebut saja Museum Batik, Museum Wayang, adalah beberapa museum yang menyimpan benda-benda simbol budaya. Tak hanya orang dewasa yang perlu masuk ke museum tersebut, tapi anak-anak juga. Mengapa? Karena anak-anak sebagai generasi penerus bangsa juga seharusnya mencintai budaya Indonesia. Sejarah batik, sejarah wayang tentunya sangat menarik untuk diketahui dan dipelajari. Anak teman saya bahkan belajar wayang sejak kecil, dan bercita-cita menjadi dalang, lho.
4. Anak mengetahui permainan tradisional
Saat berkunjung ke Museum Dolanan Anak, saya menyadari bahwa banyak permainan tradisional yang sekarang sudah tidak ada. Beberapa pernah saya mainkan saat kecil dulu, tapi zaman anak saya, nyaris 80% nya sudah punah. Sedih sekali ketika anak sendiri tidak mengenal permainan yang unik-unik seperti saya dulu. Maka ketika anak-anak saya masuk ke Museum Dolanan Anak, raut wajah mereka gembira sekali. Untuk permainan seperti dakon, kelereng atau boneka kayu, sih, masih bisa kami cari dan memainkannya bersama anak. Dengan demikian, anak memiliki alternatif selain bermain gawai.
Museum Layang-layang kabarnya menyimpan berbagai jenis layang-layang. Mulai dari ukuran kecil hingga yang ukurannya sangat besar. Bentuknya pun bermacam-macam. Saya yakin, dengan mengajak anak ke sini, anak akan tertarik untuk memainkan layang-layang.
5. Anak mengetahui peristiwa-peristiwa khusus
Museum Gunung Merapi, Museum Gempa Prof Sarwidi, Museum Tsunami Aceh adalah contoh museum yang dibangun untuk mengenang peristiwa dahsyat, yaitu bencana alam yang terjadi di daerah tersebut. Museum ini bukan menceritakan kisah pilu para korban, tetapi lebih kepada edukasi mengenai gunung api dan apa itu tsunami. Masyarakat juga akan mengetahui mengenai kapan perlu waspada, dan apa yang perlu dilakukan saat status daerahnya berubah menjadi siaga, atau awas.
Sewaktu ke Museum Gunung Merapi, anak saya yang masih duduk di TK, sih belum terlalu ngeh. Untuk anak yang lebih besar, seperti usia SD, tentunya akan lebih mengerti dan menambah pengetahuannya. Gempa, letusan gunung api, dan tsunami menjadi hal yang tidak tabu untuk dibicarakan, sehingga lebih mudah untuk mengajak anak berempati ketika terjadi peristiwa serupa, misal Gunung Agung di Bali yang saat ini beritanya sedang hangat.
6. Anak mengenal alat tertentu di masa lampau
Sebut saja Museum Dirgantara Yogyakarta, Museum Angkut Malang, adalah beberapa museum yang menampilkan transportasi zaman dulu hingga sekarang. Anak dapat melihat transformasi transportasi lintas generasi. Di Museum Angkut bahkan ada angkutan yang sudah sulit ditemui, sehingga anak dapat melihat langsung, tak hanya dari buku atau internet. Selain mengajak anak mengenal segala sesuatu terkait kendaraan di udara, Museum Dirgantara juga membuat anak menjadi mencintai angkatan udara Indonesia.
Museum Musik Indonesia di Malang juga unik, lho. Di sana anak-anak dapat melihat kaset, piringan hitam, yang mungkin tidak dapat ditemuinya di masa sekarang.
7. Anak mengenal seni
Di Jogja ada Museum Affandi dan Museum Sonobudoyo yang menyimpan berbagai karya seni ataupun alat seni. Di Museum Affandi, teman-teman dapat melihat lukisan karya maestro lukis Indonesia. Tak hanya itu, karya 4 dimensinya pun juga dapat dinikmati di tempat ini. Sementara itu, Museum Sonobudoyo memamerkan alat musik tradisional Indonesia. Dengan masuk ke museum ini, anak-anak dapat mengenal lukisan dan alat musik yang tak ternilai harganya, sehingga terasah pula jiwa seninya.
Tentunya masih banyak alasan lain yang membuat saya pribadi masih menjadikan museum sebagai tempat yang menarik untuk dikunjungi. Museum di Jogja sendiri baru sedikit yang saya masuki, apalagi museum di kota lain. Memang saya akui bahwa ada museum yang terkesan kurang terawat. Maklum saja, tiket masuk museum pun terbilang sangat murah.
Saya sedih jika sampai ada museum yang nyaris tutup karena kurangnya minat pengunjung. Pingin deh, kayak museum-museum di luar negeri yang dikonsep lebih elegan, dilengkapi dengan pemandu yang mumpuni. Alhamdulillah beberapa museum mulai berubah. Terakhir, saya menemukan keberadaan hologram dan VR (Virtual Reality) di Museum Pleret, Bantul, Yogyakarta. Hal tersebut merupakan sebuah kemajuan dan inovasi untuk museum. Semoga segera dapat diduplikasi oleh museum lainnya.
Yuk, ajak anak ke museum, agar mengerti sejarah, dan bersyukur pada kehidupan. Selain itu, agar anak menghargai setiap inci kemudahan dan kenyamanan yang mereka dapatkan di zaman ini. Travelinghemat dan penuh pengetahuan, ya ke museum aja!
–//–
Ditulis oleh: Dian Ismiyama, Blogger dan Traveller
Baca Juga:   Hari Terakhir Bersama Bapak

2 thoughts on “Mengapa Anak Perlu Diajak ke Museum?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *