Mendidik Anak Bukan Hanya Tugas Orang Tua

sumber: an-najah.com

Bila ada yang bertanya, “Siapa yang harus mendidik anak?”

Maka jawaban yang biasa kita dengar adalah, “Orang tua.”
Benarkah jawaban demikian? Dalam pandangan saya, ini benar. Tapi, tidak sepenuhnya tepat.
Sebentar. Tak perlu tergesa mengernyitkan kening. Orang tua memang wajib mendidik anak. Sebab sekolah pertama seorang anak adalah ibunya. Itu tak dapat disangkal. Bagaimana tidak? Bukankah bayi belajar segala sesuatu melalui interaksinya dengan ibu? Ibu akan menyenandungkan sebuah lagu untuk membuainya dalam lelap. Ibu akan menerjemahkan semua ekspresinya, melalui sebuah bahasa yang hanya dipahami berdua. Bayi belajar berbicara, merangkak, berjalan, makan, dan semua aktivitas lainnya memerlukan pendampingan ibu.
Selain perkembangan fisik, seorang ibu juga harus memahami perkembangan motorik, ataupun kognitif pada anaknya. Contoh perkembangan motorik pada usia satu hingga tiga tahun adalah, berjalan di usia 12 hingga 1 bulan, berjalan mundur di usia 18 bulan, menendang bola di usia 19 hingga 24 bulan, mengayuh sepeda roda tiga di usia 36 bulan.
Sedangkan secara kognitif, anak akan melakukan berbagai kegiatan yang akan membantunya untuk melawan rasa takut, melatih keseimbangan, hingga membangun percaya diri.  Salah satu contoh kegiatan yang dilakukan adalah ketika anak ingin naik kursi.
Di usia satu hingga tiga tahun anak juga sudah bisa belajar bertanggung jawab. Misalnya saja ketika dia mengeksplorasi sekitar tempat tinggalnya, seperti bermain tanah yang akan membuatnya menjadi kotor. Maka tanggung jawab yang bisa diajarkan adalah membersihkan mainan dan mencuci tangan. Di masa-masa ini orang tua, khususnya ibu, dituntut lebih memahami, dan memberikan kebebasan dengan melakukan pendampingan. Bukan menjejali anak dengan berbagai larangan.
Selain itu, di usia batita, anak akan belajar bersosialisasi, berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya, dari kerabat, tetangga, hingga teman sebaya.. Dia akan belajar berbagi dan berempati. Misalnya saja ketika dia harus berbagi mainan dengan temannya. Meski anak tidak mengizinkan mainannya dipinjam orang lain, ibu tetap dapat melakukan afirmasi secara perlahan tentang perlunya berbagi.
Semakin besar usia anak, pendampingan yang dilakukan pun semakin berbeda.  Ada beberapa fitrah yang harus dipahami oleh orang tua untuk mengubah konsepsi menjadi potensi. Misalnya saja pada anak usia tujuh hingga sepuluh tahun, maka fitrah-fitrah itu berupa tumbuhnya kesadaran tentang adanya dunia sosial yang akan memicunya untuk bersosialisasi. Selain itu anak juga sudah bisa ditanamkan tentang keimanan secara perlahan. Tak berhenti di situ, anak juga mulai belajar tentang pengetahuan. Meski lazimnya ilmu itu didapatkan di bangku sekolah, tapi tiap anak memiliki kebutuhan metode belajar yang berbeda-beda.
  Keadaan mulai berbeda ketika anak berusia lebih dari sepuluh tahun. Di masa ini, biasanya anak cenderung kritis. Dia akan menyikapi berbagai hal berdasar sudut pandangnya. Pandangan-pandangannya tak jarang berbenturan dengan apa yang pernah diajarkan di rumah, atau gurunya.
Jika masih duduk di bangku SD, si anak masih lebih mudah diarahkan. Keadaan akan berbeda ketika mereka beranjak remaja. Mereka merasa dirinya bukan lagi anak-anak yang harus diatur-atur. Perlahan, mereka mencari jati diri. Mereka juga mulai berpikir tentang gengsi dalam bersosialisasi, memilih teman bermain yang akan lebih didengarkan suaranya daripada nasehat orang tua. Sehingga tak jarang bila anak berkonfrontasi dengan orang tua. Di masa ini, bukan hanya orang tua yang berkewajiban mendidik anak. Tapi juga kerabat dekat.
Mungkin, anda akan beranggapan jika saya hanya membual, atau paranoid terhadap kehidupan remaja. Apalagi di sisi lain, saya belum menikah. Tentu pendapat ini akan mentah begitu saja di hadapan para orang tua, khususnya pasangan muda. Tapi, saya menyampaikan ini bukan tanpa sebab. Selain karena seringnya berinteraksi dengan anaknya teman-teman, saya juga mendapatkan pelajaran tumbuh kembang itu dari adik-adik dan keponakan yang pernah saya asuh. Secara tidak langsung, mereka memberikan kesempatan pada saya untuk melakukan observasi. Dan beberapa tahun lalu, saya memiliki catatan tentang keponakan yang beranjak remaja.
Namanya Putra, sebut saja begitu, anak sulung dari kakak pertama saya. Di masa SD, Putra tidak pernah juara kelas, namun ia memiliki nilai lebih di mata saya. Ia anak manis yang selalu bersikap santun, terlebih pada yang lebih tua.
Namun setelah masuk SMP, Putra mulai berulah. Dia melanggar beberapa peraturan yang telah ditetapkan dalam keluarganya. Salah satunya adalah merokok. Ibunya–Mbak Titik, kakak ipar saya–menegurnya secara keras. Memintanya berhenti merokok. Menjejalinya dengan beragam nasehat dari A-Z. Berhasil? Tidak. Meski di rumahnya tidak ada yang merokok, Putra berdalih bila om hingga mbahkung merupakan perokok berat. Ia mencari pembenaran. Dan mereka beradu argumen dalam suara yang nadanya naik beberapa oktaf.
Apakah masalah Putra sebatas merokok? Ternyata tidak.
Saya tidak tinggal serumah dengan kakak. Penyebabnya adalah saya bekerja di Tangerang, sedang kakak berada di perbatasan Jakarta. Sehingga sangat tak mungkin bila tiap hari harus menempuh jarak teramat jauh. Untuk menebus rasa rindu pada kakak atau keponakan, biasanya sebulan sekali saya menginap di sana.
Saat itu, saya akan beristirahat di dalam kamar, ketika Mbak Titik berujar,
“Bulik, dompetnya disimpen yang bener, ya.” Pandangannya tertuju pada tas di samping saya, seakan menembus isi di dalamnya. O iya, Mbak Titik memang memanggil saya Bulik, tak lain untuk membiasakan keponakan-keponakan bila memanggil saya.
“Lho, emang kenapa, Mbak?” Mbak Titik terdiam.  Lanjutnya kemudian,
“Putra belakangan ini sering mengambil uang. Mencuri. Nggak tahu buat apa. Jadi, jangan sampai dia ngambil punya orang lain, meskipun itu masih saudara sendiri.”
Saya seperti tertampar mendengar penjelasan Mbak Titik. Benarkah Putra menjadi pencuri? Saya ingin menampik hal itu kuat-kuat. Saya harap itu bohong. Mungkin itu hanya konflik antara Mbak Titik sebagai ibunya, dan Putra yang beranjak remaja.
Keesokan harinya, sewaktu saya membantu memasak, Nunik, adiknya Mbak Titik kembali menceritakan Putra.
“Putra itu emang beberapa kali nyuri uang bapak ibunya, Mbak. Ada yang pernah lihat dia mentraktir teman-teman sekolahnya di salah satu restoran ayam goreng.”
Beneran?” Nunik mengangguk, mantap.
“Lebih dari sepuluh orang. Tahu sendiri kan berapa harga seporsi di sana? Itu beberapa kali lho.”
Nunik kembali bercerita, bila Putra tak jarang dipalakteman-temannya. Bukan hanya dimintai uang jajan. Namun dipaksa mentraktir. Padahal selama ini Putra tak pernah diberi uang jajan lebih oleh kedua orang tuanya. Besar kemungkinan, itu pemicu Putra mencuri di rumahnya sendiri.
Mulut saya mengatup kehilangan kata-kata. Batin dicungkupi masygul. Dalam hati, saya bertekad harus berbicara dengannya. Tapi, bagaimana? Dengan menginterogasinya secara tiba-tiba tentang kebenaran itu? Bukankah itu tak ubahnya saya menuduh tanpa barang bukti? Jika tuduhan itu benar. Bila tidak? Bukan tidak mungkin dia akan melakukan aksi yang lebih frontal, karena dia merasa tidak nyaman di tengah keluarganya sendiri. Divonis bersalah tanpa penjelasan apapun. Bukan tidak mungkin dia justru akan melakukan semua tuduhan, karena tak satu pun yang memberinya kepercayaan.
Saya urung berbicara dengannya. Saya lebih memilih untuk tidak memberinya peluang mencuri di rumah sendiri. Jujur, ini menyakitkan. Saya seolah mengamini tuduhan itu, dan memelihara kecurigaan pada Putra. Tapi, saya tak punya pilihan lain.
Beberapa tahun berselang, Putra duduk di bangku kuliah. Dia tetap merokok, dan berkonflik dengan ibunya. Tapi dia sudah tidak lagi mencuri. Permasalahan ibu dan anak telah bergeser. Mbak Titik mengeluhkan aktivitas Putra. Tiap pagi Putra berpamitan ke kampus, dan baru pulang saat menjelang dini hari. Begitu terus setiap hari. Mbak Titik menceritakannya saat saya ke sana, beberapa hari setelah resign bekerja.
Sebagai ibu, Mbak Titik tentu menegurnya, mengingatkan jika berbahaya bagi Putra pulang dini hari dengan mengendarai motor. Namun Putra membalas teguran itu tak kalah keras.
“Ibu takut motornya rusak!” tuduhnya, tanpa sungkan.
Kembali saya terdiam. Saya mencoba mengenali lagi keponakan yang pernah saya asuh kala kecil. Meraba cara berpikirnya. Meraba hatinya. Namun malam itu saya terlelap, sebelum berhasil memecahkannya. Saya tak tahu Putra pulang jam berapa.
Hari itu Sabtu. Masih pagi. Teh baru saja diseduh. Saya menghirup dan mereguknya di halaman samping, ketika Putra mengeluarkan motor. Tanpa kata, dia berlalu. Melalui tatapan, saya bertanya pada Mbak Titik, akan ke manaPutra di hari libur ini? Mbak Titik menggeleng, seakan mengerti arti tatapan saya. Dia membuang pandangannya ke jalan, ke jejak Putra. Dua hari saya tak bertemu Putra. Entah ke mana dia pergi. Senin pagi, saya lagi-lagi hanya melihat punggungnya menutup pintu.
Menjelang siang, saya berkumpul dan bercanda dengan kedua keponakan, adik-adiknya Putra. Bagi saya, kebersamaan itu sesuatu yang sangat mewah. Serupa me time. Ini menyadarkan saya, jika ternyata me time tak melulu harus menyendiri. Bersama mereka saya dapat menemukan kesempatan untuk mengenal lebih jauh. Bagaimanapun, waktu telah berputar. Mereka telah memiliki sudut pandang dan cara berpikir sendiri-sendiri. Saya tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Mungkin saya bisa bertukarpendapat dengan mereka.
Kami masih cekikikan tatkala Putra membuka pintu. Saya lirik jam yang bertengger di dinding, memerhatikan letak jarumnya. Pukul tiga. Untuk memastikan, saya melirik ke luar jendela, matahari masih bersinar. Tidak salah. Putra pulang sore. Patah sudah cerita Mbak Titik tempo hari. Pandangan kami bertemu.
“Lho, kok Bulik di sini?” tanyanya, sembari mencium telapak tangan saya. Dia lalu duduk di samping saya.
Dia masih Putra yang dulu, sontak batin saya berteriak.
“Bulik udah dari hari Jumat.” Kedua matanya membulat. Berikutnya ia mengira bila saya berbohong. Karena tidak pernah melihat saya.
“Hari Jumat kemarin, Putra pulang jam berapa sih? Bulik nunggu sampai jam sembilan lho.” Dia terdiam.
“Putra pulang larut kan? Paginya pergi lagi tanpa pamit, dan sarapan? Terus, ini dari mana?” Kembali saya mencecarnya.
Ia tetap diam, sebelum akhirnya meluncurkan berbagai keluhan. Tentang rumah yang sepi, kedua orang tua yang bekerja, ibu yang selalu berisik menasehati, ayahnya yang tak mau memberi uang jajan lebih, dan banyak hal lainnya.
“Putra pernah ngomong langsung soal itu semua sama bapak ibu?” Ia menggeleng.
“Bagaimana mereka bisa ngerti, kalau nggak pernah dikomunikasikan? Bagaimana bisa ngomong, kalau pulangnya saat orang sudah lelap tidur?” Saya menekan suara serendah mungkin. Saya tak ingin berceramah, atau mengomelinya. Saya hanya ingin ia melihat semua dari sudut pandang orang lain, bukan sudut pandangnya.
“Putra tahu, kenapa Ibu ngomel kalau Putra pulang larut?” saya kembali melanjutkan,
“Ibu takut Putra kenapa-napa di jalan. Ibu nggak peduli motor, karena itu bisa dibeli. Tapi kalau sampai terjadi sesuatu sama Putra, itu hal yang ditakutkan Ibu. Putra boleh pulang malam. Tapi, bukan seperti selama ini.”
Putra menghela napas panjang, tanpa mengucapkan sepatah kata pembelaan. Pembicaraan saya hentikan. Ringan saya tinju bahunya, dan menyuruhnya untuk membersihkan badan, diikuti perintah untuk makan. Ibunya terkejut mendapati Putra telah berada di rumah lebih dulu.  Keesokan harinya, Putra kembali pulang sore. Ibunya kembali terkejut.
“Kok Putra pulang cepet sih, Bulik? Kemarin si Putra diapain?”
Saya hanya menggeleng, dan mengangkat bahu. Saya tidak tahu. Sungguh tak mengerti. Saya hanya mencoba berbicara dengannya. Karena selama ini hubungan saya dan Putra cukup erat. Mungkin ia merasa nyaman dan percaya berbicara dengan saya. Mungkin dia merasa suaranya telah didengar. Atau, mungkin ia memang butuh orang lain yang dinilai netral untuk melihat posisinya dan kedua orang tuanya, memberikan sudut pandang yang sebenarnya. Entah. Yang jelas, setelah itu Putra berubah menjadi lebih baik.
Dalam hal ini, bukan hanya orang tua yang perlu berbicara pada anak. Tapi, orang tua juga harus melibatkan kerabat untuk memberikan solusi terbaik. Saya tak bisa membayangkan bila  kasus seperti Putra hanya boleh ditangani oleh orang tuanya. Bukan tidak mungkin hubungan mereka terus meruncing, tanpa adanya titik temu. Di sinilah pentingnya kesadaran orang tua, dan kerabat untuk bahu membahu menciptakan generasi yang lebih baik.
*****
Ditulis oleh: Lintang Kinanti
Baca Juga:   Mengasuh Anak Tanpa Memberi Trauma

2 thoughts on “Mendidik Anak Bukan Hanya Tugas Orang Tua

  1. Belum, Mbak.
    Kebetulan pas lagi nggarap tulisan ini, juga hampir bareng sama status mbak Dian yang nonton premier film itu.
    Sempet pingin nanya-nanya. Tapi nggak jadi. Rasanya kurang nendang kalo belum nonton langsung. Nggak bisa mengupas dan mengaitkan dengan tulisan ini.
    Akhirnya ambil true story dari keponakan sendiri.

    Sebetulnya ada beberapa contoh lain yang ada di sekitar saya.
    Ada yang keluarganya berani secara terbuka ngomongin masalah si anak ke pihak keluarga besarnya. Tapi ada juga yang nutupin masalah si anak. Nah yang kasus pada keluarga kedua ini mbikin si anak ngerasa dilindungi. Akhirnya masalah berlarut-larut dan nggak kelar-kelar.
    Ada juga problem lain.
    Tapi kalo ditulis semua,nanti tulisannya jadi kepanjangan. Yo wis, akhirnya diambil segitu aja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *