Memilih Jodoh ala Jawa dan Islam

“Jodohku maunyaku dirimu,

Hingga mati kuingin bersamamu,

Ini ikrarku …”

Lagu Anang featuring Ashanti di atas mengingatkan kita betapa jodoh itu segalanya. Namun apakah benar begitu? Banyak faktor yang menyebabkan seseorang berjodoh dengan yang lain. Menurut penulis, jodoh itu ya saat kedua pasangan tersebut terpisah oleh kematian. Jadi kalau ‘hanya’ terpisah (baca: cerai) dikarenakan faktor ekonomi, pihak ketiga atau yang lain, itu tandanya belum berjodoh. Walaupun mereka sudah menikah dan berumah tangga, bahkan mereka sudah dikaruniai anak.

Tetap itu namanya belum berjodoh. Tersebab jodoh itu itu dipisahkan oleh kematian. Baik suami atau istri yang mungkin meninggal terlebih dahulu. Saat mereka dipisahkan di dunia, bisa jadi mereka disatukan lagi di akhirat. Makanya banyak pasangan yang bertahan hidup menyendiri sebab jodohnya telah menunggu di akhirat. Mereka yakin hidup sendiri mampu dan jodohnya telah menunggu di sana.

Jodoh tetap misteri. Kita tidak bisa mengatakan bahwa istri atau suami kita saat ini adalah jodoh kita. Tersebab dalam mengarungi lautan, banyak hal bisa terjadi. Apakah bahtera itu kuat? Apakah mereka sabar mengayuh? Apakah mereka tidak berebut untuk menjadi nakhodanya? Di lautan yang penuh cobaan, cinta mereka diuji. Kesetiaan mereka dipertaruhkan. Rumah tangga pun dipertanyaankan. Godaan tidak hanya untuk kaum Adam. Sekarang ini godaan dari berbagai arah, dari istrinya, anaknya atau orang-orang terdekatnya.

Agar tidak salah memilih jodoh, ada baiknya kita mengacu kepada aturan yang ada. Sebagai muslim tentu aturan yang kita gunakan adalah Alquran dan Sunah Nabi. Kalau di Jawa ada aturan yang tidak tertulis dalam memilih jodoh. Nah, sekarang tinggal pilih, Anda mau mengikuti aturan yang mana. Kalau mengikuti budaya Jawa, seorang pria atau wanita selalu dianjurkan memilih jodoh dengan 3 (tiga) kriteria; bobot, bebet dan bibit. Apa itu bobot, bebet dan bibit?

Pertama, bobot adalah kualitas diri, baik secara lahir maupun batin. Itu artinya si calon harus mempunyai iman, pendidikan, pekerjaan, kecakapan dan perilaku yang baik. Pada umumnya orangtua Jawa akan menelusuri atau mencaritahu calon mantu sebelum dijodohkan dengan anaknya. Tujuannya apa? Tentu dengan kriteria bobot tersebut, orangtua akan yakin bahwa menantunya akan mampu menafkahi, mengimami dan mengasihi anaknya. Semua orangtua biasanya akan memastikan masa depan anak akan terjamin dengan baik.

Kedua, Bibit. Yang dimaksud dengan bibit adalah garis keturunan atau asal-usul. Budaya Jawa masih memegang teguh asal-usul calon menantunya tersebut. Tidak hanya dari mana ia berasal, tetapi dengan cara apa dan oleh siapa dia dididik. Dalam prinsip Jawa, kalau seorang menantu berasal dari asal-usul yang jelas dan baik, maka besar kemungkinan anak tersebut baik.  Demikian juga sebaliknya, bila dari keturunan yang kurang baik, bisa jadi calon tersebut juga tidak baik.

Ketiga adalah bebet. Bebet itu artinya cara berpakaian. Mungkin saat ini, prinsip menjadi pro dan kontra. Namun dalam budaya Jawa, cara menilainya berdasarkan cara dia berbusana. Tersebab cara seseorang menampilkan dirinya merupakan gambaran dari apa yang ada dalam diri orang tersebut. Walaupun tidak seratus persen betul namun berpakaian sopan, rapi dan bersih adalah cermin dari sikap diri. Orang Jawa meyakini hal tersebut. Setidaknya orang Jawa akan menarik kesimpulan tentang hal tersebut saat pertama kali bertemu.

Lalu bagaimana sebaiknya sikap kita? Sebagai orang muslim, ada baiknya kita tetap berpegang teguh terhadap sabda Nabi dan Rasul kita. Walaupun kita atau calon kita orang Jawa, kita tetap berpegang teguh dengan ajaran Islam. Menurut Penulis, budaya Jawa masih memiliki beberapa kekurangan soal jodoh. Kekurangan tentang rajin tidaknya ibadah yang tidak disinggung. Padahal tingkah laku seseorang bisa diukur dari baik tidaknya ibadah seseorang. Jadi ada baiknya kita menganut prinsip memilih jodoh ala Islam. Apa saja sih prinsip atau kriteria memilih jodoh secara Islam.

Seperti dalam sebuah hadis Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda

Perempuan dinikahi karena empat faktor. Karena hartanya, nasabnya, kecantikannya dan karena agamanya. Maka menangkanlah wanita yang mempunyai agama, engkau akan beruntung.” (HR Bukhari, Muslim, Al Nasa’i, Abu Dawud Ibn Majah Ahmad ibn Hanbal dan Al Darimi dalam kitabnya dari sahabat Abu Hurairah ra).

Dari hadis di atas, jelas bahwa patokan utama seorang muslim memilih pasangan adalah agamanya terlebih dahulu. Kemudian hartanya, nasabnya (keturunan) dan terakhir kecantikan. Melihat perbedaan dalam memilih jodoh, aturan Islam lebih komplit dan baik. Dalam Islam, agama ditempatkan sebagai syarat nomor satu dalam memilih jodoh. Oleh karena itu, bila agamanya bagus maka akhlaknya juga bagus. Dengan modal agama yang bagus, bukan tidak mungkin mereka menjadi berjodoh di dunia dan akhirat.

Bagaimana dengan hartanya? Apakah itu perlu dan penting dipikirkan dalam memilih jodoh? Ya, itu penting. Paling tidak calon pasangan kita memiliki perkerjaan sebagai sumber nafkah. Apa jadinya bila calon pasangan kita (baca: laki-laki) tidak mempunyai pekerjaan? Atau calon imam kita tidak mempunyai penghasilan? Mungkin satu, dua atau tiga bulan rumah tangga tersebut bisa bertahan. Namun bulan-bulan berikutnya atau tahun-tahun berikutnya, apakah masih bisa bertahan? Di situlah, pasangan tersebut sering merepotkan orangtua atau mertua. Jadi kemampuan finansial atau harta cukup penting dalam memutuskan seseorang diterima atau tidak.

Banyak rumah tangga berantakan disebabkan oleh faktor ekonomi. Bisa jadi saat pertama, cinta telah bicara sehingga materi tidak dipikirkan. Namun saat mengingatkan janji sehidup semati, semua kebutuhan membutuhkan uang. Keperluan rumah tangga yang remeh-temeh sampai keperluan yang penting memerlukan dana. Itu belum ditambah dengan anak-anak. Saat keluarga bertambah maka kebutuhan juga bertambah. Betapa hidup semakin repot dan banyak keperluan. Oleh karena itu, dalam Islam harta atau ekonomi atau pekerjaan dijadikan kriteria untuk memilih pasangan.

Selanjutnya adalah nasab atau keturunan. Banyak orang-orang yang hidup di pesantren, cara mendapatkan pasangan karena dijodohkan. Biasanya kyai atau ustad/ustadzah yang memilihkan sebab mereka orang-orang yang winasis. Para pemuka agama tersebut sudah mampu dan mengetahui tentang nasab seseorang. Apalagi lumrah di kalangan alim ulama menjodohkan anak-anak mereka. Hal itu terjadi kenapa? Karena mereka yakin dengan nasab atau keturunan masing-masing. Keturunan atau asal-usul yang baik akan menurunkan atau memberikan keturunan yang baik. Begitu pun sebaliknya.

Hal ini hampir sama dengan kriteria dalam budaya Jawa. Orang Jawa sering menyebutnya bibit atau keturunan. Bibit yang baik akan menghasilkan pribadi yang baik. itu yang telah diyakini. Jadi bila Anda akan memilih pasangan hidup, selidiki terlebih dahulu asal-usul calon pasanganmu. Hal ini untuk memastikan bahwa nasabnya dari orang yang baik dan bertanggungjawab. Makanya mencari pasangan atau jodoh tidak perlu buru-buru. Slowly but surely. Pelan tapi pasti. Namun ingat jangan memakai prinsip “koleksi lalu seleksi.” Manusia bukan barang yang bisa dikoleksi, kemudian tinggal diseleksi. Jangan lakukan itu.

Kriteria terakhir dalam memilih jodoh adalah kecantikan atau ketampanan. Kecantikan dan ketampanan dimaknai memiliki sosok yang sempurna. Itu artinya memiliki jasmani yang lengkap. Kalau soal cantik atau tampan itu relatif. Tersebab dalam hidup berpasangan yang penting adalah cocok. Perasaan ‘klik’ antara satu dan lainnya. Atau bisa juga yang dimaksud cantik atau tampan adalah inner beauty. Kecantikan hati ini perlu dipikirkan saat memutuskan dia layak menjadi pasangan hidup atau tidak. Jadi kecantikan atau ketampanan itu perlu. Kalau pun calon pasanganmu tidak cantik atau tampan secara fisik, maka tetap utamakan kepada agamanya.

Agamalah yang dijadikan patokan pertama saat memutuskan. Kalau pada akhirnya, calon jodoh kamu kok cantik atau tampan, berarti itu bonus buat dirimu. Ingat. Cantik atau tampan jangan dijadikan patokan utama memilih pasangan. Jangan hanya karena cantik atau tampan, terus kamu ngebet jadian. Jangan ya? Pikirkan masa depanmu. Pikirkan kehidupan jangka panjang. Jangan kejar kesenangan sesaat. Ini memilih pasangan hidup ya, bukan pasangan sandal.

Nah, begitulah beberapa tips memilih jodoh. Dari suku apa pun dirimu, termasuk suku Jawa, bila kamu muslim/muslimah maka ikutilah kriteria yang Islami. Sebab aturan itulah yang paling komprehensif dan sesuai di segala zaman. Yakinlah bahwa aturan agama Islam itu dinamis dan tidak lekang oleh zaman. Apalagi masalah jodoh, yang termasuk masalah yang sakral. Maka tetap seksama dan sesuai aturan agama. Semoga kamu yang belum menemukan tulang rusuknya, semoga disegerakan. Amin.

Ditulis Oleh: Joko Sulistya

Reviewer: Nurul Chomaria

Referensi

Amini, 1997. Kiat Mencari Jodoh. Jakarta. Lentera Basritama

Ismail, M. Syuhudi. 1994. Hadis Nabi yang Tekstual dan Kontekstual. Jakarta. Bulan Bintang

Baca Juga:   Cara Enak Menulis Cerita Anak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *