Melanggar Aturan Itu Menyenangkan

sumber: google image

 

Ada pepatah (enggak jelas) mengatakan, “sebuah aturan dibuat untuk dilanggar.” Pernyataan ini menarik! ada kesan menantang di dalam kalimat tersebut. Tantangan untuk si pembuat, juga untuk orang yang dikenai aturan. Ada anggapan bahwa tantangan dalam melanggar aturan melahirkan sebuah kesenangan. Tentu ini hanya bisa dirasakan oleh orang yang sudah biasa melanggar aturan. Yaitu kesenangan saat melanggar aturan dengan sengaja.
Faktanya, saat ini banyak orang yang terlihat biasa saja ketika didakwa melanggar aturan. Bahkan banyak juga yang masih ngotot membela diri, berkelit, berusaha agar bisa lolos dari jerat sanksi yang akan diberikan. Jangankan meminta maaf, mengakui kesalahannya saja enggak mau.
Apakah kesalahan itu mereka sengaja atau hanya sekadar efek mudah lupa?
Beberapa waktu yang lalu, saya ditilang polisi karena dianggap melanggar aturan lalu lintas. Memang saya akui, saya melanggar. Mengenai unsur kesengajaan atau efek lupa, mari kita telaah dari kronologi kejadiannya.
Ketika istri saya tidak sempat menyiapkan sarapan, biasanya saya membeli lauk untuk sarapan. Karena jarak warung dengan rumah kontrakan saya cukup dekat, saya naik motor tanpa memakai helm. Meskipun melewati jalan raya, tapi saya hafal betul di jam-jam 06.00 – 07.00 tidak ada polisi di jalur yang saya lewati. Kurang lebih sejak awal tahun 2017 saya wira-wiri di jalur itu. Tidak ada masalah sama sekali. Aman, tidak pernah kena tilang.
Barangkali, hari itu adalah hari yang sengaja dihadirkan untuk menyadarkan saya. Saya dicegat Pak Polisi karena mengendarai motor enggak pakai helm, enggak bawa SIM, dan tanpa STNK. Apa saya sengaja? Tentu saja kalau saya tahu Pak Polisi bakal mangkal sepagi itu, pasti saya sudah pakai perlengkapan komplit sebelum berkendara. Atau saya pilih jalur alternatif lain, lewat tengah kampung misalnya. Sengaja sih enggak, mungkin karena sudah terbiasa begitu. Jadi seolah-olah sudah enggak peka lagi soal aturan lalu lintas. Lebih pasnya menyepelekan aturan lalu lintas. Karena saya lakukan berkali-kali hingga akhirnya jadi kebiasaan dan enggak sadar bahwa yang selama ini saya lakukan adalah bentuk pelanggaran.
Mari kita bawa bentuk pelanggaran ini dalam konteks berjamaah. Pernah ikut konvoi kelulusan sekolah anak SMA? Seragam dicorat-coret, disobek, motor dipreteli, lalu keliling kota ramai-ramai enggak peduli pakai helm atau enggak. Pasti ada perasaan senang bagi yang pernah mengalami. Jujur saja, Gaes. Hehe ….
Melanggar aturan secara berjamaah kayaknya ada efek mendatangkan rasa senang. Meski tahu akibat apa yang mungkin terjadi, tapi tetap saja dilakukan. Sisi sensasi dan tantangannya sepertinya lebih kuat ketimbang rayuan malaikat yang menawarkan kenikmatan surga. Akhirnya melanggar aturan ramai-ramai bisa jadi tren gaya-gayaan kid zaman now.
Itu baru kesenangan yang sifatnya kecil-kecilan. Sebatas mencari kepuasan batin yang mungkin enggak ada dampak buruk yang merugikan orang lain. Nah, mari kita naikkan lagi bentuk pelanggaran berjamaah yang amat sangat menyenangkan. Pelanggaran seperti apa itu?
Iya, fenomena korupsi. Ini contoh paling nyata yang sehari-hari bisa kita saksikan ramai dinyinyirkan di media pemberitaan. Korupsi jelas sebuah bentuk pelanggaran atas sebuah peraturan. Levelnya sama dengan pencurian. Kalau yang dikorupsi jumlahnya banyak, ya bolehlah masuk kategori perampokan. Intinya saya menangkap seperti ada secercah kesenangan dalam raut wajah pelaku tindak pidana korupsi. Bagaimana tidak? Yang baru ditetapkan tersangka saja masih bisa bermain drama, apalagi yang sudah rampung menjalani hukuman, mereka tampak hidup enak dan bahagia. Keluarganya makmur semua.
Saya teringat ketika zaman masih wira-wiri ngurus KTP, bikin surat keterangan berkelakuan baik, atau surat-surat lain yang harus melewati birokrasi dusun hingga kecamatan. Waktu itu ada yang namanya uang administrasi. Secara aturan sih enggak pernah melihat versi tertulis yang disahkan sebagai regulasi pemerintah. Kalau memang diwajibkan bayar administrasi kan seharusnya ada regulasinya, terus ada sosialisasi ke warga. Baru dijalankan sesuai prosedur yang ditetapkan.
Mungkin karena sudah kompak, dijalankan secara berjamaah, warga pun akhirnya menganggap begitulah prosedur urus surat-surat. Ada biaya administrasi tambahan yang harus dibayar. Ini tidak hanya berlangsung di level desa saja, tapi terjadi juga ketika mau bikin SIM, pembayaran pajak kendaraan, dan juga pajak-pajak lainnya. Si wajib pajak butuh keringanan, lalu muncul oknum yang memanfaatkan. Hal seperti ini menjadi semacam kebiasaan yang dibenarkan meskipun belum tentu jelas kebenarannya.
Selama tidak ketahuan, mereka senang-senang saja. Yang penting urusan beres dan sama-sama untung. Aturan pun seolah dibingkai dalam figura lalu dipajang di ruang tamu. Hanya sebagai hiasan saja.
Kalau pendidikan dan pembiasaan sadar hukum tidak dimulai sejak dini, saya rasa akan semakin banyak orang yang menyepelekan aturan. Semakin banyak yang menganggap bahwa melanggar aturan itu merupakan sebuah tantangan yang menyenangkan. Sehingga seolah-olah tindakan itu dianggap biasa dan tidak perlu dikawatirkan.
Hal paling sederhana yang bisa dilakukan adalah membiasakan bertanya dasar aturannya. Misalnya ketika kita urus KTP, cari tahu aturannya bagaimana, harus bayar berapa, alurnya bagaimana. Atau ketika ditilang polisi, berani enggak tanya prosedur dan dasar aturannya? Bagaimana jika bayar di tempat, jika sidang, atau hal-hal lainnya? Kalau kita tahu aturan, minimal kita tahu wilayah-wilayah mana saja yang enggak boleh dilanggar.
Setelah tahu dasar aturannya kemudian berkomitmen untuk menjalankan. Sama kayak kita Sinau ilmu agama, setelah tahu ilmunya wajib diamalkan. Biar enggak sia-sia. Ya, minimal kita hargai para wakil rakyat yang sudah susah-susah dan menghabiskan banyak anggaran untuk membuat produk hukum. Biar amal ibadah mereka enggak sia-sia. Namun, yang paling penting komitmennya memang berasal dari dalam hati kita masing-masing.
Setelah berkomitmen, langkah selanjutnya adalah memberi contoh atau menjadi role model bagi orang lain dalam hal taat aturan. Nah, ini yang paling sulit. Menjadi contoh yang baik bagi orang lain. Bikin surat keterangan miskin aja nembak, bagaimana bisa jadi role model. Hahaha ….
Melanggar aturan mungkin memang menyenangkan, tapi tidak kekal. Senangnya paling pol ya saat pelanggaran itu dilakukan. Selebihnya bakalan datang teror rasa bersalah, was-was, dan rasa tidak tenang. Yang paling parah tentu mengenai catatan amalan kita yang akan dibawa ke akhirat. Jangan sampai kita terlanjur merasa senang ketika yang dilanggar adalah aturan atau syariat islam.
//–//
Ditulis oleh: Seno NS, founder Blogerclass.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *