Matematika Kehidupan

sumber: google image

Hampir di setiap akhir shalat, Ibu Mae tergugu, menahan isak tangis dalam dekapan kedua belah tangannya saat merangkaikan doa dan harapannya. Mata basahnya tertuju pada potret tiga dimensi seukuran papan tulis yang terpampang di hadapannya. Potret Ka’bah-lah yang memicu tangisnya, tangis kerinduan nomor satu selain rindu pada almarhum suaminya.
Semenjak kepergian suaminya, Ibu Mae harus puas dan tak putus rasa syukurnya dengan uang pensiunan pegawai negeri dari mendiang ayah ketiga anaknya. Nilainya jauh lebih sedikit dibanding saat almarhum masih hidup. Tapi itupun sudah dia anggap sebagai pemberian cuma-cuma yang tak ternilai harganya. Bapak sudah tidak ada, tapi masih menghidupi saya.  Alhamdulillah…. Demikian bisikan syukur yang selalu menghiasi benaknya.
Ibu Mae sudah melewati masa naik turun dalam kehidupan berumahtangga.  Dia setia mendampingi suaminya, sejak masih menjalani pendidikan sarjana muda di Bandung.  Saat itu mereka tinggal di sebuah kamar kontrakan kecil dengan Fitria—anak perempuan pertama mereka.
Jatah beras dengan kualitas sedang yang mereka terima, mereka kumpulkan untuk dijual dan uangnya dipakai untuk membeli beras yang lebih murah.  Dari situ mereka bisa menabung, untuk biaya-biaya tak terduga, semisal Fitria harus ke dokter atau keperluan mendadak lainnya.
Selesai masa pendidikan, mereka kembali ke kampung suami.  Dan tak lama Ibu Mae mengandung anak kedua.  Namun minimnya fasilitas dan pengetahuan tenaga medis di kampung, membuat mereka harus merelakan bayi mereka meninggal satu hari setelah dilahirkan.  Konon dari keterangan bidan – bayi mereka keracunan ketuban.  Bagaimana tidak, ketuban sudah pecah justru ditinggal belanja ke pasar oleh sang bidan.
***
Luka hati Ibu Mae berusaha diobati oleh suaminya dengan mengajaknya pindah ke sebuah kota kabupaten.  Jabatan baru sebagai Kepala Dinas seolah menjadi penghiburan untuk Ibu Mae.  Hati yang senang, raga yang sehat membawanya pada harapan baru, pada anak ketiga yang di kandungnya dan disusul lahirnya anak ke empat – tiga tahun kemudian.
Kurang lebih selama satu dekade Ibu Mae merasakan kehidupan berumahtangga yang lebih baik.  Status sosial sebagai istri Kepala Dinas membuka pintu pergaulannya dengan kalangan istri-istri pejabat.  Pengalamannya tidak lagi sekedar memanen cabai dan cengkihseperti saat tinggal di kampung mertuanya dulu.  Tapi juga lambat laun dia belajar bagaimana menjadi seorang event organizer untuk acara-acara yang diadakan di Kabupaten, atau mendampingi suami melakukan kunjungan ke daerah-daerah bencana.  Ibu Mae pun belajar mengenal karakter orang-orang dengan latar belakang status sosial yang berbeda-beda.
Namun keluarga mereka harus berhadapan dengan pilihan, ketika suami Ibu Mae terdiagnosa menderita kanker hati atau liver.  Untuk pemeriksaan dan treatment lanjutan akan lebih baik jika dilakukan di Semarang, di rumah sakit yang lebih besar, dengan fasilitas kesehatan dan tenaga medis yang lebih canggih.
Satu lagi yang menjadi alasan mereka sebagai orangtua mengapa harus mengambil keputusan pindah ke Semarang, yaitu pendidikan anak-anak.  Kalau ingin lebih banyak pilihan hingga jenjang universitas, ibukota propinsilah tempatnya.  Meski sebagai konsekuensinya, suami Ibu Mae harus ikhlas melepas jabatan Kepala Dinas dan menjadi Kepala Bagian biasa.
***
Suami Ibu Mae dengan kesehatan yang menurun mulai menjalani pengobatan disela pekerjaannya.  Anak-anak sudah mulai masuk sekolah negeri tidak jauh dari perumahan tempat tinggal mereka.  Kehidupan terlihat berjalan seolah tanpa ada perubahan berarti.  Tapi tidak bagi Ibu Mae.
Sebelumnya mereka tinggal di rumah dinas yang biaya listrik, air dan telepon ditanggung oleh kantor dan tanpa biaya sewa.  Sekarang pos-pos biaya tersebut harus ditambahkan dalam catatan kas rumah tangga.  Belum lagi urusan kesehatan suaminya yang semakin mengkhawatirkan.
Satu bulan setelah kepindahan mereka, suami Ibu Mae mengalami pendarahan organ dalam yang mengharuskan untuk menjalani satu rangkaian operasi besar.  Pendarahan lambung menyebabkan organ tersebut harus diperkecil volumenya dan mau tidak mau harus melanjutkan hidup tanpa satu organ penting lainnya yaitu limpa.
Pada akhirnya episode awal dari sakit yang diderita suami Ibu Mae pun selesai setelah hampir satu bulan lamanya menjadikan RS. Kariadi sebagai rumah keduanya.  Sementara ketiga anak mereka beraktivitas seperti biasa, sekolah dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dengan pengasuh yang setia ikut dengan keluarga mereka meski berpindah-pindah kota. 
Ibu Mae membatasi kehadiran anak-anak ke rumah sakit untuk menengok bapak mereka karena tidak ingin anak-anak trauma menyaksikan bagaimana suaminya bertahan di antara ambang hidup dan mati di ruang ICU, di tengah pasien-pasien gawat lainnya, dalam belitan kabel-kabel yang terhubung dengan mesin yang tak henti mendesiskan suara-suara, apakah pasien ini masih hidup atau tidak lagi.
Dan ketika hari kepulangan ke rumah tiba, mereka sangat mensyukurinya, meski kepala keluarga mereka tidak lagi segagah dulu, karena liver dan lambung yang robek hanya menyisakan selapis daging di atas tulang-tulangnya.  Tinggallah kini bapak mereka yang tirus, kurus dan tidak lagi tegap.  Seakan kedua bahunya yang kini tampak menekuk ke depan tengah menanggung beban yang tak terkira.
***
Ibu Mae mengisi hari-harinya yang tidak lagi disibukkan dengan urusan dinas dengan mengembangkan hobinya, memasak.  Mulai dari katering harian untuk tetangga-tetangga kompleknya, rempeyek kacang dan kue kacang sampai jamu beras kencur dan kunir asam yang dititipkan ke warung-warung tidak jauh dari rumah mereka.
Dia mengerjakan hampir sebagian besar di proses produksinya, kemudian anak-anak yang mengemas dan mengantarnya ke pelanggan dan warung-warung.  Tidak ada yang berpangku tangan di rumah mereka, apalagi si bibi yang sudah ikut sejak si bungsu lahir dengan berat hati berpamitan untuk menikah.  Sekarang tinggal ada Ibu Mae dan anak-anak.  Bahu membahu memperkuat tiang ekonomi keluarga mereka.
***
Kesehatan suami Ibu Mae yang katanya tidak akan pernah sembuh benar membuatnya harus kontinyu mengkonsumsi obat-obatan dari dokter. Dan ada saatnya tubuh rapuh itu menyerah, memaksa untuk dirawat intensif di rumah sakit.
Dari frekuensi tiga tahun sekali, hingga harus beberapa kali opname dalam satu tahun.  Dan setiap kali terjadi, Ibu Mae yang meluangkan seluruh waktunya untuk menunggu sang suami di rumah sakit.  Lelah fisik dan psikis membuatnya lupa, hingga terasa ada keanehan dalam irama tubuhnya dan setelah diperiksa, vonis sakit jantung menghantui keluarga mereka.
Giliran anak-anak yang sudah semakin dewasa yang harus struggle disela-sela kesibukan studi mereka.  Bapak dan ibu mereka bergantian menghabiskan beberapa hari di ranjang rumah sakit.  Banyak waktu, tenaga, perhatian yang harus disesuaikan.
Sampai pada penghujung waktu bagi suami Ibu Mae, ketika tubuhnya tidak lagi sanggup bertahan, sang kepala keluarga pun harus pergi saat putra bungsu mereka belum lagi menyelesaikan studi sarjananya.
Dengan uang pensiun yang tidak seberapa, Ibu Mae mempertahankan kemudi perahu keluarganya.  Beruntung dua anaknya sudah bekerja, bisa membantu sedikit demi sedikit keuangan keluarga mereka.  Bahkan si bungsu sudah sejak awal kuliah membantu sedikit biaya kuliahnya dari gajinya sebagai tenaga part time di sebuah restoran cepat saji.  Keluarga Ibu Mae pun bahu membahu saling menjaga stabilnya laju perahu mereka.
***
Siang itu, Ibu Mae ditemani anak keduanya tengah menghitung uang tanda kasih di hari pernikahan anak bungsunya.  Ya, anak laki-laki semata wayangnya itu justru menemukan jodohnya terlebih dahulu daripada kakak-kakak perempuannya.
“Setelah dikurangi yang harus dilunasi, masih ada sisa segini, Bu.”
Ibu Mae menatap angka empat setengah juta yang ditunjuk oleh anaknya.
“Ditabung saja ya, Mbak, tapi pasti habis juga nanti uangnya.  Ibu ingin uang ini bermanfaat.”
Setelah diam beberapa saat, putrinya itu memberikan pendapatnya.  “Kalau untuk buka tabungan haji gimana, Bu?  Kan, uangnya nggak bisa kita ambil-ambil.”
Ibu Mae sejenak meragu.  “Tapi haji kan besar sekali biayanya mbak.  Uang darimana?”
Tangan putrinya menepuk lutut ibunya.  “Aku pernah dengar nasehat Bu, katanya kalau ingin punya kambing, kita buat kandangnya dulu, nanti kambingnya akan menyusul.  Buat pemancing.”
“Anggap saja ini wujud niatnya Ibu untuk berangkat naik haji.  Ibu sudah ingin sekali sejak lama, kan?  Rekening haji ini insyaAllah jadi rumahnya, untuk memancing isinya datang, entah kapan.  InsyaAllah ada jalannya, kalau kita meluruskan niat.”
Ibu Mae pun mengangguk takzim dalam isak tangisnya.
Subhanallah…, bahwa anak adalah lentera penerang jalan kedua orangtuanya memang benar adanya.
Sejak itu Ibu Mae memperbarui tujuan hidupnya.  Dalam doa diakhir shalat, kedua matanya tak lepas dari potret Ka’bah di hadapannya.  Dalam setiap langkah aktivitasnya, hatinya selalu tertuju ke Baitullah.
Dua tahun sejak membuka tabungan haji, jumlah saldo rekening Ibu Mae sudah memenuhi syarat untuk mendaftar haji.  Ibu Mae mendapat kursi keberangkatan di tahun 2013.
“Lama, ya, masih empat tahun lagi.”  Rasanya tak sabar ingin segera menginjakkan kaki di Tanah Suci.
“Sabar Bu, anggap saja ini waktu yang diberikan Allah untuk kita melunasi kekurangan biayanya, kan?”  ujar utrid keduanya yang menemaninya kala itu.
***
Lalu siapa sangka, belum sampai empat tahun, di tahun 2011 Ibu Mae mendapat panggilan untuk pemberangkatan haji di tahun 2012.  Segalanya bagaikan mimpi.  Seluruh biaya pun telah terlunasi.  Semuanya karena kebesaran Allah yang mencukupkan rejeki Ibu Mae serta anak menantunya.
Ibu Mae dengan keluasan hatinya, kesabaran dan ketaatannya pada Allah telah menuai wujud dari pengharapannya.  Seumur hidupnya selama berumahtangga tidak pernah sempat uangnya berhenti sejenak di rekening tabungannya.  Untuk biaya rumah sakit, biaya sekolah anak-anak, modal warungnya yang sering kali harus ikut terpakai untuk kebutuhan sehari-hari, semua itu nol bahkan minus jika dituangkan dalam rumus matematika di atas kertas.  Berhutang dan menggadaikan hartanya yang tak seberapa pun pernah Ibu Mae lakukan.  Semua demi seimbangnya kemudi kapal di tengah gelombang kehidupan.
Apa yang dijalani Ibu Mae adalah matematika kehidupan, yang rumusnya hanya berupa perjanjian antara Ibu Mae dan Allah semata.  Bahwa manusia mempunyai harapan itu harus, dan ikhtiyar untuk mewujudkannya itu wajib.  Asalkan dalam ikhtiyar kita tetap lurus niat di jalan Allah maka atas kuasaNya, harapan itu akan menjadi nyata di waktu dan dengan cara yang tidak pernah bisa kita bayangkan sebelumnya.


//–//
Ditulis oleh: Oky E. Noorsari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *