Mantan Pacar Suami adalah Sahabatku

Aku tidak pernah berpikir bahwa mantan pacar suami ternyata bisa menghancurkan banyak hal. Mungkin saja karena aku membiarkannya hancur. Tapi, kau akan melihat, siapa yang menghancurkan atau hancur, setelah membaca kisahku.

Diana adalah sahabatku sejak kecil. Aku tentu saja tidak menuliskan nama yang sebenarnya. Kami biasa bermain bersama, berangkat sekolah bersama, dan duduk pun selalu satu bangku. Bila sudah pulang sekolah, kami bisa bergantian tempat makan, kadang, aku makan di rumahnya, dan sebaliknya. Kami terus begitu hingga seragam berganti menjadi putih abu-abu.

Satu hari, aku mendapati Diana berubah. Dia sering tersenyum sendiri, dan mulai jarang bersama denganku. Dia sering terlihat melamun, dan seperti memikirkan sesuatu.

“Kamu kenapa sih kok jadi aneh?”

“Aneh gimana?”

“Kamu suka senyum-senyum enggak jelas!”

Kemudian berlompatanlah cerita dari mulutnya bahwa dia sekarang memiliki pacar. Orangnya adalah kakak kelas kami. Rumahnya tidak terlalu jauh. Kalau mau ke sana, dari tempat kami, cukup naik bus sekali, dan turun persis di depan rumahnya. Aku tahu itu, karena ibu dari pacar Diana adalah tetanggaku. Rumah orangtuanya ada di dekat rumah kami.

Aku belajar memaklumi Diana, hingga kami pun berpisah saat menuntut ilmu di perguruan tinggi. Diana pindah ke kota yang jauh dari tempat tinggal kami, dan aku kuliah di kota yang dekat dengan rumah—kota kabupaten tempat tinggalku.  Komunikasi kami juga tidak sesering sebelumnya, termasuk curhatan tentang pacar.

Aku menjalani hari-hariku, dan Diana menjalani kehidupannya. Mungkin begini bila manusia sudah semakin bertambah bilangan usia, akan lebih sedikit intensitas kebersamaan dengan sahabat masa kecil.

Ketika hampir lulus, aku mendapat kabar, bukan dari Diana, tapi dari ibunya. Ternyata  Diana tidak diizinkan melangkah lebih jauh dengan pacarnya. Mereka tidak boleh bertunangan, apalagi sampai menikah. Ketidaksetujuan itu datang dari orangtua Diana, katanya, “Mereka itu biasa hidup dengan ingar bingar, dan kamu biasa hidup di lingkungan religius.” Ah, alasan itu tidak bisa disalahkan juga. Bukankah orangtua memang menginginkan anak-anaknya baik, aman, dan terjaga? Dan pacar Diana ini dianggap dari keluarga yang kurang bisa menjaga kehormatan. Pasalnya ibu pacar Diana adalah seorang penyanyi.

Diana pun putus dengan pacarnya dan menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Hingga satu waktu, aku mendapat undangan yang berisi pemberitahuan bahwa Diana akan menikah, padahal belum wisuda. Kabar yang terdengar katanya agar hal itu (pernikahan) lebih menjaga Diana dari pacaran yang belum jelas ke mana arahnya. Supaya ada kejelasan, maka level pun dinaikkan, hingga ke tahap pernikahan.  Utamanya karena pihak orangtua Diana saat itu setuju, dan calon suaminya berasal dari kalangan orang yang taat agama, bahkan rumahnya pun di lingkungan pesantren yang terjaga kehormatannya.

Apakah kau tahu, jika satu hari mantan pacar Dianalah yang datang padaku dan sudah jauh berubah? Ibunya sudah berhenti dari profesinya yang sebelumnya, dan Farhan (bukan nama sebenarnya) meminangku? Bahkan, saat ini, Farhan adalah ayah dari anak-anakku?

Dari sinilah kisah kehancuran dimulai. Kau ingat ceritaku kan? Farhan dan Diana, dulu tidak bisa bersama karena orangtua Diana yang tidak merestui? Artinya, apakah antara Diana dan Farhan sudah selesai begitu saja? Sudah menutup pintu saling dekat secara sempurna? Kau akan melihatnya usai melanjutkan baca cerita ini.

“Kok Ayah pulang terlambat enggak ngabarin Ibu?” tanyaku sore itu saat Suami sedang libur.

“Lupa.”

Kata lupa ini akan terdengar biasa bila sebelumnya Mas Farhan tidak terbiasa memberi kabar padaku. Dan ini serupa penyepelean, karena biasanya dia tidak pernah lupa, bahkan kadang dia sudah memberitahu akan pulang terlambat saat berangkat kerja, dan  menelepon kembali dari kantor untuk mengabarkan hal yang sama.

Aku masih diam dan mencoba berdamai dengan alasannya, hingga suatu hari Mas Farhan lupa membawa gawainya ke kantor. Aku pun membuka chat dan ada pembicaraannya di sana dengan seseorang yang sangat kukenal. Kutelusuri huruf demi huruf dengan pelan, namun jantung berdebar kencang. Suhu tubuh terasa menghangat. Ah! Sampai juga aku pada kalimat Diana yang menjawab kalimat Mas Farhan, “Kita masih bisa dekat, karena ada teknologi.”

Aku terus menelusuri percakapan demi percakapan antara mas Farhan dan Diana. Suamiku masih menyayangi Diana, dia bahkan menyayangkan sikap orangtua Diana, dulu.

Entahlah!

Aku mendadak ragu jika aku ini seorang istri atau ibu. Jangan-jangan, aku hanya objek pelarian Mas Farhan, sementara hatinya masih terpaut dengan Diana.

Akhirnya keluar juga kalimat yang tajam dari lidahku.

“Kalau suamimu orang baik, dia tidak akan menghubungiku!”

Jawaban Diana membuat dadaku berdesir.

“Kalau kamu maksimal melayaninya, dia juga enggak bakal deh hubungi aku!”

Gelegar kalimatnya menjatuhkanku dengan sempurna. Aku seperti tidak mengenal Diana lagi. Diana bukan sahabatku lagi. Sejak itu aku tidak berkomunikasi lagi dengan Diana. Pertengkaran demi pertengkaran terjadi antara aku dengan Mas Farhan. Aku menyalahkan, dan Mas Farhan bertahan dalam merasa dirinya benar.

Diana berulangkali meminta maaf, tapi dia dan Mas Farhan masih terus berkomunikasi. Aku terbakar. Dan persahabatan yang dulu teduh, sekarang gersang, bahkan hangus terbakar, kemudian menjadi abu. Remukannya beterbangan tak tentu arah, dan terus meneror rasa percayaku pada mereka. Aku sangat sulit memaafkan Diana. S-a-n-g-a-t s-u-l-i-t!

Diana berulangkali datang ke rumahku, tapi aku belum juga bisa menerimanya dengan baik. Bagaimana mungkin aku berbaik-baik dengan orang yang melipur suami di saat kami sedang ada masalah? Dia itu ibarat duri, duri yang memiliki tunas-tunas, jadi begitu  satu ditancapkan, masih ada sisanya yang tertinggal dan membekaskan luka. Rasa yang tak kunjung selesai, dari masa ke masa. []

Kisah ini dialami seseorang yang pernah cerita kepada penulis.

***

Bisa jadi, ada di antara kita yang mengalami kisah serupa dengan Diana dan sosok ‘aku.’ Intinya, pasangan atau suami (istri) masih saling curhat dengan mantan pacar mereka. Apalagi bila sedang ada masalah dalam rumah tangga, tiba-tiba saja mereka menyelinapkan masalah itu  dengan mantan .

Beberapa potensi yang bisa terjadi saat sepasang suami-istri, atau satu di antara keduanya yang masih berhubungan dengan mantan, kemudian ketahuan pasangannya adalah;

  1. Pertengkaran.

Ini adalah hal yang wajar, jika satu tersulut cemburu (dan memang sudah fitrah bila manusia memiliki cemburu), kemudian mendapati pasangan lebih care dengan mantannya. Misalnya saja dia lebih sering menelepon mantan daripada pasangannya dengan alasan kalau pasangan kan setiap hari bertemu. Halloo! Ini bagaimaana merawat cinta kasihnya coba, jika sering telepon mantan dan berharap pasangan tentera damai terlindungi kasih tanpa ada percikan cemburu? Mungkin, nilai agama perlu dipertanyakan. Dalam Islam, jangankaan terhadap mantan, terhadap adik ipar saja diminta berhati-hati, sebagaimana dalam satu hadits dari ‘Uqbah bin ‘Amir R.A bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Berhati-hatilah kalian masuk menemui wanita.” Lalu seorang laki-laki Anshar berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat Anda mengenai ipar?” Beliau menjawab, “Ipar adalah maut (berdekatan dengannya harus berhati-hati).” (H.R Bukhori No. 5232 dan Muslim No. 2172).

  1. Saling menyakiti/ada yang tersakiti.

Bila pun diam dan tidak menunjukkan reaksi secara langsung, tapi siapa yaang tahu hatinya (satu di antara pasangan) terluka, ketika tahu bahwa pasangannya masih berhubungan dengan mantan pacar. Bukankah tugas suami-istri adalah saling menjaga agar biduk rumah tangga bisa berjalan di bawah rida-Nya?

  1. Membuka aurat (rumah tangga).

Ketika ada pasangan yang mengeluhkan tanpa henti akan kelemahan pasangannya, kekacauan rumah tangganya, maka dia sedang menanggalkan aurat. Rumah tangga kita adalah aurat yang semestinya ditutupi. Bila kemarin khilaf, maka sekarang mari lekas-lekas insaf dan memperbaiki diri. Jaga aurat kita. Kalaupun harus ada yang dikonsultasikan dari masalah rumah tangga, maka carilah ahli agama, atau seseorang yang benar-benar sudah terbukti menjaga rahasia (ustaz, psikolog, dan lainnya), bukan mantan pacar.

Dari hasil survei di akun media sosial yang pernah saya lakukan, orang-orang langsung mengingat ending (perpisahan), kondisi saat ini, dan apa yang mereka jalani dari atau bersama mantan pacar.

Ada yang mengatakan bila semua baik-baik saja ketika pasangan masih saling berhubungan, bertemu, saling curhat dengan mantan. Alangkah baiknya kembali menilik agama, bagaimana Islam mengatur tata cara, akhlak pergaulan kita dengan siapapun. []

Ditulis oleh: K. Mubarokah

Reviewer: Oky E. Noorsari

Baca Juga:   Sekotak Kasih Sayang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *