Mantan, Antara Sentuhan Surga Atau Jamahan Neraka

Mantan, menjadi begitu absurd dalam konsepsi Islam. Terlebih jika dipahami pada konteks mantan sebagai bekas pacar, akan semakin tidak nyambung, karena Islam sama sekali tidak mengenal istilah pacar-pacaran.

Apakah Islam tidak memberikan ruang pada sebuah perjuangan dalam mendapatkan pasangan? Tentu ada, karena Islam tidak pernah menafikan fitrah bagi manusia. Dalam gharizah insaniyah, diniscayakan keterpenuhiannya dengan jalan yang begitu indah, yakni pernikahan, karena fitrah dalam kategori ini berarti manusia itu butuh pendamping hidup dan kemudian bersama-sama membina rumah tangga.

Masalahnya adalah bagaimana jalan menuju pernikahan? Bagaimana bisa muncul kata mantan dalam masyarakat Islam? Kalau mantan suami, mantan istri, mantan atasan, mantan pejabat, itu lain soal. Tapi kalau mantan pacar?

Tidak ada pacar-pacaran dalam Islam. Terlebih dalam konsep pacaran yang banyak dipahami dan dipraktikkan oleh orang-orang zaman sekarang, Islam tidak menolerirnya Kenapa? Karena “pacaran” dalam konsep yang seperti itu ibarat jalan tikus menuju neraka.

Islam sudah memberikan jalan indah untuk menuju sebuah ikatan pernikahan, bernama ta’aruf. Apakah ta’aruf itu bukan pacaran? Tentu bukan, karena ta’aruf itu ada batasan-batasan syar’i-nya. Jika ingin melakukan ta’aruf, harus ada perantaranya. Bisa keluarga, teman, ustaz/ustazah tau lembaga yang dipercaya.

Tidak berhenti pada batasan perantara, jika seseorang ingin ta’aruf melalui sebuah lembaga, karena biasanya lembaga tersebut meminta orang yang hendak melakukan ta’aruf untuk mengisi data diri selengkap-lengkapnya, visi misi dalam membangun rumah tangga, dan kriteria calon yang dicari.

Proses selanjutnya pun tidak kemudian diserahkan sepenuhnya kepada dua orang yang sedang dalam masa ta’aruf, karena semua hal yang menjadi media dalam proses tersebut masih dalam pengawasan lembaga tersebut. Jika seseorang menjalani ta’aruf melalui keluarga, teman, atau ustaz/ustazah maka media yang dipakai masih dalam pengawasan mereka. Pertemuan masih dalam pengawasan perantara. Sms, hape dan media lain yang dipergunakan ta’aruf, masih dalam pengawasan mereka.

Dalam proses selanjutnya, konsep ta’aruf menjadi tidak sederhana lagi, karena paling tidak ada tiga hal yang perlu diperhatikan.

Pertama, mengenali fisik. Untuk mengenal fisik, seseorang memang harus bertemu. Namun dalam konsepsi ini ada batasan yang tidak bisa diterjang, bahwa fisik yang boleh dilihat pada seorang perempuan hanya bagian wajah dan telapak tangan. Apakah cukup mempresentasikan dua bagian itu untuk mengenal seseorang?

Menurut Ustaz Dr. Khalid Basalamah mengacu pada pendapat para ulama fiqih bahwa wajah itu adalah simbol dari kepala sampai ke perut seseorang, sementara telapak tangan adalah simbol dari perut hingga ke telapak kaki seseorang. Hal itu sudah cukup mewakili secara garis besarnya bahwa orang yang hendak dinikahinya seperti yang bisa dilihat dari wajah dan telapak tangan.

Kedua, kenali keluarga secara global. Apa manfaat mengenali keluarga? Dalam Islam, ketika seseorang mengikatkan diri pada orang lain, maka sejatinya ia sudah mengikatkan diri pada semua anggota keluarga.

Mengenali anggota keluarga, akan bermanfaat bagi pengenalan karakter dari masing-masing anggota keluarga. Ini penting, karena sifat dan pembawaan seseorang itu biasanya akan menurun. Ibarat pepatah, apel tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Meskipun itu tidak menjadi jaminan bahwa orang tua yang suka berkata kasar dan temperamen, maka otomatis anaknya juga akan begitu. Tapi paling tidak, pengenalan karakter itu itu bisa menjadi bahan perenungan dan pertimbangan dalam proses ta’aruf.

Ketiga, mengenal lingkungan. Konsepsi lingkungan bukan semata pada lingkungan tempat tinggal seseorang, tapi juga melingkupi tentang kebiasaan seseorang.

Lingkungan itu perlu dikenal, terutama bagi perempuan yang kemudian akan hidup dan menghabiskan hari-harinya di lingkungan baru, di mana calon suaminya akan memboyongnya. Sekali lagi, meski itu tidak menjamin pada kebahagiaan di kemudian hari, namun paling tidak menjadi dasar perenungan dan pertimbangan.

Konsep mengenal lingkungan juga bisa dijabarkan dalam mengenali kebiasaan masing-masing. Misal, si laki-laki biasanya suka mancing atau nonton sepakbola, atau suka travelling dan lain-lain. Tentu pengenalan kebiasaan itu akan menjadi modal bagi seseorang untuk saling memahami ke depannya.

Kalau sudah begitu, artinya konsepsi ta’arf sudah menjadi sebuah niat awal untuk menikah. Bukan hanya sekadar trial and eror dalam meliarkan sesuatu yang bernama syahwat.

Bandingkan dengan pacaran. Akan sangat jauh. Jangankan visi misi tentang rumah tangga, media yang digunakan sudah sangat liar. Bahkan cenderung berbau jahanam.

Bagaimana tidak? Orang-orang, bahkan ironisnya, anak-anak yang secara fisik dan psikis belum siap untuk berumah tangga, sudah berani menjalani proses “yang sejatinya bertujuan ke arah berrumah tangga”. Padahal dalam Islam, jika belum siap berumah tangga, jangan ta’aruf. Kalau tidak mau dilembur pasang, jangan berrumah di tepi pantai.

Nah, kenapa kemudian konsep mantan, bisa begitu indah sebagai sentuhan surga, atau kemudian menjadi begitu mengerikan sebagai jamahan neraka?

Mantan dalam balutan sentuhan surga, tentunya adalah ketika seseorang menjalani proses ta’aruf, namun dengan berbagai pertimbangan kemudian menyudahi proses ta’aruf tersebut dan memutuskan untuk tidak melanjutkan dalam jenjang pernikahan, di mana pertimbangan itu bukan semata pada pertimbangan nafsu, namun lebih pada pertimbangan agama.

Meski sebenarnya dalam hal ini tidak bisa dikatakan sebagai sesuatu yang bisa disebut mantan, namun sentuhan surga dalam prosesi ini adalah adanya niat baik untuk menjalani syar’iat Allah Swt tentang pernikahan. Adanya jalan yang baik dalam menuju prosesi tersebut dan ada keputusan yang disampaikan secara baik dalam mengakhiri prosesi ta’aruf. Bukankah sesuatu yang disandarkan pada hal yang disuka Allah Swt itu adalah sebagai sebuah bentuk pengabdian?

Bandingkan dengan pacaran. Jangankan ada perantara, pertemuan keduanya sudah begitu liar. Padahal, jika dua orang lawan jenis berduaan, maka sejatinya mereka sudah mengundang setan. Bayangkan, seberapa murka Allah Swt pada hal yang demikian.

Pantas, jika kemudian jamahan neraka, membebat pada hal yang bernama pacaran. Boncengan, padahal belum muhrim. Berduaan, padahal belum ada ikatan. Sms telepon dan komukasi dengan berbagai media lainnya, padahal itu sama saja dengan khalwat. Belum dengan melihat fisik lebih dari wajah dan telapak tangan. Na’udzubillahi min dzalik.

Maka, ketika dua orang pacaran, kemudian putus, yang lalu disebut mantan, keduanya sudah menjalani perjalanan hidup yang berbalut jamahan neraka. Bagaimana tidak? Jika semua yang mereka lalukan adalah hal yang sangat dibenci oleh Allah Swt.

Maka, mantan menjadi sesuatu yang akan membawa seseorang pada sebuah senyum dalam pengabdian, atau sebuah penyesalan dalam kedurhakaan. Semua terkembali pada pribadi masing-masing.

***

Ditulis oleh: Fahruddin Ghozy

Reviewer: Hapsari

Baca Juga:   [Cerpen] Broken Heart

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *