MAKANAN NAIK KELAS, BISAKAH? MENGAPA?

Ternyata, naik kelas terjadi juga pada makanan, loh. Kok bisa, ya? Ini akan terjadi pada makanan-makanan jadul yang dulu diremehkan dan dianggap ndeso. Makanan-makanan tersebut awalnya hanya dikonsumsi oleh kalangan bawah–misalnya masyarakat miskin pedesaan. Sekarang makanan-makanan yang tak pernah dilirik itu justeru dinikmati oleh masyarakat modern dari semua lapisan. Makanan-makanan kelas bawah tersebut, merambah ke kota-kota. Nah, inilah yang akan kita bahas pada edisi kali ini.

Dahulu, masyarakat di belahan dunia pada umumnya, pada awalnya mengolah dan mengonsumsi makanan dengan cara yang sederhana. Bahkan sejak zaman awal peradaban manusia, banyak makanan yang dikonsumsi tanpa dimasak terlebih dahulu. Beberapa makanan dikonsumsi saat segar tanpa bahan pengawet atau perasa lainnya. Lalu setelah ditemukan api, beberapa bahan makanan pun mulai dimasak, misalnya: dibakar, disembam (dimasukkan ke dalam abu panas) dan direbus. Seiring berjalannya waktu, pengolahan makanan semakin mengalami perubahan. Jenis dan rasanya pun meningkat.         

Masyarakat pedesaan di Indonesia dan beberapa tempat di berbagai negara, memiliki ciri khas makanan tersendiri. Biasanya, petani, nelayan atau buruh memperoleh bahan makanan dari lingkungan sekitar, misalnya: kebun, pertanian, sungai dan hutan. Pada umumnya, bahan makanan tersebut diolah dengan cara-cara tradisional seperti yang disebutkan di atas.  Di Italia misalnya. Pada abad ke-16, pizza dimasak di atas lempengan batu panas. Isinya pun hanya campuran tepung dan saus putih. Hal ini juga terjadi di peradaban awal Timur Tengah seperti Yunani, Israel dan Mesir. Makanan ini pada awalnya dikonsumsi oleh para petani dan pekerja tambang. Lain lagi cerita di Indonesia. Bahan makanan pokok dibuat dan disajikan pada saat itu juga. Nasi yang ditanak, ikan pepes dan sayur-mayur segar biasanya habis dikonsumsi dalam satu kali jamuan makan. Kebiasaan seperti ini, tentu berpengaruh pada kesehatan. Makanan segar tanpa pengawet mengandung banyak nilai gizi dan protein, sehingga menyehatkan tubuh.

Perkembangan zaman sangat berperan aktif dalam pola hidup masyarakat, terutama di perkotaan. Jika dulu masyarakat lebih banyak mengolah makanan dengan cara tradisional yang memakan waktu, maka saat ini makanan bisa disajikan dalam hitungan menit saja. Dengan berkembangnya teknologi, berbagai alat yang memudahkan pekerjaan pun semakin gampang didapatkan. Misalnya, saat ini sudah dikenal rice cooker, pemotong makanan, pelumat makanan, pemanas makanan dan sebagainya. Sebagian besar masyarakat perkotaan hidup dalam kecanggihan teknologi. Mereka tak membutuhkan tungku. Tidak membutuhkan kukusan untuk menanak nasi atau tidak membutuhkan arang untuk membakar. Semua serba cepat dan praktis. Dan pola hidup seperi ini, juga berimbas pada jenis makanan yang mereka konsumsi.

Kesibukan dan aktivitas yang tinggi pada masyarakat pekerja–terutama di perkotaan, menuntut gaya hidup yang serba cepat dan instan. Keadaan yang seperti ini dimanfaatkan oleh produsen makanan cepat saji. Oleh karena itu, restoran-restoran cepat saji tumbuh subur di daerah perkotaan. Humberger, pizza, sandwich, kentang goreng, nugget dan sejenisnya, inilah yang umumnya dikonsumsi. Para ahli gizi dan kesehatan sering menamakan makanan-makanan jenis ini dengan istilah junk food. Menurut mereka, kalau dikaji lebih dalam, pada umumnya makanan cepat saji memiliki kadar kalori yang sangat tinggi, rendah serat, dan miskin kandungan gizi. Nah, hal ini tentu akan berpengaruh pada kesehatan, bukan? Berbagai penyakit seperti kanker, stroke, diabetes dan lain-lain mudah datang.

Saat ini jenis-jenis junk food kian digemari oleh anak-anak–baik di kota maupun di desa. Keluarga di perkotaan yang memiliki kesibukan tinggi seringkali tidak ragu memberikan makanan yang dikategorikan sebagai junk food tersebut. Sementara beberapa keluarga di pedesaan, mencoba makanan-makanan ini sekadar ingin tahu rasanya. Atau bisa juga agar terkesan lebih modern. Mereka mengabaikan dampak negatif jangka panjang terhadap kesehatan. Kini restoran-restoran makanan cepat saji sangat mudah dijumpai di kota-kota besar, pinggiran kota dan bahkan sudah merambah ke desa-desa. Sementara itu, makanan-makanan kelas bawah justru mencoba memasuki dunia modern di perkotaan dan dikenal oleh masyarakat kelas atas.

Ada beberapa alasan, mengapa makanan kelas bawah bisa naik kelas. Mengapa makanan-makanan kaum miskin itu sekarang bisa dikonsumsi oleh orang-orang kaya. Kafe-kafe dan mal-mal di kota besar pun sekarang menjadi tempat yang nyaman untuk makanan-makanan tersebut. Kalau kita tinjau, setidaknya, ada tiga alasan yang bisa disampaikan di sini, yaitu:

  • Kesadaran Masayarakat Terhadap Kesehatan Semakin Tinggi

Banyak masyarakat modern semakin sadar akan pentingnya kesehatan. Tubuh yang sehat tidak lepas dari apa yang kita konsumsi. Hal ini menyebabkan makanan-makanan kelas bawah yang pada umumnya kaya akan gizi dan tanpa pengawet semakin diminati. Besarnya konsumsi masyarakat–terutama di perkotaan–mau tidak mau membawa dampak pada makanan-makanan kelas bawah ini. Di toko-toko, kafe-kafe dan mal-mal besar di perkotaan sekarang semakin mudah didapati makanan-makanan ini. Misal saja: gadung, nasi merah, nasi tiwul, sagu dan papeda, pepes ikan, otak-otak, tempe, tahu, sayur organik dan sebagainya.

  • Kebosanan Terhadap Jenis Makanan yang Sama

Kebosanan pada menu makanan yang itu-itu saja, bisa menjadi alasan kenapa masyarakat ingin beralih pada menu makanan lain. Pemilihan jenis makanan pun pada akhirnya jatuh pada makanan-makanan yang sebelumnya tidak poluler. Soto, nasi pecel, pepes ikan atau rawon, adalah beberapa menu yang ikut naik kelas. Bahkan tak heran, semur jengkol dan sambal pete pun mulai merambah rumah-rumah makan di beberapa kota.

  • Mengenang Masa Lalu

Alasan yang lain, adalah ingin mengenang masa lalu, misalnya: mereka mengkonsumsi kue cubit, kue semprong, kue rangi, bandros, lupis, nasi jagung, tiwul, gathot dan sebagainya. Meskipun alasan yang satu ini tidak cukup kuat dibandingkan yang lain, tetapi tidak menutup kemungkinan ikut andil dalam menaikkan kelas jenis makanan tertentu.

Apapun jenis makanan yang kita pilih, hendaknya tetap memperhatikan dampaknya bagi lingkungan dan kesehatan tubuh. Semakin baik makanan yang kita konsumsi, maka akan semain baik pula kesehatan tubuh. Selain itu, jenis-jenis makanan yang kita konsumsi hendaknya tidak menyebabkan kerusakan habitat alam dan lingkungan, seperti merusak hutan, memburu binatang dan sebagainya. Agar makanan kelas bawah semakin dikenal masyarakat, kita juga bisa membantu melestarikannya loh. Dengan cara mengkonsumsi secara teratur saja, kita sudah ikut menjaga makanan tersebut tidak punah (Redy, dari berbagai sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *