Maafkan Atas Kebencian yang Pernah Tersemat, Ayah!

Aku pernah begitu membenci Ayahku sendiri. Meski benci itu bukan benci yang membabi buta. Hanya benci. Merasa tidak terima dengan apa yang diinginkan Ayah, atas hidupku.

Ceritanya, ketika lulus Sekolah Dasar, aku ingin ekali bisa sekolah di SMP yang difavoritkan teman-teman di kampungku. Kebetulan nilaiku memang terbilang bagus. Bahkan untuk sekolah favorit itu, nilaiku terbilang lebih. Makanya, tidak heran jika aku pun ingin seperti teman-teman yang lain, sibuk mencari sekolah yang diimpikan.

Namun, rupanya Ayah berpikiran lain. Ia mempunyai rencana yang aku tidak tahu, tentang pendidikanku. Tidak peduli berapa nilaiku, Ayah menginginkanku untuk bisa masuk Madrasah Sanawiyah

“Tapi nilaiku bagus, Ayah. Sayang banget kalau di madrasah,” kilahku waktu itu.

Namun Ayah tetap bersikeras agar aku tetap masuk madrasah. Benar saja, aku pun akhirnya menuruti kemauan Ayah. Semula sih rada ogah-ogahan. Bahkan terkadang suka malu kalau ketemu teman satu angkatan waktu SD dulu yang bisa masuk sekolah di SMP favorit.

“Kamu itu bodoh. Bisa masuk sekolah favorit tapi malah memilih Madrasah Sanawiyah. Padahal banyak teman yang pingin masuk sekolah favorit.” begitu komentar salah satu temanku, saat mengetahui sekolah lanjutanku.

Aku pun berkilah, kalau itu kemauan ayah. Bukan kemauanku. Tapi temanku tetap saja menganggap aku bodoh. Terkadang jika memikirkan itu, semangat sekolahku jadi kendor.

Namun anehnya, keenggananku itu tidak berlangsung lama. Terlebih saat beberapa guru mulai mengenalku. Teman-teman di sekolah baru, juga mulai memperhitungkan keberadaanku. Jadilah, semangat itu kemudian muncul.

Tiga tahun, berjalan seperti tidak terasa. Selama itu pula, sekolahku baik-baik saja, sampai kelulusan tiba. Kembali, setelah lulus aku sibukkan dengan sekolah baru. Sebagaimana teman-teman, aku pun pingin bisa sekolah di SMA favorit. Dan kebetulan lagi, nilaiku bisa masuk. Bahkan bisa dikatakan lebih.

Sayangnya, ayah tetap bersikeras, agar aku melanjutkan ke Madrasah Aliyah. Waktu itu, aku sempat diam-diam mendaftarkan ke sekolah yang aku inginkan. Tanpa ijin dan sepengetahuan ayah. Giliran disuruh bayar, baru aku ngomong ke Ayah.

“Yah, ada duit untuk bayar pendaftaran tidak?” tanyaku, rada takut.

“Memang mau daftar di mana?” ayah balik bertanya.

“Sudah daftar, Yah. Sepertinya diterima, berdasar nilai. Cuma ada syarat yang butuh duit,” jawabku, mulai berani.

“Iya, di mana?” tanya ayah, seperti tidak begitu peduli dengan ucapanku.

“Di SMA favorit,” jawabku mantab.

“Kalau kamu merasa bisa membiayai sendiri, ya tidak apa-apa,” ujar ayah, membuatku mati kutu.

Aku terdiam. Aku tahu betul, jika ayah sudah bicara begitu, itu artinya ayah tidak mau aku sekolah di SMA. Apa boleh buat, aku pun kemudian kembali bersekolah di sekolah yang menjadi pilihan ayah.

Sama seperti waktu awal-awal di Madrasah Sanawiyah, aku ogah-ogahan. Rasanya seperti tidak berharga bersekolah di sekolah yang tidak difavoritkan murid. Terlebih masuk ke sekolah yang terkesan sekolah kelas kedua.

Namun, kembali ogah-ogahan itu tidak berlangsung lama. Saat mendapati guru-guru dan teman-teman yang asyik, akhirnya mengalir juga semangat itu. Bahkan, semangatku mulai lebih saat mendapati berbagai pelajaran yang tidak didapat di sekolah umum. Terlebih ilmu agama yang aku dapat di sekolah, kemudian bisa langsung diajarkan pada santri ayahku. Mulai berasa berguna.

Makanya, tiga tahun berjalan lancar. Banyak kenangan indah dan membahagiakan. Banyak hadiah dan cinta aku dapatkan di sekolah itu. Benar-benar terkesan.

Setelah lulus, keinginanku untuk bisa mengeyam pendidikan umum, masih menggebu. Terlebih guru Fisikaku menyarankan agar aku bisa memilih jurusan yang mentereng. Geodesi, itu jurusan yang pernah direkomendasikannya. Tentu saja saat guru memberikan ide itu, berdasar pada kemanpuan diriku. Alasan itu pun aku kemukakan pada ayah.

Sekali lagi, ayah tetap bersikeras agar aku melanjutkan kuliah di jalur yang dikehendakinya, kuliah yang bernapas Islam.

“Saya mau kuliah sambil mondok, yah. Jika diperkenankan kuliah di jujusan yang saya impikan,” ujarku waktu itu.

“Kalau kamu bisa membiayai sendiri, tidak apa-apa. Kamu kan sudah besar. Sudah merasa bisa menentukan pilihan,” jawab ayah kalem.

Kembali aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku sempat marah waktu itu. Benci sekali. Kenapa ayah tidak mau mengikuti kemauanku. Ayah tidak adil. Ayah otoriter, begitu anggapanku.

Aku pun sudah mencoba ngomong sama Ibu, siapa tahu hati ayah akan luluh. Tapi seperti yang sudah-sudah, ibu hanya makmum sama Ayah. Aku pun sempat memilih untuk tidak kuliah.

Tapi setelah aku pikir masak-masak, rasanya tidak baik jika aku melawan ayah. Toh ayah sudah begitu banyak berbuat untuk perjalanan hidupku. Makanya, aku pun akhirnya mau kuliah di UIN dan berpisah sama keluarga.

Waktu demi waktu berjalan. Banyak hal yang aku dapat di bangku kuliah, membuatku merasakan hal lain. Pertemuan dengan banyak mahasiswa dengan banyak latar belakang dan pemikiran, membuatku lebih terbuka dengan berbagai mazhab. Jangankan hanya berbeda ormas, berbeda agama pun, kemudian membuatku lebih terbuka.

Aku juga mulai senang membaca buku-buku tentang tokoh-tokoh hebat. Tentang berbagai pemikiran. Tentang berbagai agama. Di samping tentunya tentang fanatisme beragama. Yang jelas, apapun yang aku baca, kecintaanku pada Islam justru makin kuat.

Satu pengalaman yang tidak pernah aku lupakan, saat sore hari di bulan Ramadan aku pernah mudik bersama teman. Kebetulan, musala di samping rumah ustaz yang mengisi pengajian, tidak datang. Akulah yang kemudian diminta ayah untuk menggantikannya.

“Kamu tahu kan, mengapa Ayah bersikeras agar kamu sekolah yang bernapas agama?” tanya ayah selepas Salat Maghrib

“Maksudnya?” tanyaku balik.

“Karena Ayah lebih tahu ke mana seharusnya kamu. Kamu akan lebih berharga di mana pun kamu berada, jika mempunyai ilmu agama. Buktinya, para jamaah menyukai ceramahmu,” jawab ayah, yang membuatku terdiam.

Benar saja. Aku baru menyadari, betapa mulia yang telah ayah upayakan padaku. Pikiranku terlalu picik waktu itu, sehingga tidak bisa menangkap tawaran kemuliaan yang coba ayah berikan. Aku pun kemudian menangis di dekapan ayah.

Kini, ketika ayah sudah tidak ada, dan aku menjalani kehidupan yang berbalut kemuliaan, aku makin menyadari, bahwa seorang ayah tidak mungkin menjerumuskan anaknya.

Terima kasih Ayah. Maafkan anakmu yang pernah begitu membencimu.

***

Ditulis oleh: F. Ghozy

Reviewer: Hapsari

Baca Juga:   [Cernak] PETUALANGAN SI AIR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *