Literasi Kekinian

Sumber: dakwatuna.com

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SMPN 2 Bambanglipuro sudah berjalan sejak dua tahun yang lalu. Ditandai dengan munculnya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015, SMPN 2 Bambanglipuro berniat menggalakkan GLS. Pada awal tahun pelaksanaannya, sekolah kami hanya menjalankan GLS selama 15 menit. Dalam kegiatan GLS tersebut, para siswa diwajibkan membaca buku non-pelajaran, kemudian mereka membuat ringkasan.
Ringkasan ditulis pada selembar kertas dan harus dikumpulkan kepada guru Bahasa Indonesia. Setiap jenjang atau kelas ada satu pengampu literasi yaitu guru Bahasa Indonesia. Para pengampu tersebut harus membaca dan mengapresiasi 160 lembar ringkasan siswa. 160 lembar ringkasan tersebut berasal dari 5 (lima) kelas yang ada. Hal ini yang menjadi keluhan para guru bahasa Indonesia sehingga sekolah kami mengusulkan untuk ditulis di sebuah buku. Setelah ditulis di sebuah buku, yang memeriksa ringkasan mereka adalah para guru yang mengajar jam ke-3. Ide ini cukup menolong para guru bahasa Indonesia.
Kegiatan GLS ini dilaksanakan setiap hari Sabtu sebelum jam ke-3 yaitu pukul 08.20 sampai pukul 08.35. Saat jam GLS berlangsung, para siswa diminta mencari buku untuk diringkas. Setelah para siswa membuat ringkasan, mereka mengumpulkan ringkasan di meja guru. Guru yang mengajar jam ke-3 inilah yang akan memeriksa tugas meringkas siswa. Jadi para siswa tidak ditunggui saat mereka membuat ringkasan tersebut. Ini juga menjadi kendala tersendiri sebab banyak siswa yang meringkas buku yang sama dan dengan hasil yang sama.
Hal ini terjadi karena mungkin siswa bosan dan merasa minat serta bakat mereka tidak tersalurkan dengan baik. Oleh karena itu, dibutuhkan seorang guru yang mempunyai kemampuan dan kepedulian untuk mendeteksinya. Seorang guru yang mampu melihat bahwa karya siswa itu asli atau bukan, mengerjakannya dengan serius atau asal-asalan dan lain sebagainya. Di samping kemampuan, kepedulian juga dibutuhkan. Seorang guru yang peduli akan membaca karya siswa dengan antusias kemudian memberikan apresiasi, sekecil apapun apresiasi tersebut. Apresiasi bisa berupa pujian, menyebutkan nama dan lain sebagainya.
Para siswa itu butuh penghargaan terhadap hasil karya mereka. Ketidakpedulian guru inilah yang membuat GLS di setiap sekolah tidak berjalan maksimal. Kegiatan GLS hanya kegiatan formal dan yang penting jalan saja. Walaupun kami telah membuat ruang pojok baca, baik di dalam kelas maupun sudut-sudut sekolah namun belum dimanfaatkan dengan baik. Padahal kalau guru mau komitmen menggalakkan program GLS, anak-anak pasti bertambah wawasannya. Mereka akan mengetahui hal-hal lain, selain materi pelajaran di sekolah. Itulah mengapa kegiatan GLS di sekolah kami pada tahun pelajaran 2016-2017 kurang maksimal.
Akhirnya, kegiatan GLS di tahun pelajaran 2016-2017 tersebut kami evaluasi. Kami menemukan hal-hal yang kurang menggembirakan. Pertama, para guru tidak dapat memberikan apresiasi secara nyata sebab para guru tidak mengetahui buku apa yang diringkas (resume) para siswa. Pada dasarnya, untuk menilai ringkasan buku itu baik atau tidak, para guru harus mengetahui buku apa yang dibaca siswa dan guru juga harus membacanya. Dengan guru membaca, guru akan mengetahui isi buku dan kemampuan meringkas siswanya. Sehingga para siswa tidak hanya meringkas asal jadi dan asal mengumpulkan saja.
Kedua, para siswa terkungkung dengan jenis karya yang mau diringkas. Artinya para siswa harus menyampaikan sebuah ringkasan dengan bahasa yang formal dan kaku. Sebab jenis buku yang mereka ringkas sudah ada dan itu membatasi mereka untuk menulis dalam bentuk yang lain, misal jenis tulisan fiksi. Padahal kita perlu menyadari bahwa setiap individu itu berbeda. Tidak semua siswa menyukai model ringkasan yang lebih cenderung karya tulis ilmiah dan kaku.
Sebagai contoh, si A mempunyai bakat menulis fiksi namun dia harus meringkas karya secara serius dan formal. Padahal dia mampu membuat cerita yang bagus seperti cerita pendek (cerpen) dengan bahasa yang lentur dan bebas. Di sini, diketahui bahwa kemampuan siswa tidak berkembang dengan baik. Ketiga, kegiatan GLS yang berupa meringkas sebuah buku lebih dominan sebagai kegiatan yang bersifat reseptif (menerima saja) walaupun pada akhirnya siswa menyimpulkan berdasarkan pandangannya. Namun,tetap saja inti atau pokok karya bukan hasil buah pikirannya sendiri. Para siswa ‘hanya’ mengulang isi buku dengan bahasa mereka sendiri.
Di samping itu, kegiatan ini terkesan monoton dan belum bersifat produktif secara bebas. Bersifat produktif adalah para siswa membuat sebuah karya berdasarkan minat dan bakat mereka sendiri. Mereka bebas berekpresi menulis sesuai minat dan kemampuan. Mereka tidak dikekang oleh buku yang mereka baca saja. Seperti yang kita ketahui bahwa ada siswa yang mampu membuat tulisan dengan bahasa yang formal, ada siswa yang bisa membuat karya cerita pendek (cerpen), ada siswa yang hanya bisa membuat puisi dan lain sebagianya. Semua siswa mempunyai keunikan sendiri- sendiri. Oleh karena itulah, sekolah kami mencetuskan program literasi kekinian.

Literasi Kekinian

Berbeda dengan kegiatan literasi di tahun yang lalu, SMPN 2 Bambanglipuro sekarang melaksanakan literasi membuat karya (produk). Pengalaman setahun lalu menjadi pelajaran bagi kami untuk memperbaiki program yang sudah ada. Kegiatan GLS yang baru ini dilaksanakan setiap hari Sabtu, sama seperti tahun lalu. Durasi pelaksanaan bukan 15 menit seperti tahun lalu namun lebih lama yaitu 30 menit. Dengan waktu yang lebih lama tersebut, harapannya siswa bisa lebih bebas berekpresi dalam menuangkan ide dan gagasan. Walaupun waktu 30 menit itu terkadang kurang tetapi paling tidak, siswa sudah mempunyai gambaran umum atau garis besar karyanya.
Yang lebih penting lagi, karya yang mereka buat adalah karya mereka sendiri. Jadi dalam waktu 30 menit, para siswa memproduksi kata menjadi sebuah karya sesuai minat dan bakat mereka. Dari kegiatan ini diketahui siapa saja yang mempunyai bakat menulis artikel atau esai, siapa yang mahir menulis puisi, siapa yang pandai menulis cerita pendek, siapa yang piawai menulis humor dan lain sebagainya. Hal yang perlu dicatat adalah mereka mampu mengembangkan diri sesuai kompetensi yang dimiliki. Untuk menggali kemampuan dan wawasan mereka, kami selalu memberikan sebuah tema di setiap kegiatan literasi. Dengan tema yang diberikan tersebut, ide- ide mereka selalu berkembang, fresh dan up to date. Sampai detik ini, mereka masih enjoy  dalam berkarya. Bahkan mereka mempunyai karya yang lebih variatif dibandingkan ‘hanya’ meringkas sebuah buku. Lalu bagaimanakah bentuk kegiatan Literasi Kekiniantersebut?

Skema Kegiatan Literasi Kekinian

Kegiatan literasi kekinian dipandu oleh seorang koodinator. Koordinator literasi inilah yang membuat tema tulisan selama satu semester. Koordinator literasi akan menyebutkan tema pas pada hari itu, hari dilaksanakan GLS. Di kegiatan ini, tema selalu berubah setiap Sabtu.
Dengan menggunakan alat komunikasi yang tersambung di tiap kelas, koordinator literasi mengumumkan tema saat jam literasi. Melalui tema tersebut, para siswa boleh mencurahkan idenya dalam berbagai bentuk karya seperti artikel, opini, puisi, cerpen atau tulisan yang lain. Setelah mereka menulis karya sesuai passion-nya, karya dikumpulkan di meja guru. Selanjutnya tugas guru jam ketigalah yang akan memberikan apresiasi terhadap karya mereka. Adapun prosedur pelaksanaan literasi kekinian sebagai berikut;
Prosedur Pelaksanaan Literasi Kekinian
 Pertama, penulis sebagai koordinator literasi mengumumkan tema literasi setiap Sabtu. Tema yang penulis sampaikan biasanya berhubungan dengan peristiwa atau event yang sedang berlangsung di sekitar siswa atau lingkungan. Sebagai contoh, bulan Oktober ini ada beberapa event nasional dan internasional yaitu Hari Batik. Untuk mendukung batik sebagai warisan budaya, penulis menggunakan hari batik sebagai tema hari Sabtu ini, 7 Oktober 2017. Dari tema ini saja, penulis menemukan ide dari siswa yang variatif dari ‘sekadar’ puisi sampai artikel.
Kedua, setelah penulis menginformasikan tema, siswa menulis di buku literasi mereka masing- masing. Mereka diberi waktu selama 30 menit untuk membuat sebuah karya. Mereka dapat menulis jenis tulisan fiksi (puisi, cerita pendek, anekdot dan lain-lain) dan tulisan non-fiksi (artikel, esei, opini atau yang lain). Semua karya mereka tulis tangan di buku literasi. Memang menulis di buku ada sedikit kelemahan yaitu saat siswa salah menulis maka tulisannya akan kotor dan tidak rapi. Namun karena keterbatasan sarana komputer maka menulis dengan tangan adalah cara yang paling mudah dan efisien.
Ketiga, saat waktu 30 menit berakhir setiap siswa harus mengumpulkan karya di meja guru. Tidak masalah apakah karya siswa sudah selesai atau belum, yang jelas kalau waktu habis maka karya siswa harus dikumpulkan. Sama seperti tahun lalu, saat siswa menulis sebuah karya, tidak ada seorang guru pun menunggui. Ini dimaksudkan untuk memberikan ruang dan waktu bagi siswa berekpresi sebebas mungkin, yang penting mereka berkarya sesuai tema. Semua buku karya siswa diletakkan di atas meja lalu guru jam ke-3 bertugas membaca dan memberikan apresiasi.
Keempat, guru memberikan apresiasi terhadap karya siswa. Guru harus mau meluangkan waktu untuk membaca semua karya siswa. Jika waktu pelajaran jam ke-3 tidak memungkinkan untuk membaca seluruh karya siswa, guru dapat membacanya di waktu istirahat atau waktu yang lain. Pada intinya, para guru diwajibkan memberikan apresiasi terhadap karya siswa. Apresiasi ini beragam bentuknya, ada yang hanya sekadar pujian, tanda tangan sampai memberikan reward yang lain. Sementara penulis sendiri berhubung mempunyai jam ke-3 di kelas 9B maka penulis bisamemberikan reward di kelas tersebut. Reward atau apresiasi yang penulis berikan tidak selalu sama setiap Sabtunya. Kadang hanya memberikan nilai A atau tanda tangan saja. Penulis juga pernah memberikan sticker kepada 5 penulis karya terbaik. Di lain waktu, penulis juga pernah mengapresiasi karya siswa dengan memberikan sejumlah uang. Penulis juga pernah meminta siswa (yang karyanya bagus) membacakan karyanya di depan kelas, dengan harapan hal itu menjadi contoh dan motivasi bagi yang lain. Penulis selalu mengingatkan bahwa reward, terutama hadiah, jangan menjadi tujuan akhir. Sebab yang menjadi tujuan utama mereka adalah berkembangnya kemampuan menulis mereka.
Kelima, tindak lanjut dari kegiatan ini adalah kemampuan siswa dapat berkembang secara maksimal dan terarah. Dengan kebebasan menulis dan berekpresi maka siswa dapat meningkatkan kemampuan menulis. Harapan terakhir adalah kumpulan karya siswa yang masih ditulis tangan dan berada di buku dapat diketik dan dicetak menjadi sebuah buku solo. Buku solo inilah yang akan menjadi kenang-kenangan dan motivasi mereka dalam menulis. Siapa tahu juga mereka mendapat pengakuan orang lain sebagai penulis. Kalau pun itu tidak terwujud, paling tidak sekolah dapat memetakan kemampuan siswa dalam mengikuti lomba menulis. Sekolah akan mudah memilih siswa untuk mengikuti sebuah event lomba.
Itulah prosedur yang penulis lakukan di salah satu kelas yaitu kelas 9B. Menurut pengamatan penulis di kelas 9B, para siswa semakin tertarik dan senang menulis. Indikatornya adalah dari hari ke hari(setiap Sabtu), penulis menemukan bertambahnya tulisan yang bagus dan berkualitas. Awal mulai hanya 3 karya yang bagus, lalu 5 karya kemudian 10 dan meningkat terus di Sabtu berikutnya. Hal ini menyebabkan penulis sedikit bingung dalam menentukan karya terbaik di kelas tersebut. Hanya sayang, kemajuan dan suasana kondusif yang ada di kelas 9B tidak terjadi di kelas lain. Ini pernah penulis observasi dengan membaca karya di kelas-kelas lain. Ini besar kemungkinan, guru kurang berperan aktif dalam mengapresiasi dan mendukung GLS. Ini menjadi tantangan sendiri bagi sekolah untuk dicarikan solusi. Salah satu solusinya adalah memberikan kesadaran bagi para guru tentang pentingnya membaca dan memberikan apresiasi terhadap karya siswa. Seharusnya apapun dan bagaimanapun bentuk karya siswa perlu kita apresiasi dengan tepat dan baik. Jangan sampai semangat menulis siswa mengendur gara- gara para guru tidak pernah memberikan apresiasi yang baik.
Literasi Kekinian menjadi pilihan kami dalam mengembangkan minat dan bakat siswa. Walaupun masih ada beberapa kendala dalam menjalankan kegiatan ini namun sampai detik ini, literasi kekinian masih sesuai dan masuk akal. Penulis melihat betapa siswa merasa tertantang untuk mengembangkan diri. Jika literasi kekinian dilaksanakan terus menerus, bukan tidak mungkin siswa akan paham tentang hal-hal yang terjadi di dunia ini. Paling tidak siswa merasa dan ikut peduli dengan kejadian di sekitarnya. Rasa penasaran, curiuos, sebagai simbol generasi sekarang, menjadi pelengkap kemampuan mereka mengikuti perkembangan zaman dan up to date. Kejadian-kejadian di dunia dan sekitar kita menjadi hal yang biasa dan perlu mereka ketahui. Setelah mereka mengetahui, mereka dapat mengungkapkan dengan bahasa mereka sendiri. Pada akhirnya, siswa akan selalu siap dengan informasi yang terbaru dan dapat menyikapi peristiwa tersebut dengan tepat. Siswa dapat menentukan dan mengungkapkan perasaan atau pikiran mereka dengan bahasa tulis yang baik. Kemudian orang-orang akan memahami apa yang mereka coba sampaikan dengan tulisan tersebut. Mungkin bentuk sikap mereka tidak tampak namun melalui bahasa tulis dengan kaidah yang baik, kita bisa mengetahui dan itu keren sekali. Dengan bantuan guru yang peduli dengan GLS, kegiatan literasi kekinian dapat memunculkan bibit-bibit penulis yang handal. Siapa tahu juga, akan muncul Tere Liye, Boy Candra, Taufik Ismail, dan lain sebagainya. Ini harapan terbesar kami. Sedangkan harapan yang lain adalah kami mudah mencari dan memilih para penulis yang berbakat. Kami tidak akan kesulitan lagi mencari kandidat peserta lomba menulis. Apapun jenis lomba menulis tersebut. Akhir-akhir ini, kami malah sering mengirimkan banyak peserta dalam lomba menulis, termasuk untuk lomba De Literasi Dompet Dhuafa ini. Kalau dahulu kita kesulitan mencari peserta lomba menulis, sekarang kita kerepotan menyeleksi naskah siswa untuk lomba menulis. Akhirnya kami memberikan kesempatan kepada semua siswa yang memenuhi kriteria untuk mengikuti lomba menulis. Itulah manfaat literasi kekinian di sekolah kami.
 //–//
Daftar Pustaka:http://ilmupengetahuanumum.com/hari-hari-besar-nasional-indonesia/ diakses tanggal 10 Juli 2017
Ditulis oleh: Joko Sulistya. Guru dari Bantul.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *