Lima Kunci Sukses Ayah dalam Membentuk Anak Cerdas

Anak cerdas, bukan melulu merujuk pada anak dengan hasil tes Intelegency Quation (IQ) di atas rata-rata, yang nilai normalnya pada rentang 90-110. Namun, merujuk kepada semua anak yang memiliki kecerdasan yang berbeda-beda¹. Yang membedakan hanyalah karakter pembawaan anak yang terbentuk secara massif dan kuat pada usia emasnya. Tujuan itu dapat diperoleh dengan cara menitikberatkan pendidikan anak pada pembentukan karakter di usia 0-8 tahun. Dari sinilah akan terbentuk pondasi karakter yang kuat, yang akan mengantar anak menuju dewasa yang berkualitas, apapun “asesoris” yang kelak dipakaikan kepadanya.

Peran menjadi ayah hebat, tidak hanya pada saat anak sudah lahir, namun akan teruji sejak buah hati masih meringkuk hangat di rahim sang istri. Janin yang masih di dalam perut, sudah dapat membedakan rangsangan yang diberikan menyenangkan atau menyedihkan. Penting sekali baginya, berada di tengah suasana yang nyaman, selama periode pertumbuhan dan perkembangannya di dalam kandungan.

Menjadi ayah, serta merta akan dirasakan sejak istri hamil. Meski belum juga melihat bentuk maupun tampilan fisik perpaduan kedua orang tuanya. Seorang laki-laki akan semakin merasa bahwa dirinya normal dan bermanfaat, saat wajah mungil bayi, untuk pertama kali ditatapnya lekat. Dalam balutan bedong warna-warni, saat pertama kali azannya dirasa istimewa. Azan pertama yang didengar telinga kanan bayi mungil, anaknya. Tak jarang, momen azan itu menjadi momen yang begitu syahdu, dalam, serta khusyuk. Air mata menitik pertama kali, saat dengan terbata-bata nama Allah diperdengarkan di telinga anak pertamanya. Bahkan, seorang preman pun akan tiba-tiba menjadi lembut pada saat ini.

Cerita itu akan terus berlanjut dengan segala hal-hal baru. Pada minggu pertama perjumpaan, yang merupakan adaptasi antara keduanya, bayi dan ayah, akan terasa begitu seru dan menyenangkan. Namun sebagian lainnya, justru di minggu pertama ini kerap menimbulkan masalah, memunculkan sedikit ketegangan. Stres antara keduanya saling beradaptasi.

Kondisi lain, seorang ayah baru, akan merayakan ke-ayah-annya dengan berbagai bentuk euphoria. Membelikan bermacam-macam hadiah untuk bayinya. Namun, ingat, dibaliknya, ada seorang ibu baru yang rawan cemburu. Ia menuntut perhatian lebih dari ayah sang bayi. Di sinilah, peran pentingnya seorang laki-laki yang disebut ayah harus cerdas. Perhatian ke buah hati jangan sampai melukai, atau sekadar mengurangi perhatian pada ibunya buah hati. Kebahagiaan istri akan berpengaruh dominan terhadap kelancaran adaptasi bayi di tengah keluarga hangatnya. Semakin bahagia istri, semakin disayang buah hati, maka semakin bahagia buah hati, tanpa batas. Pernahkah mengalami, saat suami istri bersitegang karena hal kecil, saling mendiamkan satu sama lain, sang bayi jadi lebih rewel dari biasanya? Atau sebaliknya, saat suami istri harmonis, penuh kasih sayang, maka sang bayi pun jadi lebih tenang?

Perayaan hadirnya buah hati akan segera sirna, berganti dengan tingginya stres yang muncul, jika saja keseimbangan kasih sayang antara suami, istri dan anak, tidak segera dipertahankan. Air Susu Ibu (ASI) akan macet, jika istri sedikit saja terusik dari zona nyaman. Biarkan istri bertahan dalam zona nyamannya selama mungkin, saat adaptasi bayi masih sangat diperlukan. Akan lebih baik lagi jika kondisi nyaman keluarga dipertahankan selamanya.

Berikut ini, beberapa hal yang terangkum dalam lima kunci menjadi ayah yang sukses membentuk anak yang cerdas, dimulai sejak buah hati masih di dalam kandungan hingga dilahirkan dengan selamat ke dunia:

  1. Seberapa besar Ayah membahagiakan istri selama kehamilan

Hamil, merupakan saat yang ditunggu-tunggu oleh pasangan apalagi pasangan baru. Hal yang paling membahagiakan juga terutama bagi sang istri. Dirinya mampu mengandung anak dari orang yang dicintainya, merupakan suatu kebanggaan yang tak bisa diukur. Karenanya, kerap kali sang istri ingin membagi kebahagiaan itu dengan suami. Dengan cara sebisa mungkin suami ikut merasakan segala hal yang dirasa oleh istri. Banyak hal suka dan duka yang terjadi pada setiap perempuan hamil. Meski, masing-masing dari mereka tidak akan mengalami hal yang sama persis mengenai kehamilan itu sendiri.

Berbagi suka tentu saja begitu mudah dilakukan. Namun, adakalanya perempuan yang hamil justru mengalami ketidak enakan.  Istri ingin membaginya bersama sang suami tercinta, yang sudah menyebabkan ia hamil. Setidaknya perasaan itulah, yang kemudian menuntutnya untuk meminta perhatian lebih dari suami. Bukan manja, sebenarnya. Tetapi ingin membagi ketidak enakan, dengan harapan akan lebih meringankan apa yang dirasakannya. Dan, proses hamil pun akan berjalan dengan mudah dan lancar.

Misalnya, pada saat hamil muda, kebanyakan dari perempuan hamil akan mengalami yang namanya mual muntah, pusing, lemas, tidak doyan makan dan lainnya. Dimana itu semua memang bersifat alami, berkaitan dengan perubahan hormon yang terjadi pada setiap perempuan hamil. Seorang suami diharapkan dapat mengerti semua hal yang terjadi. Sebisa mungkin dapat ikut berempati meringankan ketidak enakan dengan cara mengeluarkan lebih banyak stok kasih sayang serta perhatiannya.

Respon yang tepat sangat diharapkan pada saat itu. Meski, seandainya sang suami tidak mampu untuk membelikan baju hamil sekali pun, bukan itu sebenarnya yang diminta oleh istri. Hanya perhatian meringankan, dan perasaan penerimaan bahwa hamil itu tidak mudah. Maka, sudah sewajarnya istri minta dukungan lebih pada suami tercintanya. Kebanyakan suami akan kebingungan harus melakukan apa saat istrinya hamil. Tentu saja, zaman sekarang sudah tidak sulit untuk sekadar mencari informasi. Begitu banyak informasi mengenai apa saja tersedia di gawai yang kita bawa ke mana-mana. Termasuk tentang kehamilan. Tinggal telaten, banyak membaca, insya Allah semua akan dipermudah.

Pun, saat istri hamil dan meminta segala sesuatu yang aneh, selama masih bisa dinalar sepertinya wajar untuk dituruti. Tahu kenapa? Karena pada saat hamil, kondisi nafsu makan memang memburuk, terutama di 15 minggu pertama kehamilan. Jadi, “keinginan” untuk memakan sesuatu, hanyalah upaya untuk memasukkan nutrisi ke dalam tubuh yang saat itu keberadaannya begitu dibutuhkan. Pada saat itu, kondisi tubuh ibu mengalami kekurangan zat tertentu², untuk menutrisi janin di dalam kandungan. Selama makanan yang diminta masih dalam batas wajar dan aman, sepertinya sah-sah saja untuk dituruti, tentu saja menyesuaikan dengan budget yang ada di kantong.

  1. Mau membacakan ayat-ayat Al-quran sejak buah hati masih dalam kandungan

Ada beberapa sumber parenting yang merekomendasikan untuk memperdengarkan musik klasik pada saat janin di dalam kandungan. Musik klasik itu diyakini mampu menstabilkan emosi dan mencerdaskan anak sejak dalam kandungan. Berbeda dengan beberapa sumber yang mengacu pada ilmu islami. Justru, memperdengarkan bacaan Alquran sejak janin berada dalam kandungan, akan membiasakan telinga janin mendengarkan kalimat tayibah. Yaitu kalimat baik yang akan berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan otak serta organ tubuh lainnya, agar tercipta dengan sempurna, atas izin Allah SWT.

Juga, kelak akan menjadikan anak tersebut sebagai pribadi yang mencintai Alquran, dan menggunakannya sebagai pedoman hidup.

Harapannya, dengan itu semua anak yang terlahir akan menjadi anak saleh saleha serta cerdas untuk kepentingan agama dan sesama muslim lainnya.

  1. Bersedia belajar menjadi seorang ayah dari berbagai acara parenting, baik online atau offline

Pada kenyataanya, angka kedatangan ayah pada acara parenting lebih sedikit dibadingkan ibu. Kenapa? Entah apa yang ada di pikiran ayah, sepertinya kemauan untuk selalu belajar sedikit berkurang. Mungkin, sebagian dari mereka merasa sudah berhasil menjadi ayah, walau hanya berbekal ilmu yang dimilikinya secara terbatas. Kemampuan bersikap, menurut para ayah sepertinya tidak perlu dibahas pada kelas apapun. Semua toh baik-baik saja, meski tidak pernah mengikuti kegiatan parenting sekali pun.

Memang, tidak sedang mengharuskan mengikuti kegiatan parenting, karena bisa saja sumber ilmu mendidik anak itu diambil dari berbagai kegiatan lainnya. Pengajian misalnya, akan sangat banyak kajian yang membahas pola asuh anak ini. Di mana pun tempatnya, acaranya, yang penting ada kemauan untuk selalu memperbanyak ilmu pola asuh anak, akan sangat membantu menyelaraskan tujuan pendidikan anak. Kekompakan antara ayah ibu akan sangat mendukung keberhasilan pola asuh anak, terutama di usia emas mereka.

  1. Menyediakan waktu yang cukup, kuantitas maupun kualitas bersama anak

Antara kualitas dan kuantitas waktu bersama anak harus sama. Kebutuhan anak tidak hanya makanan, minuman, pakaian, maupun tempat tinggal yang layak bagi mereka. Ada kebutuhan lainnya yang lebih banyak porsinya, yang kerap tidak kita sadari. Adalah, kebutuhan perhatian, kasih sayang, juga kebersamaan untuk menghabiskan waktu setiap hari bersama anak-anak.

Kebutuhan anak mengenai hal fisik memang sangat diperlukan, namun sepertinya kepentingan fisik pun tidak akan sempurna jika kepentingan psikis tidak ikut mengimbanginya.

Masa anak-anak, merupakan masa di mana seseorang akan membentuk pondasinya untuk bekal hidup selanjutnya, menjadi manusia dewasa. Pondasi tersebut akan kuat bila kebutuhan psikisnya juga terpenuhi. Masa anak-anak akan lebih banyak dihabiskan untuk kepentingan bermain, olah fisik, juga bergerak. Semua kegiatan itu, tidak akan berarti apa-apa tanpa ada kehadiran kita, setidaknya pada kuantitas dan kualitas tertentu. Di sini, peran ayah ditantang untuk mampu menjadi teman bermain yang seru bagi anaknya.

Masa anak-anak tidak akan terulang. Jika satu tahap saja terlewat dalam mendidik, maka efeknya akan dirasakan berkepanjangan oleh sang anak. Dan imbasnya, akan terasa pada bagaimana cara perlakuan mereka  terhadap kita, di kala kita sudah renta, kelak.

  1. Bersama ibu, kompak mendidik dan menguatkan pembentukan karakter pada Golden periode

Ibarat membangun sebuah rumah, maka yang dioptimalkan adalah pondasinya terlebih dahulu. Perkara kemudian mau dibuat rumah tingkat, rumah mewah, rumah sederhana, akan bisa dengan sangat mudah merealisasikannya kemudian. Sama halnya dengan mendidik anak, maka yang dikuatkan adalah pembentukan karakter. Melalui penguatan sikap yang akan menjadi pondasi pembentukan kepribadian anak. Entah nantinya anak mau jadi presiden, pengusaha, ilmuwan dan lain sebagainya. Maka, jika sikap yang kita tanamkan kuat, akan jadi apa pun kelak, insya Allah akan tetap istiqamah pada kondisi penuh tanggungjawab dan berkarakter kuat.

Pembentukan karakter ini, akan terpatri kuat sejak didikan yang kita berikan pada mereka di usia 0-8 tahun, yang merupakan usia emas. Artinya, bentuk apapun pahatan kita terhadap anak kita di usia tersebut akan membekas begitu kuat, seumur hidup anak. Hal itu diibaratkan, saat kita memahat sebuah batu, hasilnya akan tetap saja seperti aslinya, meski hingga puluhan tahun kemudian. Namun saat kita memahat air, maka hasilnya akan langsung terhapus begitu saja. Sama halnya saat kita mencoba membentuk karakter anak di usia15 tahun ke atas. Akan begitu sulit untuk mempertahankan nilai karakter yang kita bangun pada diri anak.

Membangun karakter anak, paling mudah melalui pembiasaan sikap dari kita sebagai teladan mereka, yang berpedoman pada aspek nilai agama dan moral¹.

Sikap-sikap tersebut, contohnya: nilai-nilai yang berprinsip pada kejujuran, hormat pada orang yang lebih tua, membuang sampah pada tempatnya, bersedia mengantre dengan tertib, mau berbagi dengan teman-temannya, dan sebagainya.

Pembiasaan itulah yang akan terpatri sempurna pada anak. Dan pembiasaan ini, akan sangat erat hubungannya dengan keberadaan teladan yang baik dari kedua orangtuanya.

Maka, tidak ada yang lebih mengkhawatirkan dibanding anak TK yang masih mau memukul temannya, daripada anak TK yang sekedar belum bisa baca, tulis pun hitung.

Ditulis oleh: Eka W.

Reviewer: Jack Sulistya

Daftar Pustaka:

  1. Widodo, A.S,. Materi Parenting Masjid Syuhada Yogyakarta, 2 Feb 2018. Yoggyakarta
  2. Chomaria, Nurul. 2015. Panduan Kehamilan untuk Muslimah. hal:59. Surakarta: Ziyad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *