Liburan Gratis di Pantai Patawana Fakfak Papua

Pantai Patawana (Doc.Pribadi)

Apa yang pertama kali ada di benak kita kalau bicara soal wisata Papua? Sebagian besar orang mungkin akan menyebut Raja Ampat. Tempat wisata yang lagi nge-hitsdi Papua. Ternyata tidak hanya Raja Ampat wisata keren yang dimiliki Papua, ada juga Pantai Patawana yang terletak di Fakfak, Papua Barat yang juga tak kalah keren.
Sebenarnya nuansa wisata pantai yang ada di Indonesia itu hampir sama. Bali, Gunungkidul, maupun Papua. Pasti ada pasir, air laut, pohon kelapa, dan lain sebagainya. Hehe … Kalau yang kalian temui bukan pasir dan air laut berarti kalian nyasar. Bukan sedang piknik ke pantai, bisa jadi piknik di dunia lain.
Belum lama ini saya berkesempatan jalan-jalan ke Papua. Meskipun bukan murni holiday, tapi lumayanlah bisa menikmati tempat wisata di sana. Kesempatan itu tak lain karena ada tugas dari kantor yang kebetulan mengadakan bakti sosial di Papua. Saya jadi salah satu anggota tim bakti sosial yang ikut ke Papua.
Fakfak adalah tempat tujuan tim saya. Sebuah daerah di Papua Barat yang mayoritas penduduknya muslim. Saya tidak menyangka kalau di Fakfak ternyata banyak muslim. Bahkan kalau saya bandingkan dengan di daerah pedalaman yang geografisnya mirip, muslim di Fakfak terlihat lebih taat. Padahal selama ini yang orang pahami tentang Papua adalah daerah yang penduduknya mayoritas non-muslim. Terlepas dari bahasan penduduk muslim dan non-muslim Papua, saya ingin tunjukkan salah satu pesona wisata pantai di Fakfak; Pantai Patawana.
Setelah tugas baksos kami selesai, saatnya kami menikmati sisa hari di Fakfak dengan berwisata. Karena enggak ada anggaran ke Raja Ampat, maka pantai lokal pun jadi. Kami pilih Pantai Patawana sebagai sasaran refreshing hari terakhir di Fakfak. Tentu saja itu rekomendasi dari penduduk lokal. Selain letaknya yang tidak terlalu jauh, pantai ini juga termasuk pantai yang masih alami. Belum terjamah investor asing.
Hari yang ditunggu pun tiba. Setelah selesai sarapan pagi, kami berangkat. Mengendarai satu mobil pick up dan satu SUV. Tim cewek tentu naik SUV. Sisanya hepi-hepi di mobil pick up bak terbuka.
Nggak banyak bekal yang kami bawa saat itu. Hanya dua spanduk besar untuk alas duduk, nasi, mie goreng, tahu, tempe, bumbu bebakaran, dan beberapa ikan segar. Iya, kami mau merasakan suasana piknik beneran. Nanggung, jarang-jarang bisa piknik ke Papua.
Awalnya kami sempat ragu untuk melanjutkan perjalanan. Karena beberapa menit sebelum berangkat, kami diperingatkan oleh salah seorang anggota polisi. Orang itu mendatangi kami ketika sedang sarapan di rumah Pak Mufti, salah satu warga. Orang itu bilang, jalan yang akan kita lalui adalah jalur yang rawan. Kebetulan sedang ada acara kongres kelompok organisasi yang memperjuangkan kemerdekaan. Diperkirakan masih banyak peserta kongres berada di sekitar daerah yang akan kami lalui. Bisa jadi hal ini akan mebahayakan keselamatan bagi warga luar Papua seperti kami. Kami berembug sebentar. Dan akhirnya kami putuskan tetap melanjutkan perjalanan.
Dengan bismillah kami berangkat menuju pantai Patawana. Menyusuri jalanan di Fakfak, membuat saya geleng-geleng kepala. Fakfak adalah daerah pegunungan. Jalanan berkelok naik turun. Beberapa traffic light pun menghadang di perempatan jalan tanjakan atau kadang turunan. Tergantung dari mana arah pengendara melaju. Sekilas kalau saya perhatikan, suasananya mirip seperti di Jepang. Rumah-rumah berdiri kokoh di pegunungan. Jalan berkelok serasa berkendara dalam  adegan Tokyo Drift. Tapi saya sendiri belum pernah pergi ke Jepang.
Rumah-rumah di Fakfak dibangun dengan fondasi yang kuat karena letaknya di lereng-lereng bukit. Kabarnya biaya untuk bangun fondasi bisa tiga kali lebih mahal dibanding biaya bangun rumah. Serius. Hampir nggak ada rumah yang dibangun di area datar. Kecuali di daerah jalan baru yang merupakan area pantai yang disulap jadi dataran. Hampir semua rumah bertingkat. Lantai satu di atas dan lantai dua di bawah ruangan utama.
Perjalanan menuju pantai Patawana kurang lebih memakan waktu 2 jam. Melalui jalan yang ada di sepanjang pantai. Berada di atas mobil bak terbuka membuat saya bisa meng-explore pemandangan sepanjang perjalanan. Yang menarik perhatian saya adalah pohon-pohon kelapa yang menjulang di pinggir jurang. Tingginya kurang lebih puluhan meter. Kalau dilihat batangnya ada tanda pijakan yang sengaja dibuat untuk memanjat.
Membayangkan orang manjat pohon kelapa itu saja sudah ngeri, apalagi nyoba manjat. Tinggi pohon kelapa puluhan meter, ditambah kedalaman jurang dibawahnya juga puluhan meter. Katakanlah yang manjat sudah sampai di pucuk pohon kelapa. Bisa dibayangkan berapa jarak pemanjat dengan dasar jurang? Belum lagi ini di pinggir pantai. Anginnya lebih kencang. Terlihat pohon kelapanya sering goyang-goyang. Hiiii ….
Begitu sampai di dekat lokasi pantai Parawansa kami memarkir mobil di pinggir jalan. Tidak ada lahan parkir khusus disana. Sisi seberang jalan adalah bebatuan dan rumput-rumput liar. Sedangkan sisi lainnya dipagari kawat berduri yang menutup akses ke Pantai secara langsung. Hanya ada dua  pintu untuk mengakses area pantai. Satu-satunya area parkir yang bisa digunakan adalah halaman rumah warga yang berjarak sekitar 500 meter dengan pantai.
Kami segera mencari area strategis untuk bersantai. Menggelar tikar, menata bekal, dan beberapa orang menyiapkan kayu bakar untuk persiapan bakar ikan. Saat itu masih belum terik. Sekitar pukul 10 pagi. Angin pantai bertiup tidak terlalu kencang. Langit sangat cerah sehingga langit seolah memiliki saudara kembar, hamparan laut yang sama-sama membiru.
Oh, iya. Jangan berharap akan menemukan penjual es kelapa muda, bakso, ikan bakar, atau souvenir khas Papua disana. Karena tidak ada pedagang di sekitar pantai. Tidak seperti pantai-pantai di Lombok, Bali, atau Gunungkidul. Di Patawana benar-benar masih alami. Belum disulap layaknya destinasi wisata pada umumnya.
Tidak ada retribusi untuk bisa masuk ke area pantai. Semua free. Termasuk juga tidak ada penginapan di sekitar pantai. Kalau mau menginap bisa memesan penginapan atau hotel yang ada di pusat kota. Itupun tidak semewah hotel bintang lima. Tapi sangat nyaman jika dipakai untuk ukuran backpacker.
Kami langsung menikmati air pantai. Ombak yang tidak terlalu besar membuat tenang ketika berenang. Bagi yang suka selfie, tentu saja sibuk memburu spot keindahan pantai Patawana. Hijaunya hutan bakau yang mengelilingi pantai, batang pohon yang terdampar, dan birunya hamparan laut sangat menyejukkan pandangan.

Selfie di Patawana (Doc.Pribadi)
Saat kami asyik bermain di pantai, Ibu Fenti sibuk membuat bumbu ikan bakar. Meskipun hanya ada golok, tapi tak mengurangi kepiawaiannya mengupas bawang. Golok dan bawang, wow. Ust Pihir kebagian menyiapkan ikan, sedangkan Pak Mufti menyusun kayu bakar dan menyalakan api. Pak Wahyu kebagian dokumentasi, cocok dengan profesinya sebagai orang media. Saya dan kawan-kawan dari Jogja sibuk selfie dengan spot pemandangan yang keren-keren. Saat itu tidak ada orang lain di sana kecuali kami. Jadi rasanya seperti berlibur di pantai milik sendiri. Mau berenang, berjemur, atau koprol tidak ada yang mengganggu. Main sampai puas.

Bakar Ikan di Pantai Patawana (Doc.Pribadi)

 Saya paling suka dengan pasir pantainya. Lembut banget, putih, dan bersih. Mirip seperti kulit wajah Raisa atau Syahrini. Air lautnya kelihatan biru. Batang-batang pohon yang tumbang menambah eksotis pemandangan. Beruntung sekali saya bisa menikmati keindahan pantai Patawana.

Setelah puas bermain, kami lanjut menikmati ikan bakar. Berteduh di bawah pohon, sambil memandang hamparan laut yang membiru. Ombaknya tenang, semilir anginnya melenakan. Kelelahan kami serasa terhapuskan oleh momen kebersamaan saat itu.
Di pantai Patawana kami saling berbagi. Cerita-cerita tentang Jogja, keluarga, dan apapun kami bagi satu dengan yang lainnya. Seolah kami ini satu keluarga. Memang kami diperlakukan seperti keluarga. Jelas bagi saya ini momen yang sangat berharga.
Meninggalkan pantai Patawana sama halnya menuliskan kenangan. Pun sebuah harapan tentang sebuah ikatan kekeluargaan antara kami dengan saudara-saudara di Papua. Sesungguhnya ketika kita diberi kesempatan menikmati keindahan alam ciptaan-Nya, kita sedang diuji dalam hal kesyukuran. Sudahkah kita bersyukur? Atau hanya ingat bersyukur saat datang kesenangan saja? Mari sama-sama introspeksi diri. Agar kita tidak masuk dalam golongan orang-orang yang kufur nikmat-Nya.
 //-//
Ditulis oleh: Seno NS, Founder Blogerclass.

1 thought on “Liburan Gratis di Pantai Patawana Fakfak Papua”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *