Lagu Anak yang Tak Layak

“Oh Tuhan, kucinta dia, kusayang dia ….”

“Eits, lagu apa itu?” tanyaku kepada si kecil.

“Lagu di TV,” jawabnya tanpa dosa.

Ngeri melihat kondisi sekarang ini, sangat jarang pilihan lagu yang baik bagi anak-anak. Kita sudah membatasi, TV memfasilitasi. Belum lagu Baby Shark, haduh. Kuwi lagu opo? Bukan meremehkan lagu tersebut, tetapi sampai detik saya tidak paham dengan lagu tersebut. Apakah lagu itu dinyanyikan penyanyi anak? Kemudian isi dari lagu itu apa? Pesan moral atau misi kebaikan apa yang didapat dengan mendengarkan lagu itu? Saya tidak akan mengajak Anda berdebat. Tidak. Tetapi bagi saya lagu itu minim pesan dan nilai moral. Berbeda dengan lagu anak-anak zaman dahulu. Lagu zaman saya masih kecil.

Sejenak aku jadi ingat lagu-lagu ciptaan Pak Kasur, Bu Kasur, Papa T Bob dan Papa-papa yang lain, yang peduli dengan lagu anak. Lagu-lagu mereka enak didengar. Pun sarat dengan makna, nilai karakter dan pesan-pesan kebaikan. Kita bisa sebutkan Bangun Tidur, Pelangi-pelangi, Balonku dan lain sebagainya. Banyak sekali, lagu anak zaman dahulu yang bagus. Dan itu ditulis oleh orang-orang yang konsen terhadap anak-anak. Penulis yang prihatin terhadap kebutuhan anak-anak yang tidak terpenuhi. Anak-anak yang haus hiburan dan pelajaran kebaikan.

Lagu itu bisa tercipta dengan begitu indah karena diciptakan dengan sepenuh hati. Kalau tidak berjiwa peduli, sayang dan cinta kepada anak, tentu mereka tidak akan mengarang lagu anak. Tersebab lagu anak itu pangsa pasarnya sedikit. Tidak banyak orang yang suka. Itu artinya tidak banyak yang membutuhkan atau membelinya. Ketika kalah dalam persaingan industri musik, maka perusahaan musik tidak akan memproduksi. Mereka lebih memilih memproduksi lagu yang laris di pasaran. Ya, begitu dunia industri. Kalah bersaing dan tidak marketable, maka akan dihentikan produksi dan distribusi.

Baca Juga:   [Cernak] Celana… Oh Celana…

Belum yang kalah dengan lagu dewasa. Lagu yang dinyanyikan orang dewasa dan isinya tentang kehidupan orang-orang dewasa. Lalu, di mana letak lagu anak-anak? Sekarang ini, lagu anak-anak bagaikan matahari di balik awan mendung. Tergilas dengan lagu-lagu dewasa, tergerus oleh lagu-lagu kekinian. Lagu-lagu yang lebih mengutamakan goyang, jingkrak dan mendahulukan easy listening, namun jauh dari pesan moral. Ini sangat berbeda dengan lagu anak zaman dahulu.

Pernah dengar lagu anak “Balonku Ada Lima”?

“Balonku ada lima, rupa-rupa warnanya,

Hijau, kuning, kelabu, merah muda dan biru,

Meletus balon hijau, dor. Hatiku sangat kacau,

Balonku tinggal empat, kupegang erat-erat.”

Begitulah lagu Balonku. Lagu ini mempunyai banyak pesan dan makna. Saya sangat kagum dengan penulis lagu ini. Beliau, Abdullah Totong Mahmud, yang sering kita singkat namanya menjadi A.T. Mahmud ini, pasti orang yang jenius. Lagu ini singkat padat dan sarat makna. Bahasanya yang sederhana sangat cocok untuk dunia anak. Dengan bahasa yang sederhana, anak-anak akan mudah menghafalkan. Lagu yang super keren. Itu baru dari segi diksi atau pilihan kata, belum makna dari lagu tersebut.

Kalau kita mau mencermati lagu Balonku, maka ada banyak pembelajaran di sana. Pertama, lagu itu mengajarkan kita tentang berhitung. Matematika tidak melulu diajarkan dengan teori atau rumus yang belibet. Cukup dengarkan lagu balonku, maka anak-anak bisa belajar matematika. Dengan mendengarkan lagu ini, anak kita diajari berhitung. Ya, walaupun berhitung dengan jumlah tertentu. Tetapi menurutku itu sangat efektif untuk belajar dan mengajarkan.

Kedua, di samping mengajarkan berhitung (baca: penjumlahan), lagu Balonku mengajarkan tentang warna-warna yang ada di dunia. Pesan itu tersurat dalam bait lagu. Di bait lagu disebutkan tentang warna merah, kuning kelabu, merah muda, biru dan hijau. Itulah sebagian warna yang ada di dunia. Tidak banyak warna yang diajarkan namun itu sudah suatu pembelajaran yang luar biasa. Untuk anak-anak PAUD atau TK tentu mereka sangat terbantu dengan lagu Balonku.

Baca Juga:   Free Writing, Solusi Kebuntuan Ide

Ketiga, lagu Balonku mengajarkan kehati-hatian. Pada kalimat terakhir, anak-anak diajarkan tentang kehati-hatian. Setelah mereka kehilangan satu balon disebabkan meletus, maka mereka perlu berhati-hati. Dengan sikap hati-hati diharapkan balon yang tersisa tidak berkurang atau meletus lagi. Jika mereka mengabaikan pesan ini, maka bisa jadi balon yang lain meletus. Oleh karena itu, di dalam lagu diminta anak-anak untuk memegang balon tersebut dengan erat-erat.

Lho, bukankah membuat lagu anak itu sulit? Benar memang sulit. Di samping sulit menciptakan, sulit juga menjualnya. Sekarang ini siapa orangtua yang sudi membeli dan menyediakan lagu anak-anak? Pasti bisa dihitung dengan jari. Sedikit sekali. Mereka tidak peduli. Aku pernah membuat lagu anak. Pada waktu itu ada lomba cipta lagu anak di provinsi. Ya, iseng-iseng sih. Dengan ilmu musik yang minim aku nekad membuat. Bahkan aku melibatkan anak-anakku untuk menyanyikannya. Tetapi apa yang terjadi? Aku tidak lolos dalam seleksi tersebut. Itu artinya memang tidak sembarang orang mampu membuat lagu. Apalagi lagu yang bagus, sarat dengan makna dan melodi indah. Serius.

Ini suatu keprihatinan di tengah gempuran lagu-lagu orang dewasa. Idealnya, sebagai orang tua kita mengajarkan tentang lagu-lagu yang sesuai usianya. Terlebih berikan lagu-lagu yang mendidik dan bagus. Tidak perlu anak-anak kita mengikuti tren yang sedang berkembang. Tidak. Kalau perlu kita berikan lagu lama yang mungkin mereka belum pernah dengar. Yang penting jauhkan anak-anak kita dengan lagu yang dewasa. Apalagi jika lagu itu disertai goyang-goyang seronok yang tidak pantas.

Sekilas mungkin terasa lucu dan menyenangkan melihatnya. Kadang kita malah ketawa-tawa dan mengapresiasi. Saat melihat orang tuanya senang dan kagum maka anak-anak kita akan mengulangi. Mengulang dan mengulang terus sehingga menjadi kebiasaan. Kebiasaan tersebut nantinya menjadi jalan hidup dan mindset mereka. Mereka akan beranggapan bahwa menyanyikan lagu dewasa dan bergoyang itu, bagus dan mengasyikkan.

Baca Juga:   [Cernak] Ketika Adi Sakit Gigi

Dan ketika mereka dewasa, mereka menganggap apa yang dilakukan itu sesuatu yang baik dan benar, sehingga mereka akan berpedoman seperti itu. Kemudian melakukan hal itu terus menerus. Astaghfirullah. Pertanyaan terakhirnya adalah apa yang ingin Anda sematkan dalam pikiran anak-anak kita?*)

Ditulis oleh: Jack Sulistya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *