Ketika Piton dan Manusia Sama-sama Lapar, Siapa yang Dimakan Duluan?

Beberapa waktu yang lalu kompas.com memberitakan tentang penangkapan ular piton oleh warga Gunungkidul. Bukan baby piton, tapi ini beneran ular piton berukuran besar yang bikin merinding warga. Merinding karena takut dimakan ular tersebut. Meskipun kalau dihitung, realitanya banyakan jumlah ular yang dimakan manusia dibanding yang memakan manusia. Harusnya si piton yang merinding kalau ketemu manusia.

Dilihat dari jenisnya, jelas manusia termasuk pemakan segala, omnivora. Daging doyan, sayuran, buah, apalagi duit, beuh … enggak bakal nolak. Maka dari itu, kalau melihat ular piton, otak manusia langsung mikir. “Nah, ini bisa jadi duit nih.” Berbeda dengan ular piton yang hanya makan daging, kalau lihat manusia ya biasa saja. Kecuali kalau sedang lapar dan bad mood.

Bagaimanapun juga otak manusia lebih unggul dibanding otak piton. Muatan otak piton cuma berisi nafsu saja, sedangkan otak manusia lebih dari itu. Manusia yang pandai menggunakan otak bisa kelihatan kalau dia lebih kreatif. Bisa mengolah hal biasa menjadi sesuatu yang bernilai, bahkan jadi luar biasa. Manusia yang berotak pula yang bisa mempertimbangkan baik buruk atas apa yang dikerjakannya. Namun, manusia juga punya nafsu. Sama seperti piton dan sebangsanya. Maka, sering kita temukan manusia yang dikatai perilakunya seperti binatang, tapi tak pernah menjumpai piton dikatai berperikemanusiaan.

Kabarnya ular piton di Gunungkidul yang ditangkap, ditemukan ketika melintas di jalan kampung menuju kandang ternak milik warga. Tolong digaris-bawahi kalimat, “menuju kandang ternak.” Dalam hal ini incaran si piton jelas, ternak warga. Piton mau makan hewan ternak, bukan manusia. Barangkali akan beda ceritanya kalau si piton tidak menemukan hewan yang jadi mangsanya. Bisa-bisa manusia yang bakal dimangsa.

Seperti yang terjadi di Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, ada seorang petani yang ditelan ular piton sepanjang tujuh meter. Kabar ini tersiar pula di kompas.com. Barangkali karena sangat lapar, nyari ternak enggak ketemu juga, akhirnya piton mengalihkan buruan ke manusia. Iya, piton enggak peduli si petani di rumah punya istri berapa, anaknya umur berapa, dan berapa tanggungan utangnya. Yang penting perut dia enggak lapar lagi. Perkara keluarga petani, biar dipikir yang masih hidup.

Kasus ditemukannya jasad petani di dalam perut ular tersebut mengundang reaksi Direktur Wahana Lingkungan (Walhi). Beliau menyoroti, kasus ini bukan semata-mata salah ular piton, tapi ada kaitannya dengan rusaknya ekosistem akibat maraknya pembukaan lahan sawit. Hal ini membuat hutan semakin sempit, keberadaan tikus dan hewan liar jadi sedikit, hingga piton merasa terancam susah mencari makan. Habitatnya terganggu.

Kasus yang sama terjadi juga di Riau. Seorang petani sawit diserang ular piton hingga akhirnya dirawat di rumah sakit. Awalnya dia melihat ular piton itu, lalu memanggil teman-temannya untuk membantu menangkap. Sialnya dia yang kebagian mengamankan bagian kepala, terkena serangan ular hingga tendonya putus. Piton berhasil ditangkap, tapi dia harus dirawat di rumah sakit akibat serangan piton.

Dari kasus-kasus yang terjadi, sebenarnya akar utamanya adalah rasa lapar. Keinginan untuk memenuhi isi perut masing-masing. Manusia membabat hutan memperluas lahan sawit. Tentu saja mereka berpikir dari lahan sawit akan lebih menghasilkan banyak duit ketimbang hutan rimba yang dibiarkan begitu saja. Ujung-ujungnya duit. Agar manusia terjamin pangannya.

Semakin luas lahan sawit yang dibuat, semakin luas hutan yang rusak. Semakin banyak penghuni hutan (satwa, termasuk piton) yang terancam hidupnya. Enggak ada salahnya juga kan, jika mereka jalan-jalan di kebun sawit untuk melihat-lihat rumahnya yang hilang? Ya, kalau ketemu manusia lalu dia telan, ya rezeki si piton. Pas perut lapar, pas ada camilan.

Bagi kawanan piton ukuran kecil, mungkin cukup bagi mereka melahap tikus atau binatang seukurannya. Namun, bagi piton ukuran besar tentu saja butuh mangsa yang ukurannya lebih besar. Makan tikus mah, enggak bakal bikin kenyang. Kalau tikus sekarung sih bisa kenyang, tapi capek banget jika harus memburu tikus sekarung. Mendingan menyantap kambing, rusa, atau manusia yang ukurannya masih proporsional dijangkau rahang si piton.

Sama halnya manusia, semakin tinggi jabatannya semakin enggan bermain duit receh. Maunya proyek besar-besar yang bisa cepat mendatangkan duit gede. Mereka capek kalau harus ngumpulin duit recehan. Kadang untuk memenuhi ambisi, mereka abai pada kerusakan lingkungan. Pabrik berdiri, limbahnya semakin bertambah mencemari lingkungan. Lahan pertanian diperluas, kerusakan hutan semakin luas.

Lalu sampai kapan kondisi seperti ini berlangsung?

Enggak ada yang bisa memastikan. Selama manusia dan piton masih butuh makan, ya selalu ada kemungkinan saling memakan. Siapa yang duluan dimakan?

Hukum rimba mengatakan, “siapa yang paling kuat, dia yang berkuasa.” Kita meskipun hidup di kota, hukum rimba tetap ada. Barangkali secara tertulis tidak ada, tapi secara naluri saya yakin ada dalam diri manusia. Dalam hal terkecil saja kita sering merasa ingin selalu lebih unggul dari yang lain. Berusaha saling mengalahkan demi suatu tujuan. Memang beberapa orang memiliki cara-cara berbeda untuk menang dan berkuasa, tapi pada prinsipnya manusia memiliki sifat dasar yang sama.

Yang sudah punya jabatan, ingin naik lebih tinggi lagi. Yang punya usaha, ingin lebih besar lagi omsetnya. Bahkan yang sudah berhasil mengalahkan lawan, masih juga ingin mengalahkan yang lainnya. Sampai kapanpun seperti tidak ada puas-puasnya. Apa kalau sudah mampu mengalahkan yang lain sudah merasa puas? Hehe …. Saya rasa tidak. Karena kita hidup di lingkungan yang manusianya diam-diam mempraktikkan hukum rimba. Namun, bukan berarti semua manusia seperti itu. Di dunia ini masih banyak juga kok manusia yang baik. Pintar-pintar kita saja bersosialisasi di lingkungan yang baik.

Nah, lebih baik kita kita makan bersama ketimbang saling memakan. Iya, kan?

Ditulis oleh: Seno NS

Reviewer: Hapsari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *