Ketika Pemula Merasa Segala


 

sumber : thayyiba[dot]com

Si A sekarang sombong, nggak mau ketemu dan ngumpul lagi sama kita-kita.”

Demikian curat seorang teman—sebut saja namanya Bunga—kepada saya beberapa waktu lalu. Saya pun menanggapinya tenang-tenang saja. Barangkali sedang banyak kerjaan dan sibuk. Kata saya, bukan bermaksud membela siapa pun. Bukankah setiap individu secara kodratnya akan selalu memiliki kesibukan pribadi yang tidak selamanya harus diketahui orang lain, bahkan teman dekatnya. Setiap orang punya privacy, begitu pendeknya. 

“Iya, tapi ini bukan sekali ini aja,kok. Sering banget. Bikeess!” keluh Bunga masih dengan ekspresi yang sama—memanyunkan bibir hingga beberapa senti dari ukuran biasanya. “Selalu saja ada alasan dia untuk menolak ketemuan. Bahkan, karena ulahnya ini, teman-teman pernah menanggung malu dan rugi.

Kali ini saya agak tersentak dan spontan memerhatikan wajah si Bunga. “Malu dan rugi, apa maksudmu?” tanya saya menaikkan nada bicara, persis ala artis sinetron yang alay; bicara dengan nada tinggi dan mengulang apa yang dikatakan lawan bicara. Dan saya semakin menaikkan nada bicara kerena Bunga justru memandang ke arah lalin. Ya, ampuuun. Saya lupa kalau Bunga matanya kero sejak lama.

“Jadi gini,” kata Bunga bernada serius. “Sejak cerpen dia dimuat media, lalu bukunya diterbitkan penerbitxx itu, si A kelihatan songong. Merasa kayak sastrawan besar aja. Padahal, kan, sastrawan sekelas SGA atau WS Hendra aja ….”

“WS Rendra,” koreksi saya dan mulai terpancing.“Memang sombong gimana?”

“Ya itu tadi, nggak mau ngumpul sama kita, nggak mau ngobrol-ngobrol kalau bukan ngobrolin sastra serius. Seolah-olah, karya kita yang bukan sastra ini rendah banget gitu. Gak level untuk dia.”

“Ah, kamu aja yang terlalu mendramatisir. Dasar penulis fiksi!”

“Nggaaak. Ini serius!”

Dan mulailah Bunga bercerita panjang lebar tentang perubahan si A yang masih penulis pemula namun sering bertingkah melebihi sastrawan besar. Ekstremnya, si A pernah batal datang di acara talk showyang sudah dirancang sedemikian rupa oleh komunitas tertentu dan pembicaranya adalah dia sendiri. Padahal, menurut kabar burung, tempat untuk berlangsungnya acara tersebut, sudah di-booking. Dan parahnya ini terjadi dua kali.Hmm, kalau sampai begitu, sudah keterlaluan. Merugikan orang lain, tak elok bukan?

Lain lagi halnya dengan cerita si Pulan—bukan nama sebenarnya—tentang si B, teman sosmednya yang sama-sama tergabung dalam grup kepenulisan online. Sejak posting-an dia di wall grup tersebut menuai ratusan komen, si B sering menyombongkan diri. Banyak cara si B menunjukkan bahwa dia lebih hebat dari member yang lain, di antaranya; sering menyebut tulisan yang tidak sebagus tulisannya, sebagai sampah. Atau seringkali dia berkomentar sok tahu pada mereka yang dianggap tidak tahu, padahal komentarnya juga bukan tidak ada cacatnya. Intinya, si B menganggap dirinya lebih tahu dari orang lain.

“Nulis aja baru di wall, gak ada karya di media atau diterbitkan. Tapi gayanyaaa. Kayak penulis besar yang tak tertandingi kehebatannya!” cerocos Pulan bernada jengkel. “Dia kok kayak katak dalam tempurung,ya?”

“Ya, mungkin takut dijadiin swike, makanya ngumpet di bawah tempurung,” komentar saya sekenanya, membuat kedua bola mata si Pulan membulat sebesar jengkol. 

Dan yang terbaru, adalah cerita sahabat saya—sebut saja namanya Melati—tentang si C, penulis di wattpad yang menurutnya telah menjadi trending topic di sosial media, terutama facebook dan wattpad. Menurut Melati, si C merasa telah menjadi penulis hebat, tingkah dan ucapannya bikin orang sakit hati dan geleng-geleng kepala. Ya, iyalah. Mosok geleng kaki. Aneh-aneh aja si Melati nih. Hihi.

Kata Melati lagi, si C yang hanya baru kali ini menulis di wattpad dan dibaca banyak orang, telah berani menghina dan memaki-maki follower-nya, hanya gara-gara si follower tersebut tidak hafal nama-nama tokoh di cerita yang dibacanya. Parahnya, omongan dia yang keras dan jauh dari etika itu, diumbar bak kacang goreng.

Saya sempat mengintip sana-sini mencari tahu isu itu. Dan memang benar, komentar si C dan follower-nya plus pendukung si C sempat tersebar luas di medsos. Saya sempat tak percaya jika itu ditulis oleh seseorang—perempuan—yang ngakunya penulis. Bukankah semestinya penulis itu mampu menuliskan hal-hal yang indah, seindah isi kepalanya?

Menanggapi keluhan ketiga teman saya yang tak ingin disebutkan namanya tadi, saya merenung beberapa saat. Jangan-jangan saya juga telah menjadi bagian dari orang-orang sejenis A, B dan C. Jangan-jangan, tanpa sadar saya telah berubah, dan perubahan ini menyebabkan orang lain sakit hati atau tersinggung. Duuuh, gimana dong?

“Jadi gimana, Vroh?” tanya Pulan kemudian.

“Apanya?”

“Pertanyaannya …. eh!”Pulan terbahak sesaat. Katanya dialog ini mirip percakapan antara Mamah Dedeh dengan jamaahnya. Entah acara apa, saya tak paham.

“Maksudku, bagaimana cara kita menghindari sikap-sikap seperti teman kita?”

Saya jadi kepikiran dengan pertanyaan Pulan. Terlebih Mawar dan Melati juga meminta pendapat saya, gimana caranya biar kita—saya maksudnya—yang pemula, tidak merasa paling segalanya. Setelah berpikir lebih dua minggu untuk menemukan kalimat pembuka, akhirnya saya punya beberapa ide yang tiba-tiba muncul, ting, ting! Barangkali ini bisa dijadikan sedikit masukan untuk kita—eh,saya.

1.      Bersyukur

Kita—saya maksudnya—kadang tidak bahagia menerima kesusahan atau sebaiknya. Lantaran apa? Lantaran kita tidak menyukuri apa-apa yang telah dikaruniakan oleh Allah SWT.  Rasa syukur yang hakiki dibangun dalam lima pondasi, yaitu; merendahkan diri di hadapan Yang Maha Pemberi nikmat, kecintaan terhadap Sang Pemberi nikmat, mengakui seluruh kenikmatan yang Dia berikan, senantiasa memuji-Nya atas segala nikmat, dan tidak menggunakan nikmat tersebut untuk sesuatu yang dibenci oleh-Nya. Dengan demikian syukur merupakan bentuk pengakuan atas nikmat Allah SWT, bukan pengakuan sombong atas keberhasilan diri sendiri. Jika ini mengakar kuat di lubuk hati, tentu kalimat laahawlawalaaquwwata illa bilah akan menjadikan kita merunduk, bukan sebaliknya.

2.      Jadilah diri sendiri

Artinya kita tidak perlu (berpura-pura) menjadi orang lain hanya karena ingin terlihat lebih baik di mata yang memandang kita. Padahal sesungguhnya, belum tentu orang yang kita tiru adalah orang yang lebih baik, bukan? Belajar menjadi diri sendiri, artinya dapat menerima sifat diri sendiri dan nyaman karenanya, merasakan suka cita dan kedamaian dalam diri dengan kebenaran yang ada, dan bisa mengeluarkan sisi terbaik dari dalam diri sendiri. Menjadi diri sendiri, akan membuat kita lebih damai dan bahagia.

3.      Lebih jauhlah bermain

Bermain di sini maksudnya adalah melihat sekitar. Dengan melihat lingkungan sekitar, kita tentu bisa mengetahui dan belajar banyak hal. Kalau misalnya kita seorang yang sedang belajar menulis, maka sebaiknya langlangi grup-grup kepenulisan yang ada—jangan terpaku hanya pada satu grup. Grup-grup tersebut akan memperlihatkan banyak hal, dari mulai tulisan yang ternyata lebih baik dari kita, penulis-penulis yang ternyata lebih hebat dari kita, termasuk di dalamnya, belajar banyak hal dari mereka, supaya kita tidak menjadi sok tahu lalu menyesatkan mereka yang lebih tidak tahu, tidak menjadi katak dalam tempurung dan bisa sadar diri dengan kelemahan dan kekuatan yang kita miliki. Bisa saja kita hebat di satu lingkungan, namun belum tentu di lingkungan yang lain. Ingat, di atas langit masih ada langit.

4.      Bergaullah dengan banyak orang

Apakah ini penting? Tentu saja! Dengan menjalin pergaulan dengan banyak individu yang beragam, pikiran dan wawasan kita akan lebih terbuka. Kita bisa belajar banyak hal dari orang-orang yang lebih segalanya dari kita, termasuk yang paling utama yaitu belajar bagaimana mereka memanagesikap atau attitude. Dengan mengenal banyak kepribadian, kita akan paham dengan sendirinya, mana pribadi yang baik dan mana yang kurang baik, lalu bandingkan dengan kepribadian kita selama ini. Nilai seseorang bukan hanya dilihat dari kesuksesan, namun juga sikap dan kepribadian.

5.      Belajar menghargai orang lain

Jangan berharap diri ini akan dihargai jika kita sendiri tidak mau menghargai orang lain. Menghargai orang lain, artinya menerima segala kelebihan dan kekurangan orang lain. Ada banyak hal yang perlu kita pahami agar kita bisa menghargai orang lain, yaitu; memahami perilaku manusia pada umumnya, posisikan kita sebagai orang lain, berpikir positif-lah kepada orang lain, dan tumbuhkan semangat untuk berbuat dan berbagi kebaikan.

6.      Dan lain-lain, boleh ditambahi, hehhe

Sesungguhnya, masih banyak tips yang bisa dibagi. Namun, Mawar, Melati dan Pulan yang malas mendengarkan ceramah panjang-lebar, sudah mulai membuka mulut dan menunggu lalat datang. Tetapi intinya begini, mbok yo sadar bahwa kita hidup bersama orang lain. Kalau kita hidup di sebuah pulau, sendirian, mau bersikap apa saja itu terserah, tak akan ada yang menilai.

Tetapi sebaliknya, hidup bersama orang lain, artinya kita harus mengerti dan menjaga norma-norma. Sebab itu tadi, sekeren apa pun kita, sesukses apa pun kita, kalau tak punya attitude baik, you’re no body and just a low person.

*****

Ditulis oleh : Redy Kuswanto

 

5 thoughts on “Ketika Pemula Merasa Segala”

  1. "Kamu nggak bakalan ngerti.
    Kamu kan beda dunia. Beda kemampuan. Nggak bakalan bisa."

    Pernah sih diomong gitu ��.Bukan cuman dari perempuan, tapi dari kaum Adam juga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *