Ketika Guru Salah

sumber: google image

 

“Bu, ke ruang BK sebentar, ya. Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan!” Pak Rahmadi berkata kepadaku dengan setengah berbisik.
Gaya bicaranya yang tidak mengenal titik koma selalu membuat dahiku mengeryit. Belum lagi terdengar napas yang tampak sulit diatur.  Maklum saja, usia sudah mendekati masa purna tugas. Ia  harus menempuh perjalanan dari ruang BK menuju ruang guru. Sekolah tempat aku mengajar memang tak terbilang besar. Tetapi letak bangunan yang memanjang membuat jarak lumayan jauh antara ruang BK yang berada di ujung barat dengan ruang guru di ujung timur.
“Ya, Pak. Ada apa ini? Sepertinya serius banget? Jadi deg-degan,” sahutku dengan perasaan yang tiba-tiba terasa tidak enak. Entah apa yang menggelayuti pikiranku saat itu. Tebersit di benakku kekhawatiran kesandung masalah.
Waktu itu aku baru saja selesai mengajar jam pertama dan kedua. Jam ke tiga dan ke empat  kosong, aku tidak ada jadwal  mengajar. Aku duduk di meja kerja yang letaknya di deretan ke empat dari enam deret meja di ruang guru. Tidak begitu banyak orang di ruangan ketika itu,  karena sebagian besar guru  sedang mengajar di kelas. Hanya ada satu dua guru, yang tengah asyik dengan kesibukan masing-masing. Jadi, kehadiran Pak Rahmadi yang menghampiriku pun luput dari perhatian mereka.
Melihat Pak Rahmadi melangkahkan kaki, aku bergegas bangkit dari tempat duduk.  Aku mengikutinya berjalan menuju ruang BK. Hatiku semakin penuh tanda tanya melihat raut muka Pak Rahmadi yang begitu serius. Tak ada senyum tersungging di bibirnya.
Sesampai di ruang BK, Pak Rahmadi mempersilakan aku masuk ke ruang kerjanya. Ruang yang agak gelap karena pencahayaan yang kurang. Aku duduk berhadapan dengannya. Di antara kami berdua, terletak meja kerja Pak Rahmadi yang penuh tumpukan kertas dan buku.
“Bu, kemarin siang Jenengan bilang apa pada Aprilia?” selidik Pak Rahmadi. Kedua tangannya yang bertaut dan sikunya diletakkan di atas meja menghalangi sebagian muka dari pandanganku. Namun aku masih bisa menangkap raut wajahnya yang serius. Dahinya berkerut. Sorot matanya tajam menatapku. Terlebih, terdengar ia embuskan napas dari balik kedua tangannya yang berada tepat di bawah hidung. Ada sesuatu yang ia sembunyikan. Tampak ia menginginkan agar aku sendiri yang mengungkap apa yang terjadi antara aku dengan Aprilia.
“Haduh, bilang apa ya, Pak? Saya nggak ingat. Aprilia kelas XII IPS2, kan?” jawabku penuh kebingungan. Kini giliranku yang mengeryitkan dahi. Aku letakkan kedua belah tanganku di pipi berusaha menghalau kegundahan hati.
 “Coba diingat-ingat, Bu,” pintanya. Ia turunkan kedua tangannya dan meletakkannya di atas meja. Raut muka yang semakin jelas mengguratkan keseriusan.
“Bagaimana kalau saya menemui Aprilia saja, Pak. Saya nggak ingat ngomong apa. Saya benar-benar nggak ingat. Saya biasa bercanda sama anak-anak,” timpalku.
Mendengar ucapanku, Pak Rahmadi sesaat terdiam. Tampak ia  berpikir sesuatu. Suasana menjadi sunyi.
“Silakan, Bu.” Pak Rahmadi akhirnya mengangguk mengiyakan.
Diiyakan oleh Pak Rahmadi, aku beranjak dari tempat dudukku. Bergegas kakiku melangkah  menuju kelas XII IPS2 untuk menemui Aprilia. Aku ketuk pintu dan meminta izin guru yang sedang mengajar di kelas untuk menemui Aprilia. Tak berapa lama kemudian ia keluar dari kelas dan kulihat raut mukanya berbeda dari biasanya. Bibirnya mengerucut. Tatapan matanya sinis kepadaku.
“Mbak Aprilia, kita ke ruang BK sebentar,  ya! Ada yang mau Ibu omongin ke Mbak April,” pintaku kepada Aprilia.
Ia hanya menganggukkan kepala dan mengikutiku menuju ruang BK. Kami berdua membisu. Tak ada perbincangan antara kami selama perjalanan dari ruang kelas XII IPS 2 menuju ruang BK yang letaknya cukup jauh. Sesampai di ruang BK, aku dan Aprilia duduk berdua saling bersebelahan.
“Mbak, sebelumnya Ibu minta maaf. Tadi saya sudah mendengar sedikit cerita dari Pak Rahmadi bahwa ada sesuatu yang membuat Mbak April merasa nggak nyaman dengan Ibu. Kalau boleh tahu, apa yang membuat Mbak April tidak berkenan?” tanyaku kepada Aprilia. Aku tatap wajahnya yang menunduk. Rona merah mulai tampak memudar pertanda gejolak emosinya telah mereda. Ia masih terdiam.
“Jangan takut mengatakan yang sebenarnya. Benar-benar Ibu tidak menyadari apa yang Ibu lakukan yang mungkin sangat tidak berkenan di hati Mbak April. Ibu hanya ingin meminta maaf,” ujarku meyakinkan.
“Maaf ya, Bu. Ibu itu maksudnya apa ketika waktu pulang Ibu bilang ke saya ‘asal jangan jadi wanita panggilan’?” jawab Aprilia dengan nada agak tinggi. Raut mukanya kembali memerah. Tampak ia menahan gejolak emosi kepadaku.
Sementara aku seketika terkesiap mendengar jawaban April. Aku pun berusaha menenangkan diriku sendiri. Aku turunkan egoku untuk menghadapinya agar tak memperumit keadaan. Aku teringat ketika itu aku mengajar di jam terakhir di kelas XII IPS2. Pada saat murid-murid lain sudah meninggalkan kelas. Aku biasa paling akhir keluar kelas untuk memastikan semua murid baik-baik saja. Kulihat April masih duduk sendiri di deretan kursi paling belakang. Ia sedang asyik dengan telepon selulernya.
 Aku lemparkan senyum kepadanya dan bertanya,” Mbak April belum pulang?”
 “Belum, Bu.” Ia menoleh kepadaku dan menjawab singkat. Mata dan jari-jarinya kembali tertuju pada telepon genggamnya.
“Ngapain kok, nggak pulang? Teman-teman sudah pulang semua, loh. Pulang, yuk!” sapaku sambil melemparkan senyum.
“Nanti, Bu. Saya sedang menerima panggilan untuk manggung,” jawabnya tanpa memandangku.
Aku tahu kalau April sering dimintai manggung. Gadis remaja nan cantik berperawakan tinggi dan sedikit subur  itu memang piawai menyanyikan lagu campur sari khas Yogyakarta. Suaranya sangat merdu. Aku bangga memiliki murid yang memiliki talenta seperti April.
Maksud hatiku ketika itu sekedar berkelakar kepadanya. Aku berseloroh sembari tertawa kecil,  ”Sip, asal bukan jadi wanita panggilan ya. Ibu pulang duluan,” pamitku kepadanya. Aku pun segera keluar kelas meninggalkan April sendirian di dalam.
Setelah ingat kejadian itu, aku menggeser tempat dudukku. Aku pegangi tangannya dan berkata kepadanya, “Mbak April. Ibu sudah ingat kejadian kemarin siang. Ibu tidak punya maksud apa-apa. Ibu hanya bermaksud bercanda. Ibu baru menyadari kalau candaan Ibu kelewatan dan menyinggung perasaan Mbak April. Maafkan Ibu, ya!”
Kulihat April menundukkan kepalanya. Jari jemarinya yang lentik bergerak gerak saling bertautan. Entah apa yang ada di benaknya, aku tidak tahu. Aku hanya bisa berharap ia mau memaafkan aku.
“Mbak April mau memaafkan Ibu, kan?” Kugenggam tangannya lebih erat. Kutatap wajahnya yang masih tertunduk.
“Ya, Bu. Saya maafkan. Saya juga minta maaf, Bu,“ jawabnya membalas tatapanku.
“Ya. Terimakasih Mbak April telah memaafkan Ibu. Ibu berjanji akan lebih berhati-hati bicara walau pun bermaksud bercanda. Terimakasih Mbak April telah mengingatkan Ibu untuk berhati-hati dalam bercanda,” jawabku lega.
Hikmah
Guru adalah manusia biasa. Sebagai manusia biasa, guru juga tidak akan pernah lepas dari berbuat kesalahan. Guru akan dirindukan muridnya jika ia senantiasa berani mengakui kesalahan dan bersedia meminta maaf dengan tulus kepada muridnya ketika ia melakukan kesalahan, baik yang disengaja atau pun tanpa sengaja.
Ditulis oleh: Widayati Izwa. 
Guru Bahasa Inggris dari Sleman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *