Ketika Anak Memilih Sendiri Panggilannya Terhadap Orang Tua

sumber: gambartop10.blogspot.com

 

“Jadi, nantinya dipanggil apa nih? Ayah Bunda, Bapak Ibu, Papa Mama, Ambu Abah, atau yang lain?” Pertanyaan semacam itu yang sering saya dengar, saat ada pasangan muda berstatus sebagai orang tua baru.
Sewaktu saya kecil dulu, panggilan terhadap orang tua tidaklah sekompleks sekarang. Saya memanggil kedua orang tua dengan: Bapak Mamak. Begitu pula teman-teman saya memanggil kedua orang tuanya. Namun, ada pula yang memanggil menggunakan: Bapak Ibu.
Lalu, bagaimana dengan Papa Mama? Panggilan itu ada. Namun tidak familiar di lingkungan kami.
Lingkungan?
Ya. Di masa saya kecil, panggilan terhadap orang tua meniru bagaimana lingkungan sekitar menyebutnya. Contohnya adalah hal berikut, saya melewati masa kecil di dua tempat, Jakarta, dan Yogya. Di kedua tempat ini, panggilan terhadap orang tua ditentukan dari status ekonomi. Untuk ekonomi kelas bawah, maka panggilan yang lazim adalah Bapak Mamak. Sedang untuk ekonomi kelas menengah, baru menggunakan Bapak Ibu. Untuk Papa Mama, panggilan itu memang ada, terlebih saat berada di Jakarta. Namun, panggilan itu tidak digunakan untuk masyarakat jelata. Panggilan itu hanya untuk orang-orang yang hidup berkecukupan.
Sebetulnya, memang tak pernah ada peraturan baku tentang panggilan terhadap orang tua kandung. Panggilan-panggilan itu justru lahir dari kebiasaan masyarakat sekitar. Masyarakat akan memandang ganjil, bila panggilan itu tidak sesuai dengan status ekonomi keluarganya. Misal, jika saya yang berasal dari kelas bawah memanggil Bapak Ibu, pada orang tua saya. Atau, teman yang berasal dari status ekonomi lebih tinggi memanggil orang tuanya menggunakan Bapak Mamak. Panggilan itu menjadi wagu, janggal. Karena panggilan-panggilan itu seakan telah menjadi hukum konvensional.
Kini, hal tersebut telah bergeser. Saya sering mendengar berbagai panggilan untuk orang tua, khususnya mereka pasangan muda yang baru saja memiliki buah hati. Ayah Bunda, Mama Papa, Abah Ambu, Bapak Ibu, atau panggilan lain yang mengacu pada status sebagai orang tua kandung. Panggilan itu tak lagi memandang status ekonomi sebuah keluarga.
Benarkah demikian?
Semula saya beranggapan demikian. Namun ternyata tidak. Hal ini saya temui pada beberapa pasangan muda, yakni teman-teman saya, atau pun kerabatnya.
Bagi masyarakat sekitar Kebumen, memanggil kedua orang tuanya menggunakan Rama dan Biyung, merupakan hal lumrah. Apa pun status ekonominya, panggilan itulah yang dipergunakan. Entah karena interaksi sosial yang lebih luas, atau hal lain, panggilan itu perlahan mulai diubah, khususnya oleh mereka yang baru menyandang status sebagai orang tua, seperti halnya pada kakak sahabat saya.
Rini, sebut saja namanya begitu, seorang ibu muda dengan dua anak lelaki usia sepuluh dan empat tahun. Rini selalu mengajarkan kepada anaknya untuk memanggil kedua orang tua kandungnya menggunakan Ayah Bunda, bukan Rama Biyung sebagaimana masyarakat tempatnya berasal. Sayangnya, kedua anak Rini menolak memanggil Ayah Bunda. Mereka lebih nyaman panggilan dengan Rama Biyung.
Mungkin Rini kesal, mendapati anak-anaknya tak mau menggunakan panggilan yang telah diajarkannya. Namun, sepertinya Rini telah mengajukan syarat, panggilan Rama Biyung hanya boleh digunakan saat masih berada di Kebumen. Hal ini diperkuat dengan kejadian beberapa waktu lalu, ketika Rini dan anak-anaknya tengah berada di sebuah pusat perbelanjaan di salah satu mal, di Yogyakarta.
Karena adiknya yang tinggal di Yogyakarta, Rini acap berada di Yogyakarta, termasuk pusat perbelanjaannya. Suatu hari, Rini tengah menikmati kebersamaannya dengan anak-anak, adik, dan keponakan, sembari berjalan, melihat-lihat berbagai etalase yang menawarkan beragam produk. Mereka tak jarang bergurau. Berkeliling di pusat perbelanjaan dengan bangunan lebih dari satu lantai, biasanya baru akan puas bila telah mengeksplor seluruh lantai. Pengunjung dapat menggunakan tangga eskalator yang telah digunakan pihak mal.
Saat akan menaiki eskalator, Rini menggendong anaknya yang kecil. Sedang si sulung, Rizki, dimintanya berjalan sendiri, sembari diberi aba-aba bagaimana seharusnya ia melangkah. Kegaduhan terjadi. Rizki tak berani melangkah.
Kiye kepiye, Yung?” tanya Rizki, panik.
Rini tak menjawab. Ia terus menggendong si kecil bersama eskalator yang terus naik.
Biyungkiye kepiye?” Kali ini Rizki berseru.
Rini segera berpaling. Setelah berada di lantai atas, dan meletakkan anaknya yang kecil, gegas ia ke bawah, menjemput Rizki. Rini menggandeng tangan Rizki sambil mengulang cara berjalan di eskalator. Di sela penjelasan itu Rini mencubit kecil lengan Rizki, “BiyangBiyungBiyangBiyung bae. Bunda, aja Biyung,” Rini mengingatkan.
Rizki tak menjawab. Ia hanya meringis. Setelah berhasil melewati eskalator, ia kembali menghampiri ibunya sembari berbisik, “Biyung.”
Sontak Rini membulatkan matanya, memandang Rizki.
Cerita berbeda datang dari Hafizh, anak teman saya. Hafizh sering bereksperimen memanggil orang tuanya dengan panggilan yang biasa digunakan teman-temannya. Bila ia mendengar temannya ada yang memanggil orang tuanya menggunakan Mama Papa, ia pun akan menggunakan hal yang sama terhadap kedua orang tuanya. Di lain waktu, ia mendengar ada yang memanggil orang tuanya menggunakan Ayah Bunda, Hafizh sontak mengubah panggilannya terhudap kedua orang tuanya menjadi Ayah Bunda.
Sebetulnya, bila di rumah Hafizh telah dibiasakan untuk memanggil menggunakan Bapak Ibu. Namun, begitulah. Hafizh memilih mengubah sendiri panggilan itu sesuai keinginannya.
Mulanya, panggilan itu diabaikan oleh kedua urang tua dan para kerabat. Mereka hanya menganggap Hafizh meniru teman-temannya. Bila telah pulang sekolah atau bermain, ia akan kembali pada panggilan sebelumnya, yaitu Bapak Ibu. Namun, nyatanya dugaan itu keliru. Hafizh terus memanggil kedua orang tuanya menggunakan Ayah Bunda, meski sedang tak bersama teman-temannya.
Hingga suatu hari, salah seorang kerabat bertanya, “Ayahmu ke mana, Fizh?”
“Ayah kerja.”
“Kerja apa? Di mana?”
“Ngecat di rumah Pakde Mardi.”
Mendengar jawaban Hafizh, sontak kerabatnya terbahak. “Manggil Ayah. Tapi kerjane ngecat. Nek manggil Ayah kipaling ora kerjane nang kantor. Udu ngecat.”
Yo ben.” Hafizh tak memedulikan ejekan kerabatnya. Ia tetap teguh memanggil kedua orang tuanya menggunakan Ayah Bunda.
Namun hal justru terjadi pada orang tuanya. Ayahnya Hafizh tak ingin dipanggil Ayah. Ia ingin tetap dipanggil Bapak.  Pernah ia mencubit Hafizh, hanya karena Hafizh memanggilnya Ayah, saat sedang berada di sebuah kantor desa. Pasalnya, ia merasa panggilan itu tak layak untuknya. Terlalu tinggi.
Bagi saya, apa yang terjadi pada Rizki dan Hafizh adalah hal menggelitik. Mengapa orang tua dan lingkungan mengatur, dan menghakimi panggilan yang dipilih oleh sang anak? Mengapa mereka tak memberi kebebasan? Toh, anak-anak itu tetap memanggil sebagaimana seharusnya. Mereka tetap memanggil Bapak Ibu, Ayah Bunda, dalam versi pilihannya sendiri.
Pada Rizki, ia tak memedulikan tren kekinian yang diajarkan ibunya. Ia sangat nyaman memanggil dengan Rama Biyung. Melalui panggilan itu, ia memiliki kedekatan emosional yang tak dapat dijabarkan Kenyamanannya tak terbungkus gengsi. Sebuah kenyamanan tulus dari dalam hatinya. Bisa saja ia menuruti saran ibunya. Namun, sangat besar kemungkinan ia akan canggung melafalkannya.
Padahal, bukankah lebih penting bila anak memiliki kedekatan emosional dengan orang tuanya, daripada sebuah panggilan yang dianggap kekinian?
Berbeda dengan Hafizh. Ia tak peduli bagaimana sekeliling mencibirnya. Ia menghormati kedua orang tuanya dengan menyejajarkan mereka, sebagaimana  teman-temannya memanggil orang tuanya. Ia tak peduli ayahnya hanya berprofesi sebagai tukang cat. Ia tetap bangga pada ayahnya, tak peduli apa pun profesinya. Kebanggaan ini seharusnya jangan dihancurkan hanya karena latar belakang profesi atau ekonomi.
Rizki dan Hafizh merupakan contoh anak-anak yang mendobrak semua sekat di dalam masyarakat. Mereka memilih sendiri panggilan untuk orang tuanya. Dan kita, orang-orang yang lebih tua darinya, sebaiknya tidak selalu terjebak dalam aturan konvensional, “Anakmu harusnya memanggil orang tuanya begini, bukan begitu!” []
Ditulis oleh: Lintang Kinanti
Baca Juga:   [Cernak] Sepeda Gilang

One thought on “Ketika Anak Memilih Sendiri Panggilannya Terhadap Orang Tua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *