Ketika Agama Sudah Tidak Menarik Hati Generasi Muda

Agama merupakan sendi perikehidupan manusia. Tanpa agama, maka manusia akan timpang menjalani kehidupannya, karena fitrah manusia itu meliputi rohani dan badani. Kebutuhan non material tidak cukup dipenuhi hanya dengan berbahagia, namun kebutuhan akan kebergantungan dengan Sang Pencipta harus pula diupayakan keterpenuhannya.

Begitu pun dengan generasi muda. Kebutuhan beragama justru lebih besar, mengingat tuntutan dalam fase pencarian jati diri itu sangat kompleks. Tanpa landasan agama, maka jati diri yang akan mereka temukan bisa jadi justru akan merusak perikehidupannya.

Namun sayang, perhatian generasi muda dengan kebutuhan agama sepertinya mengalami kelesuan. Bahkan ironi, sampai muncul anggapan jika agama hanya kebutuhan bagi orang-orang yang sudah mulai lanjut usia, sehingga yang muda tidak tergerak untuk menyelaminya.

Paling tidak ada lima sebab mengapa generasi muda kurang tertarik dengan sesuatu yang berbau agama, yaitu :

Pertama, budaya materialistis sudah menjangkiti pikiran generasi muda. Ini berbahaya, karena pikiran yang sudah mulai materialistis maka tidak akan mudah lagi didogma dengan surga-neraka, halal-haram, patut-tabu, dan banyak lagi batasan akan tindakan seseorang. Padahal dogma dalam beragama itu penting, untuk bisa menekan pikiran liar manusia.

Generasi muda yang tidak lagi takut akan ancaman siksa, maka kehidupan mereka akan sulit dibendung. Rambu-rambu yang terpasang hanya menjadi pajangan, karena hati dan pikiran mereka tidak sepenuhnya meyakini bahwa rambu-rambu itu adalah sebuah keharusan. Atau bahkan mereka tidak lagi percaya akan adanya kehidupan selanjutnya. Kalau sudah begitu, tentu mereka merasa tidak harus membuang-buang waktu dan energi untuk sesuatu yang mereka anggap absurd.

Kalau generasi muda sudah mendasarkan hidup mereka dengan kebendaan, maka ketergantungan mereka akan benda itu bisa melunturkan kesadaran bahwa ada Dzat Mahatinggi yang harus mereka jadikan sandaran dan tempat bergantung. Kalau sudah begitu, bahaya besar sudah menunggu mereka, yakni kehilangan keyakinan pada adanya Tuhan. Bagaimana mereka akan beragama, jika Tuhan saja tidak pernah bisa dihadirkan dalam diri mereka.

Kedua, budaya pragmatis sudah membuai mereka. Generasi muda yang tidak bisa lagi berpikiran jauh ke depan, akan sulit diyakinkan bahwa kehidupan dunia itu hanya sementara dan ada kehidupan lain setelahnya. Kalau sudah begitu, mereka tidak lagi butuh sesuatu yang njelimet yang hanya akan membebani mereka. Mereka hanya harus menjalani hidup yang sekarang mereka rasakan, tanpa harus memikirkan kehidupan lain yang tidak jelas.

Agama dan segala aturannya akan mereka anggap sebagai penghambat gerak mereka, karena yang mereka pikirkan hanya sesuatu yang sedang mereka inginkan pada saat itu. Kebutuhan sesaat lebih mendominasi kehidupan mereka, sehingga mereka tidak mau memikirkan kebutuhan jangka panjang.

Pikiran pragmatis ini membahayakan bagi perikehidupan beragama, karena banyak hal dalam agama tidak secara otomatis terealisir dengan segera. Ancaman adanya siksa, hanya akan dirasakan kalau manusia sudah benar-benar meninggalkan dunia. Adanya pahala bagi sebuah kebajikan hanya akan nampak setelah manusia menghadapi persidangan agung. Dan semua hanya di dapat setelah berjalannya waktu.

Ketiga, budaya instan mulai menggejala. Generasi muda yang sudah berpikiran instan dalam meraih sesuatu, akan sulit diarahkan untuk bisa menikmati sebuah proses, karena dalam pikiran mereka, begitu mereka menginginkan sesuatu, maka sesuatu itu harus segera ada dalam gengamannya. Bersabar, ikhtiyar, doa, ridha dengan ketentuan Allah, dan berbagai hal yang harus terlibatkan dalam sebuah harapan akan sulit tumbuh dalam diri mereka.

Mereka terbiasa serba kilat. Sim salabim, maka abrakadabra. Kalau sudah begitu, maka rasa memiliki dan memperjuangkan terhadap berbagai hal yang mereka raih jadi tidak ada. Budaya instan yang mengakar pada diri mereka itu telah merampas ruh ilahi dalam setiap proses yang seharusnya mereka nikmati. Kesekejapan mata itu menjadikan mereka lupa ada Dzat Mahakuasa yang terlibat dalam urusan mereka. Padahal, banyak ritual keberagamaan itu membutuhkan waktu dan proses yang kemudian akan menjadikan sebuah penghambaan itu menjadi lebih bermakna.

Keempat, kurangnya keteladanan. Generasi muda yang sudah kehilangan teladan beragama dari generasi sebelumnya, akan sulit memunculkan nilai agama dalam hidup mereka. Ibarat kata, seorang bocah yang tidak pernah mengenal permainan congklak, akan sulit membayangkan apalagi melakukan permainan itu, kalau tidak ada orang yang lebih dulu tahu yang mengajarinya.

Keteladanan itu penting, karena itu lebih dari sebuah pengajaran. Kalau generasi muda tidak lagi melihat ajaran agama dipraktekkan dalam kehidupan bermasyarakat, maka mereka tidak boleh disalahkan kalau mereka jadi tidak tertarik untuk mendalami agama, karena mereka tidak pernah bisa merasakan pentingnya agama dalam kehidupan bermasyarakat.

Sayangnya, keteladanan yang dibutuhkan oleh generasi muda, kadang banyak tercoreng oleh kurang bijaknya generasi sebelumnya dalam menempatkan agama di kehidupan sehari-harinya. Ketika generasi tua lebih senang menghakimi orang yang berbeda dengan mereka, sementara agama menempatkan perbedaan itu sebagai sunnatullah, maka jangan salahkan jika generasi muda tidak akan tertarik dengan praktik beragama.

Kelima, kurangnya perhatian pemerintah. Generasi muda adalah generasi penerus bangsa, itu sudah dimaklumi oleh semua orang. Tetapi sayangnya tugas berat itu tidak diimbangi dengan pembekalan yang berimbang antara perkembangan mental-spiritual dan perkembangan ilmiah. Padahal semua orang tahu, kalau kepandaian tanpa dilandasi dengan agama, hanya akan melahirkan ilmuwan yang tidak beretika.

Hampir semua lembaga pemerintah lebih menuntut nilai akademik dengan mengabaikan kepribadian, sehingga generasi muda lebih banyak tertuntut untuk mengejar nilai akademiknya, karena itu menjadi satu-satunya penentu untuk bisa meraih pendidikan berikutnya dan meraih cita-citanya. Tidak peduli seperti apa akhlaknya, yang penting nilainya bagus. Kalau sudah begitu, tentu tidak mengherankan kalau lembaga pendidikan hanya melahirkan generasi muda bermental preman.

Banyak penghargaan yang ditebar oleh pemerintah untuk urusan akademik maupun keduniawian, tetapi tidak untuk nilai spiritual. Hal itupun ikut menjadi andil akan kesenjangan tersebut. Sedikit sekali penghargaan yang diberikan pemerintah bagi siswa yang mempunyai kompetensi dan passion terhadap agama.

Itulah beberapa faktor kenapa agama tidak lagi menarik hati generasi muda. Sungguh ironis kalau generasi muda yang pada saatnya akan memegang tongkat estafet kepemimpinan, tidak lagi mendasari dirinya dengan nilai agama. Ketika agama tidak lagi menarik hati para generasi muda, tidak bisa dibayangkan, akan seperti apa nasib agama di tangan mereka? Atau akan seperti apa hidup mereka tanpa agama? Apakah pada gilirannya agama hanya akan menjadi sejarah? *) Ditulis oleh: Fahruddin Ghozy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *