Kenangan bersama IIDN Yogyakarta

Sumber gambar: fikafailasufa.com

Kemarin, menjadi kenangan hari ini. Kau bisa mengingatnya dengan airmata. Tanda suka, pun sebaliknya. Dan kau tahu? Hari ini aku sedang tertawan kenangan. Ada di sana bersama cerita-cerita yang tak kunjung membuatku kembali. Harus ada sebab, untuk membuat kaki memijak hari ini lagi.

Petir menyambangi desa ini. Aku masih ada di atas sajadah ungu. Sajadah ini diantar Mbak Irfa, seorang ibu, dan ketua komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis, Yogyakarta. Mata ini menelusuri ukiran batik di atasnya. Dan di satu titik, aku berhenti. Memberi jeda menebak bentuk, dan membiarkan lorong di hati terbuka, dan aku sebagai pemiliknya menelusuri kenangan-kenangan yang pernah terjadi. (Bedah Buku Atau Pulang)
***
Satu.
“Mbak, maaf. Aku belum bisa transfer hari ini. Semoga masih ada kursi untukku.”
“Masih, Mbak. Tidak apa-apa.”
Lega.
Aku baru saja mendaftar kelas menulis buku anak. Sebenarnya, aku ini labil. Mau nulis apa, masih saja tarik-menarik antara keinginan, dan kemampuan. Bahkan hingga tulisan ini kuketik, aku masih belum memberi porsi lebih, selain 50:50, pada buku anak, atau buku islam populer. Daripada berpikir terlalu lama, mending ikut kelas menulis saja. Siapa tahu, ada hasil, dari upaya yang kujalani.
“Waduh, Mbak. ATM sedang rusak. Aku masih belum transfer.”
“Tidak apa-apa. Bisa kok besok lagi.”
Lega.
Aku belum mengenal, siapa yang menjawab pesan-pesanku. Tapi, dari kalimat yang kubaca, dalam pesan di chat room facebook, dia sangat humble. Buktinya, aku masih terus mendapat keringanan untuk mentrasfer administrasi kegiatan, sesuai kemampuanku.
Dua hari berikutnya …
Perpustakaan Kota Yogyakarta (beri aku kesempatan menulis selanjutnya dengan Perpuskot) masih sepi. Beberapa petugasnya belum hadir. Ini hari Minggu, jam kunjung pun mundur. Sekitar pukul sembilan, nanti, tempat ini mungkin baru akan ramai.
Aku menyalami suami, dan anak-anak. Mereka baru saja berlalu, dari tempat ini. Mengantarku untuk ikut Pelatihan Kepenulisan Buku Anak, bersama Mbak Miftakhul Jannah—istri Mas Sakti—satu personel band, yang ditahun 2000-an sempat hit.
Kendaraan di jalan raya depan Perpuskot tidak terlampau padat. Hanya beberapa motor, mobil, dan sepeda yang melintas. Dari sejak mulai duduk, aku berpikir, apa targetku ikut pelatihan ini? Ah! cari ilmu. Artinya, aku menerima, bukan memberi?
Kenapa jauh sekali dengan motto yang kuikrarkan bersama suami, “Memberi lebih banyak dari menerima. Semoga kita lebih bermanfaat bagi banyak orang.”
Jika sekarang adalah waktu menerima, apa yang bisa kuberi, pada siapa, dan kapan?
Bisakah aku menulis buku anak, setelah ini?
Memberi bacaan yang baik pada pembaca anak?
Berbagi manfaat dari pelatihan yang kuikuti, tapi aku belum bisa apa-apa?
Repot!

Jika segala hal hanya dipikirkan, memang terbayang repot. Banyak alasan! Jadinya malas melakukan. Beda bila dijalani, kita bisa menepikan repot, karena fokus pada penyelesaian, dan menampik alasan.

***
Dua.
“Mbak, aku bayarnya pas di lokasi, ya?”
“Bisa. Kami tunggu kedatangannya.”
Kau baca itu?
Lagi-lagi, aku masih meminta. Berharap dapat keringanan membayar administrasi, dan terkabul. Padahal, ini adalah acara kedua, setelah pelatihan buku anak. Saat ini Bengkel EYD, bersama Mbak Yayan Rika Harari. Buku anak yang kutulis, setelah ikut pelatihan di Perpuskot, belum terbit. Bahkan belum selesai kutulis. Keinginan memberi macam apa yang kuikrarkan? Ternyata, rapuh sekali jika dinamai dengan ikrar. Mungkin, akan lebih tepat jika diganti dengan ‘mimpi yang belum terwujud.’
Aku masih berangkat pagi. Sangat pagi. Bahkan, pintu Perpuskot saja belum dibuka. Setelah menitipkan helm, kaki kembali melangkah ke tempat duduk yang sama. Lokasi menunggu persis di pelatihan sebelumnya.
Merasa bosan, aku berdiri. Melangkah ke depan Perpuskot, dan menyusuri jalan menuju traffic light. Kucari penjual koran. Minggu, jalan raya di sini sering lebih sepi, dari hari biasa. Di depan sana, aku hanya melihat beberapa kendaraan yang sedang menunggu lampu jalan berganti warna. Saat warna benar-benar berganti, semua melesat, termasuk pandangan ini, kemudian hinggap pada sosok bertopi.
“Korannya satu, Pak,” pintaku sambil menyebutkan nama koran lokal.
***
Tiga.
Mungkin benar, ikrar yang kuucap untuk berbagi, tak sebatas mimpi yang belum terwujud. Ia akan kuwujudkan. Dan hari ini, aku baru mendapat tawaran proyek menulis cerita para Nabi. Kesempatan untuk mewujudkan memberi pada pembaca. Bila bukunya terbit.
Tapi, lagi-lagi, untuk sampai pada proyek itu, aku masih meminta pertolongan pada grup Ibu-ibu Doyan Nulis Yogyakarta.
“Mbak-embak. Mau tanya dong. Kalau dari Kids Fun ke Toga Mas Kota Baru, naik apa, ya?”
“Gocar. Gojek.”
“Kalau naik bus biasa, jalur gitu, eh, Trans Jogja. Gimana?”
Enggak ada jawaban.
Aku memutuskan untuk mencari peta via google map. Kaget. Saat tahu, di sana hanya memberitahu, lokasi yang aku tuju hanya butuh waktu kurang dari 10 menit. Aku pun melayangkan pertanyaan ke WAG lagi.
“Ini kok waktu tempuh di google map, hanya 10 menit, ya? deket dong dari sini?”
“Hahaha. Bisa tuh cepet gitu. Syarat mobilnya baru. Nyetirnya tancap gas. Langsung bablas.”
“Bablas ketemu malaikat maut, ya?”
“Wah itu seenaknya saja peta. Mereka pikir, itu Kids Fun yang di Amplaz (satu mall diYogyakarta) mungkin. Bukan Kids Fun yang di dekat tempat tinggal Mbak.”
Aku memang tinggal di dekat Kids Fun. Sekitar 500 meter ke arah utara. Kids Fun itu arena bermain, dan wisata anak. Aku belum tahu, jika ada Kids Fun lain. Apalagi yang di Amplaz. Dan bisa jadi, yang diketahui datanya oleh internet, saat aku mencari peta, adalah Kids Fun yang di Amplas itu. Karena jaraknya yang teramat dekat dengan lokasi tujuan.
Setidaknya, begitu lah kehebohan di WAG.
Bagiku, WAG Ibu-ibu Doyan Nulis Yogyakarta tak ubahnya seperti GPS. Bisa ditanya apa saja, dengan jawaban cepat, dan akurat. Aku pun akhirnya tahu, ada cara naik bus biasa menuju ke Toga Mas Kota Baru.
Aku akan bertemu beberapa teman, dan pihak penerbit, untuk membicarakan proyek baru. Saat kutulis ini, proyek itu baru selesai, sekitar dua bulan lalu. Dan bukunya masih dalam proses terbit.
Bisa jadi, aku akan memberi, bila bukunya terbit. Tapi, kau baca, kan bagian tiga ceritaku ini?
Aku masih meminta.
Minta tolong, bertanya, bagaimana caraku sampai ke alamat. Minta pada mereka, tanpa pamrih.
Aku sadar. Aku tertawan kenangan. Aku masih saja meminta, bahkan hingga saat tiba untuk pulang ke madura, aku belum juga memberi. Ini yang membuatku tertahan. Lama di atas sajadah. Ternyata rapuh sekali diri, masih banyak meminta, daripada memberi, padahal memiliki motto ‘Banyak Memberi.’ (Rindu Ibu dan Kekhawatiran Itu)
Bila kah aku bisa, kembali ke kenangan-kenangan itu, kemudian memperbaikai diri? Memberi apa yang dulu kubimbangkan. Ah. Sudah lah. Tak perlu disesalkan. Aku masih bisa berdoa. Sebab, doa yang tersembunyi, yang tidak diketahui oleh orang yang didoakan. Menjadi harapan rahasia yang kita lambungkan ke angkasa, bisa menjadi pemberian yang jauh lebih baik, daripada memberi hal lain, kemudian mengungkit-ungkitnya. []

 

Pondok Cahaya, PS,   17.10.2017. 
Ditulis Oleh: Kayla Mubara.
Baca Juga:   Perempuan Tak Pernah Kehabisan Mimpi

10 thoughts on “Kenangan bersama IIDN Yogyakarta

  1. Kirain namaku mau disebut melulu hahahaha… Mbak Kay, IIDN Jogja adalah rumah. Kemanapun kaki melangkah, rumah akan selalu memberi ruang untuk siapapun yang ingin kembali. Tanpa mengharap apakah yang melangkah ke dalamnya membawa sesuatu atau tidak. Semoga Allah memberi kesempatan kita untuk bertemu lagi yaaa.
    Kiss and Hug yang erat banget nget ngetttt

  2. Tanpa disadari, Mbak Kayla sudah memberi inspirasi dan semangat kepadaku loh sejak awal perjumpaan kita di acara workshop. Waktu itu aku menyimak Mbak Kayla saat bertanya kepada narasumber tentang penulisan kisah para nabi (?).

  3. Aamiin. Oh rumah? Jasi ingat insight yang aku buat. Kadang, rumah itu ditinggalkan beberapa waktu, agar penghuninya menuntut ilmu. Saat kembali, akan ada pengubahan di diri penghuninya, ketika kembali.

    Eh, Mbak. Mau disebut terus ntar berasa karakter cerpen. Hihihi. Bilang saja males manjangin profil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *