Karyawan: Duh, Dikerjain Senior

Ternyata enggak hanya adik-adik praktikan yang sering dikerjain, karyawan baru juga sering dikerjain karyawan senior. Bahkan seringkali timbul rasa dendam dalam hati. “Awas ya, tunggu tanggal mainnya. Gue emang junior, tapi gue bukan babu. Jangan mentang-mentang sudah senior lalu seenaknya aja nyuruh-nyuruh.”

Ada semacam sensitivitas perasaan dari seorang karyawan yang baru saja masuk kerja. Sensitivitas ini menjadi bagian dari proses adaptasi terhadap lingkungan baru. Karena seorang karyawan baru masih membutuhkan kepastian apakah dirinya cocok dengan suasana kerja. Ada masa orientasi dan magang yang memberi mereka kesempatan untuk menemukan chemistry dengan lingkungan barunya.

Kalau selama masa orientasi dan magang si karyawan ini tidak menemukan chemistry, ya kemungkinan besar akan coba nyari alternatif tempat kerja lainnya. Nah, salah satu hal yang bisa merusak misi penemuan chemistry ini adalah faktor dikerjai senior. “Emang ada senior yang suka ngerjain juniornya?” Siapa bilang nggak ada?

Ada beberapa alasan yang membuat karyawan senior suka ngerjain juniornya. Apa saja?

  1. Kedatangan karyawan baru dianggap sebagai ancaman

Bagi beberapa karyawan yang sudah menemukan zona nyaman, biasanya akan merasa terancam ketika ada karyawan baru di unit kerjanya. Ancaman seperti apa? “Pasti bakalan ada yang di rotasi, atau gue bakalan ribet kalau jaga bareng anak baru. Duh, atau jangan-jangan besok dia bakal ngrebut jabatan gue.

Munculnya ancaman ini membuat seseorang berusaha bertahan. Mekanisme bertahan ini tentunya akan memaksa seseorang berbuat sesuatu untuk menghilangkan ancaman tersebut. Kalau dia adalah seorang karyawan yang takut kehilangan jabatannya, maka dia akan berusaha membuat karyawan baru merasa tidak nyaman. Sehingga berpikir ulang untuk bertahan melanjutkan fase orientasi dan magang.

Kalau seorang karyawan merasa tidak nyaman ketika ber-partner dengan karyawan baru, maka sebisa mungkin dia akan menunjukkan karakternya yang tidak menyenangkan. Berharap si karyawan baru yang ber-partner dengannya trauma dengan segala karakter yang coba dia tunjukkan. “So, kalau lu memang suka kerja di sini, seharusnya lu juga bisa menerima sikap kami yang kayak gini. Atau sebaiknya lu cari kerjaan lain akan.

  1. Ada misi balas dendam

Misi balas dendam bisa muncul ketika si karyawan senior memang punya masa lalu yang menyakitkan. Bisa disebabkan langsung oleh hubungan yang buruk dengan si karyawan baru, atau sekadar balas dendam karena ketika pertama masuk kerja dulu juga dikerjain senior.

Bisa jadi misi balas dendam di sini merupakan bentuk pelampiasan. Bahayanya adalah ketika pelampiasan ini didasari oleh rasa benci yang sangat kuat. Apalagi jika ternyata mood si karyawan ini sedang enggak baik. Maka bersiaplah para junior menghadai zona neraka. Akan sangat berat rasanya benerja di sebuah lingkungan yang terdapat oknum pembenci diri kita.

  1. Ambisi untuk mendapat penghormatan atau penghargaan

Ada satu sifat seorang karyawan yang bisa merusak kondusifitas lingkungan kerja, yaitu ambisi untuk mendapat penghargaan atau dihormati. Biasanya karyawan senior tipe seperti ini memiliki maksud atau kepentingan tertentu. Bisa hanya sekadar cari muka atau memang sedang mengincar suatu keuntungan atau jabatan.

Sasaran paling empuk dalam hal ini adalah karyawan baru. Mereka belum mengenal betul karakter orang perorang dan tentu saja masih awam soal aturan yang ada di tempat kerja. Kalaupun dikerjai mereka tidak akan banyak melawan karena statusnya jadi taruhan. Bayangkan saja ketika penilaian karyawan senior menjadi salah satu poin yang menentukan lulus tidaknya si karyawan baru dari masa orientasi dan magang. Maka dengan segala kepasrahan mereka akan coba bertahan. Minimal sampai mendapatkan status karyawan.

  1. Ada modus cari perhatian

“Masa sih, ada karyawan senior yang butuh perhatian?” Coba saja amati lingkungan kerja kalian. Kalau ada karyawan yang terlihat sok sibuk saat ada Boss, dan realitanya kinerja dia biasa saja, maka mungkin saja dia artisnya. Kalau ada senior yang sukanya nyuruh-nyuruh sedangkan dia sendiri enggan mengerjakan tugasnya, maka waspadalah. Barangkali dia calon artis.

Parahnya lagi ketika karyawan model begini pas lagi kepepet, nalurinya sebagai penjilat akan muncul. Sehingga enggak akan memandang siapa kawan, dan yang mana lawan. Sasaran empuknya adalah para karyawan baru. Apes kan?

  1. Sekadar iseng

Nah, kalau yang sekadar iseng ini tipikal karyawan senior yang murni kurang kerjaan. Hiburannya ya, ngerjain junior. Merasa senang melihat orang lain bersusah payah ngrampungin kerjaan. Lama-lama bisa jadi bullying tuh.

Mungkin enggak banyak karyawan senior tipe seperti ini. Sebagian besar sudah repot dengan kerjaannya sendiri. Kecuali jika kerja di suatu perisahaan yang rela memberi dia gaji buta. Hehe ….

Itulah beberapa alasan kenapa para senior suka ngerjain karyawan baru. Memang masih banyak lagi alasan lain. Tergantung bagaimana kondisi lingkungan kerja masing-masing. Mengenai bagaimana cara menghadapi karyawan senior yang suka ngerjain, in sya Allah akan saya bahas dalam draft buku saya. Mohon doanya ya? Biar nantinya cepat kelar dan bermanfaat buat kita semua. Aamiin.

***

Ditulis oleh: Seno NS, founder Blogerclass.

2 thoughts on “Karyawan: Duh, Dikerjain Senior”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *