Kamu Suka Jualan Online? Perhatikanlah Aturan Penting Ini

Ini tentang garansi, yakni jaminan apa yang bisa kita berikan kepada pembeli jika mereka sudah membeli produk kita. Sebab garansi ini menumbuhkan keyakinan pembeli atas produk sekaligus kepercayaan terhadap layanan kita. Tetapi jangan lupa bahwa nilai garansi ini ke depannya sebanding dengan nilai integritas kita. Sebab banyak pebisnis berani memberi garansi di depan, tapi setelah penjualan tidak bisa memberikan apa yang dijanjikannya itu.

Maka berikanlah garansi yang logis sesuai kemampuan kita. Meski awalnya berniat baik ingin membantu, jangan sampai akhirnya mengecewakan pembeli. Selalu ingat bahwa garansi adalah bukti tanggung jawab kita kepada mereka. Mari kita simak cerita berikut ini:

Seorang anak memberi kabar gembira kepada ayahnya, “Seseorang datang ke toko kita dan dia menanyakan apakah kita bisa memperbaiki kursinya yang rusak?”

Setelah bertemu dengan orang tersebut, ternyata dia bukanlah pelanggan toko mereka. Tetapi, sang ayah tetap mengatakan kepada anaknya, “Bersiaplah, kita akan pergi ke rumah orang itu.”

“Tetapi ayah,” si anak merasa tidak nyaman, “bukankah dia bukan konsumen kita? Bukankah dia membeli kursi dari toko mebel lain?”

Ayahnya tersenyum, “Tidak apa-apa.”

Keduanya lantas naik mobil menuju ke rumah orang tersebut. Sesampainya di sana, sang ayah memperbaiki kursi yang rusak itu dengan sangat antusias. Ternyata kursi itu rusaknya tidak terlalu parah, hanya terlepas beberapa paku di bagian bawah kursi.

“Sudah selesai Tuan, kursi itu sudah bisa dipakai kembali,” jelas sang ayah kepada orang tersebut.

“Terima kasih,” ucap orang tua tersebut, “terima kasih sekali.”

Sang ayah dan anak itu pun kembali ke toko mereka tanpa menerima bayaran. Tidak ada ongkos perbaikan. Sebab orang tua itu berpikir bahwa dia membeli kursi itu dari mereka.

“Ayah, kenapa kita tidak mengatakan saja kalau dia tidak membeli kursi dari toko kita?” protes si anak, “dia kan bukan konsumen kita.”

“Mungkin dia sudah lupa, kau lihat dia sudah tua dan bisa jadi dia sudah tidak mampu mengingat beberapa hal sepele seperti di mana dia membeli kursinya itu.” Jelas sang ayah. “Dan yakinlah, setelah ini dia akan menjadi pelanggan kita.”

Benar saja, setelah beberapa minggu berlalu, datanglah satu keluarga ke toko mebel mereka. Sepasang suami-istri bersama kedua anaknya. Mereka memilih banyak barang, mulai sofa untuk ruang tamu, kursi untuk teras, almari baju, rak buku, sampai meja untuk televisi.

“Terima kasih telah berkenan membeli barang-barang ini di toko kami,” kata sang penjual.

“Oh ya, sama-sama,” jawab lelaki pembeli itu, “kami mendapat informasi dari ayah kami kalau di toko ini mau memberikan layanan perbaikan bila barang-barang ini rusak.”

“Oh ya, tentu saja,” jawab sang penjual dengan penuh semangat. Si anak penjual itu pun tersenyum sembari menyiapkan barang-barang yang dipesan keluarga itu.   

Pelajaran apa yang bisa kita petik dari kisah tersebut? Banyak sekali. Salah satunya tentang keikhlasan untuk melayani orang lain. Tingkat pelayanan yang nilainya lebih besar dari sebuah transaksi bisnis. Sebab yang kita layani adalah mereka yang tidak hanya memiliki uang saja, tetapi juga memiliki nalar dan perasaan. Ketika interaksi kita dengan para konsumen sudah melebihi hubungan transaksi bisnis, maka pada saat itulah kita sudah membuka pintu rezeki dari segala arah.

Sebab pertama, rendahnya tingkat komplain. Kita sudah mengantisipasi sejak awal tentang apa saja yang mungkin dikomplain oleh konsumen. Sehingga kita sudah persiapkan berbagai hal agar komplain bisa diselesaikan dengan cepat, bahkan terhindarkan. Jika sudah begitu, pastilah konsumen akan merasa puas dan akan kembali bertransaksi lagi.

Kedua, percaya tidak percaya, di Indonesia banyak terjadi kasus jika para konsumen akhirnya menjadi saudara para pebisnis. Mereka datang ke acara pernikahan, sunatan, sampai ketika ada yang sakit pun saling menjenguk. Hubungan non-traksaksional inilah yang pada akhirnya mampu melanggengkan datangnya rezeki.

Nah, sampai di pembahasan ini, seharusnya kita semakin menyadari bahwa sebenarnya bisnis bukanlah sekadar urusan tentang transaksi produk dengan uang. Bisnis ini tentang bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain. Bila beres cara kita berinteraksi dengan orang lain, maka bereslah bisnis kita. 100% yakin! *)

Ditulis oleh: Dwi Suwiknyo, penulis buku best seller Ubah Lelah Jadi Lillah

dan buku terbarunya Jalani, Nikmati, Syukuri.

1 thought on “Kamu Suka Jualan Online? Perhatikanlah Aturan Penting Ini”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *