Kalau Pernah Makan Sirip Ikan Hiu, Tobat Mulai Sekarang!

Selama ini, kita memandang ikan hiu sebagai predator yang mengerikan dan dapat membunuh manusia. Tetapi, apakah kamu sudah tahu berapa banyak manusia yang mati karena diserang hiu per tahun? Ternyata, jumlahnya tidak lebih besar dari banyaknya hiu yang dibunuh oleh manusia. World Wildlife Fund (WWF) Indonesia menyebutkan aktivitas penangkapan hiu di dunia mencapai 26-73 juta hiu. Ini berarti, dalam setiap detik ada 1-2 individu hiu yang tertangkap oleh manusia.1

(change.org)

Yang lebih menyedihkan, hiu ditangkap lalu dipotong siripnya dalam keadaan masih hidup. Hiu tanpa sirip, kemudian dibuang ke laut. Proses ini disebut Shark Finning. Coba kita bayangkan! Bagaimana seandainya hiu dapat merasakan sakit seperti yang dirasakan manusia? Anggota tubuh yang utama dan digunakan untuk berenang harus hilang. Ia terluka dan dibuang ke laut. Pernah merasakan perihnya luka yang terkena air garam? Ditambah lagi, karena kesulitan berenang, hiu lalu mati pelan-pelan. Sungguh teganya, manusia.

Sangat disayangkan, ternyata Indonesia menjadi negara dengan jumlah tangkapan hiu terbanyak di dunia. Permintaan sirip hiu sangat tinggi. Sirip hiu diperdagangkan untuk diolah menjadi makanan dengan harga mahal, salah satunya sup sirip ikan hiu. Dalam budaya tionghoa, sup sirip ikan hiu adalah hidangan kaisar. Itu disebabkan karena sup sirip ikan hiu adalah simbol status seseorang. Siapapun yang dijamu dengan makanan ini, menunjukkan bahwa ia disanjung, kaya raya dan terhormat.2

Tidak hanya cukup dengan sirip, ternyata hampir semua bagian tubuh dari hiu dapat dimanfaatkan. Mulai dari daging yang dapat digunakan sebagai olahan pangan seperti abon, sosis dan ikan asin. Hati serta empedu ikan hiu juga dapat dimanfaatkan sebagai olahan produk farmasi. Tak ketinggalan kulit dan giginya juga dapat dimanfaatkan menjadi souvenir3. Hal inilah yang membuat ikan elasmobranchii (bertulang lunak) ini makin banyak diburu. Sungguh, pilihan bisnis yang sangat menggiurkan.

Namun, dibalik itu semua ada bahaya yang mengancam kelangsungan ekosistem laut bahkan bisa berdampak kepada kehidupan manusia. Overfishing atau jumlah tangkapan yang tidak seimbang dapat mengakibatkan menurunnya populasi hiu secara drastis. Bagaimana tidak? Penangkapan hiu dengan jumlah yang cukup banyak tidak diimbangi dengan kemampuan ikan hiu dalam memulihkan populasinya. Hal ini dikarenakan kemampuan reproduksi hiu yang terbilang cukup lama. Hiu membutuhkan 7 sampai 15 tahun untuk tumbuh dewasa dan hanya menghasilkan anak 1-2 ekor anak per tahun. Hiu juga memiliki risiko kematian yang tinggi pada semua tingkat umur.

Jika kondisi tersebut terus berlangsung akan sangat berbahaya bagi ekosistem laut. Hiu adalah predator tingkat atas yang memangsa ikan-ikan karnivora berukuran besar. Apabila jumlah ikan hiu berkurang secara drastis, maka populasi ikan karnivora akan melonjak dan predasi ikan-ikan kecil akan menjadi sangat tinggi. Apabila ikan kecil berkurang, populasi algae yang biasa dimakan ikan kecil akan meningkat dan merusak kesehatan karang. Terumbu karang yang terganggu akan menyebabkan ketidakstabilan ekosistem karena karang merupakan kunci dari sebuah ekosistem.

Ekosistem karang yang secara tidak langsung dikendalikan oleh hiu, merupakan tempat tinggal berbagai ikan bernilai ekonomis tinggi seperti kerapu, baronang, bawal, kue dan kakap.4 Jika ekosistem karang terganggu, sangat mungkin ikan-ikan tersebut akan ikut berkurang populasinya. Hingga kita tidak hanya kehilangan hiu tetapi juga ikan lezat yang harganya jauh lebih terjangkau. Itulah mengapa perhatian terhadap ikan hiu sudah semestinya disadari oleh kita sekalian.

Hal lain yang menjadikan hiu berperan penting dalam ekosistem laut adalah karena kebiasaannya memakan hewan-hewan laut yang cidera atau berpenyakit. Alasan itu menjadikan hiu disebut sebagai hewan pengatur kesehatan ekosistem. Selain itu, hiu mempunyai kebiasaan berganti mangsa. Ia predator yang memakan banyak spesies hewan laut. Ia mudah mengganti sumber makanan jika tidak menemukan satu jenis mangsa. Jelaslah, ia pengontrol populasi yang sangat baik.5

sumber: wwf.or.id

Tak hanya karena alasan lingkungan, penangkapan hiu sebagai bahan makanan harus dipertimbangkan kembali karena manfaat olahannya yang masih diragukan. Tidak sedikit ilmuwan yang berpendapat bahwa ikan hiu bermanfaat untuk kesehatan hanyalah mitos. Tingginya kadar merkuri dan logam berat dalam ikan hiu sangat berbahaya jika dikonsumsi. Jika ikan hiu yang mengandung merkuri dan logam berat dikonsumsi oleh wanita hamil, akan mengakibatkan gangguan pertumbuhan otak serta syaraf pada janin.5

Zat yang tidak kalah berbahaya yang terkandung dalam hiu adalah BMAA (beta-N-metilamino-L-alanin). Berbagai sumber di internet menyebutkan, penelitian yang dilakukan di University of Miami menemukan bahwa zat BMAA adalah zat yang sangat berkaitan dengan penderita Alzheimer.6 Alzheimer merupakan salah satu penyakit penurunan fungsi otak. Penelitian tersebut juga mendeteksi bahaya racun bagi kesehatan manusia dari bercampurnya merkuri dan BMAA.

So, berhenti dulu untuk makan ikan hiu ya, guys! Meskipun rasanya enak dan kamu sudah ketagihan, silakan tahan dulu. Tunggu sampai populasi hiu stabil dan tidak terancam punah. Toh, masih banyak ikan-ikan laut yang enak dan jelas-jelas bergizi tinggi. Tahan gengsi, jangan karena ingin dianggap mampu membeli hidangan sirip hiu yang harganya bisa mencapai belasan juta itu, kita jadi mengorbankan ekosistem laut. Apalagi kita tinggal di Indonesia, yang kekayaan lautnya sungguh luar biasa melimpah. Biarkan hiu hidup di alamnya dan dinikmati para penyelam, jangan buat dia berenang dalam mangkok kecil. Sedih, kalau nanti cerita ke anak cucu dan bilang “Dulu ada hewan yang giginya tajam di laut, namanya hiu.”

Ditulis oleh: Hapsari Titi Mumpuni, S.Kel.

Catatan Akhir:

  1. WWF Indonesia          https://www.wwf.or.id/tentang_wwf/upaya_kami/marine/howwework/campaign/sosharks/faq/index.cfm
  2. https://lifestyle.okezone.com/read/2017/01/26/298/1601476/menguak-sejarah-sup-sirip-hiu-pada-perayaan-imlek
  3. Alaydrus, Islmail Syakurachman, Narti Fitriana dan Yohannes Jamu, 2014. Jenis dan Status Konservasi Ikan Hiu yang Tertangkap di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Labuan Bajo, Manggarai Barat, Flores. Al-Kauniyah Jurnal Biologi Vol.7 Nomor 2: 83-88.
  4. Mayunar, 1996. Jenis-Jenis Ikan Karang Ekonomik Penting Sebagai Komoditi Ekspor dan Prosepek Budidayanya. Jurnal Oseana Vol. XXI No.3.
  5. Aware Project. Panduan Studi Kursus Distinctive Speciality: Aware Shark Conservation. 2011. www.projectaware.org
  6. http://informasitips.com/bahaya-mengonsumsi-sirip-ikan-hiu
  7. http://bpsplpadang.kkp.go.id/sirip-hiu–manfaat-dan-bahayanya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *